
Seorang laki-laki berjubah menggenggam sebuah benda yang mengeluarkan cahaya berwarna kuning sambil mengacungkan tangannya ke udara.
"Akhirnya! Aku berhasil mendapatkannya"
"Berisik! Ayo cepat kita kembali"
Seorang gadis dengan rambut hitam panjang segera berbalik dan meninggalkan si laki-laki dibelakangnya, laki-laki itu segera menggerutu dan menyusul gadis tersebut.
"Yah....aku tau kau pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kapten" celetuk Kevin pelan.
"Kau bilang apa?" sambar Asuna sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kevin.
"Tidak ada, aku hanya bilang kita harus segera kembali"
Asuna menyipitkan matanya lalu menghela napas panjang dan bergegas pergi, entah kenapa dia memiliki sebuah firasat buruk yang mengharuskan dirinya segera kembali ke Elemental City.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Dua sosok berjalan dengan cepat menyusuri lorong yang gelap, bayangan mereka yang dipantulkan oleh cahaya lilin bergoyang-goyang saat keduanya melintas. Wanita yang berjalan di depan menunjukan wajah kesal.
Ekspresinya sangat menunjukan bahwa dia tidak suka berada di tempat ini. Kemudian keduanya berhenti di depan sebuah pintu besi setinggi 5 meter, wanita itu mengibaskan rambut hitamnya sambil berkata.
"Sepertinya hanya sampai disini saja kau mengantarku, pergilah dan awasi dari jauh"
Sosok yang diperintahkan itu memberikan hormat lalu segera menghilang seperti tak pernah berada disana, dan tanpa menunggu lebih lama lagi wanita itu segera menendang pintu besi itu hingga terbuka.
Rambut hitamnya berkibar akibat tekanan udara yang berbeda dari dalam ruangan, mata kuningnya bergantian berpindah-pindah dari satu orang ke orang yang lain di dalam ruangan. Beberapa kepala menoleh saat mendengar pintu terbanting terbuka, tetapi setelah melihat siapa yang datang. Semuanya kembali mengurus urusan mereka masing-masing.
Di dalam ruangan terdapat sebuah meja hitam bundar raksasa, ada tujuh kursi yang tersebar disekitarnya. Hanya ada satu kursi yang belum terisi dan sepertinya pemilik kursi tersebut datang dengan cara yang tidak biasa.
"Telat seperti biasanya, Moona?" celetuk seseorang yang sudah duduk disalah satu kursi.
"Berisik! Kau pikir karena ulah siapa pertemuan ini dilaksanakan hah? Kris?!" hardik perempuan bernama Moona itu sambil berjalan menuju kursinya.
"Wah wah entahlah, Skullcrow yang meminta pertemuan ini dilaksanakan" sahut Kris dengan senyuman licik diwajahnya.
Kris menggunakan sebuah setelah hitam kasual sambil dengan santai mengangkat sebuah cawan berisi cairan berwarna merah darah ditangan kanan miliknya.
"Iya memang benar, tapi itu semua karena kau gagal melakukan rencana yang sudah dipersiapkan selama bertahun-tahun!" Moona menggertakan giginya kesal.
"Oh tenanglah Moona, aku tau kau memang tidak suka datang ke kastil berbau amis ini. Yakinlah aku juga sama denganmu" komentar seorang wanita dari salah satu kursi.
"Jangan salah paham Lorem, dia bukannya tidak suka. Sifat pemarah itu memang sudah turunan dari Greysoul" balas Kris sambil tertawa geli.
Moona segera berdiri dengan aura berwarna abu-abu disekujur tubuhnya, dia menatap Kris dengan tajam.
"Jangan berani-berani kau sebut nama ayahku dengan mulut kotormu itu"
"Sudah cukup! Pertemuan ini dilakukan bukan untuk berkelahi satu sama lain, mohon kalian berdua tenang Tuan Kris, Nona Moona"
Sesosok berjubah abu-abu muncul entah dari mana, sosok itu membawa sebuah pedang dipinggangnya dan dengan santai mendekat ke arah meja. Kris dan Moona langsung terdiam, suasana ruangan langsung hening seketika. Hanya ada suara kunyahan mengganggu dari salah satu kursi.
"Bisakah kau berhenti makan sebentar? Ava?" desis seorang wanita lainnya kesal.
"Tidak bisa, urus saja urusanmu sendiri Euryale" balas orang yang dipanggil Ava tidak peduli sambil terus mengunyah.
"Skullcrow, sebaiknya kau segera mulai pertemuan ini" sambung seorang dari kursi lain.
Sosok berjubah abu-abu itu segera memberi hormat, wujudnya mulai terlihat dibawah cahaya lilin. Dia tidak memiliki mata, pada wajahnya hanya terdapat kumpulan gigi taring. Dan seluruh tubuhnya hanya terdiri dari tulang belulang semata. Wujud Skeleton itu cukup mengganggu orang-orang yang melihatnya.
