Elementalist

Elementalist
Chapter 20 - Pertunangan


__ADS_3

Arya tersentak bangun, ia segera bangun dari posisinya yang berbaring. Dia tidak ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan, hal terakhir yang ia ingat adalah dia dan Rena sudah berhasil memasuki Fairy Forest, sesaat setelah melewati sihir pembatas wilayah para Elf tiba-tiba kepalanya terasa berdengung dan ia pun kehilangan kesadaranya. Tapi sekarang dia sudah merasa lebih baik, bahkan bisa dibilang jauh lebih baik. Ia tidak ingat kapan dia merasakan kondisi tubuhnya sebaik ini, setelah mengerjap beberapa kali akhirnya mata Arya mulai membiasakan diri dengan cahaya yang berada di tempat tersebut. Ia mulai mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


Dia sedang berada di sebuah ruangan yang kelihatannya sebuah kamar, karena di ruangan itu banyak sekali perabotan-perabotan seperti meja dan rak buku. Dan semua barang-barang tersebut terbuat dari kayu, bahkan tempat tidur yang Arya duduki sekarang juga terbuat dari kayu. Hanya saja dilapisi dengan sesuatu yang lembut dan empuk sehingga nyaman untuk berbaring.


Saat dia sedang asyik memandangi sekelilingnya tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan dia melihat seorang Elf berambut pirang sebahu tengah membawa sebuah nampan yang diatasnya ada piring dan gelas. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat, lalu dengan cekatan Arya mengarahkan tangan kanannya ke arah Elf itu. Seketika butiran-butiran es terkumpul pada telapak tangan Arya, dengan segera Elf itu melepaskan nampan yang ia bawa sambil mengangkat tangan mengisyaratkan bahwa dirinya menyerah.


"Bisakah anda tidak mengarahkan itu kepadaku? Anda tidak perlu siaga seperti itu, dan sekedar informasi anda sekarang sedang berada di rumahku" kata Elf itu dengan raut wajah cemas.


Suaranya Elf ini ternyata lebih berat dari dugaannya, mungkinkah Elf ini berjenis kelamin laki-laki pikir Arya. Walaupun si Elf sudah berkata seperti itu Arya tidak memperdulikannya dan tetap mengarahkan tangan kanannya pada Elf itu.


"Mmm mungkin ini bisa membantu, Nona Rena bisakah anda membantuku disini?" panggil Elf itu keluar ruangan.


Arya mendengar sebuah langkah dari luar kamar, dan sosok Rena pun terlihat memasuki ruangan dengan wajah bertanya.


"Membantu mu melakukan apa Eridan.......Kapten Arya?!" pekik Rena saat melihat Arya.


"Rena? Kau tidak apa-apa?" tanya Arya.


Rena segera mendekati Arya dan memegang tangan kanan Arya, Rena terlihat sangat cemas sekaligus gembira melihat Arya sudah siuman.


"Apa yang kau katakan? Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu? Kau tiba-tiba pingsan dan....."


"Maaf membuatmu khawatir, kau pasti cemas sekali" ujar Arya menenangkan Rena.


"Emm tidak apa-apa, syukurlah akhirnya kau sudah siuman" kata Rena sambil tersenyum.


"Eee permisi Tuan Arya? Maafkan aku mengganggu kalian tapi, apa aku sudah boleh bergerak?" tanya si Elf yang sedari tadi masih mengangkat tangan.


Arya mengangguk dan dengan segera Elf itu menjentikan jarinya, langsung saja nampan yang tadi ia lepas saat mengangkat tangan kembali ke tangannya dengan cepat. Arya baru menyadari bahwa nampan itu tadi tidak terjatuh, melainkan melayang beberapa centi dari lantai. Elf itu baru saja menggunakan sihir, ia lalu menepi dari pintu sambil melihat Arya dan juga Rena.


"Sepertinya anda memiliki banyak pertanyaan, jadi kalau anda berkenan bisakah kita berbicara di tempat yang lebih nyaman?" katanya sambil tersenyum.


