
Pagi hari berikutnya Arya lagi-lagi diseret keluar oleh Eridan dari kediamannya, Arya mengikuti Eridan tanpa banyak protes. Bukan karena dia tidak ingin untuk komplain atau bagaimana, hanya saja kenyataannya dia tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya, tubuhnya masih penuh dibalut dengan perban dan juga tadi malam dia tidak cukup tidur karena diceramahi oleh Rena. Dia tidak pernah menyangka wanita pemalu seperti Rena bisa berbicara berjam-jam dan membuatnya kewalahan, Arya pikir Rena berbeda dengan wanita-wanita lainnya yang ia kenal. Tapi kenyataannya meresa sama saja.
Arya berjalan dalam diam sambil mengamati Eridan, wajah Eridan terlihat penuh dengan semangat. Entah itu dikarenakan insiden yang terjadi kemarin atau karena pertemuan hari ini, saat Arya menanyakan dengan lebih detail apa yang akan mereka lakukan dia hanya menjawab mereka akan bertemu dengan seseorang yang sangat dia hormati. Mendengar hal itu Arya hanya bisa membayangkan akan bertemu dengan orang-orang yang berada di Kastil Arboles seperti Ratu dan para bangsawan.
Benar saja setelah beberapa menit berjalan Arya bisa melihat Kastil berbentuk pohon raksasa itu berdiri dengan kokoh tepat diujung jalan setapak yang sedang mereka lewati, banyak Elf yang melewati jalan setapak itu sambil melakukan rutinitas mereka masing-masing. Beberapa diantara mereka melambai kepada Eridan saat melihat mereka berdua berjalan mendekat, kebanyakan yang melambai berasal dari keluarga Azuldria. Eridan tentu membalas lambaian tangan mereka dengan senyuman ramah.
Saat tiba di gerbang kayu raksasa berlapis emas ternyata ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Reiss. Arya menyadari perlakuan Reiss padanya akhirnya berubah 180 derajat, dia sekarang bersikap sangat sopan dan hormat pada Arya. Sebenarnya hal ini sedikit mengganggu Arya tapi dia rasa sikap Reiss ini jauh lebih baik dari pada sebelumnya saat dia selalu menatap Arya seakan-akan dia adalah seorang penyusup yang harus dihukum.
Reiss memberi hormat dengan menundukan badannya sambil tersenyum dan mempersilahkan mereka berdua memasuki kastil, Eridan membawa Arya kebagian belakang kastil yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Tapi jika diingat-ingat lagi memang hanya ruang singgasanalah satu-satunya ruangan kastil yang pernah ia masuki, dia masih terkagum-kagum dengan luasnya kastil itu sampai-sampai ia tidak menyadari Eridan telah membawanya ke sebuah menara yang terpisah dengan bangunan kastil utama.
Eridan berhenti di pintu masuk menara tersebut lalu mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, terdengar suara lirih yang menyahut dari dalam dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Dari yang ia dengar sepertinya suara itu berasal dari seorang perempuan. Segera saja Eridan membuka pintu tersebut lalu menyingkir dan mempersilahkan Arya masuk, Arya menatapnya dengan tatapan bertanya sambil tidak bergeming sedikit pun. Langsung saja Eridan menariknya masuk ke dalam.
"Tu...tu...tunggu Eridan, kau tidak ikut masuk?" tanya Arya bingung.
"Maafkan aku tuan, tapi beliau memintaku membawa anda kesini agar bisa berbicara dengannya. Jadi maaf, aku tidak bisa ikut masuk" jawab Eridan santai sambil bersiap menutup pintu.
"Beliau? Sebenarnya aku akan berbicara dengan siapa?"
"Anda akan segera mengetahuinya, dah"
"Hei!"
Belum sempat Arya menahannya Eridan sudah menutup pintu itu dari luar, Arya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka akan berbicara empat mata dengan orang yang tidak ia kenal, dia berjanji dalam hati akan membalas Eridan atas perbuatannya ini. Setelah melihat sekeliling ruangan ia menyadari bahwa menara ini sepertinya dibagi menjadi beberapa lantai, karena ia bisa melihat langit-langitnya dan bukanya malah melihat puncak menara yang ada diatasnya.
