
Melihat betapa berbahanya lawan, Rena segera mengerahkan kekuatannya untuk mengamankan situasi. Dalam sepersekian detik gundukan tanah dari berbagai penjuru bergerak serentak menuju Reiko kemudian mengeluarkan puluhan untaian sulur berduri.
Gadis berambut merah muda itu memperhatikan bagaimana kumpulan tanaman barusan membungkus dirinya seperti kepompong, dia tertawa geli menyaksikan tindakan konyol tersebut sebelum menghentakan tubuhnya. Muncullah berbagai kristal tajam melalui permukaan kulit Reiko dan mengoyak tanpa sisa ikatan pengekangnya.
“Hahaha menarik....tapi masih belum cukup menghentikanku....sekarang waktunya serangan balik!”
CTAS....!!!
Usai Reiko mengayunkan tangannya dengan tangkas cambuk miliknya langsung memanjang cepat, Elemental Weapon miliknya meliuk – liuk menghindari seluruh halangan demi mengincar lokasi Rena berada. Kevin datang tepat waktu terus menepis ujung senjata Reiko supaya menjauh.
Namun Reiko malah menjulurkan lidahnya tanda mengejek, dia cekatan memutar pergelangannya sehingga sukses kembali menggerakan tali berukir berlian itu menuju Rena. Kaki sang Elementalist Alam tertangkap sampai mengeluarkan darah, berbekal tarikan kuat Rena terangkat tinggi ke udara sebelum dihempaskan lagi disertai suara gedebuk keras.
“RENAA....!?” panggil Kevin khawatir.
“Kau melihat kemana?”
Kali ini target Reiko beralih kepada orang terdekat, cambuknya membelah udara layaknya peluru mengincar leher musuh. Setelah mengamati pola jurus Reiko sebelumnya Kevin tidak mau mengulangi kesalahan sama, ia memilih membentuk medan listirk bertegangan tinggi untuk menahan senjata tersebut.
Kevin tanpa menunggu lama memanfaatkan kesempatannya memberikan serangan balik, dia mengirim aliran petir kuning terang melalui gagang di genggaman Reiko dan berharap mampu melumpuhkannya. Betapa terkejutnya Kevin saat semuanya menghilang tak berbekas begitu menyentuh kulit Reiko.
“Usahamu boleh juga....tapi sayang sekali kristal bukanlah penghantar listrik....” Reiko menyeringai terus menghentakan lengannya sekali lagi.
Senjata Reiko memanjang lalu menubruk Kevin hingga menabrak bekas bangunan yang runtuh selang beberapa detik akibat kuatnya guncangan dari adu kekuatan mereka, waktu tatapannya masih tertuju ke tempat Kevin terakhir terlihat.
Aura hitam serta emas telah mengepungnya, masing – masing siap melepaskan jurus kuat secara bersamaan. Dengan tenang Reiko menciptakan dinding kristal pada kedua sisi tubuhnya dalam sekejap, namun agak terlambat menyadari hawa panas sekitar tengkuknya.
“Kena kau! Mangetsuho Enma!!!” teriak Asuna berbekal pedang api melapisi tangannya.
BURNN...!!! JDUAR....!!!
Sergapan Asuna, Zayn, serta Elizabeth menghasilkan ledakan luar biasa. Alhasil debu berhamburan kemana – mana juga menyebabkan jarak pandang orang – orang menjadi terbatas, kesunyian cukup lama terjadi sampai suara menggumam lirih mulai terdengar.
“Aduh....sakit sekali, tapi terima kasih. Rasa pegalnya jauh berkurang, mengapa bengong? Hehehe....bukankah kalian semua bisa melakukannya? Tahap Master ini....”
JGEER....!!! WUSH....!!!
------><------
“Ckk....gadis itu tidak pernah bisa menahan diri....sebenarnya berapa banyak energi yang dia miliki?” Xavier menggerutu mencoba melindungi matanya dari debu.
Sewaktu asap bercampur material – material tanah perlahan menipis nampak tiga sosok terkapar lemah di hadapan perempuan berlapis energi merah muda, tekanan menakjubkan segera menyusul kehadirannya. Reiko berjalan santai mendekati Asuna seolah tengah mengunjungi tempat pariwisata.
BRUAKH...!!!
__ADS_1
“Sel!? Bawa mereka mundur! Aku akan coba menahan—!“
Mulut Lexa berhenti bicara karena dua buah tangan batu raksasa yang ia ciptakan untuk ******* Reiko mengalami retakan terus hancur berkeping – keping, Reiko menyambar mata kaki Lexa menggunakan Elemental Weapon miliknya sebelum membantingnya sekeras mungkin ke tanah.
Ketika mencoba bangkit sang Elementalist Kristal datang menghampirinya dan memberikan injakan kuat hingga Lexa tak kuasa melakukan apapun kecuali menjerit kesakitan, meski demikian perhatian Reiko masih cukup tajam sampai bisa menembakan lusinan bongkahan kristal yang menembus lengan Selena.
JLEB!
“Akh....!?” desis Selena mencoba menahan rasa perih itu dengan badan gemetar hebat.