Arya menyetujuinya dan segera berdiri, Elf itu pun segera melangkah seakan-akan berkata silahkan ikuti aku.


"Rena bisakah kau menjelaskan padaku dengan singkat apa yang sudah terjadi setelah aku tidak sadarkan diri?" bisik Arya.


"Mmm setelah kau tidak sadarkan diri aku sangat ketakutan, sangat menyeramkan berada di wilayah yang tidak kau ketahui dan rekanmu tiba-tiba pingsan. Tapi untungnya Eridan dan beberapa Elf dari Pax segera tiba dan mereka membawa mu kesini, mereka adalah Elf yang berjanji menjemput kita" jelas Rena.


Mereka pun sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang tengah, mereka pun dipersilahkan duduk. Arya dan Rena duduk bersebelahan menghadap si Elf yang duduk diseberang meja, lalu ia menepukan tanganya tiga kali dan dengan ajaib tiga gelas minuman muncul di atas meja.


"Silahkan diminum" katanya sambil tersenyum.


Arya mengangkat gelasnya, minuman itu berwarna merah muda dan mengeluarkan bau yang memabukan. Jujur saja ia sedikt ragu setelah melihat warna minuman tersebut, tapi karena merasa kurang sopan jika ia tidak meminumnya. Ia pun menyeruput minuman itu sedikit, ternyata rasanya tidak terlalu buruk.


"Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?"


"Bisakah kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu" ucap Arya sedikit ketus.


"Ahh maafkan aku atas ketidaksopananku ini, perkenalkan namaku adalah Eridan D'Azuldria. Aku adalah salah satu bangsawan dari keluarga Azuldria, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu menyukai sebutan itu sih" kata Eridan sambil berdiri dan membungkuk memberi hormat pada Arya.


"Salam kenal Eridan, aku minta maaf atas apa yang terjadi barusan dan terimakasih kau telah menolong aku dan Rena"


"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi tugasku. Seperti yang tertulis di perjanjian" balas Eridan sedikit malu-malu.


"Dimana kita sekarang?" tanya Arya akhirnya.


"Bukankah aku sudah bilang, ini adalah rumah......."


"Iya, aku tahu ini rumah mu. Maksudku posisi kita sekarang ada dimana?" ujar Arya sambil menghela nafas.


"Ahaha maafkan aku, kita sekarang sedang berada di Mediopolis" jawab Eridan sambil tertawa.


"Mediopolis?"


"Iya, ada 5 kota besar di wilayah Elf. Nortearm, Esterall, Surealle, Oestecya, dan Mediopolis. Mediopolis berada tepat ditengah-tengah Fairy Forest, dan dikota ini adalah tempat dimana Kastil Arboles berada, yang berarti kota ini adalah pusat pemerintahan dari ras Elf"


"Hebat sekali, kau benar-benar membawa kami tepat ke tengah markas musuh" sindir Arya.


"Jangan berkata seperti itu, anda membuatku terlihat jahat. Menyelundupkan kalian kesini tidak mudah lho"


"Hahaha aku hanya bercanda, bukankah berarti apa yang kami cari ada ditempat ini? Itulah mengapa kau membawa kami kesini"


"Benar,pohon yang kalian cari. Pohon Hellig berada ditempat ini, ada lagi yang ingin anda tanyakan?"


"Mmm apa kau tahu penyebab mengapa aku tiba-tiba pingsan?" tanya Arya akhirnya setelah berpikir beberapa saat.


"Mungkin itu karena anda bersinggungan dengan sihir Elf untuk pertama kalinya" jawab Eridan enteng.


"Tapi Rena tidak apa-apa walaupun bersinggungan dengan sihir Elf" ujar Arya heran.


"Iya jelas saja bukan? Karena Nona Rena adalah manusia biasa" balas Eridan dengan wajah terlihat bingung.


"Maksudmu aku bukan manusia? Yang benar saja" ucap Arya tidak percaya sambil mengarahkan pandangannya dari Eridan ke Rena.


