
Intensitas perang kian membesar sehingga menyebabkan tidak ada satupun sudut di Distrik Perak yang aman, selalu bermunculan tembakan sinir, energi, serta berbagai jurus dalam hitungan menit. Kelima pemimpin Fatum terlihat berjalan bersama dengan santai ditemani beberapa orang kepercayaan mereka.
“Kondisi kita sepertinya kurang baik, laporanmu Orion?” celetuk Regulus usai menebas leher sepasang Hidden Suzerainity dihadapannya.
“Anda benar Yang Mulia, meski menang jumlah kelompok ini makin terpojok akibat pergerakan lawan jauh lebih rapi dan terorganisir....”
“Lalu? Usulanmu?”
“Kupikir harus ada yang pergi mencari para pengendali mesin – mesin terbang pengintai tersebut, mereka sangat mengganggu” Orion menatap satu per satu tiap Drone sekitar sana.
“Hmm....Falxus? Kau tau tugasmu berikutnya?”
“Baik Yang Mulia....” sahut Elf bermata hitam disebelahnya sebelum menghilang.
“Inuki? Ikuti dia....”
“Aku? Kenapa?”
“Pergi saja dan jangan banyak tanya, penciumanmu dibutuhkan....” Garyu menyuruh tak sabaran.
Sang Shio Anjing menggerutu pelan kemudian buru – buru menyusul Falxus, tiga orang lainnya yaitu Kris, Merlin, maupun Louis ikut mengarahkan bawahan masing – masing demi mengubah alur jalannya pertempuran.
JLEB!!! BUMMM...!!!
Bunyi keras sesuatu menghantam bumi dari belakang mereka menarik perhatian, di sana sudah hadir seorang gadis bertelinga panjang yang baru saja menghabisi dua prajurit Elf dengan pakaian perang lengkap. Mata birunya berkilat menyala penuh kebencian, tubuh berlumur darah lawan menambah sangar penampilannya.
“REGULUS...!!!”
“Ahh....halo put—maaf maksudku mantan tuan putri Alalea....”
“BERANI SEKALI KAU MENGENAKAN MAHKOTA RAJA PERI DIATAS KEPALAMU! KATAKAN DI MANA IBU DAN NENEKKU!!!” geram Alalea sembari menyiapkan busurnya.
“Mmm? Jadi kau mencari kepala tempat benda ini bertengger sebelumnya? Aduh sayang sekali aku lupa membuangnya kemana....”
Pernyataan Regulus tentu mengejutkan semuanya bahkan keempat rekan Fatum disampingnya, memang tidak ada satupun mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi di Fairy Forest sekaligus memperlambat bergabungnya rombongan Regulus ke medan perang.
Sementara itu tatapan Alalea berubah kosong sesaat tapi langsung digantikan perasaan dendam membara, pegangannya pada senjata kembali menguat usai sempat mengendur. Ia menarik kencang tali pada genggamannya lalu melepaskan anak panah berselimutkan sihir berbentuk spiral.
“Afxixi Vindpilen!”
Serangan tadi melesat layaknya badai, meninggalkan pusaran angin luar biasa pada jalur yang telah dilewatinya. Regulus menghela napas sebelum menghentikannya cukup dengan mengarahkan telapak tangan kepada benda barusan dan dalam sekejap teknik sebelumnya seolah kehilangan daya dorong.
Tetapi Alalea belum menyerah, seperti telah memperkirakan jurusnya akan mudah dipatahkan oleh Regulus. Dia langsung menerjang selesai menembak, dalam hitungan detik saja gadis tersebut mencapai tempat lawannya berdiri. Alalea menggapai kalung dibalik jubahnya seraya berbisik penuh tenaga.
__ADS_1
“Reliquia D’Azuldria; Tvillingdu!”
Sepasang cahaya keluar dari dalam sana kemudian bergerak cepat menuju genggaman tangan Alalea membentuk senjata, kemunculan dua buah pedang kembar secara tiba – tiba ini segera ia sambut tanpa basa – basi. Alalea menyatukan gagang masing – masing sehingga membentuk semacam tombak dengan bilah tajam pada tiap ujungnya.
Dia sangat lihai memutar – mutar benda itu seperti telah sering menggunakannya, ketika anak panahnya dihentikan oleh Regulus. Alalea memanfaatkan kesempatan momen tersebut untuk loncat sembari berputar di udara, mengarahkan tebasan cepat nan kuat ke tengkuk sang Elf bermata emas.
TRANG!!!
“Anda tidak berpikir dibiarkan saja menyerang Raja karena merupakan Putri Mahkota terdahulu bukan?”
“ORION...!? DASAR PENGKHIANAT....!!! KAU TAU BETAPA BESARNYA KEPERCAYAAN KELUARGAKU PADAMU!”
“Hehehe....Yang Mulia? Izinkan saya mengurusnya....” Orion tertawa santai.
“Dimengerti....”
Mendengar konfirmasi Regulus atas permintaanya, Orion memulai percobaan menjauhkan Alalea dari lokasi mereka sekarang. Dengan mudahnya ia menghempaskan tubuh Alalea berbekal satu ayunan pedang bahkan tanpa mengeluarkan setetespun keringat.
Louis menatap dalam – dalam tempat terakhir Alalea terlihat, entah mengapa sosok anak perempuan barusan mengingatkannya terhadap mendiang ibunya. Regulus meminta maaf atas gangguan tak diinginkan ke yang lain sebelum menanyakan langkah berikutnya.
“Tujuan kita cuma satu....menghabisi para Elementalist”
“Kalau demikian target sudah ditentukan....” kata Kris tersenyum puas.
“Ya. Ketuanya dahulu....”
