
Terdengar suara tabrakan keras ketika Arya dan Rena berhasil merunduk di tanah, tubuh para Werewolf segera terpental dan memenuhi udara kala itu. Arya segera menyeret Rena untuk menjauhi medan perang dua makhluk buas yang ada disekitar mereka.
Makhluk berkepala tiga itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, ia segera mengamuk dan menerjang para Werewolf yang menghalangi jalannya. Para Werewolf segera mengepung Chimera itu dengan cepat, mereka tidak ingin memberikan ruang gerak padanya.
Tapi apa daya, makhluk seukuran gajah dewasa itu dengan mudah mampu melibas mereka semua dan mengoyak formasi para Werewolf. Pertarungan sengit antara kawanan Werewolf dengan Chimera itupun terjadi.
Kedua belah pihak mengalami kerugian yang sama besar, banyak dari kawanan Werewolf yang terbunuh dan pada akhirnya hanya menyisakan si Werewolf Noble-Tier Millos beserta beberapa anak buahnya yang tangguh.
Kondisi dari Chimera itu juga tidak baik, tubuhnya dipenuhi luka akibat serangan bergerombol dari para Werewolf. Beberapa bagian sayapnya terkoyak dan ujung ekornya putus akibat serangan dari Millos.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap satu sama lain, kemudian pada akhirnya Chimera itu berbalik arah dan bersiap untuk pergi menjauh. Millos dan sisa anak buahnya sepertinya sudah tidak berniat mengejar makhluk itu karena luka yang mereka derita. Tidak ada untungnya bagi mereka untuk mengejar makhluk itu, hanya kerugian yang akan didapat.
"Arya! Kau tidak boleh membiarkan makhluk itu pergi!" desak Rei tiba-tiba.
"Hah? Apa maksudmu? Kau pikir siapa yang memerintahkan kami untuk lari menjauhi makhluk itu sebelumnya hah?!" Arya berbisik dengan nada tidak percaya.
"Apa yang kau harapkan?! Waktu itu aku hanya bersama Rena, tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Kami sudah bersama denganmu dan makhluk itu mengalami luka yang cukup parah"
"Itulah mengapa dari tadi aku bertanya apa maksudmu dengan tidak membiarkan makhluk itu pergi?"
"Kau masih belum mengerti?! Itu karena aura dari South Black Winter Diamond berasal dari makhluk itu!"
"Hah?!"
Tanpa pikir panjang Arya segera menarik Rena untuk mengejar Chimera itu, dia mengeluarkan benang miliknya dari dalam tas pinggang. Tepat sebelum Chimera itu lepas landas Arya berhasil mengikatkan benang miliknya pada salah satu kaki belakang Chimera tersebut.
Segera saja dia dan Rena menggenggam erat benang tersebut dan ikut terbawa terbang ke udara, Chimera itu sepertinya tidak menyadari kehadiran mereka.
"Rena jangan melihat kebawah!" perintah Arya segera.
"Tanpa kau suruh juga aku sudah tau! Jangan melihat kebawah jangan melihat kebawah jangan melihat kebawah!" balas Rena dengan mulut berkomat-kamit serta mata yang terpejam erat.
Sebelum mereka berdua terbang semakin menjauh, mata Arya dan Millos bertemu. Kekesalan sangat terlihat jelas dimatanya, semua yang terjadi pada mereka bisa dibilang Aryalah penyebabnya.
Semuanya terjadi karena mereka mengejar si penyusup brengsek itu, Millospun mengeluarkan suara teriakan yang membuat udara Kutub Selatan bergetar hebat kala itu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Setelah terbang hampir setengah jam, Arya menyadari sepertinya Chimera itu sedang berusaha kembali ke sarangnya yang ada di pegunungan. Hal ini terlihat dari dataran tinggi yang terbentang disekitar mereka.
"Bagaimana bisa aura permata hitam itu berasal dari makhluk ini?" celetuk Arya akhirnya.
"Entahlah, aku juga tidak terlalu mengerti" sahut Rei.
"Pikku?!"
Arya hampir saja melepas peganganya pada benang itu saking terkejutnya, dari dalam jubah Arya dengan santai Pikku mengeluarkan kepalanya dan menoleh untuk melihat sekitar.
"Pikku?! Kau masih bersembunyi dibalik jubahku selama ini?" ujar Arya keheranan.
"Pikku pikku"
Arya akhirnya menyadari dia tidak bisa membedakan para Platynguins itu, sepertinya dia telah mengucapkan selamat tinggal pada seekor Platynguins yang salah.
"Mmm? Dimana kau memungut Platynguins ini Arya?" tanya Rei tertarik.