Ruangan di lantai pertama ini penuh dengan perabotan-perabotan, sejujurnya tempat ini terlihat mirip sebuah kamar. Sepertinya orang yang ingin bertemu dengannya menjadikan menara ini sebagai tempat tinggalnya, Arya mulai melangkah perlahan sambil mengamati sekelilingnya. Setelah beberapa langkah dia melihat sebuah tempat tidur besar yang ditutupi kelambu berwarna biru, di dalam kelambu tersebut terlihat siluet seseorang yang bersandar pada kepala tempat tidur.
Arya segera mendekat dan dengan hati-hati menyibak kelambu tersebut, lalu ia melihat seorang Elf yang sangat cantik balik menatapnya. Elf itu memiliki rambut pirang panjang dan mata biru seorang Azuldria, dia menatap Arya dengan hangat sambil tersenyum manis. Senyum yang menurut Arya bisa mencuri hati hampir semua laki-laki yang pernah bertemu dengannya.
"Ahh....akhirnya, aku sudah lama ingin bertemu denganmu" ucapnya lirih.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya terdiam beberapa saat, dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Kepalanya terasa berhenti berfungsi. Setelah memulihkan diri dari keterkejutannya ia pun bertanya.
"Mmm.....maafkan ketidaksopananku ini? Tapi, anda siapa?"
Arya memillih berbicara formal padanya karena setelah ia perhatikan sepertinya orang ini lebih tua dari pada dirinya, walaupun dia terlihat masih muda. Arya merasa dia jauh lebih tua dari pada Alalea.
"Mmm? Kau tidak mengetahui siapa aku? Apa Eridan tidak memberitahumu?" tanyanya sambil memiringkan kepala.
Arya menangguk pelan, walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu. Arya merasa familiar dengan wajah perempuan ini.
"Aduh...anak itu, aku memang bilang untuk membawamu kesini. Tapi tidak kusangka ia tidak memberitahukan apapun padamu" ujar perempuan itu sambil menggelengkan kepala.
"Sepertinya dia sedikit terburu-buru" timpal Arya sambil tertawa kecil.
"Hah.....mau bagaimana lagi, maafkan aku memanggilmu kemari tanpa pemberutahuan sebelumnya. Halo Arya, perkenalkan namaku Azalea D'Azuldria" katanya sambil tersenyum.
"Azalea D'Azuldria?" ulang Arya sambil berpikir sejenak.
"Huum benar, tepat seperti yang kau pikirkan. Aku adalah ibu dari Alalea" ujar Azalea sambil mengangguk.
"Ohh ternyata ibu dari---Hah?! Apa?!"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Hahaha kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Azalea heran.
"T...t...tidak, hanya saja aku sempat berpikir bahwa anda adalah kakak dari Tuan Putri" jawab Arya dengan wajah merah karena malu.
"Hahaha kau ini bicara apa, mana mungkn aku terlihat seperti kakak dari anak gadisku sendiri? Apa aku masih terlihat secantik itu?" tanya Azalea lagi sambil tertawa.
Arya mengangguk dengan sungguh-sungguh, membuat Azalea semakin tertawa lepas. Setelah puas tertawa ia mempersilahkan Arya untuk duduk, Arya segera mengambil sebuah kursi kayu dan segera duduk disebelah tempat tidur Azalea. Lalu Azalea bertepuk tangan dua kali, seketika sebuah nampan yang diatasnya terdapat dua cangkir dan satu teko besar melayang ke arah tempat tidurnya.
"Terimakasih, aku sangat senang mendengarnnya" kata Azalea sambil menuangkan isi teko ke cangkir dan setelah itu menyerahkannya kepada Arya.
Arya mengenali minuman itu, ini minuman yang persis sama dengan yang diberikan Eridan padanya saat pertama kali tiba di rumahnya. Arya segera meminum satu teguk, rasanya memang sedikit asam tapi tidak terlalu buruk.
"Kau sepertinya menyukai sari buah Pink Peaches" komentar Azalea setelah melihat Arya menikmati minumannya dengan sekali teguk.
