Elementalist

Elementalist
Chapter 120 - Tagih


__ADS_3

“Aku tak percaya Kapten punya rencana konyol seperti itu” Timothy berbisik sembari menghela napas.


“Ssstt?! Sebaiknya kau jaga mulutmu, jangan sampai di dengar oleh mereka berlima. Bisa – bisa kau tidak ikut pulang ke Elemental City” peringat Kevin.


Keduanya sedang bersembunyi di atas pepohonan, melakukan pemantauan terakhir pada lokasi sekitar Sentoki no Meikyuu. Terlihat ratusan pintu masuk labirin beruba mulut gua di kejauhan, Kevin dan Timothy masih merasa pening mengingat kejadian malam dua hari lalu.


Begitu Arya selesai menyampaikan rencana, suasana heboh nan rusuh memenuhi markas Pax. Dia langsung dihujani pertanyaan – pertanyaan dari para anggota yang penasaran juga tertarik mendengar ide tersebut.


“Benarkah?”


“Kalian jatuh bersama di Great Whale Belly Ravine? Ugh....aku iri sekali!”


“Rencana ini bisa memecah konsentrasi mereka!”


“Tuan Arya? Kuil Rodentia bukanlah tempat bermain seperti pekarangan rumah. Mustahil....” Rattus berbicara setelah keadaan mulai tenang.


Selain sangat luas, lokasinya juga rumit. Orang yang baru pertama kali datang ke sana tidak mungkin bisa keluar masuk sesuka hati, beratnya lagi. Garyu bersama bawahan – bawahanya bersedia di sana karena suatu hal yang tidak diketahui.


“Justru lebih bagus, akan kuberikan kalian waktu selama mungkin untuk melakukan evakuasi” balas Arya tenang.


“Belum selesai sampai situ, Kuil Rodentia juga memiliki monster....” Harpyja mendesis sambil tertunduk.


Melihat wanita itu tidak mampu melanjutkan, Rattus mengambil alih. Virtous Rat Nezumi dikenal sebagai seorang veteran perang, banyak desas – desus beredar terkait umur sang Shio Tikus. Namun dapat dipastikan kalau pria sepuh tersebut sudah berusia lebih dari seratus tahun.


Pada masa jayanya, dia memimpin pasukan Werebeast dalam berbagai perang besar. Membuatnya begitu disegani oleh lawan maupun kawan, tetapi ada bercak darah kental menghiasi riwayat hidupnya yang kelam.


Saat masih muda, Nezumi tercatat melakukan pembantaian kepada seluruh Klan Muridae. Keluarganya sendiri, sehingga meninggalkan dirinya sebagai satu – satunya Werebeast berwujud tikus putih di seluruh dunia.


Bahkan banyak yang percaya alasan dia berbuat seperti itu adalah demi meraih posisinya sekarang, Karenanya. Tidak seperti kuil lain, Rodentia hanya dihuni oleh gadis yatim – piatu yang dipungut Nezumi. Pria itu juga memutuskan tuk memotong telinga tikus miliknya sebagai bukti rasa bersalah.


“Mendengar suara langkahnya saja bisa mengakibatkan tubuhku menggigil hebat” akhir Rattus sembari memeluk tubuhnya, tak kuasa menahan diri sebab masih memiliki hubungan kekerabatan jauh dengan sang Mythical Werebeast.


“Oleh sebab itu aku akan pergi sendiri dan berusaha kabur secepat mungkin”


“Akh....ini rencana gila....” Kinichi berjalan mondar mandir gelisah.


“Kizuna yang kita bicarakan sekarang....perempuan?” tanya Asuna membuat kaget semua orang karena entah sejak kapan sudah berdiri di tengah – tengah tempat diskusi. Matanya menyorot tajam tepat ke arah Arya.


“I....ya” jawab Arya ragu sebab dapat merasakan beberapa tatapan lain dari berbagai arah.


“Heehhh....”


“Hiyy!??....K..ka..kalian tau kan?....M..ma...maksudku dia belum menemukan jati diri serta tujuan hidupnya. Terjadi pergolakan batin yang membuatnya menderita, aku tidak bisa diam saja melihat hal itu!”


Pemandangan Arya dikelilingi gadis – gadis sudah biasa bagi para Elementalist laki – laki lain, namun menjadi suatu hal baru untuk anggota Pax. Mata Kinichi berbinar – binar seolah mendapat sebuah pencerahan.

__ADS_1


‘Akhirnya....kutemukan! Seorang Guru!’


Tanpa ada pilihan, Arya memutuskan menunduk sebagai tindakan terakhir demi memenangkan suara semuanya. Ia memohon dengan sangat agar seluruh partisipan operasi evakuasi bersedia menerima usulannya.


“Hah....mau bagaimana lagi”


“Kaulah Kaptennya” Kevin mengangguk setuju.


“Dasar pria keras kepala! Tapi karena itu aku menyukaimu....kak Arya...? Biarkan aku menci—Hmph?!...Mwhp mwhmp mhmpp??!!!” Asuna, Rena, Lexa, dan Selena bergerak cepat meringkus Elizabeth sebelum si Elementalist Cahaya menggunakan kekuatan.