"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan"
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Rena masih dengan mata terpejam.
Tiba-tiba kecepatan terbang mereka semakin berkurang dan permukaan tanah dibawah mereka terlihat semakin mendekat. Arya segera memerintahkan Rena untuk melompat, mereka dengan aman mendarat pada tumpukan salju tidak jauh dari tempat Chimera itu mendarat.
"Bagaimana pengalaman terbang anda yang kesekian kalinya ini Nona?" Arya tersenyum sambil membantu Rena berdiri.
"Uhh....berhenti menggodaku" sahut Rena sambil cemberut.
"Pikku!"
"Wah! Makhluk apa ini? Imut sekali!" tiba-tiba Rena langsung bersemangat dan menyambar Pikku yang muncul dari balik jubah Arya.
"Pikku pikku pikku!" Pikku berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Rena.
"Eee Rena? Kupikir ini bukan waktu yang tepat"
Mereka kemudian secara perlahan mengendap-endap mendekati Chimera yang terluka itu, Arya lalu meminta Rena untuk tetap diam bersembunyi disitu bersama Pikku sedangkan dia sendiri akan berusaha mendekati makhluk itu sedekat yang ia bisa.
Dia masih tidak habis pikir mengapa makhluk itu bisa mengeluarkan aura South Black Winter Diamond, Rena sudah bersiap siaga untuk segera membantu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat Arya semakin mendekat ke arah Chimera itu.
Saat jarak mereka hanya terpisah lima meter tiba-tiba Rei menyeletuk pelan.
"Tunggu sebentar....tanda itu....jangan-jangan....Fluffy?"
Tepat setelah nama itu diucapkan oleh Rei, ketiga kepala Chimera itu segera menoleh dan menatap Arya dengan ganas. Arya segera menghentikan gerakannya dan tersenyum canggung pada makhluk itu, Chimera itu segera meraung dan menyemburkan napas api dari kepala naganya.
Arya segera melompat untuk menghindari serangan tiba-tiba itu, tapi sayang ujung jubah hangus terbakar. Ia segera berusaha menjauh dari makhluk berkepala tiga bernapas api itu secepat yang dia bisa.
"Fluffy? Siapa itu Fluffy?! Kau memberikan nama seekor Chimera dengan nama FLUFFY?!" teriak Arya tidak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Fluffy itu adalah kambing peliharaan milikku dan adikku saat—"
"KAU MEMBERI NAMA SEEKOR KAMBING DENGAN NAMA FLUFFY?!" Arya melompat menghindari cakaran makhluk buas yang sedang mengejarnya.
"Eee....ya sebenarnya dia memiliki bulu yang—"
"PERSETAN DENGAN BULU FLUFFY?! HARUSKAH KAU TADI MEMANGGIL NAMANYA SEOLAH-OLAH DIA ITU KUCING LUCU BERBULU HALUS?! AWW....!" Arya merasakan panas pada bagian belakang tubuhnya akibat ujung jubah yang terbakar.
Arya segera berbalik arah dan meluncur melewati celah-celah kaki makhluk itu, saat itulah dia menyadari sesuatu yang berwarna hitam ditengah-tengah dahi kepala kambing Chimera tersebut. Dengan cepat ia menarik pedangnya.
Saat Chimera itu berbalik arah, tanpa pikir panjang Arya segera menusukan pedang miliknya pada kepala kambing tersebut. Raungan kesakitan Chimera itu memenuhi udara, secara perlahan muncul sesuatu dari luka tusukan yang dibuat Arya.
Sesuatu yang kental dan berwarna kehitaman, benda itu terus keluar dengan deras sampai memenuhi area sekitarnya. Saat Arya menyadari bahwa benda itu akan menelan mereka, dia segera menoleh ke arah Rena untuk menggapai tangannya. Tepat saat jarak mereka tinggal beberapa senti, pandanganya menjadi gelap.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya segera memanggil-manggil Rena dengan panik, tiba-tiba terdengar suara sahutan dari sebelahnya. Secara perlahan dia bisa melihat sosok Rena dan Pikku tepat disampingnya.
"Kita....ada dimana?" bisik Rena sedikit takut.
"Kalian sedang berada di dalam mahakarya milikku" tiba-tiba sebuah suara terdengar.
Sesosok pria baruh baya dengan tampang berantakan muncul dihadapan mereka, dia mengenakan sebuah jas usang dan dengan santai memasukan lengannya ke saku.
"Kau....adalah...." Arya berusaha mencerna situasi.
"Perkenalkan aku adalah—"
"Tia?! Beraninya kau meracuni Fluffy dengan permata busukmu itu!" potong Rei sambil memunculkan wujudnya secara tiba-tiba.