"Pink Peaches? Apa itu nama buah yang digunakan untuk membuat minuman ini?" tanya Arya.
"Begitulah, buah ini salah satu buah yang hanya bisa tumbuh di Fairy Forest. Jadi wajar Manusia sepertimu tidak mengetahuinya" jawab Azalea.
Mendengar itu Arya terbatuk-batuk, ia merasa minuman yang sudah dia minum keluar lagi. Azalea juga terkejut dan segera membantu dengan cara mengelus-elus punggungnya. Setelah suasana kembali tenang Arya segera menatap curiga pada Azalea.
__ADS_1
"Anda tahu aku adalah seorang Manusia?"
"Iya....tentu saja aku juga tahu kau bukan Manusia biasa, kau adalah seorang Elementalist"
Tatapan Arya semakin curiga setelah mendengar itu, lalu Azalea mulai menjelaskan padanya sambil tersenyum. Bukankah sudah wajar ia mengetahuinya, melihat dirinya memiliki hubungan dengan Eridan, bahkan ternyata dia juga tahu tentang organisasi Pax, setelah mendengar itu Arya mulai tenang, sepertinya Azalea berada dipihak mereka.
"Seharusnya akulah yang menjadi Ratu saat ini, tapi seperti yang kau lihat kondisiku tidak memungkinkan. Tubuhku sangat lemah, jadi itulah sebabnya kenapa bibiku yang menjabat sebagai Ratu setelah suamiku meninggal. Padahal dia sudah lama pensiun" jelas Azalea sambil menatap kakinya yang tertutup selimut.
Arya baru menyadari bahwa sepertinya Azalea tidak bisa menggerakan ataupun menggunakan kakinya untuk berjalan.
"Jadi karena itulah Ratu mendidik Putri Alalea untuk menjadi penerusnya" kata Arya pelan.
"Iya, bibiku memiliki harapan yang besar pada Alalea. Tidak sepertiku, dia memiliki kondisi fisik yang bagus seperti ayahnya, itulah kenapa dia didik dari kecil oleh bibiku sebagai calon penerus tahta. Walaupun terkadang didikan itu terlalu berat untuk Alalea yang sejak kecil tidak memiliki sosok seorang ayah" ucap Azalea, Arya bisa melihat kesedihan di mata wanita itu.
"Tapi menurutku karena hal itulah yang membuat Putri Alalea bisa tumbuh menjadi wanita yang tangguh" timpal Arya dengan bersungguh-sungguh.
Azalea tersenyum mendengar hal itu lalu bertanya " Jadi apa kau benar-benar mau menikahi putri kesayanganku?", mendengar hal itu Arya kembali terbatuk-batuk seperti sebelumnya karena tidak menyangka bahwa Azalea akan berkata seperti padanya.
"Hahaha aku hanya bercanda, tentu aku tahu bahwa pertunangan itu hanya sebuah kedok belaka. Walaupun aku sih tidak keberatan kalau kau mau menikahi putriku" godanya.
Arya hanya bisa meringis sambil berkata "Sebagai ibunya anda harusnya sudah tahu bahwa dia tidak menyukaiku, dan dia juga sudah memiliki orang lain" mendengar hal itu Azalea diam sesaat.
"Tapi apa kau tahu kalau dia selalu membicarakan tentang dirimu?" tanya Azalea.
"Putri Alalea?" ucap Arya heran.
"Iya, dia selalu kemari dan menceritakan banyak hal tentang dirimu"
"Biar kutebak, dia pasti membicarakan hal-hal buruk tentang diriku" balas Arya dengan ekspresi masam.
"Hahaha begitulah, sejujurnya sejak Eridan memberitahuku bahwa kau sudah berada disini aku sudah membayangkan orang seperti apa dirimu" kata Azalea sambil terkikik geli.
"Orang seperti apa diriku?" ulang Arya dengan bingung.
"Benar, setelah mendengar Alalea aku sedikit ragu apa kau benar-benar anak dari Lyan. Tapi setelah aku bertemu denganmu secara langsung seperti ini, aku sangat yakin bahwa kau memang putranya" kata Azalea sambil menyentuh kedua pipi Arya dengan kedua tangannya.
