Elementalist

Elementalist
Chapter 184 - Regu Ekspedisi Atlantos


__ADS_3

Sepulangnya dari perpustakaan untuk mencari informasi lebih jauh tentang Atlantos, Arya melihat Ryan tengah membawa tumpukan barang – barang bagi Divisi Sihir. Akhirnya ia pun menyapa, si bocah berambut merah menoleh lalu mengangkat sebelah alis pertanda heran.


“Yo?—Uban – san sejak kapan kau melakukan cross dre—“


“Apa kau pernah melihat tulang belikat berputar seratus delapan puluh derajat?” potong Arya bernada ancaman.


Wajah Ryan memutih bak susu basi seketika dan langsung mengerti kalau Arya tidak ingin membahas penampilan barunya. Setelah menelan ludah berat, Ryan buru – buru mengubah topik pemicaraan. Untungnya amarah Arya turun cukup cepat.


Arya menanyakan tentang perkembangan penelitian Sky Estuary, Ryan kemudian menceritakan keseruan yang dia lewati bersama ayahnya beberapa waktu ini akibat menggali kemampuan pusaka sihir tersebut.


“Jika penggunanya tepat, aku yakin tongkat itu hanya terpaut satu tingkat di bawah Dua Irregularities”


“Berlatihlah serius, kalau bisa aku berharap kau atau ayahmu saja yang menjadi pemiliknya”


“Huum, akupun begitu. Kau sendiri? Di mana tongkat sihirmu?”


“Eh? Selalu aku bawa kok, tapi mungkin intensitas penggunaanya akan menurun. Lagi pula dari awal aku bukanlah seorang Witch” ujar Arya menunjukan sebuah kayu kecil terselip pada pinggangnya.


“Kenapa aku malah kesal mendengarnya ya? Halooo....memangnya siapa diantara kita berdua mempunyai sihir kuno?”


“Dozmary Chroco”


“Ugh....lalu misimu berikutnya? Apa sulit? Kau membawa cukup banyak bacaan?” Ryan bertanya sekali lagi.


Kini giliran Arya menjelaskan mengenai konflik Atlantos melawan Faksi Laut bangsa Werebeast, dunia saat ini memiliki pusat samudera. Wilayah yang benar – benar cuma terdapat air sejauh mata memandang, lokasi tersebut memiliki peran besar karena memisahkan area kekuasaan beberapa ras besar.


Nigrum Ocean merupakan sebagian kecil dari mereka, hingga kebanyakan orang lebih mengenal tempatnya sebagai Perairan Netral. Penguasa daerah luas nan berbahaya itu adalah Kerajaan Duyung Atlantos.


Sebuah pemerintahan makhluk – makhluk berwujud manusia ikan, perbedaan mendasar Werebeast dengan Duyung terletak pada tingkat kekuatan saat berada di bawah air. Sehebat apapun fisik Werebeast bertipe binatang laut tetap saja akan kerepotan melawan Duyung.


Hal ini dikarenakan mereka menghabiskan hampir seluruh hidupnya menjelajah dasar laut, sedangkan Werbeast harus singgah ke darat beberapa periode tertentu. Saking besar kekuatan Atlantos, kelima ras enggan mengusik.


Posisi Kerajaan Duyung ini bisa dikatakan sejajar dengan Underground Paradise milik para Dwarf. Teknologi yang dikembangkan oleh Atlantos mengalami peningkatan pesat dan sulit ditiru bangsa – bangsa lainnya akibat tempat tinggal mereka berada di dasar lautan.


Berbekal fakta tersebut, dapat disimpulkan kalau Atlantos menjadi salah satu kekuatan Netral paling berpengaruh di dunia. Itulah alasan mengapa Faksi Lautan Werebeast mengajak tuk beraliansi membuat pemerintahan baru.


Para Werebeast ini merasa terasingkan sebab makin menguatnya Faksi Darat dan Udara berhubung pengaruh besar Dua Belas Shio. Namun sayang Atlantos menolak pengajuan tersebut karena beranggapan kalau mereka hanya ingin memanfaatkan ras Duyung saja.


“Isu politik memang selalu menggiring menuju arah peperangan” Arya berkomentar mengakhiri.


“Terus? Kau dimintai bantuan menolong Atlantos?”


“Mungkin bukan dari pihak Kerajaan, nampaknya keangkuhan menjadi penghalang. Tetapi beberapa Duyung anggota Pax melihat memburuknya situasi mempunyai inisiatif mengirim surat permohonan ke Elemental City”


“Kalau mereka malah tersinggung atas keputusan sepihak bagaimana?” kata Ryan tidak percaya.


“Itulah mengapa misi ini berbahaya, bagaimanapun Atlantos harus tetap bertahan untuk menjaga kestabilan antara kelima ras besar. Jika sampai jatuh ke tangan Werebeast, dapat menimbulkan kekacauan pada masa mendatang”


“Langkahmu berikutnya?”


“Membentuk tim beranggotakan lima orang”

__ADS_1


“Oh....sudah kau putuskan ya?”


“Kau tau jawabannya” Arya menjawab santai sebelum berpisah.


“Hey? Satu hal lagi”


“Umm?”