Tapi ternyata Rena juga menatapnya dengan tatapan aneh, persis dengan tatapan yang baru saja Eridan berikan padannya.


"Apa?" tanya Arya bingung.


"Jangan bilang anda juga tidak mengetahuinya" kata Eridan serius.


"Mengetahui apa?!"


"Kapten Arya jangan-jangan......"


"Apa sih yang kalian bicarakan?" ujar Arya kehabisan kesabaran.


Lalu Eridan mengambil sebuah bingkai kosong dari laci sebelah tempat duduknya, dia membisikan sesuatu dan dengan tiba-tiba dari bingkai yang kosong itu muncul sebuah cairan beriak seperti air. Lalu dia mengarahkannya pada Arya.


"Sebaiknya anda melihatnya sendiri" ucap Eridan tenang.


"Cermin?" celetuk Arya sambil melihat cairan itu.


Ia mendekatkan wajahnya ke arah cermin itu, saat dia berharap akan melihat wajahnya yang seperti biasa. Hatinya mencelos, dari balik cermin itu dia tidak melihat dirinya sendiri balik menatapnya. Ia malah saling bertatapan dengan seorang Elf laki-laki berambut putih yang juga menatapnya dengan bingung, entah mengapa Elf yang ada didalam cermin itu tidak terlihat asing baginnya.


Ia pun memegang rambutnya sendiri, Elf didalam cermin itu juga melakukan hal yang sama. Kemudian ia memegang hidungnya, Elf itu menirunya lagi. Lalu akhirnya ia memegang telingannya dan dia pun memekik keras.


"APA YANG TERJADI DENGAN TUBUHKU!!!"


-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------


"Kenapa aku bisa jadi seperti ini?" tanya Arya pada Eridan sambil menarik kerah pakaiannya.

__ADS_1


"Tenangkan diri anda Tuan....."


"Bagaimana aku bisa tenang?!" potong Arya cepat.


"Aku juga sangat bingung dan jujur saja sedikit takut" celetuk Rena pelan.


"Aku mengerti perasaanmu Rena, sekarang jawab Eridan. Kenapa?!" desak Arya.


"Baiklah-baiklah akan aku jawab, tapi sebelum itu bisakah kau melonggarkan peganganmu? Aku tidak bisa bernafas" jawab Eridan dengan wajah membiru.


Arya segera melepasnya, Eridan menarik nafas dalam-dalam dengan penuh syukur. Arya memberikannya kesempatan menarik nafas beberapa saat, setelah itu Eridan merapikan pakaianya yang berantakan akibat perbuatan Arya. Lalu dia menatap Arya sambil berkata.


"Itu karena anda memiliki darah Elf yang mengalir pada tubuh anda"


Mendengar jawaban itu perut Arya terasa mual, dia tertuduk kembali di kursinya sambil menatap ke arah lantai. Dia sedang berusahan mencerna apa yang baru saja dikatakan Eridan padannya.


"Tapi bagaimana bisa?" ujar Arya setelah diam beberapa saat.


"Aku mendengar dari ayahku bahwa ibu anda adalah seorang Half-Elf. Mereka berdua saling mengenal saat ibu anda datang ke tempat kelahiran ibunya alias nenek anda"


"Jadi maksudmu? Nenekku adalah seorang Elf?" ucap Arya dengan heran.


"Seharusnya begitu, tapi sejujurnya aku juga tidak terlalu mengatahui kisahnya. Tapi dengan melihat wujud anda sekarang aku bisa tahu kalau anda juga seorang Half-Elf, mungkin seperempat Elf lebih tepatnya"


"Aku tidak habis pikir kenapa kakekku bisa menikah dengan seorang Elf, apa yang dia pikirkan? Apakah para Pengawas Ujian mengetahui hal ini?"


"Mmm aku tidak tahu, aku tidak pernah membahas hal ini dengan mereka karena aku pikir mereka sudah mengetahuinya" kata Eridan sambil berpikir.


