Elementalist

Elementalist
Chapter 294 - Sayonara


__ADS_3

“Jadi....kota misterius itu sudah hancur rupanya?”


“Benar yang mulia, sekarang tidak ada lagi tandingan bagi Underground Paradise untuk mendapat julukan tak tertembus”


Goblin berbadan cebol dengan pakaian mahal mengangkat kepalanya sembari tersenyum antusias, suasana ruang singgana cukup heboh mendengar kabar tersebut. Namun ekspresi berbanding terbalik ditunjukkan sang Raja Dwarf, seolah tengah memikirkan suatu hal rumit.


“Harap tenang....!!!” Vermaand membuka mulut dan seluruh suara hilang seketika.


Tindakan tadi mengagetkan semua orang, sudah sejak lama sang Dwarf tua nan bejat itu bersikap serius. Bahkan para istrinya saling bertukar pandang heran, mereka berusaha merayunya tuk menenangkan tetapi tidak digubris sama sekali.


“Lima menit lagi, aku ingin semua dewan keamanan berkumpul di ruang rapat. Mengerti?”


“Baik Yang Mulia!”


“Ruck? Kau juga kembalilah, perintahkan bagian administrasi agar jangan sampai teledor. Kita bakal kedatangan beberapa tamu kurang menyenangkan....”


“Eh?” Si goblin tersentak linlung dengan telinga berdiri tegak.


“Kau ingin membuatku mengulangi kata – kataku!?”


“T...ti...tidak Yang Mulia! Mana berani hamba, hamba permisi kalau begitu!”


Saat suara langkah kaki pendek makhluk hijau tersebut perlahan menghilang serta ruangan hanya menyisakan dia bersama istri – istrinya, Vermaand bersandar kemudian menghela napas panjang. Ia memijit – mijit keningnya mencoba berpikir keras.


Meskipun terlihat seperti seorang yang mendapatkan tahta karena beruntung, Dwarf satu ini memang mempunyai bakat menilai suatu ke depannya atau bisa dibilang visioner berkat mata Graiai. Itulah mengapa Raja terdahulu sangat mempercayainya, dan kabar barusan membuka banyak sekali jalan menuju ketidakpastian. Sebuah hal yang paling ia hindari.


“Sayang? Kau baik – baik saja?”


“Ah, aku hanya kepikiran sesuatu”


“Boleh kami tau?” kata salah satu istrinya hati – hati.


“Kalian ingat bocah berambut putih yang datang satu tahun lalu?”


“Oh? Pemilik benang merah muda seperti dirimu?”


“Benar, aku penasaran bagaimana kelanjutan kisah perjalanannya?”


Vermaand bangkit berdiri terus dipasangkan jubah oleh para istrinya, bersiap tuk langsung mendatangi ruang rapat. Namun baru satu langkah, sirene peringatan tanda bahaya memenuhi seluruh kota. Seorang prajurit mendatanginya sambil terlihat panik dan memintanya segera ikut.


Ribuan selebaran nampak berjatuhan di atas Underground Paradise, beberapa memungutnya penasaran untuk melihat isi perkamen tersebut. Vermaand tiba di gerbang utama kota, pasukan miliknya telah bersiap siaga akibat kemunculan sekelompok orang.


“Cukup lama tidak bertemu, kau sepertinya punya teman main baru ya? Tuan Garyu”


“Hehehe tutup mulutmu cebol, setelah bekerja sama langsung dengan Witch. Aku tidak perlu bersikap ramah lagi padamu bukan?”


“Hoo...kau akhirnya menunjukan wajah aslimu naga dekil....”


‘HIYYY!? Apa yang dipikirkan Raja?! Kenapa beliau malah memancing keributan? Lihat kumpulan itu!? Demon, Werebeast, Elf, Witch, bahkan....Manusia!? Mereka....Fatum!?’ batin Ruck bermandikan keringat dingin.

__ADS_1


“Bicaralah sepuasmu, bersyukurlah kali ini kami datang hanya untuk mengucapkan perkenalan”


“Hanya? Terus apa maksudnya ini?” Vermaand memperlihatkan selebaran yang di pungut salah satu pengikutnya.


“Sedikit pengumuman dan peringatan”


“Hahaha....lucu sekali, Tuan Garyu wargaku merupakan golongan Trash. Kami tidak perduli kepada pemenang maupun yang memerintah dunia, kalian bisa berperang dan mati konyol sendiri. Jangan melibatkan kotaku.....”


“Baguslah, kau tak menyangkal ada kemungkinan menyembunyikan mereka kelak. Saat waktunya tiba aku sendiri yang akan menghancurkan kepalamu....”


“Pfft lucu sekali, untuk organisasi yang berhasil menaklukan kota semegah Elemental City dengan cara menyelundup serta pengkhianatan omongan kalian besar juga. Aku ingatkan, mustahil bagi Fatum menaklukan Underground Paradise. Tau kenapa? Karena kota ini terdiri dari orang – orang yang dibuang....” ujar Vermaand tertawa geli.


Ekspresi Garyu bersama koleganya berubah gelap penuh amarah, pondasi Underground Paradise sebagai salah satu wilayah Netral terkuat tak dapat digoyahkan sama sekali. Sementara itu di dalam kota sekelompok anak jalanan buru – buru pulang membawa selebaran dari Fatum.


BRAKK!!!