Ryan sudah menyimpan pertanyaan ini cukup lama, ia penasaran mengapa hanya Zulqar dan Luisa yang memiliki zirah berwarna diantara kelima makhluk panggilan Arya. Si anak berambut putih diam sejenak.


“Sederhananya begini. Rook, Knight, juga Bishop pasti memiliki kesetiaan mutlak terhadap Tuan mereka, namun King serta Queen? Apa kau sungguh berpikir keduanya akan bersedia tunduk mematuhi sepenuhnya otoritas lain?”


------><------


“Jadi begitulah alasan aku mengumpulkan kalian di sini, ada pertanyaan?”


Kesepuluh Elementalist telah berkumpul dalam satu ruangan, Arya berencana menyampaikan detail – detail penting supaya semua dapat memahami dengan baik. Alalea, Callista, dan Kizuna ikut mendengarkan.


“Berapa lama kira – kira kau akan pergi?” Alalea mengangkat tangan.


“Hah? Oh....ayolah aku bahkan belum berangkat, apa menurutmu menghentikan perang itu semudah yang dilakukan oleh Akagami no Shanks?” gerutu Arya pelan.


‘Siapa saja yang akan ikut dalam misi?’ tulisan pasir Ali menarik perhatian seisi ruangan.


Arya menarik napas dalam – dalam kemudian membacakan empat nama tertera pada kertas di tangannya, “Kevin Storm, Selena Wave, Rena Green, dan....Elizabeth Light—“.


“KEBERATAN!!!”


“YESSS!!! AKHIRNYA!!!”


Tanpa memperdulikan sekitar, Elizabeth langsung melesat ke depan memeluk Arya erat – erat seperti takut dirinya bisa menghilang kapan saja. Hampir semuanya menolak keputusan tadi kecuali Zayn serta Ali yang nampak mengerti alasan pilihan Arya.


“Atas dasar apa kau memilih mereka?!”


“Aku tidak mungkin mengajakmu Nona Blaze? Kau sungguh berpikir dapat bertarung di dalam air?”


“Ukh....” semangat Asuna segera menciut mendengar ucapan barusan.


“Lalu aku—“


“Menurutmu berapa lama besi akan berkarat terkena laut? Sudahlah aku tau alasanmu hanya ingin bertemu Putri Duyung bukan?”


JLEB!


Timothy tumbang karena kata – kata Arya tepat sasaran, Lexa baru saja hendak protes. Arya secepat kilat melemparkan satu buah kentang rebus untuk meyumpal mulutnya, walaupun ada peluang. Dia tidak berani membayangkan bencana yang terjadi jika sampai membawa gadis itu.


“Apa anggota misi harus Elementalist?” celetuk Kizuna.



“Tidak juga sih, Alalea kau tak pernah melihat lautan jadi jangan bermimpi. Callista, kau dikurung hampir selama hidupmu. Aku bahkan tak tau kau bisa berenang atau tidak?”

__ADS_1


“Ugh!?”


“Kalau begitu aku—“


“Kau takut kegelapan” Arya berbisik lalu menjepit hidung Kizuna menggunakan jari tangan kanannya.


“Enak saja—“


“Menurutmu dasar laut itu seterang apa? Jika melihat makhluk mengerikan dalam gua kau sudah menjerit, sebaiknya lupakan. Rapat selesai, kita berangkat dua hari lagi!!!”


“SIAP!” sahut Kevin, Selena, Rena, dan Elizabeth serempak.


------><------


“Wahhh....cuacanya cerah sekali” Elizabeth berseru sambil meregangkan badannya.


“Benar, sangat tepat tuk pergi menjalankan misi” timpal Selena tersenyum setuju.


“Kuharap petualangan ini akan seru, ohhh aku sangat bersemangat” Kevin memasang ekspresi buas.


“A..Ar...Arya? Kau butuh bantuan?” tanya Rena lembut.


“Sial....aku tidak menyangka akan berangkat dengan penampilan seperti ini”


Keempat Elementalist menoleh ke arah ketua mereka, Arya sedang merapikan rambut palsu panjangnya agar tak mengganggu. Dia mengikatnya model kuncir kuda sebelum menyusul yang lain, Kevin, Selena, Rena, dan Elizabeth berani bersumpah kalau mereka tidak megenalnya. Pasti akan bersikukuh kalau dirinya perempuan tulen.



Kulit wajah putih bersih seperti salju juga mata berwarna biru terang sungguh kombinasi menawan, melihat tatapan teman – temannya. Arya malah bertambah jengkel, ia menjentikan jari agar empat remaja tersebut bangun dari lamunannya.


CTAK!


“I..IY..IYA!?”


“Berhenti melongo, perjalanan kita masih panjang. Nggh....gatal, sebenarnya perekat macam apa sih yang kalian gunakan?” Arya menggaruk – garuk kepalanya.


“Entahlah, bahan utamanya itu adalah salah satu tanaman temuan Rena”


“Hah!? Oi Rena!?”


“Ahahaha ayo berangkat” kata Rena bersiul polos.


“Tunggu sebentar!? Berapa lama benda ini akan menempel?”


“Eee....seminggu....mungkin”


“APA!??”


- Atlantos Arc Status : Begin -


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfamart.


__ADS_2