
“APA?!”
Sorakan kaget nan tidak percaya keluar hampir dari semua mulut siswa di ruangan tersebut, cuma Merlin yang masih nampak tenang. Berpikir dalam diam, sementara Arya sendiri kurang nyaman ketika Kyra seolah mengumumkan kabar kalau keduanya tidur pada satu tempat sama.
“Mana bisa begi—“
“Diam, bukan waktunya membahas hal tak penting. Lagi pula jika sudah menjadi keputusan Sekolah, kita bisa apa?”
Kata – kata Merlin menyebabkan saudara laki – laki Sierra mengurungkan niatnya tuk memperbesar masalah, bertepatan dengan suasana berat itu. Pintu tiba – tiba terbuka, puluhan pelayan masuk menaruh berbagai macam menu lezat di permukaan meja.
Mata Arya melebar menyadari kalau orang – orang tersebut adalah budak Manusia, walau berusaha tersenyum juga melayani sebaik mungkin. Jelas sekali mereka tidak memiliki semangat, layaknya sebuah boneka kayu yang dimainkan oleh dalang.
Para pelayan berdiri mengitari meja makan bersiap selalu jika salah satu diantara Candidate of Destiny membutuhkan bantuan, semua menyantap sajian itu. Keseluruhan acara berjalan tenang hingga ada satu murid menggebrakan tangan keras begitu selesai membaui hidangan dihadapannya.
“HUEK!? DAGING BUSUK MACAM APA INI? HEI!? KEMARI PERIKSA MILIKKU!”
Salah satu wanita berjalan dengan tubuh gemetar, suara bentakan anak tadi benar – benar membuatnya ketakutan setengah mati. Mendengar protes tersebut, semua penyihir muda berbakat di sana tidak menyentuh garpu maupun sendok mereka.
Hanya Arya beserta Kyra yang menyantap makanan – makanan bawaan para pelayan, setelah memeriksa hati – hati. Si wanita menjawab pelan.
“Maaf tuan, tapi kondisinya sungguh bagus”
“Bagus eh? Hmm....kalau begitu bisakah dirimu berdiri menghadap ke arah tembok?”
Tentu dia menurut tanpa berkomentar, semua mulai terkikik geli. Bahkan Merlin tersenyum bersiap menyaksikan hiburan favoritnya, begitu perempuan tadi tiba pada titik tujuan. Seluruh pelayan menutup mata ngeri sewaktu piring berisi makanan melesat menghampiri kepalanya.
“BERANINYA KAU MENGHIDANGKAN KOTORAN SEBAGAI—“
SYUU!!!
Benda tersebut berhenti tepat sebelum membuat bocor wanita barusan, senyum menghilang seketika. Tatapan mereka teralih kepada anak laki – laki yang sudah mengeluarkan tongkat sihir demi mengambil tindakan cekatan tadi.
Mesikpun terlihat tenang, hanya Kyra yang menyadari kalau permukaan tangan kiri Arya mengeluarkan darah saking kerasnya dia memegang alat makan. Itu menunjukan betapa kesal dan tidak terimanya bocah ini rasnya diperlakukan macam ampas.
“Kalian tidak mau memakannya bukan? Berikan padaku”
Dalam sekali ayunan, Arya membuat piring – piring datang. Selesai bicara, ia menyuruh para pelayan meninggalkan ruangan sambil berjanji kalau dirinya yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.
“Bocah baru....kau pikir siapa—“
“Bla bla bla, jika kau tak bisa menghargai orang lain. Buat apa aku memberi muka padamu?” gumam Arya berusaha cepat – cepat menghabiskan tumpukan piring makanan di depannya.
“Hehehe....benar sekali, bolehkah aku meminta kembali jatahku?” Friska bertanya penuh rasa tertarik sembari menopang dagu menggunakan sebelah tangan.
Arya memenuhi permintaan gadis tersebut, lalu Sierra juga ikut melakukan hal sama. Namun berikutnya tidak ada lagi yang menyusul. Saat bertepatan makanan piring entah keberapa habis, sebuah bidak catur hitam berlapis listrik menerjang ke arah Arya.
BUAK!
__ADS_1
Berkbekal refkleks menakjubkan, Arya dengan mudah menangkapnya. Nampak asap keluar akibat gesekan udara tadi.
“Ed?!” seru Sierra keras.
“Hohoho hebat juga, maaf tanganku ter—“
SYUU!!! BUAK!!! KRIEETTT...!!!
“Ahh....pergelanganku sepertinya juga terpeleset, jadi mohon lebih berhati – hati ya? Bisa saja pisau ini menembus kepalamu” Arya tersenyum manis.
“Ck!?”
Arya mengembalikan benda tadi menggunakan tenaga jauh lebih besar sehingga menyebabkan saudara kembar kali – laki Sierra terpental mundur bersama kursinya. Wajah pria itu merah padam karena malah balik dipermalukan.