"Bisakah aku berbicara dengan ayahmu untuk mengetahui cerita ini lebih lanjut?" tanya Arya.


"Ayahku sudah meninggal dalam perang, sekarang ini hanya tinggal aku dan kakakku di keluarga ini" jawab Eridan dengan raut wajah muram.


"Ma..maafkan aku, aku tidak tahu"


"Tidak apa, kami juga sudah merelakannya. Sebenarnya anda memiliki sebuah ciri fisik seorang Elf yang sangat terlihat Tuan Arya, apa anda tidak menyadarinya? Kita berdua memiliki kesamaan" kata Eridan kembali semangat.


Arya memperhatikan Eridan sejenak dan mencari apa kesamaan yang dimiliki oleh mereka berdua, setelah mencari beberapa saat ia menemukannya. Dan ia pun mengingat kata-kata yang sering dikatakan oleh orang-orang yang mengenal ibunya.


"Mata kita sama" bisik Arya.


"Benar, warna mata anda adalah ciri fisik seorang Elf. Sebenarnya ras Elf itu terdiri dari 5 keluarga yaitu Azuldria, Rodria, Blandria, Negdria, dan Orodria. Mereka memiliki warna mata yang berbeda-beda biru, merah, putih, hitam, dan emas."


"Jadi maksudmu nenekku adalah seorang Azuldria?"


"Dari warna mata anda sih seharusnya memang seperti itu"


"Aku baru tahu informasi tentang 5 keluarga itu" kata Arya tertarik.


"Menarik bukan? Pada awalnya kelima keluarga ini berperang satu sama lain, tapi akhirnya bersatu karena merasa saling membutuhkan. Mereka juga memiliki keahlian yang berbeda-beda, Azuldria dikenal dengan kecerdasan mereka, Rodria dengan kemampuan bertempur mereka, Blandria dengan sihir mereka, Negdria dengan kelicikan mereka, dan Orodria dengan dominasi mereka" jelas Eridan dengan semangat.


"Ahh terlalu banyak informasi dan kenyataan yang harus kuterima padahal aku baru saja sadarkan diri" keluh Arya.


"Tapi bukankah itu bagus, kau bisa lebih mengetahui banyak hal tentang ibumu" timpal Rena.


"Ngomong-ngomong sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Arya akhirnya.


"Mmm sekitar 1 setengah hari, ini sudah hampir malam" jawab Eridan.


Eridan mengangguk, sebenarnya Arya menyadari bahwa rumah ini sudah dikepung. Dia bisa merasakan sekitar 15 orang yang sudah siap menerobos masuk ke dalam, Arya memberi isyarat pada Eridan untuk melindungi Rena. Lalu dengan sekejap Arya memasang mantel jubahnya dan segera melompat ke pojok ruangan untuk mengambil pedang miliknya.


Kejadian itu terjadi sangat cepat, baru saja Arya menarik setengah pedangnya dari sarung sudah ada lima bilah pedang yang diarahkan tepat ke lehernya. Sementara itu sepuluh Elf lain mengepung Eridan dan juga Rena, Arya sedikit lega karena sepertinya Eridan berhasil menggunakan sihirnya untuk menyamarkan wujud Rena sehingga para Prajurit Elf itu tidak terlihat curiga padannya. Dalam kekacauan itu Rena juga berhasil menggunakan mantel jubah miliknya.


"Tuan Eridan D'Azuldria kau ditahan karena diduga telah menyelundupkan orang asing tanpa izin ke wilayah Elf" kata seorang Elf bertubuh tinggi dengan mata berwarna merah yang kelihatannya sebagai pemimpin pasukan itu.


"Mmm halo Reiss? Tapi apa kau punya bukti mengenai itu?" tanya Eridan dengan tenang walaupun wajahnya sudah penuh dengan keringat dingin.