DEG...!!! BRUAKH!!!
Celetukan pelan itu mengagetkan kelimanya sebab terdengar sangat dekat, tepat di belakang punggung mereka. Baru ketika suaranya terdengarlah aura kuat si pelaku mampu terdeteksi, Garyu merespon dengan mengirimkan tendangan vertikal berdaya hancur tinggi namun hanya mengenai tanah kosong.
Pria sebelumnya sukses menghindar sangat cepat sampai badannya seolah menghilang, beberapa waktu berselang dia muncul kembali kali ini dihadapan lima petinggi tapi tidak sendirian. Melainkan ditemani pria berjas rapi, penampilan keduanya sangat bertolak belakang.
“Ohh...lihat siapa yang datang? Gio? Kapan terakhir pertemuan kita ya? Wahai Cholesterole Monster dan Mythical Knight”
“Jangan bicara kepadaku seperti teman akrab atau kau akan menyesal. Kris....”
------><------
Menyadari tatapan penasaran Garyu, Merlin, juga Regulus terhadap dirinya menyebabkan Kris menghela napas panjang. Kelihatannya yang mengenali dua penganggu tersebut hanya dia dan Louis, sedangkan ketiga bocah disampingnya walaupun memiliki kekuatan besar tetap hanya seorang pendatang baru.
Akhirnya Kris memutuskan menceritakan tentang Great War sebelumnya, saat awal dekade menghilangnya ras Manusia dari muka bumi. Sesuai dengan keberhasilan mereka menyelamatkan diri ke Elemental City, empat ras besar lainnya berusaha mencari cara supaya dapat mengeksploitasi kelompok terlemah ini lagi.
__ADS_1
Disitulah muncul generasi Elementalist terbaru sekaligus terbaik sepanjang masa sejak Sepuluh Elementalist Pertama. Ketuanya dikenal sebagai Snow White Princess, Lyan Frost. Tugas utama pemuda – pemudi itu adalah melindungi benteng serta tempat tinggal terakhir umat Manusia dan menghimpun pendukung yang ingin menghapus peperangan.
Demi mencapai tujuan besar tadi timbulah berbagai macam pertempuran, kemudian terdengarlah nama – nama hebat akibat sepak terjang gemilang dalam beberapa kejadian luar biasa. Termasuk murid – murid Kesepuluh Elementalist, tetapi walaupun begitu ada dua sosok paling menonjol pada masa ini.
Mereka merupakan bocah ajaib Giovanni van Astral beserta Magna Po, masing – masing mempunyai kemampuan menakjubkan. Keduanya mempunyai hubungan rivalitas tinggi seolah selaras dengan guru mereka. Kekuatan Po dulu sangat ditakuti karena terlalu misterius, namun seiring berjalan waktu diketahui ia mampu memanipulasi kadar lemak dalam tubuhnya lalu meningkatkan ketahan fisik maupun Agnet miliknya memanfaatkan kemampuan tersebut.
Badannya dapat melakukan pembakaran sangat cepat hingga saat bertarung serius kulitnya akan mengeluarkan uap panas, makin banyak jumlah karbohidrat atau gula dikonsumsi olehnya semakin kuat pula dirinya. Sedangkan Astral termasuk jajaran orang istimewa dikarenakan Agnet tipe Specialist, keahlianya disebut Mythical Knight. Dia dikatakan dapat mewujudkan pusaka – pusaka hebat cukup hanya memanggil mereka saja, sampai sekarang cuma fakta itu yang diketahui pasti.
“Makannya hingga Elementalist generasi saat ini benar – benar sempurna, merekalah orang paling pantas menyadang gelar Manusia terkuat....”
“Eh....menarik” Merlin bergumam sambil mengelus dagunya.
BUMMM....!
Bunyi ledakan besar membuat perhatian semuanya teralihkan sebentar, tidak butuh waktu lama datang musuh kuat lainnya mengepung dua Pengawas Ujian tersebut dari belakang. Astral dan Po saling bertukar pandang sedetik.
“Mari berbagi tugas....akan kuurus disini kau bereskan sisanya”
“Mengapau kau berpikir aku bakal setuju secara suka rela?” sahut Pengawas Po mengangkat sebelah alisnya.
“Sebab kau berhutang Steak kepadaku....”
“Ugh....!?”
Tanpa mempunyai bahan untuk membela diri, dia memutuskan berbalik badan. Keduanya menatap arah berlawanan terus mengangkat tangan kanan perlahan sebelum menempelkan kepalan di punggung masing – masing.
“Fire Elementalist Apprentice.....Magna Po”
“Ice Elementalist Aprrentice....Giovanni van Astral”
Usai mengucapkan sumpah atas nama guru mereka Magna Po langsung melesat cepat mengincar musuhnya yang terdiri dari tiga orang Vanguard. Sementara Astral berjalan perlahan mendekati lima lawannya tanpa rasa takut.
“Kau cukup bernyali rupanya....” Garyu mendengus penuh rasa tidak suka.
“Kalian ingin mengincar Tuan Arya? Jangan bermimpi....datanglah....Excalibur”
JGER...!!!
Petir terang tiba – tiba menyambar lokasi Astral berdiri, kejadian barusan tentu mengagetkan kelima petinggi Fatum. Kris berdecak kesal ketika siluet pria itu kembali nampak tapi kali ini membawa sebuah bilah pedang berwarna emas, penampilanna juga telah berubah total. Dia membuat garis pada tanah menggunakan senjatanya lalu seketika dinding Agnet tercipta membentuk area isolasi seluas lima kilometer mengelilingi mereka berenam.
“Coba langkahi dulu mayatku....”
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.