"Sebelum itu izinkan saya memastikan siapa saja yang telah hadir ditempat ini" mulai Skullcrow sambil membukan tudung jubahnya.
"Pride Sins, Kris Tepes" panggilnya pelan lalu menoleh ke arah Kris.
Kris tersenyum lalu mengeluarkan sebuah liontin berwarna ungu dari balik pakaiannya.
"Wrath Sins, Moona Moonlight"
Moona mengeluarkan lolongan pelan sambil menunjukan liontin berwarna merah.
"Envy Sins, Euryale Gorgonia"
Wanita yang menyapa Ava sebelumnya mengeluarkan liontin berwarna hijau, wanita itu memiliki paras cantik tapi rambutnya terlihat seperti bersisik dan mengeluarkan suara desis aneh.
"Gluttony Sins, Avarum Carnage"
Laki-laki dengan mata hitam seluruhnya yang dari tadi mengunyah makanan itu menunjukan sebuah liontin berwarna jingga, tapi yang berbeda adalah dia tidak menunjukan liontin itu dengan tangannya. Melainkan dengan sesuatu berbentuk ekor yang muncul dari punggungnya.
"Sloth Sins, Queri Braineater"
Seorang laki-laki dengan kulit berwarna biru seperti mayat yang telah membusuk mengeluarkan sebuah liontin berwarna biru. Dia hanya menguap pelan dan tidak mengangkat kepalanya saat dipanggil.
"Greed Sins, Greenhook Goble"
__ADS_1
Makhluk hijau bertubuh kecil namun kekar menunjukan liontin berwarna emas miliknya, dia mengenakan sebuah jubah keemasan dengan mahkota emas yang serasi dikepalanya.
"Terakhir, Lust Sins. Lorem Devilla"
Lorem adalah seorang gadis cantik berambut kemerah-merahan, poni rambut menutupi sebelah matanya. Sepasang tanduk melengkung indah diatas kepalanya, dan sekilas terlihat sepasang sayap serta sebuah ekor dibagian belakang tubuhnya. Ia mengeluarkan sebuah liontin berwarna merah muda.
"Baiklah karena semua sudah ada disini, mari kita—"
Kata-kata Skullcrow terhenti karena tiba-tiba sosok berjubah lain memasuki ruangan dan berbisik pada Moona. Mata Moona melebar setelah mendengar apa yang dikatakan orang itu.
"Tidak mungkin! Aku baru menghubungi Millos beberapa waktu yang lalu" ujar Moona tidak percaya.
Beberapa orang yang ada disana melemparkan pandangan bertanya satu sama lain.
"Bukankah Millos itu....adalah Noble-Tier yang kau tugaskan di Kutub Selatan?" celetuk Lorem.
"Mmm? Dari mana kau mengetahui hal itu" tatap Moona dengan mata menyipit.
"Eee....dia sering bermain ke tempatku" jawab Lorem sambil tersenyum canggung.
"Apa—"
"Tidak ada salahnya bermain di tempat Succubus bukan?" potong Greenhook menunjukan giginya yang berwarna kekuningan.
"Ugh....itu tidak penting sekarang, Skullcrow. Tolong tunjukan keadaan Kutub Selatan saat ini" perintah Moona.
Skullcrow mengibaskan tangannya secara perlahan, sesuatu seperti layar proyeksi muncul dihadapan mereka dan menunjukan pemandangan Kutub Selatan. Seketika semua orang terdiam setelah melihat pemandangan yang ada disana.
Bongkahan-bongkahan es raksasa berujung runcing muncul disegala tempat, banyak potongan tubuh tergeletak dimana-mana. Setengah dari Kutub Selatan telah diselimuti oleh lautan darah yang sangat banyak.
"Tidak mungkin....seluruh kawanan Werewolf yang ada disana telah dibantai" kata Euryale sambil menutup mulutnya.
Rambut miliknya tiba-tiba bergerak dan mendesis, kumpulan ular itu mendesis setelah melihat apa yang terjad di Kutub Selatan. Bahkan Avarum menghentikan kunyahannya sebentar setelah melihat pemandangan itu.
Tapi respon yang paling tidak terduga muncul dari Kris, dengan susah payah dia menahan cekikikan dari mulutnya. Melihat hal itu Moona langsung menggebrak meja dengan tangannya sampai meja itu hancur menjadi debu.
"Apa yang lucu?! Brengsek!" bisiknya dengan aura yang sangat mengerikan.
Kris segera mengentikan cekikikannya dan menjawab dengan santai.
"Ah...maafkan aku, aku hanya tidak menyangka setelah muncul di Fairy Forest. Dia lalu bisa berada di Kutub Selatan"
"Maksudmu....pelakunya adalah—"
Semua orang di ruangan itu terdiam, tidak ada yang berbicara sampai tiba-tiba Avarum menyeletuk.