“Kak Tin?! Kakak sudah lihat?!”


Seorang bocah laki – laki sedang duduk membaca informasi dalam tulisan tersebut berbekal penerangan lilin. Ada gambar sepuluh remaja, dua di antaranya dia kenali. Pada bawah nama masing – masing terdapat tulisan merah hidup atau mati serta jumlah hadiah fantastis bagi siapapun yang bisa menyerahkan mereka. Terakhir sebuah peringatan bagi siapapun berusaha membantu para buronan maka akan menjadi musuh Fatum kemudian bakal dieksekusi secara mengerikan.


“Kakak....” bisiknya sebelum meremas kuat – kuat kertas barusan.


><


“Ternyata benar....” Nurahriyon membaca selebaran buronan sembari menopang dagunya.


“Vicente siapkan pasukan”


Vampir berpayung merah itu melihatnya dingin, Nurahriyon menghela napas panjang tau pasti sebentar lagi akan terjadi perdebatan panjang lebar. Keduanya langsung berdiskusi sengit saat pertama kabar ini disampaikan oleh informan Nurahriyon, bahkan agak tidak percaya sampai kertas – kertas berisi buronan akhirnya sampai ke tangan mereka.


“Sabar, cobalah berpikir jernih. Lawan kita bisa menghasut tiga Kaisar Iblis Timur untuk menjadi pengalih perhatian bagi mereka....”


“Aku akan pergi menyelamatkan Callista juga bocah itu dengan atau tanpa bantuanmu” timpal Kruel jelas sekali menahan emosi.


“Ya aku mengerti, aku pun mau menolong. Namun tidak maju secara frontal juga, setidaknya hargailah nyawa – nyawa anak buah kita....”


“UGH!? BRENGSEKKK!!!”


JGER! BRUAKH! BRAKK!!!


“Oi? Bisakah kau mengamuk di luar? Aku baru saja membiayai perbaikan perumahan—”


“HAH!?”


“Tidak. Silahkan lanjutkan....”


‘Sōdaishō.....dasar payah’ dia bisa merasakan tatapan mencemooh para jendralnya.


Nurahriyon berusaha mengabaikan mereka, lalu melipat kertas tersebut dan akhirnya berdiri seraya memberi pengumuman. “Dengar semuanya, aku mulai melihat api peperangan berkobar. Jadi teruslah berlatih dengan giat dan rekrutlah beberapa orang baru berguna. Nura Clan ke depannya akan melewati tahun yang cukup berat. Mengerti!”

__ADS_1


“YA!!!”


><


Setelah memasuki gerbang dimensi Arya berusaha sebaik mungkin mengamati teman – temannya, takut salah satu dari mereka terlempar keluar jalur entah kemana. Sensasi perpindahan yang sedang dilakukan sebenarnya bukanlah hal baru, masing – masing pernah merasakannya saat mengunjungi Dragon Island. Mengingat tempat tersebut juga merupakan pecahan dimensi pemberian Elementalist untuk para naga.


“Hati – hati....terus jaga keseimbangan kalian!” dia berteriak mengingatkan.


Jika ingin dijelaskan, Arya hanya bisa berkata sekelilingnya seperti sebuah saluran pembuangan air kering dan dipenuhi kilatan warna – warni. Kecepatan laju di sana cukup kencang hingga semisal melakukan sedikit keteledoran malah dapat menyebabkan kecelakaan fatal seperti bertubrukan satu sama lain dan sebagainya.


Beberapa menit kemudian fenomena janggal menarik perhatian Arya, tak jauh dari posisi Lexa sebagai orang terdepan ada semacam lingkaran kecil misterius tiba – tiba terlihat tepat sebelum sebuah belokan tajam, karena curiga akhirnya ia meminta semua menghindarinya sejauh mungkin.



“Mengerti!”


Usai sahutan meyakinkan barusan, satu per satu dengan mulus berhasil melewatinya. Semua mengira rencana akan berjalan lancar sampai ketika giliran Arya melintas, secara mengejutkan titik hitam itu membuka lebar layaknya mulut hewan buas lalu menghisapnya.


“Ugh!? Apa sebenarnya—“ Arya menyadari sambaran petir hitam mengandung gravitasi makin menjadi – jadi menyeretnya ke dalam.


“Lexa!?”


TAKKK!


“Dasar! Perhatikan dirimu sendiri!” bentak Asuna berhasil tepat waktu menggapai tangannya.


“Jangan berani – berani tuk melepasnya!”


“Aku....paham! Namun....apa kalian melihat tempat pegangan di sini hah!?” Lexa mengernyitkan dahi penuh konsentrasi, berjuang memeganggi kawan – kawannya yang saling mengaitkan tangan demi menyelamatkan sang Kapten.


“Pokoknya—“


NGINNGGGGG.....!


Ketika bunyi dengung ini terdengar, delapan pasang mata remaja tersebut membelalak akibat sebuah tangan hitam besar terbentuk dari semacam energi kosmik menggenggam Arya kuat. Di momen itu diapun tersadar tak ada jalan keluar lagi.


“Asuna”


“Hentikan...hei!!! Kubilang—”


“Sa.yo.na.ra” eja Arya pelan sebelum tersenyum lebar.



“TIDAKKKK....!!!”


JGEER! SRRRRTT!!! ZAP! SYUUU....!!!


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2