
Arya tidak langsung menjadi anggota keluarga Hartoso, dia hidup sebagai seorang anak yatim piatu hingga umur lima tahun. Dirawat serta diurus oleh sebuah yayasan anak terlantar ternama di Elemental City.
Kabar mengenai anak misterius ini membuat pelacakan Hartoso berhasil, setelah mengurus berbagai surat – surat pernyataan. Beliau membawa Arya ke kediamannya, disitulah awal mula pertemuan Reika dan kakak angkatnya.
Dirinya yang masih berumur kurang lebih tiga tahun waktu itu tak langsung bisa menerima Arya, lalu menyebabkan adanya jarak diantara mereka. Arya tetap melanjutkan sekolahnya pada institusi pendidikan dibawah naungan yayasan tempatnya dirawat dulu.
Sikap lebih suka menyendiri sejak kecil ditunjukan oleh bocah laki – laki tersebut, tetapi Hartoso masih dapat menerimanya. Pergi bersama orang asing yang mengaku punya hubungan dengan ibumu tentu agak canggung.
Terlebih lagi ia sendiri tidak mengenal ibunya sedikitpun, oleh karena itu Arya menghibur diri melalui buku – buku cerita dan perlahan tapi pasti. Menjadikan perpustakaan sebagai lokasi favoritnya, namun ada sebuah pertemuan yang telah ditakdirkan kemudian mengubah segalanya.
------><------
“Hey tunggu! Hah.....hah....hah....”
Nampak seorang gadis kecil berumur sekitar enam tahun mengejar sebuah balon putih, dia ceroboh sehingga benda tersebut lolos dari genggaman tangannya. Tanpa sadar pengejaran membawa dirinya ke puncak salah satu bukit kecil di tengah kota.
Sambil menarik napas dengan berat, ia menengadah lalu mendapati hadiah pemberian orang tuanya menyangkut diatas pohon. Setelah menengok ke kiri kanan dan tidak mendapati sesuatu, gadis tersebut berusaha memanjat namun tergelincir jatuh.
“Sial!” umpatnya kemudian menendang batang pohon sekeras yang dia bisa tapi malah membuat kakinya terasa kebas.
SRAK! SRAK! SRAK!
“Aw aw kakiku....ishh....eh?”
Mendengar suara lembar buku dibalik, diapun mengintip ke sisi pohon lainnya. Pemandangan itu mengakibatkan matanya melebar, seorang anak laki – laki yang nampak seumuran dengannya sedang membaca buku sambil tersenyum.
Namun bukan itu penyebab dirinya terpana, anak dihadapannya memiliki rambut berwarna putih bagaikan salju pertama di musim dingin. Menyadari ada yang memperhatikan, ia pun menoleh seolah bertanya ‘ada perlu apa?’.
“Hmm?”
“Eh? Maaf mengganggu, aku tadi menendang pohon tanpa tau kau sedang berteduh di sini”
Sesudah memberikan anggukan kecil, si anak misterius kembali memperhatikan bukunya. Merasa bocah tersebut tak mau diganggu, gadis kecil itu kembali melakukan berbagai usaha untuk mengambil balon miliknya tetapi tidak menunjukan perkembangan berarti.
Sampai akhirnya senjapun tiba, begitu menutup bukunya penuh rasa puas dan lega. Anak laki – laki yang bersandar pada pohon bangkit ingin meninggalkan bukit, langkahnya terhenti sewaktu menemukan gadis tadi duduk meringkuk di sisi lain pohon.
“Kau masih disini?”
“Ah....hahaha iya, mau pulang ya? Hati – hati” sahutnya sembari tersenyum.
“Perlu bantuan?”
“Mmm....sebenarnya....
Dia menceritakan kalau sekarang tidak berani kembali ke rumah karena takut dimarahi oleh ayah dan ibunya setelah menghilangkan pemberian mereka.
__ADS_1
Begitulah ceritanya....hehehe....aku ceroboh sekali ya?”
Anak laki – laki itu cuma diam tanpa berkomentar apapun, setelah menaruh lembut bukunya di tanah beserta memastikan tidak orang lain disekitar. Secara tiba – tiba dia melompat kemudian hanya melakukan tiga kali pijakan pada dahan pohon yang berdiri tegak vertikal sebelum berhasil menggapai tali balon diatas.
Mulut si gadis terbuka lebar, kejadian tadi seperti adegan film – film laga menakjubkan yang sering dirinya tonton bersama keluarga.
“Kau ini....”
“Lain kali biasakan mengatakan tolong agar orang tau jika kau berada dalam kesulitan, nih. Jaga baik – baik biar tidak lepas lagi” katanya sambil menyodorkan balon.
“Terima kasih! Kau adalah penyelamatku, oh iya! Namaku Amira, senang bertemu denganmu”
“Aku—“
“AMIRA!?”
“Eh? Papa!? Mama!? Aku disini!” gadis tersebut melambaikan tangan kepada dua sosok di kaki bukit.
“Moo dasar anak bandel!? Beraninya keluyuran jam segini! Ibu akan menghukummu”
“Sudah – sudah”
“Dah....”
“Hah?” begitu bisikan pelan itu terdengar, anak berambut putih sebelumnya sudah menghilang. Amira mencari – cari namun tidak berhasil menemukannya dimana pun.
“Kok....Aw! Aw! Aw! Telinga!”
Mau tidak mau, Amira diceramahi habis – habisan oleh kedua orang tuanya sampai kepalanya menjadi pusing bukan main. Saat dalam perjalanan pulang digendong pada punggung ayahnya, dia bertanya apakah mungkin melompati pohon diatas bukit tadi tuk mencapai puncak.