"Anda......mengenal ibuku?" tanya Arya dengan mata melebar.
"Bukan hanya mengenal, dia adalah sahabat terbaikku. Dan aku sangat yakin kalau kau adalah putranya" jawab Azalea sambil tersenyum.
Setelah mendengar itu tanpa Arya sadari air mata menetes dari kedua matanya, perasaan hangat dan lembut dari sentuhan Azalea membuat dirinya tidak bisa menahan diri. Dia mulai menangis terisak-isak dipelukan Azalea, dia merasakan perasaan hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan kasih sayang seorang ibu pikirnya.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Putri Alaea pernah bertemu dengan ibuku? Anda pasti bercanda" ujar Arya.
"Untuk apa aku bercanda? Saat masih kecil Alalea selalu mengekor pada Lyan kemanapun ia pergi, Lyanlan yang menggantikanku bermain bersama Alalea, tentu saja Alalea dan kebanyakan orang tidak menyadari Lyan adalah Manusia. Karena wujud Elf Lyan bisa dibilang tanpa cacat"
"Aku bukan mempersalahkan wujud Elf ibuku, tapi kalau Putri Alalea sempat bertemu dengan ibuku. Memangnya umur Tuan Putri berapa?"
"Mmm tahun ini harusnya 35, tapi dia itu masih anak-anak lho" jawab Azalea enteng.
"Apa?! 35 tahun! Dia sudah berkepala tiga?!" ucap Arya terkejut.
"Begitulah, tapi dia masih anak-anak. Dan kalau dihitung dengan waktu Elf umur kalian berdua seumuran kok"
"Mana bisa seumuran? Aku masih 17 tahun!"
"Kau kan menghitungnya dengan perhitungan waktu Manusia, jangan terlalu dipikirkan"
"Hah....lalu umur Nyonya Azalea sendiri?" tanya Arya.
"Aku? Aku ini masih muda, aku bahkan belum seratus tahun" jawabnya sambil mengembungkan pipinya.
"Belum sera------"
"Tidak sopan menanyakan umur seorang wanita Arya, kau harusnya tau akan hal itu" sindir Azalea sambil menatapnya dingin.
Setelah berdebat tentang perbedaan perhitungan waktu antara Manusia dan Elf, akhirnya Arya lelah dan memilih lebih baik mengalah saja dari pada meneruskannya. Kemudian dia bertanya pada Azalea tentang apa tujuan sebenarnya Azalea memanggilnya ke tempat ini.
"Kau memang cerdas, seperti dugaanku. Sebenarnya aku memintamu kemari karena aku ingin menceritakanmu sebuah kisah, maukah kau mendengarnya?"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Dahulu sekali seorang Raja memiliki tiga orang putri yang sangat cantik dan dicintai oleh rakyatnya, tiga saudari ini sejak kecil memiliki sifat yang menunjukan bahwa mereka memang pantas menjadi seorang putri kerajaan. Sang Putri sulung bernama Unia, Putri tengah bernama Diana, dan Putri bungsu bernama Triana. Mereka memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing.
__ADS_1
Putri pertama memiliki kelebihan yang sangat luar biasa, sebagai putri paling tua dia selalu menonjol dalam segala hal. Dia cerdas, baik hati, dan tidak mebeda-bedakan orang lain. Hal itulah yang membuat Sang Putri pertama sangat dicintai rakyatnya dan menganggap bahwa dia adalah calon yang paling tepat untuk menjadi Ratu dimasa yang akan datang.
Putri kedua sedikit berbeda dari kedua putri yang lainnya, dia terkenal sering membuat masalah bagi kedua orang tuannya. Tapi walaupun begitu dia selalu menjunjung keadilan, dia tidak menyukai hal-hal yang tidak berjalan dengan semestinya. Walaupun tidak secantik sang kakak, sebenarnya banyak laki-laki yang menjadi pengagum rahasianya akibat tingkah lakunya yang unik ini.