Pria paruh baya itu menaikan sebelah alisnya, dia terlihat cukup terkejut dengan kemunculan Rei.
"Ahh.....halo kak, seingatku aku tidak pernah mengundangmu kemari" bisiknya sinis.
"Jawab pertanyaanku sialan!"
Arya dan Rena saling menatap satu sama lain dengan kebingungan. Pria paruh baya tersebut menyadari hal itu dan segera menjelaskan.
"Maaf aku belum memperkenalkan diri dengan baik, namaku Notia Poles. Kalian bisa memanggilku Tia"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Kau....adiknya Rei?" tanya Rena perlahan.
"Sayangnya begitu" jawab Tia sambil tersenyum kecut.
"Apa katamu?!"
"Tidak bisa Arya! Orang ini harus menyadari kesalahannya" balas Rei.
"Kesalahan?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Itu adalah kesempatan terakhirku untuk menjaga mahakarya milikku. Apa salahnya aku menanamkannya pada makhluk yang paling aku percaya?" sahut Tia sinis.
Keduanya kembali beradu mulut dengan penuh kebencian, membuat Arya dan Rena harus turun tangan untuk menengahi mereka.
"Kau membuat Fluffy berevolusi menjadi Chimera" ujar Rei tidak percaya.
"Apa salahnya? Dia jadi memiliki umur yang panjang" Tia tidak mau kalah.
"Kau pikir bagaimana perasaanya hidup 2000 tahun lebih di pedalaman Kutub Selatan?!"
"CUKUP! Aku muak mendengar ocehanmu!" bentak Tia.
"Aku....aku tidak mengerti, kaulah yang memulai semua ini adik kecil" Rei menggelengkan kepalanya bingung.
"Aku sudah muak berada dibawah bayang-bayangmu, terutama setelah Shion—"
Intinya Tia merasa muak berada dibawah bayang-bayang Rei, itulah sebabnya dia memutuskan untuk membuat mahakaryanya sendiri. Terutama setelah pertemuannya dengan Shion, tekadnya semakin bulat untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kakaknya.
Tia lalu menoleh pada Arya sambil berkata "Kau salah satu keturunan Shion bukan? Aku selalu tau kalau diriku tidak punya arti dimatanya"
"Kau salah, aku juga seperti itu" kata Rei lalu secara perlahan memeluk adiknya itu.
Awalnya Tia seperti akan menolak, tapi pada akhirnya dia membalas pelukan kakaknya. Arya dan Rena membiarkan kedua kakak beradik itu untuk sesaat, mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan.
"Maaf aku tidak pernah menyadarinya" ucap Rei pelan.
"Dan maafkan aku juga karena bersifat kekanak-kanakan" sahut Tia.
Keduanya lalu melemparkan pandangan hangat pada Arya, mereka berterimakasih karena telah mempertemukan keduanya dan membuat masalah mereka terselesaikan.
"Aku tidak melakukan apapun, kalianlah yang menyelesaikan masalah kalian sendiri" Arya menggaruk-garuk kepalanya dengan santai.
"Kau bilang ingin menyatukan dua unsur poros dunia bukan? Maka lakukanlah" seru Rei dengan semangat.
"Tapi ingat, kekuatannya akan sangat besar. Mungkin tubuhmu bisa hancur dibuatnya" peringat Tia.
Perlahan sebuah senyuman merekah diwajah Arya "Bukankah....itu yang membuatnya patut untuk dicoba"
__ADS_1
Seketika tubuh Arya kembali ke tempat semula, sebuah permata berwarna hitam muncul digenggamannya. Permata itu mengeluarkan aura gelap yang sangat pekat, tubuh Chimera yang ada disebelah Arya perlahan menghilang.
Samar-samar muncul sesosok kambing mungil yang menggosokan kepalanya sebentar pada Arya dengan penuh terimakasih, lalu sosok kambing itu juga mulai menghilang ke langit hitam tak berbintang yang ada disana.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya dan Rena sedang berdiri di tepi pembatas antara Kutub Utara dan lautan lepas, sebuah bongkahan es raksasa mengapung dihadapan mereka. Dipermukaan es raksasa itu terdapat banyak makhluk mungil dengan bulu berwarna kehijauan.
Arya lalu menunduk dan berbicara pada salah satu makhluk mungil itu.
"Pikku disini tidak aman, pergilah bersama kawananmu ke Kutub Utara. Saat tiba disana segeralah cari Ragna dan mulailah hidup baru, Ragna akan mengenalimu"
Arya menempelkan ibu jarinya pada dahi Pikku, secara perlahan muncul sebuah tanda berwarna putih. Tanda itu berbentuk lambang elemen es milik Arya, dia yakin Ragna akan segera menyadarinya.
