Elementalist

Elementalist
Episode 114 - Dasar Jurang


__ADS_3

“APA? TUAN ARYA JATUH KE DALAM GREAT WHALE BELLY RAVINE?!”


Harpyja bangkit berdiri tak mampu menahan diri setelah mendengar cerita Rattus yang bertekuk lutut lesu di hadapan semua orang. Euforia keberhasilan misi langsung sirna seketika, ekspresi ngeri mulai bermunculan.


“Ada yang bisa jelaskan pada kami apa itu Great Whale Belly Ravine?” tanya Timothy memasang wajah konyol.


“Perut paus?” Lexa, Elizabeth, dan Selena saling menatap satu sama lain.


Kinichi kemudian menjelaskan tentang tempat eksekuti mati para pemberontak berupa jurang tak berdasar bernama Great Whale Belly Ravine, sesuai namanya. Jurang tersebut memiliki kedalaman tidak terukur sehingga bak perut paus raksasa.


Jika dilihat pada ketinggian tertentu, bibir jurang akan nampak seperti mulut paus yang membuka lebar. Belum pernah terdengar kabar ada korban selamat begitu terjatuh ke dalam sana, bahkan mayat mereka pun hilang tanpa jejak.


Oleh sebab itu, Great Whale Belly Ravine menjadi salah satu pilihan Werebeast Zoonatia untuk mengakhiri hidup akibat depresi dan sebagainya. Ada kabar beredar kalau jurang ini terbentuk karena adanya Makhluk Gaib berkekuatan hebat menempatinya.


“Gawat! Kita harus membentuk tim untuk menolong Kapten” seru Kevin terburu – buru.


“Aku setuju, biarkan aku yang pergi” Elizabeth mengajukan diri.


“Kami juga ingin menolong guru” teriak Hachiru dan Kyuran lantang.


“Hentikan, dia tak memperlukan pertolongan”


Kata – kata lirih tersebut menarik perhatian semua orang, mata mereka tertuju tepat ke arah Asuna. Si Elementalist Api melipat kedua tangannya dengan santai sambil bersandar pada tembok.


“Asuna kau ini—“


“Tidak usah khawatir. Kalian tentu tau orang seperti apa dirinya bukan? Jika dia bilang akan baik – baik saja maka begitulah kenyataanya. Kau mendengar sendiri Arya berkata seperti itukan tikus kecil?”


Mata merah Asuna terkunci ke Rattus, dengan tubuh sedikit bergetar ia pun menganggukkan kepala. Suasana menjadi semakin mencekam, akhirnya Rena memutuskan untuk berbicara demi mencairkan situasi ini.


“Tenanglah, Arya membawa beberapa tanaman obat. Aku yakin dia selamat”


“Lebih baik kita mempersiapkan tahap selanjutnya, agar ketika laki – laki menyebalkan itu kembali semua hal merepotkan ini segera berakhir” tutup Asuna sebelum melangkah pergi.


“Zayn?”


“Kita ikuti saja, Kapten selalu bilang saat dia tidak ada. Sebaiknya dengarkan kata – kata Asuna”


‘Karena Wakil Kapten akan mengambil keputusan terbaik begitu ia tidak ada’ Ali mengangguk diikuti yang lain.


Tidak jauh dari ruangan tempat berkumpul, Selena sudah menyusul Asuna. Gadis tersebut melangkah ringan sebelum berhenti tepat disebelah temannya.


“Kau bilang tidak perlu khawatir tapi sendirinya malah kepikiran”


“Aku memang tak mengkhawatirkannya”

__ADS_1


“Eeehh....lalu? Bagaimana dengan janjimu kepada Alalea?”


“Kau menguping?” ujar Asuna heran.


“Ayolah, kami berempat sudah tau” Selena membela diri.


“Ck! Dasar, aku percaya sepenuh hati kalau dia segera kembali”


------><------


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”


“Mmm? Akhirnya kau bangun juga”


Kizuna terbangun dari posisi berbaring sambil terus terbatuk sampai matanya berair, dia melihat kegelapan menyelimuti penjuru tempat itu. Hanya terdapat satu sumber cahaya, yaitu sebuah api unggun dekat tempatnya berbaring.



Tiba – tiba dia segera menjauh begitu menyadari laki – laki yang dirinya kejar sebelumnya berada tepat di seberang kobaran api. Mengikat perban pada luka betis kanannya, Kizuna berusaha mencari senjata miliknya namun tidak menemukan apapun.


“Ugh...!?”


“Sedikit saran, sebaiknya kau tidak terlalu banyak bergerak. Goresan pinggangmu bisa terbuka lagi”


Arya menatap aneh gadis rubah dihadapannya, waspada boleh. Namun bergerak seperti tadi ketika baru saja siuman membutuhkan keberanian yang besar. Rasa nyeri membuatnya juga ikut meringis, dia bersyukur menerima alat – alat pertolongan pertama dari Rena.