Putri ketiga adalah putri kesayangan dari Raja dan Ratu. Hal ini dikarenakan sang putri memiliki sebuah kekurangan, kondisi tubuhnya tidak sebaik kedua kakaknya akibat penyakit yang dideritanya sejak kecil. Tapi walaupun begitu dia sangat mudah bergaul dengan banyak orang sehingga kedua kakak perempuannya sangat menyayangi adik kecil mereka ini.
Singkat cerita mereka bertiga tumbuh menjadi putri yang anggun dan cantik. Semua orang sangat percaya bahwa dengan adanya ketiga putri ini masa depan kerajaan sangat cerah, lalu pada saat umur putri pertama sudah matang. Rajapun mempertunangkan sang putri dengan seorang Jendral pasukan perang, semua orang sangat bahagia melihat pasangan ini. Mereka sangat serasi dan memang mereka sudah berteman sejak kecil, tidak ada yang lebih pantas menjadi pasangan putri selain Sang Jenderal. Begitulah menurut pendapat orang-orang.
Sang Putri pertama bersedia untuk menikahi Jenderal tersebut karena dia ingin menjadi contoh bagi kedua adik perempuannya walaupun kenyataan dia tidak memiliki perasasan pada Sang Jenderal, hal ini diketahui oleh kedua adiknya dan membuat mereka merasa sedih. Tapi mereka berdua menghargai keputusan kakaknya, semuanya berjalan lancar sampai suatu hari muncul seorang laki-laki yang berasal dari luar kerajaan.
Laki-laki ini dianggap telah menyusup masuk ke dalam kerajaan dan segera diserahkan kepada Raja, pada awalnya Raja ingin mengeksekusi pria tersebut. Tetapi entah bagaimana karena kecerdikan dalam berbicara dan bernegosiasi pria ini membuat Raja memutuskan untuk tidak jadi menjatuhkan hukuman mati padanya, Raja pun memberikan dia kesempatan untuk menunjukan kesungguhan niatnya datang ke Kerajaan itu.
Pria ini sangat unik dan pintar, hanya dalam kurun waktu yang tidak lama ia berhasil menjadi orang yang memberikan dampak besar untuk kerajaan tersebut. Dia terlihat dekat dengan semua orang yang ada disana, lalu ia bahkan sering terlihat bermain-main dan dekat dengan Putri kedua dan Putri ketiga. Mereka sering terlihat mendengarkan cerita pria asing tersebut tentang perjalanan-perjalannya mengelilingi dunia.
Melihat ini Putri pertama merasa cemas dan melarang kedua adik perempuannya untuk mendekati pria asing itu, tapi mereka menolak dan bahkan menganjurkan pada sang kakak agar dia juga berbicara dengan pria tersebut. Setelah kalah berdebat dengan kedua adiknya Putri pertamapun mulai sering berbicara dengan pria itu, lalu ia mulai terkagum-kagum dengan kecerdasan yang dia miliki, dan pada akhirnya tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.
Puncaknya sang putri pertama memilih kabur meninggalkan kerajaan untuk pergi bersama cinta sejatinya, untuk pertama kalinya Sang Putri tidak menuruti perintah Raja. Dia meninggalkan tanggung jawabnya sebagai calon penerus tahta, dia meninggalkan tunangannya, dan dia meninggalkan kedua adik perempuan yang sangat menyayanginya. Hal ini membuat gempar seluruh Kerajaan dan pada akhirnya Raja pun jatuh sakit dan meninggal.
Putri kedua pun naik tahta menjadi Ratu untuk menggantikan Sang Ayah dengan berat hati, dia tidak pernah menyangka dan membayangkan akan menggantikan ayahnya. Dia sangat terpukul dengan kepergian kakaknya, sampai-sampai sejak hari itu tidak ada yang pernah melihatnya tersenyum lagi.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Bagaimana menurutmu dengan kisahnya?" tanya Azalea akhirnya setelah selesai bercerita.
Arya diam sejenak sambil terlihat berpikir dengan serius, lalu akhirnya berdiri dari tempat duduknya sambil berkata "Kisah yang sangat menarik, aku menyukainnya. Terimakasih telah menceritakannya padaku"
"Syukurlah kalau begitu, apa kau tidak mau meminum segelas sari buah lagi sebelum pergi?" tawar Azalea.