"Pikku pikku" Pikku segera melompat dan memeluk Arya.
"Sama-sama kawan kecil, jaga dirimu" pesan Arya.
Saat Pikku dan kawananya sudah tidak terlihat, Arya hanya bisa berdoa semoga mereka bisa sampai dengan selamat. Dia sudah menanamkan kekuatan es pada bongkahan es raksasa itu agar tidak mudah untuk mencair.
Rena berdiri menunggunya disana dalam diam, Arya segera menghampirinya sambil tersenyum.
"Rena ayo kita segera kembali ke—"
Sebuah tangan menembus perut Rena, Arya membelalakan matanya melihat pemandangan dihadapanya itu. Tubuh Rena melemas dan diapun terjatuh.
"RENA!" panggil Arya, Rei, dan Tia bersamaan.
Arya segera mendekat dan merangkul Rena, Rena memuntahkan darah dari mulutnya. Napas Arya tidak beraturan saking paniknya, Rena kemudian tersenyum sambil menepuk pelan pipi Arya. Lalu saat Arya berusaha menggenggam tangannya, tangannya tergeletak ke tanah.
"Kau pikir....bisa pergi setelah semua yang kau lakukan?" tanya Millos sambil membersihkan darah Rena dari tangannya.
Para Werewolf sudah mengepung mereka, tidak ada jalan keluar lagi. Tapi Arya tidak peduli, dia masih berusaha mendengar tarikan napas Rena.
"Arya kita harus segera—" desak Rei dan Tia panik.
"Matilah" Millos mengangkat tangannya untuk memerintahkan kawanan Werewolf untuk menyerang.
"Arya!"
"ARGGH....!!!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Seseorang muncul dari dalam portal, tubuhnya berwarna merah seutuhnya. Dia berjalan sambil menggendong seorang wanita di tangannya. Seorang petugas penjaga pintu portal segera mendekat dan bertanya dengan panik.
"Tuan! Tuan Arya! Anda tidak apa-apa?! Apa yang terjadi?!"
"Dimana Allucia?"
"Apa? Anda tadi bilang apa?"
"Jangan buat aku mengulangi kata-kataku" kata Arya sambil menatap petugas itu dengan dingin.
Tubuh petugas itu segera bergidik dan diapun segera memberitahukan dimana lokasi Allucia, dalam sekejap mata Arya tiba di depan pintu ruangan tempat Allucia berada. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Dia menendang pintu itu sampai terbuka, membuat Allucia dan Bianchi yang berada didalamnya sangat terkejut. Mereka berdua menatapnya dengan keheranan. Tubuhnya berwarna merah dan mengeluarkan bau amis yang sangat pekat, bahkan rambutnya yang berwarna putih menjadi merah saat ini.
"Tuan Arya? Apa yang terjadi?" tanya Bianchi.
"Tolong....tolong....selamatkan anak ini" bisiknya.
Dengan sigap Bianchi dan Allucia segera mengunci pergelangan tangan Arya, keduanya menendang lutut miliknya sehingga Arya bertekuk lutut. Tubuh Rena yang terlepas dari genggamannya segera ditangkap oleh Rea yang muncul entah dari mana.
Astral melompat dari belakang dan menekan kepala Arya ke lantai.
"ASTRAL....dasar bocah tengik...." geram Arya dengan suara serak yang tidak seperti suaranya.
"Tekan" ujar Astral.
Sebuah cahaya kebiruan muncul dari cincin yang dia kenakan, Arya tiba-tiba berteriak sangat kuat sampai membuat seluruh Pusat Penelitian bergetar hebat dibuatnya. Setelah cahaya itu menghilang, tubuh Arya melemas dan diapun jatuh pingsan.
"Dia....baru saja mengendalikan tubuh Tuan Arya" seru Bianchi dengan tubuh dibasahi keringat dingin.
"Bagaimana keadaanya Konoha?" tanya Astral cepat.
"Buruk, organ dalamnya hancur. Frone segera berikan dia perawatan!"
"Sedang kulakukan" Allucia segera mendekat.
"Aku akan memanggilkan para penyihir medis dan mengambil beberapa Magical Plants yang berguna" Rea melesat keluar ruangan dengan cepat.
"Ukh....ini....jika dia telat sampai disini satu detik saja, Rena bisa mati" celetuk Allucia.
__ADS_1
"Gio....apa menurutmu dia sengaja membantu Rena untuk datang kemari?" tanya Bianchi akhirnya.
"Entahlah....aku juga tidak tau" jawab Astral sambil menatap Arya yang tidak sadarkan diri.