“Terima kasih semuanya, akan kupastikan misi evakuasi ini berhasil. Bahkan bila harus mengorbankan jiwa dan ragaku sekalipun” kata Arya dengan mata menyala.


“Hei?! Kalian ditugaskan kemarin untuk mengintai! Bukan melamun!”


EKH!?


Kevin dan Timohty hampir terjatuh mendengar suara Elizabeth tepat dari belakang mereka, gadis berperawakan mungil tersebut muncul dalam sekejap mata.


“T..te..tentu saja kami tau....hahaha” Timothy tertawa canggung.


“Ayo! Sudah waktunya kembali, operasi akan dimulai tepat tengah hari”


------><------


“Mohon maaf menganggu Tuan Garyu, Tetua Nezumi” seorang Jenderal Petarung melapor sambil bertekuk lutut.


“Telah terdeteksi gerakan mencurigakan sekitar Sentoki no Meikyuu, dugaan sementara mengatakan kalau ini dimotori oleh para pemberontak yang sama dengan Fetival kembang api Kota Klouvi”


“Ck! Kabarkan pada Jenderal Petarung lain untuk mengurus mereka, kau juga pergilah menyusul ke sana bersama empat orang tambahan” usir sang Shio naga tak sabaran.


“Laksanakan!” sahutnya sebelum bergegas pergi.


“Kau yakin tidak ikut? Aku bisa menjamin Kizuna tak akan pergi kemana – mana seorang diri lho. Sekak”


“Ugh...!? Cih, anda...terlalu lembut padanya. Lagi pula aku mendapat sedikit firasat buruk”


Sementara itu diluar kuil, Jenderal Petarung pelapor sebelumnya sudah mengumpulkan pasukan bersama empat orang teman – temannya. Werebeast berjumlah sekitar lima puluh orang tersebut berangkat ke tujuan dipenuhi semangat membara.


Namun laju mereka terpaksa berhenti karena ada seorang berjubah aneh menepuk – nepuk tangan sembari melihat sekeliling seakan mencari – cari sesuatu.


“Hey!? Kau sedang apa di sini!? Pergi sana!”


“Ah? Maaf, boleh bertanya sedikit? Apa diantara kalian melihat ular peliharaan milikku?”


“Ular?” ulang mereka semua bingung.

__ADS_1


“Ahh!? Ketemu! Di atas pundakmu”


JLEB! SRASH


Seluruh pasukan terperangah melihat bilah pedang berwarna hitam biru menembus tenggorokan salah satu Jenderal Petarung. Tanpa perlu disuruh yang tersisa segera menjaga jarak, hewan melata putih kecil masuk ke dalam pakaian sosok misterius tadi.



“Kau...?! Berani sekali!?—”


“Iya ya ya, sebelum itu. Hmph!?....KIZUNA...!!!....


Teriakan kencang menggelegar ke segala penjuru, membuat siapapun dalam radius sepuluh kilometer mendengarnya. Si gadis pemilik nama tiba – tiba membuka mata terkejut, menatap keluar jendela ruangan tempatnya berada.


AKU DATANG SESUAI JANJIKU TUK MENDENGAR JAWABANMU!!!”


“DASAR BOCAH GILA!”


SWRAT!


“Lamban, apa kalian benar – benar Jenderal Petarung yang diceritakan mereka?”


Baru saja keempat pimpinan pasukan Werebeast berusaha menyerang bersama – sama, tubuh mereka sudah terbagi dua bahkan sebelum menyentuh tanah.


“Ada serangan! Serangan pasukan musuh!!!”


“Oi oi oi? Tidakkah sedikit berlebihan mengatakan itu? Aku cuma datang seorang diri lho” protesnya sembari membersihkan bekas darah yang menempel pada bilah pedang.


“Apa?!”


“Kalian juga hanya menghabis – habiskan tenaga, tak perlu mengirim peringatan. Teriakanku tadi sudah cukup sebagai alarm bukan?”


WAAA!!!


“Hehehe waktunya beraksi, Mandalika” Arya terkikik geli.


Kurang dari lima menit, pasukan bantuan Sentoki no Meikyuu rata dengan tanah. Tanpa membuang – membuang waktu, Arya melesat cepat kemudian menghancurkan pintu kuil yang hampir tertutup. Bangunan Rodentia Temple terdiri menjadi tiga tingkatan.


Hal ini dikarenakan letak bangunannya berada di wilayah perbukitan, sekarang tingkatan pertama dipenuhi oleh anak – anak buah Garyu. Arya bergerak luwes mengayunkan pedang sesuka hatinya, dia beberapa kali membiarkan musuh lepas sebab sudah tidak berdaya.


Tetapi memenggal siapapun penyerang yang berusaha membunuhnya, butuh sekitar sepuluh menit untuk menyelesaikan tingkat pertama. Ketika baru menginjakkan kaki ke bangunan berikutnya, seorang gadis bertelinga rubah berdiri menghadang sambil membawa dua bilah pedang.



“Cukup sampai disitu, penyusup”

__ADS_1


“Wah wah wah nona? Bagaimana kalau kita bicara saja? Dan tolong izinkan aku menyentuh telingamu” canda Arya.


__ADS_2