“Jangan kira aku tidak tau rencanamu menyembuhkan mereka, kalian Elementalist Air dan Elementalist Alam memang harus dibereskan dahulu....”
“Forbici Sacre!”
KRANG....!!!
Reiko melompat mundur usai Timothy mengubah kedua kakinya menjadi bilah tajam layaknya gunting sebagai bentuk penyerangan lalu memanfaatkan momen tersebut untuk mengevakuasi Lexa dari sana.
“Kalian baik – baik—“
Timothy terdiam melihat kondisi parah rekan – rekannya. Asuna, Elizabeth, juga Zayn mempunyai luka sayatan panjang menghiasi badan masing – masing akibat terkena langsung dalam jarak dekat efek perubahan tahap Master musuh. Di lain sisi Lexa mengalami patah tulang pada bagian rusuk maupun pundaknya, sementara Selena yang merupakan penanggung jawab medis malah cedera serius.
Darah segar keluar melalui mulut Timothy, dia perlahan terduduk meringis memegangi bekas pukulan Reiko sekitar perutnya. Jika tak cepat berbaring dia takut mengeluarkan seluruh isi lambungnya, Rena ditemani Kevin akhirnya tiba beberapa saat kemudian dengan terseok - seok.
Kevin menempatkan dirinya seorang menghadap Reiko selagi Rena mencoba mengobati yang lain meski sebenarnya sama – sama terluka, kondisinya sekarang sungguh berantakan. Selain kehabisan tenaga akibat pertempuran sebelumnya mereka saat ini harus menghadapi lawan jauh lebih kuat dibanding gabungan aliansi Fatum sekalipun.
“Bagaimana mungkin....Artificial Elementalist dapat memakai Master?” celetuk Zayn kesulitan mengatur napasnya.
“Berhenti atau lukamu bakal terbuka lagi”
“Jika kau bertanya pada kami lalu kami harus bertanya ke siapa?” Timothy membalas setengah bercanda untuk mencairkan suasana tapi langsung menyesali keputusannya.
“Jangan banyak bicara sebelum kujahit bibirmu....”
“Maaf, tetapi....Rena? Haruskah kau mengancamku dengan tatapan begitu?”
“Mereka menyebutnya Perfect Artificial Elementalist....” tambah Asuna mengambil posisi duduk.
Reiko masih belum bergerak dan hanya memperhatikan proses pemulihan para Elementalist, Kevin mengawasinya waspada serta bertanya – tanya dalam hati apa gerangan yang gadis tersebut rencanakan.
“Tolong jangan samakan diriku dengan pangeran bisu kalian....aku ini istimewa” ujarnya tiba – tiba.
__ADS_1
“Kau menunggu apa? Bikin repot saja....”
“Hmm?”
WUSH....!!!
“ARGGG....!!!”
Xavier mendekat sambil menjentikan jarinya, sedetik berselang tercipta pusaran angin mengelilingi kelompok Elementalist. Semuanya langsung tercekik karena seluruh oksigen dalam paru – paru mereka seolah tertarik keluar, Reiko menatap kesal pemuda di sampingnya.
“Berani sekali kau menggangguku bicara setelah bilang tidak mau mengotori tangan sialan....”
“Salahkan betapa lambannya dirimu, aku cuma melakukan perintah. Louis enggan mengambil risiko”
“Ckk....dasar pengganggu....” Reiko menggeram murka.
CTAS! CTAS! CTAS!
Reiko mulai memainkan cambuknya yang pergerakannya makin cepat seiring berjalannya waktu, ia memecut kesana kemari dan menarik kumpulan Agnet menuju satu titik. Energi berwarna merah menyatu terus kian membesar, Xavier ikut menyiapkan jurus penghabisan.
Dia mendekatkan kedua telapak tangannya sambil mengalirkan deras kekuatannya, membuat sesuatu berbentuk bulat agak lonjong mirip seperti gasing. Saking kencangnya perputaran teknik itu udara ikut berhembus membentuk pola melingkar.
Petinggi – petinggi Fatum selain Louis sangat tercengang melihat betapa superiornya kartu as milik pria tersebut, menunjukkan kemampuan Xavier dan Reiko sama saja dengan menyatakan kalau umat Manusia siap menghadapi perang antar ras walaupun kehilangan para Elementalist lain.
“Prototype Whirlwind”
“Exile Current....”
SYUUU....!!!
Masing – masing serangan melesat kemudian saling menyatu menuju tempat delapan orang yang tidak mampu bernapas, mereka tau hidupnya terancam namun hanya bisa menunggu datangnya ajal sampai sekelebatan jubah terlihat sekilas melintas.
“First Dance: Swinging a Single Sword....”
JBREET...!!! JDASH!
Xavier mengernyitkan dahi saat tiap teknik buatannya lenyap seketika sementara ekspresi wajah Reiko berubah antusias menyadari identitas si pendatang, Louis dari kejauhan menghela napas panjang tau cepat atau lambat pengganggu ini pasti akan muncul terus menerus layaknya hama.
“Sudah kuduga aku tidak cocok melihat punggung orang lain....” celetuk Arya sembari menyarungkan kembali Mandalika.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.