"Mmm sebaiknya lain kali saja, hari ini sudah cukup menurutku hahaha"
"Baiklah, sering-seringlah berkunjung kemari ya?" ucap Azalea sambil melambai.
Arya tersenyum dan segera berjalan menuju pintu, sambil berjalan lalu ia bertanya dengan suara lirih "Sebaiknya aku memanggil anda apa? Nyonya?"
"Menurutku itu terserah padamu, tapi kalau meminta saranku sih. Aku mau kau memanggilku ibu. Aku sangat ingin berbesan dengan Lyan" jawab Azalea dengan semangat.
Mendengar hal itu seketika Arya menabrak pintu yang ada didepannya, dia meringis kesakitan sambil memegang jidatnya yang memerah akibat kecelakaan kecil itu. Azalea menanyakan bagaimana keadaanya yang langsung ia jawab dengan cepat. Lalu tepat sebelum ia menyentuh gagang pintu, pintu tersebut terbuka. Alalea membuka pintu itu dan terkejut melihat Arya berada dibalik pintu itu.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanyanya sinis.
"Hanya mencari udara segar" jawab Arya asal.
"Apa?!"
"Alalea, aku yang memanggilnya kesini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh" panggil Azalea dari dalam.
"Ibu yang memanggilnya kesini? Untuk apa?" tanya Alalea bingung.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi" celetuk Arya sambil menundukan badan memberi hormat pada Alalea.
"Jangan harap kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan cara mendekati ibuku" bisik Alalea cukup pelan sehingga hanya Arya yang dapat mendengarnya.
Arya memilih untuk tidak menyahut dan melanjutkan langkahnya, ia sempat mendengar suara protes Alalea tepat sebelum pintu ditutup. Dia berjalan menyusuri koridor-koridor kastil besar itu. Dia sebenarnya berharap Eridan akan menunggunya tapi sepertinya dia memiliki kepentingan lain yang harus dikerjakan, untungnya Arya sudah menghafal koridor-koridor tersebut hanya dengan sekali lihat. Dia berhenti disebuah pintu dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Menyadari seseorang memasuk ruang singgasana tanpa permisi Ratu mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang, saat menyadari siapa yang datang ia bertanya dengan suara dingin "Apa yang kau ingingkan?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" jawab Arya tenang.
"Apa itu?" tanya Ratu lagi sambil mengangkat sebelah alisnya, sepertinya ia menyadari perubahan cara bicara Arya.
"Apa kau....membenci kakek dan nenekku?"
Ekspresi Ratu tidak berubah sedikitpun, tapi Arya bisa melihat matanya sedikit melebar setelah mendengar pertanyaan Arya. ia terdiam untuk beberapa saat lalu balik bertanya "Apa yang diceritakan Azalea padamu?"
"Tidak ada, hanya sebuah kisah yang menarik" jawab Arya santai.
"Kisah yang menarik huh? Kisah yang selalu diceritakan oleh adikku yang manis kepadanya saai ia masih kecil" komentar Ratu.
Lalu mereka berdua diam dan tidak saling berbicara untuk beberapa waktu, karena menganggap dirinya tidak akan mendengar apa-apa lagi Arya berbalik untuk pergi.
"Tunggu, ambil ini" kata Ratu.
Ia melemparkan sebuah kotak kaca kecil yang terlihat tidak berisi apapun, Arya melihat benda itu sambil memutar-mutarnya dengan penasaran.
"Apa ini?" tanya Arya.
__ADS_1
"Sampai kapan kau mau berada disini! Apa kau lupa tujuan utamamu datang kemari?! Ucapkan Monstranto Viamo saat kau membutuhkannya" hardik Ratu.
"Terimakasih..............Ratu Diana" kata Arya sambil tersenyum lalu memberi hormat pada Ratu, ia diam beberapa saat menunggu jawaban. Tapi setelah beberapa waktu, ia merasa tidak akan mendapat jawaban dan diapun segera berbalik untuk pergi meninggalkan ruangan itu.