Namanya adalah Edruvior, salah seorang anak bangsawan Le Rogue. Keluarga Warlock hebat sepanjang sejarah Magihavoc, dia bersama Sierra telah dididik sejak dini agar bisa membanggakan orang tua mereka.
Walau berbeda cuma beberapa menit, kemampuan Edruvior sebenarnya masih diatas Sierra. Adik perempuannya lebih lambat dalam berkembang, ia jauh lebih dulu masuk ke dalam Candidate of Destiny jika bandingkan saudarinya.
Dalam hati, pria ini memiliki perasaan kepada Kyra. Hal itu bermula saat keduanya saling bertemu di arena sekolah. Sebagai sesama murid baru, masing – masing bersaing keluar menjadi nomer satu, Edruvior kalah telak dan mulai dari sana berubah sebagai pengagum Kyra.
Fakta pahit gadis pendiam yang dijuluki bisu oleh Merlin tersebut duduk bersama pria lain juga menjadi teman sekamar membuatnya benar – benar gerah dan ingin mencabik – cabik si brengsek White.
“Keparat....!!!”
“Hentikan, bukan tempatnya kita bertarung” Merlin mengangkat tangan.
“Kau benar, aku menanti sekali berhadapan dengan kalian di turnamen” Arya mengangguk setuju.
“Hehehe tapi sebelum itu, kau harus memiliki tim. Dan seperti yang kau lihat, mereka ada di pihakku. Apa dirimu masih punya harapan tuk menang?”
“Mmm....bagaimana ya? Mari kita lihat—“
“Aku akan masuk ke dalam timnya”
“Eh?”
Semua orang melongo sewaktu Kyra bangkit berdiri sambil medeklarasikan keberpihakkannya, bukan hanya Candidate of Destiny yang lain. Arya pun ikut memandangi gadis itu dengan ekspresi keheranan.
------><------
“Kau yakin ada peminat?” Ryan melirik sahabatnya.
“Entahlah, kita sudah menempel selebaran bukan? Sisanya serahkan pada yang diatas”
“Kupikir cuma orang bodoh yang mau bergabung denganmu, mengingat lawan kita merupakan Orange Witch”
__ADS_1
“Berarti kau juga termasuk” kata Arya memutar kedua bola matanya..
“Hehehe begitulah”
Arya bersama Ryan sedang duduk menunggu di salah satu ruangan, mereka telah menyebarkan perkamen berisi undangan bagi siapa saja yang berminat bergabung tuk berpartisipasi dalam Five Heavenly Stars.
TOK! TOK! TOK!
WUSH!
Keduanya melesat begitu mendengar suara ketukan pintu, karena cukup lama menunggu tanpa hasil. Ketika dibuka, wajah sumeringah mereka berganti heran.
“Selamat datang—eh?”
“Halo” sapa dua orang pria asing.
“Kaliankan....” Ryan menggaruk kepala bingung.
------><------
“Ikey Stradius, Shaman bintang enam” anak dengan ikat rambut serta membawa tongkat sihir panjang dan buku tersenyum ramah.
“Namaku Shaqihr Kholdor, Warlock bintang tujuh. Salam kenal” satu lagi adalah laki – laki berpakaian serba hitam yang memiliki perangai tenang.
“Kenapa malah bertemu kalian.....” ujar Ryan heran menatap kedua penyihir muda rekannya melewati ujian bintang lima beberapa waktu lalu.
Ikey dan Shaqihr cukup terkenal di Class masing – masing, sebab kemampuan mereka terbilang tinggi. Meski ya....tak bisa dibandingkan dengan para Candidate of Destiny. Selesai berkenalan satu sama lain, keduanya mengaku tertarik untuk bergabung karena menemukan informasi mengejutkan Ryan bersama Arya merupakan kawan baik.
Oleh karenanya, sehabis berdikusi sebentar. Dua pemuda ini langsung bergegas kemari, Arya menyambut hangat sebab bantuan siapa saja akan berguna di saat seperti sekarang.
“Ngomong – ngomong jumlah kita berapa?” tanya Ikey bersemangat.
“Satu orang bawaan Arya ditambah kalian jadi lima” Ryan berusaha menghitung.
“Lalu? Sekarang bagaimana?” Shaqihr mengangkat sebelah alis.
“Perlu sisa lima lagi tuk membuat dua tim—“
GRUDAK! GRUDUK!
“Hmm?”
“WAA!!!”
GUBRAK!
__ADS_1
Keempat laki – laki tadi terpaku juga terkejut bukan main sewaktu pintu ruangan terjatuh akibat dorongan kuat. Lima gadis berpakaian berbeda saling tindih di lantai sebab terburu – buru datang ke tempat tersebut.
“Fi? Bella? Laura? Sierra? Dan....Hanna....!??” suara Arya melengking tinggi melihat sosok terakhir.