“Kyaa!!? Apa yang telah kau lakukan pada tubuhku selama pingsan dasar pria mesum!”


“Hah!? Aku cuma membersihkan lukamu! Juga mengolesi beberapa tanaman obat dan memperbannya. Jangan mengatakan seolah – olah aku melakukan hal yang aneh dong!” roh Arya hampir terlepas mendengar teriakan gadis tersebut.


“Bohong! Beraninya kau melihat tubuh seorang gadis! Kembalikan senjataku!”


“Apa maksudmu? Mereka tepat dihadapanmu”


“HAH?!”


Rona muka Kizuna segera menghilang, matanya menatap kosong ke arah api unggun. Kekuatan bertahap meninggalkan kedua kakinya, saat air mata hampir menetes. Sebuah benda dilemparkan ke arahnya.


“Karena terlihat berharga, aku hanya menggunakan anak panah saja. Maaf tidak meminta izin terlebih dahulu. Cuma itu kayu yang bisa aku temukan”


Kizuna memeluk erat busur miliknnya, benda tersebut sangat berharga. Mungkin bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Sesudah tenang, kilatan mata tidak suka menusuk Arya tajam – tajam.


‘Hah....ini akan menjadi pertualangan yang merepotkan’


------><------

__ADS_1


Arya dituntut menjelaskan semua kejadian setelah mereka jatuh ke dalam jurang, sejujurnya dia sendiri tidak terlalu mengingatnya. Yang jelas keduanya mendarat di air, kemudian terseret arus entah berapa meter.


Dengan usaha keras dan sisa tenaga miliknya, Arya berhasil membawa tubuh Kizuna ke tepian. Lalu berusaha menyalakan api serta mengobati luka – kuka yang ada, ia mengaku sempat kehilangan kesadaran sekitar satu setengah jam. Untungnya tidak terjadi apa – apa.


“Sampai akhirnya kau terbangun kemidian menuduhku melakukan hal – hal tidak senonoh” sindir Arya sinis.


Sambil cemberut, Kizuna memasang telinga baik – baik. Memang terdengar suara air mengalir tak jauh dari sana, si gadis rubah kemudian mengambil sejumlah tangkai kayu api unggun sebagai obor. Begitu menyusuri tepi sungai beberapa waktu.



Dia mendapati sebuah gua, jalur air masih berlanjut sampai ke dalam sana. Arya yang merasa khawatir menyusul wanita itu. Ia mengatakan kalau ada kemungkinan terdapat jalan keluar di ujung sana dan memang berencana menjelajahinya.


KRUYUKKK!!!


“Hmm? Kau lapar?”


“Ekh!?—“


Cepat – cepat Kizuna menekan perutnya, tak pernah disangka merasa lapar akan membuat dirinya semalu tadi. Mengabaikan pertanyaan Arya, dia berjalan ke tepi sungai untuk minum. Mencoba menjanggal perut menggunakan air.


Baru saja sampai matanya menangkap sebuah gerakan, ternyata banyak sekali ikan – ikan dengan ukuran beragam berenang di sana. Kedalaman sungai pada sisi ini untungnya dangkal, tanpa menunggu lagi Kizuna langsung masuk ke air berusaha menangkap santapannya.


Setengah jam berlalu tanpa hasil, karena kesal dia mengambil busur miliknya ingin menembak tapi segera ingat kalau tak memiliki anak panah. Arya perlahan berjalan ke arah sunga sambil bersiul santai.


Sebelum Kizuna bertanya ia ingin melakukan apa, suara benang tersebar memenuhi udara. Dalam waktu singkat sebuah jaring besar menangkap banyak ikan dengan mudahnya, Arya membakar semua tangkapan tersebut lalu membaginya dengan Kizuna yang terlihat malu dan enggan untuk meminta.


Tetapi menolak pemberian bukannlah suatu hal yang baik, jadi dia menerima kemudian menyantap ikan bakar buatan Arya selahap mungkin. Setelah kenyang, Kizuna tanpa berkata apa – apa pergi masuk ke dalam gua sebelumnya.


“Selamat jalan” ucap Arya tenang, dia juga memang berencana akan menyusuri lokasi tersebut.


Namun tak berselang lama, Kizuna kembali. Wajahnya pucat pasi, si gadis rubah duduk diam seribu bahasa seolah baru saha mengalami trauma berat. Ia cuma menggeleng – geleng ketika ditanya tentang apa yang terjadi.


“Eh? Kenapa kau kembali? Tersesat?”


“.....”


“Lapar? Terlalu gelap?”


“.....”


“Hmm....? Ah! Makhluk mengerikan bersayap apa itu di punggungmu!?”


“KYAAA!!! JAUHKAN DARIKU! JAUHKAN....!!! Eh?” Kizuna mematung begitu menyadari tidak ada apapun menempel dipunggungnya.


“Ahh....kau takut terhadap kelelawar rupanya, pfft!?” gumam Arya dengan tatapan remeh.

__ADS_1


“DASAR BRENGSEK!”


__ADS_2