"Kejadian ini terjadi kemarin, sihir pembatas disalah satu titik melemah. Setelah dilakukan penyelidikan jejak sihir ditempat itu mengarahkan kami ke tempat ini, apa itu belum cukup untukmu?" tanya Elf bernama Reiss itu dengan sinis.


"Tidak, menurutku itu sudah lebih dari cukup hahaha" ujar Eridan sambil tertawa.


"Bersiaplah, kalian bertiga akan dibawa mengahadap Ratu"


-----------------------------<<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >>-----------------------------


Mereka bertiga digiring menuju sebuah pohon yang sangat besar, dari luar terlihat banyak lubang-lubang yang sepertinya adalah jendela. Pohon besar itu adalah Kastil Arboles, Arya takjub dan tidak habis pikir bagaimana bisa para Elf menyihir pohon besar itu menjadi sebuah kastil, mereka memasukinya melalui sebuah gerbang kayu raksasa berlapis emas yang di kiri dan kananya terdapat penjaga yang menggunakan perlengkapan lengkap.


Setelah memasuki kastil, mereka diarahkan menuju sebuah ruangan yang Arya duga sebagai ruang singgasana. Benar saja didalam ruangan itu terdapat sebuah singgasana yang terbuat dari perak di tengah-tengah ruangannya, mereka berjalan pada karpet merah yang mengarah ke singgasana. Disepanjang kiri dan kanan karpet merah tersebut berdirilah para bangsawan Elf yang melihat mereka dengan tatapan menghina.


Setelah akhirnya berhenti berjalan, Arya mengamati sekitarnya. Sekarang dia setuju dengan pendapat salah satu buku yang ia baca di perpustakaan yang mengatakan bahwa para Elf memiliki wajah yang tampan dan cantik, disini dia melihat bahwa hal itu benar adanya.


Lalu setelah puas melihat sekitar ia memberanikan diri menengadah ke arah singgasana, disana duduk seorang Elf wanita berambut pirang dengan mata berwarna biru persis seperti mata Arya. Dia mengenakan gaun putih yang sangat indah, dikepalanya terdapat sebuah mahkota dengan lima permata berwarna biru, merah, emas, putih, dan hitam berjajar secara berurutan.


Sang Ratu terlihat sangat cantik walaupun sekarang kecantikan itu terlihat sedikit meredup karena dimakan waktu, Arya merasakan pandangan menusuk dari sang Ratu yang diarahkan padanya. Disebelah kanan sang Ratu berdiri seorang Elf perempuan yang lebih muda, ia tidak kalah cantiknya dengan sang Ratu. Dia terlihat seperti sang Ratu versi lebih muda, ia mengenakan gaun putih dengan kombinasi biru. Dikepalanya terdapat sebuah tiara perak dengan permata berwarna biru yang sangat indah. Arya merasa pernah melihat Elf itu, entah dimana.



Dia terlihat penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Reiss melangkah ke depan dan menekukan lututnya untuk memberi hormat kepada sang Ratu. Dia lalu berbicara dengan suara lantang.


"Saya mohon maaf mengganggu pertemuan anda Yang Mulia, tapi saya sudah melaksanakan tugas yang anda berikan"


"Laporkan" perintah Ratu pelan.


Reiss segera berdiri kembali dan melangkah menuju kearah Arya, Rena, dan Eridan. Lalu sambil memegang pundak Eridan ia berkata.


"Saya Reiss D'Rodria telah menangkap tersangka penyelundupan orang asing tersebut, bersama dengan para penyelundupnya"


Setelah mengatakan hal itu ia mendorong Arya,Rena, dan Eridan sehingga mereka bertiga melangkah maju.


"Eridan? Apa yang kau lakukan?" tanya Elf yang berdiri disebelah singgasana Ratu


"Hehehe halo Tuan Putri" balas Eridan sambil tertawa hampa.


"Kenapa kau bisa......"


"Alalea" panggil sang Ratu.


"Tapi nek Eridan adalah teman....."


"Cukup!" potong Sang Ratu.