"Aku penasaran bagaimana rasanya"
"Mmm....aku juga" tambah Lorem sambil menghisap jarinya.
Moona menghantamkan tangannya ke dinding dan membuat seluruh tempat itu bergetar hebat, dia melirik ke arah Avarum dan Lorem.
"Ava...., Rem....jika kalian berani menyentuh anak itu sehelai rambut saja. Kalian akan tau akibatnya"
"Ahaha aku hanya bercanda" tambah Lorem cepat.
"Hah....kau pikir bisa memerintahku? Jangan sombong, kami para Ghoul hidup dengan makan. Kalau aku bilang ingin memakannya, maka akan aku lakukan" balas Avarum tidak senang.
Moona segera berbalik untuk meninggalkan ruangan itu sambil berkata.
"Aku akan menyetujui semua hasil dari pertemuan ini, asalkan bocah itu diserahkan padaku"
Setelah Moona tidak terlihat lagi, Kris menghela napas panjang.
"Ini akan menarik hihihi"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Kevin mengetuk pintu ruang perawatan dihadapannya beberapa kali, tapi karena tidak ada jawaban dia segera masuk. Di dalam ruangan terlihat Arya yang sedang mengganti bunga pada vas yang ada disebelah tempat tidur Rena dengan tatapan mata kosong.
"Kapten....?" panggilnya pelan.
Arya menoleh padanya dengan tatapan linglung, Kevin sudah beberapa kali menawarkan diri untuk menggantikannya menjaga Rena. Tapi Arya tidak pernah bergeming sedikitpun, dia berencana akan terus berada di ruangan itu sampai Rena siuman.
Dari informasi yang diberikan Kevin, Arya akhirnya mengetahui bahwa dia dan juga Rena berhasil menempati posisi pertama peserta yang kembali dalam Ujian Elementalist kedua ini. Disusul oleh Kevin dan Asuna diposisi kedua, Zayn dan Selena diposisi ketiga, kemudian Timothy dan Elizabeth serta Ali dan Lexa yang mengisi posisi keempat dan kelima. Kedua tim baru saja tiba kemarin.
Ketika keduanya sedang berbicara tiba-tiba terdengar suara batuk pelan, Rena dengan perlahan membuka matanya.
"Arya....? Kevin....? Ini....dimana?"
Arya dan Kevin segera mendekat untuk melihat kondisi Rena, Kevin kemudian segera mengajukan diri untuk pergi memanggil Pengawas Allucia. Setelah Kevin menghilang dari ruangan, Arya membantu Rena untuk duduk serta memberikan segelas air padanya.
"Terimakasih" ujarnya lemah.
Setelah keduanya terdiam cukup lama, akhirnya Arya berbicara dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Aku....benar-benar tidak berguna ya?"
Rena menatapnya dengan heran, seluruh tubuh Arya gemetar hebat. Rena kemudian menggenggam tanganya dengan lembut.
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?"
Arya membalas tatapan Rena dengan mata penuh penyesalan.
"Jika saja aku tidak lengah waktu itu....kau tidak akan—"
"Hei, aku tidak apa-apa. Kau lihat? Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini Arya"
Rena kemudian mengelus kepala Arya dengan perlahan, dia lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Arya juga sebenarnya tidak terlalu mengerti, hal terakhir yang dia ingat adalah sosok Rena yang berlumuran darah dipelukannya kemudian semuanya gelap.
Dia menceritakan hal yang sama pada para Pengawas, Arya sendiri bahkan tidak tau entah bagaimana caranya dia bisa tiba di Elemental City dengan selamat. Rena kemudian mengangguk-angguk pelan.
"Ya sudahlah, yang penting kita berdua selamat"
"Aku tidak pantas menjadi pemimpin kalian" timbrung Arya murung.
"Hei...? Hanya karena kau tidak bisa melindungiku SEKALI bukan berarti kau tidak pantas menjadi Ketua Elementalist Arya" seru Rena menyemangatinya.
Arya lalu mengeluarkan benda berbentuk kotak dari dalam sakunya, ia membuka kotak tersebut dan memperlihatkan sebuah permata hijau yang sangat indah pada Rena.
"Ambillah, jadikan ini sebagai bahan kedua Elemental Weapon milikmu"
"Eh?! Tunggu sebentar, ini...."
Arya memberitahu Rena bahwa permata yang sedang dia pegang saat ini bernama Tears of Elf Queen, diceritakan bahwa permata ini terbentuk dari air mata para Ratu Elf terdahulu. Ini adalah barang yang diberikan Diana untuk Arya karena telah membantu saat penyerangan di Fairy Forest waktu itu.