“Jangan bercanda Amira, pohon itu tingginya lima meter. Ayah saja belum tentu bisa melakukan apa yang kamu bilang tadi”
‘Hah? Lalu anak laki – laki itu.....hantu?’
------><------
“Ahh ketemu!”
“Hmm?”
Amira dengan wajah terkejut menunjuk anak laki – laki berambut putih yang dia temui beberapa hari lalu ketika berpapasan di lorong sekolahan. Tetapi sayangnya ia bersikap seolah tidak pernah bertemu dan melenggang pergi.
“Hey tunggu! Aku belum berterimakasih untuk yang waktu itu!”
“Amira? Kamu kenal iblis putih?” tanya kedua temannya heran.
“Eee....kami pernah bertemu se—apa? Iblis putih?”
__ADS_1
Walau anak tadi menggunakan kacamata, Amira yakin dia orang yang sama. Melihat Amira tak tau apa – apa, kedua teman perempuannya menceritakan kalau muncul rumor mengenai anak berjuluk iblis putih dari kelas 1-1.
Memang benar ia berada di kelas berbeda, yaitu 1-3. Dan kurang suka ikut ketika anak – anak kelasnya membicarakan orang lain. Jadi agak sukar mendapat informasi baru, Amira mendengarkan baik – baik semua kabar burung itu lalu semakin merasa aneh.
Kelas 1-1 dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak – anak cerdas dan pejabat penting, sehingga dipastikan semua penghuninya memiliki tingkat intelektual tinggi. Tetapi pada angkatan ini, muncul seseorang yang sungguh jenius sampai guru – guru kewalahan sendiri mengatasinya.
Namun diluar kelebihan tersebut, dia memiliki sikap dingin dan cuek. Mengakibatkan teman – teman sekelas mulai membencinya. Bahkan melakukan intimidasi seperti merusak berbagai barang kepunyaan si bocah.
Sayangnya anak itu tidak terlihat memperdulikan apapun perlakukan mereka, dia tetap membaca buku santai juga berangkat sekolah seakan tak ada yang terjadi. Mulailah orang – orang memanggilnya sebagai iblis putih. Hal ini perlahan mulai diikuti oleh kakak - kakak kelas.
Beberapa diantaranya melepaskan semua kekesalan mereka pada anak tersebut, Amira awalnya tidak percaya. Tetapi waktu melihat menggunakan mata kepalanya sendiri ketika makan siang si anak laki – laki ditaburi tanah penuh cacing saat berada di kantin sekolah cukup menjadi bukti.
Amira berusaha berbicara dengan penyelamatnya itu namun selalu gagal, entah kenapa. Seperti ia berusaha menghindari dirinya. Sampai karena sudah tak tahan lagi, Amira melemparkan sepatunya kepada salah satu kakak kelas yang memotong tas milik bocah itu menggunakan gunting.
Satu sekolah dibuat gempar oleh kejadian tersebut, mulailah muncul isu kalau keduanya memiliki hubungan. Dan Amirapun ikut menjadi sasaran bullying di sekolah, teman – temanya menjauh karena tak ingin terlibat.
Puncaknya suatu hari salah satu kawan baiknya diminta memancing Amira ke gudang perlengkapan, di sana sudah menunggu beberapa anak kelas enam dan lima. Mereka mengikat kemudian membawa Amira ke gang terpencil di kota.
Memukul, menyiram dengan air kotor, sampah, dan meludahinya. Mengakibatkan tubuh beserta mentalnya benar- benar terluka, air matanya menetes tidak menyangka kalau ada manusia yang tega berbuat sejahat itu.
BUG!
“Hmm? Wah wah wah lihat siapa ini?”
Bocah – bocah kurang ajar tersebut mendapati sasaran bullying favorit mereka datang, dia melepas tasnya kemudian berjalan ke arah mereka.
“Sudah kubilangkan? Kemari untuk menjemput pacarmu ya—“
BUAKH!
Belum sempat selesai bicara, si anak laki – laki berambut putih menendang wajah kakak kelasnya itu. Melihat temanya dihajar, yang lain segera maju. Tapi kurang dari satu menit semuanya sudah terkapar dan mengerang kesakitan di tanah.
“Iblis putih mengamuk kyaa!!!” para gadis yang melihat kejadian segera kabur.
“Bukankah kau cuma seorang kutu bu—akh!“
Sang iblis putih menginjak wajah sambil menatap rendah salah seorang tukang bully di sana, ia berbisik pelan. Suara begitu menyeramkan menggema pada gang sunyi itu “Belum waktunya untuk pingsan. Aku tidak perduli kau melecehkan, menghina, maupun mengolok – olokku. Tapi....jangan pernah menyentuhnya, jika sampai terulang. Kubunuh kalian semua....camkan baik – baik”
Saking takutnya, sekitar lima belas anak laki – laki tersebut kencing di celana. Dia lalu melepaskan ikatan kemudian menggendong Amira dipunggungnya meninggalkan tempat itu.
“Maaf melibatkanmu, padahal aku—“
“Sudah berusaha menjauh? Iya aku tau, kau jahat sekali” sahut Amira lemah.
Orang – orang melihat aneh dua anak sekolah dasar penuh kotoran berjalan melintasi kota tanpa berusaha membantu. Amira mengenali sekitarnya karena merupakan rute yang dia lewati untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
“Hey? Kau belum memberitahuku namamu”
“Hmm? Namaku Arya, senang berekenalan denganmu. Amira”