Mendengar nada suara sang nenek berubah Putri Alalea pun terdiam, dia masih terlihat tidak percaya melihat teman masa kecilnya Eridan terlibat dalam masalah seperti ini. Ratu pun kembali menatap mereka bertiga, tatapannya penuh dengan kewibawaan.

__ADS_1


"Eridan? Bisa kau jelaskan semua ini?" tanya Ratu.


"Seperti yang anda lihat yang mulia, aku tidak bisa menyampaikannya dengan lebih baik lagi" jawab Eridan tenang.


Setelah mendengar perkataan Eridan para Bangsawan yang berada di ruangan tersebut mulai saling berbisik satu sama lain, lalu salah satu diantara mereka ada yang berbicara.


"Kau itu mempermalukan para Bangsawan saja Eridan" celetuk salah satu Elf bermata hitam.


"Benar, kau itu harusnya malu dan sadar. Kau itu kan seorang Azuldria" timpal seorang Elf wanita bermata biru.


"Menyelundupkan orang asing benar-benar memalukan, hey Reiss. Bukankah kau sebaiknya memperlihatkan wajah para penyelundup itu" kata seorang Elf gemuk bermata merah.


Mendengar perkataan itu Reiss pun melangkah mendekati Rena, ia menjulurkan tangannya ke arah tudung jubah milik Rena. Tapi Rena menghindar dan melangkah mendekati Arya sambil memeluk tangannya, Arya bisa merasakan tangan Rena gemetar.


"Hey kau. perempuan, lepas tudung jubah itu saat menghadap ke Ratu" perintah Reiss sambil berusaha menggapainya lagi.


"Jangan berani-berani kau menyentuhnya" kata Arya dingin.


"Apa?"


"Jika kau sentuh sehelai saja rambutnya bersiaplah kehilangan tangan kananmu"


"Hah? kau pikir siapa dirimu?" ucap Reiss tidak peduli.


"Coba saja" timpal Arya sambil menoleh menatap Reiss.


Tatapan Arya sangat mengintimidasi, sampai-sampai Reiss menghentikan juluran tangannya. Suhu udara ruangan itu tiba-tiba menurun, dan sebuah angin berhembus membuat tudung jubah Arya terlepas dan memperlihatkan wujud Elf miliknya.


Debgan sigap para prajurit Elf yang menangkap mereka menghunuskan pedangnya ke arah Arya.


"Ck, orang ini......" ujar Reiss dengan wajah menyeramkan.


"Jangan-jangan dia seorang Dark Elf" timpal salah satu bangsawan bermata emas.


"CUKUP!" terdengar suara sang Ratu yang sudah diperbesar.


Suara itu menggema dikepala Arya dan yang lainnya.


"Aku mengenalnya, bisakah kalian membiarkan aku berbica berdua saja dengan dia?" kata Ratu tegas.


"Tapi Yang Mulia itu berbahaya" jawab Reiss.


"Benar Yang Mulia lihat rambut pria ini" timpal si bangsawan Rodria gemuk.


"Kali ini, aku sedikit setuju dengan mereka nek" tambah Putri Alalea.


"Sudah aku katakan bukan, aku mengenalnya. Apa kalian meragukanku?" ucap Sang Ratu dengan nada suara meninggi.


Seketika mereka semua menunduk dan dengan patuh melangkah keluar dari ruangan singgasana termasuk Rena dan juga Eridan, setelah pintu ruang singgasana tertutup sang Ratu membisikan sesuatu yang membuat sebuah cahaya lembut menyelimuti ruangan tersebut.


"Aku tidak menyangka para manusia mengirim kekuatan tempur terbaik mereka kesini" celetuk Sang Ratu.


Mendengar hal itu Arya melompat mundur menjauh dari singgasana sambil bersiap menarik pedangnya, tapi Ratu hanya menatapnya tanpa bergerak sedikitpun.


"Bagaimana anda bisa tahu?" tanya Arya pelan.