"Aku tidak bisa menerima ini, lagi pula kau juga sudah terlalu sering membantuku jadi—"
"Tidak apa, aku yakin benda ini akan lebih berguna jika kau yang menggunakanya. Jadi kumohon terimalah" timpal Arya santai.
"Ta..ta..tapi....inikan pemberian Ratu Diana"
"Dia akan mengerti, aku malah punya firasat kalau dia memang ingin aku memberikan benda ini padamu"
Setelah beradu argumen beberapa kali, akhirnya Rena menyerah dan menerima permata berwarna hijau itu ditangannya.
"Terimakasih, akan aku gunakan sebaik mungkin" kata Rena dengan senyum manis diwajahnya.
"Sama-sama, dan sekali lagi aku minta maaf. Eh?"
Tanpa Arya sadari tiba-tiba air mata menetes dari kedua bola matanya, dia berusaha mengusapnya tapi air mata itu terus mengalir. Rena lalu dengan sigap menarik Arya kedalam dekapanya, Arya akhirnya melepaskan semua rasa syukur dan kecemasan yang dia pendam selama ini saat Rena tidak sadarkan diri.
"Kau yakin tidak ingin masuk?" tanya Kevin sambil menoleh pada orang disebelahnya.
Asuna yang bersandar pada dinding dibelakangnya kemudian balik menatap Kevin sesaat, kemudian dia menggeleng pelan lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Semuanya kembali berjalan normal, akhirnya semua Elementalist telah kembali ke Elemental City dengan selamat dan juga berhasil membawa bahan-bahan yang mereka butuhkan. Walaupun ada juga beberapa orang yang kesal ( Ali dan Lexa harus menjalani hukuman sebagai kelompok yang datang terakhir).
Setelah istirahat selama satu minggu, akhirnya proses pembuatan Elemental Weapon dimulai. Mereka bersepuluh melakukan konsultasi pada Pengawas Berlin tentang senjata yang ingin mereka buat.
"Mungkin kau satu-satunya orang yang membuat Elemental Weapon dengan dua bahan utama seperti ini" komentar Berlin setelah melihat North Blue Frozen Crystal dan South Black Winter Diamond.
Arya ingin membuat sebuah katana seperti yang biasa dia gunakan, lalu Berlin memberinya sebuah buku tentang panduan membuat pedang. Persiapanpun dilakukan, semua berjalan lancar sampai pada proses peleburan bahan.
Arya telah melakukan seperti yang tertulis pada panduan, ia memanaskan North Blue Frozen Crystal dan South Black Winter Diamond selama tiga hari tiga malam dalam sebuah tungku dengan panas maksimal.
Tetapi benda itu malah tidak meleleh sedikitpun, bahkan Rei dan Tia menatapnya dengan heran.
"Apa kau benar-benar ingin meleburkan dua unsur poros dunia yang telah diselimuti oleh es selama berabad-abad dengan api seperti ini?"
Karena kesal, akhirnya Arya berkonsultasi pada Berlin sekali lagi. Dia menanyakan apakah ada cara lain untuk melakukan peleburan bahan untuk membuat katana miliknya.
"Sepertinya tidak ada, suhu pada tungku-tungku disini tidak bisa lebih panas dari ini" jelas Berlin sambil menggeleng-geleng.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arya sambil menghela napas
Dia merasa semakin tertinggal dengan yang lainnya saat ini, disaat dirinya sibuk berkonsultasi tentang bagaimana cara peleburan bahan. Teman-temanya sudah mulai menempa senjata mereka masing-masing. Akhirnya Berlin tersenyum lembut padanya.
"Untuk apa kau kebingungan seperti itu? Bukankah kau tau ada orang yang bisa membantumu dalam hal ini?"
"Eh? Maksud Pengawas...."
Arya segera mendatangi bengkel pembuatan Elemental Weapon milik Asuna, Asuna dengan pakaian pekerja serta rambut yang diikat kebelakang sedang memanaskan besi yang ada dihadapanya. Dia memanaskan besi itu dengan tangan kiri lalu memukulkan palu dengan tangan kanan miliknya.
Arya lalu memberitahukan permintaanya pada Asuna, Asuna awalnya terlihat tidak terlalu perduli sehingga Arya merasa mungkin Asuna tidak akan mau membantunya. Namun akhirnya Asuna berkata.
"Tentu, akan aku penuhi permintaanmu"
"Sungguh?! Terimakasih Asuna, kau benar-benar penyelamat" seru Arya senang sambil menghembuskan napas lega.
"Tidak secepat itu, aku akan melakukannya dengan satu syarat" tambah Asuna dengan tatapan tajam.
"Eh?! Syarat? Syarat apa?" tanya Arya dengan raut wajah lelah.
__ADS_1
"Pergi keluarlah bersamaku akhir pekan ini" jawabnya santai.
"Eh?!"