"Kau harus tahu, rambut berwarna putih itu tidak lazim bagi para Elf. Itulah mengapa mereka menganggap mu seorang Dark Elf, dan sebaiknya kau lebih tenang. Aku sudah memantrai ruangan ini agar tidak ada yang bisa menguping pembicaraan ini. Jadi kau aman" jelas Ratu.


"Kalau anda sudah tahu bahwa saya adalah seorang Elementalist kenapa anda tidak langsung menangkap dan membunuh saya?"


Ratu terdiam beberapa saat, lalu ia menjawabnya dengan enteng.


"Karena itu tidak menarik"


"Apa?!"


"Katakan padaku apa tujuan mu datang kesini? Dan jangan coba-coba berbohong karena aku bisa dengan mudah mengetahuinya"


Arya sebenarnya ragu untuk memberitahu yang sebenarnya, tetapi ia tidak ingin situasinya semakin memburuk jadi ia lalu menjelaskan kepada Sang Ratu tentang Ujian Elementalist tahap kedua, dan tujuannya untuk mencari bahan Elemental Weapon.


"Mmm tidak kusangka kalian bahkan belum menjadi Elementalist yang matang dan kalian sudah berani memasuki wilayah Elf, tindakan yang sangat bodoh" komentar Ratu.


Arya sedikit kesal mendengar hal itu, karena dialah yang membuat rencana ini.


"Tapi bukankah kau seorang Elementalist Es? Kenapa kau mencari bahan Elemental Weapon disini?"


"Anak perempuan yang bersamaku tadi adalah Elementalist Alam" jawab Arya.


"Ahh Elementalist Alam ya, Mmm jadi kau berharap aku. Ratu Elf, akan membiarkan kalian mendapatkan sebuah bahan yang akan kalian gunakan untuk melawan kami? Dan bukankah kalian juga mengharapkan sebuah aliansi? Jangan bermimpi, apa kau pikir aku akan mengizinkannya?" kata Ratu sambil tertawa.


Arya menelan ludah, jujur saja dia merasa bahwa ia telah membeberkan rencana mereka kepada pemimpin musuh.


"Baiklah akan aku lakukan" ujar Ratu menghentikan tawanya.


"Eh? Apa?"


"Aku bilang aku akan menyetujuinya tapi dengan satu syarat" ujar Sang Ratu.


Arya sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Sang Ratu, tapi apabila hal ini bisa mempermudah tujuan mereka tidak ada salahnya untuk dicoba bukan?


"Apa syarat yang anda inginkan?" tanya Arya ragu-ragu.


"Kau akan segera mengetahuinya" jawab Ratu sambil tersenyum misterius.


Sang Ratu pun menjentikkan jarinya dan pintu ruangan singgasana itu terbuka kembali, dan orang-orang kembali berbondong-bondong masuk ke ruangan. Arya segera berkumpul lagi dengan Rena dan Eridan. Lalu Ratu memberikan isyarat agar semua diam, lalu ia memanggil Arya untuk mendekat.


"Perkenalkan dirimu" perintahnya.


"Perkenalkan, nama saya adalah Arya" kata Arya sambil membungkuk.


Celaka kenapa aku menggunakan nama asli, ahh sudahlah. Aku heran kenapa dia menyuruhku untuk memperkenalkan diri, tapi jika ini benar-benar bisa membantu kami mencapai tujuan maka.....


"Seperti yang kalian dengar. Dia adalah Arya, dia adalah perwakilan dari para Elf, yang telah diasingkan dimasa lalu. Dia kemari dengan tujuan untuk memperbaiki hubungan antara kedua belah pihak" kata Ratu mengumumkan dengan semangat.


Semua orang yang mendengar hal itu terlihat bingung, termasuk Arya sendiri. Apa Sang Ratu sedang membuatkan penyamaran untuknya?


"Maka dari itu aku ingin mempertunangkannya dengan cucuku, Alalea D'Azuldria" ujar Ratu dengan gembira.


"Hah?" timpal Arya dan Alalea bersamaan.


"EHHHH??!!!"

__ADS_1


__ADS_2