
“Eee....semuanya? Tolong....aku kehabisan....ekh....fyuh”
Arya baru bisa bernapas ketika pelukan anggota The Figment Squadron telah dilepaskan, ia tentu senang atas perlakuan mereka untuk menunjukkan penyesalan tetapi beda ceritanya jika kau didekap tujuh orang secara bersamaan saat dalam kondisi teramat letih seperti sekarang.
“Kau baik – baik saja?!” tanya Laura panik.
“Aku kira akan mati tercekik.....hahaha—“
Tawa Arya langsung menghilang sebab kemunculan sesosok Werebeast menyeramkan yang mengangkat jangkar besar mengincar punggung teman – temannya. Shayu menjilati bibirnya penuh suka cita, akhirnya penantian lamanya demi membalas dendam sudah di depan mata. Arya membuka mulut hendak berteriak namun jaraknya terlampau dekat dan nampaknya tak satupun menyadari datangnya bahaya.
“LAR—“
“TERIMA PEMBALASAN ATAS KEMATIAN ADIK – ADIKKU SETAN KECIL! HYAA....!!!”
SYUU...!!! SRAK!
Entah bagaimana tiba – tiba ayunan sekuat tenaga Shayu berhenti tepat sebelum menyentuh kepala Ryan, mendengar suara gaduh barusan masing – masing segera sadar kemudian bergerak gesit menjauh sambil membawa Arya.
Tubuh kekar mantan pemimpin Faksi Laut itu menegang, dapat terlihat urat – urat sarafnya menonjol saking kerasnya dia berusaha tapi hanya geraman kesal yang berhasil diperbuat olehnya. Tidak berselang lama keluar secara perlahan makhluk berwarna hitam dengan gigi runcing melalui sekitar kulitnya.
Mereka menyeringai dan memberikan kesan horor kepada siapapun sekitar sana, mungkin karena merasa terancam Shayu sukses mengendalikan kembali badannya lalu merobek penampakan janggal tersebut. Sayang tindakannya merupakan kesalahan fatal, makin sering Shayu menyerang malah kian menambah jumlah pengepungnya.
Kemampuan membelah diri ini benar – benar membuat pikiran sang Werebeast berwujud Megalodon panik bukan kepalang, akhirnya pada satu kesempatan seluruhnya bergabung membentuk monster setinggi sepuluh meter yang melahap setengah bagian atas tubuh lawanya sekaligus mengakhiri riwayat manusia ikan di hadapannya.
KRAUK! KRAUK! KRAUK!!!
Bunyi kunyahan terhadap tulang menyebabkan Arya serta kawan – kawannya bergidik pelan, si entitas aneh tak memiliki mata tetapi mereka merasa tengah diamati ketat. Cuma Fibetha seorang nampak tertarik akan makhluk seram di sana sampai mencoba mendekat.
“Gloom?”
“Eee....dan bisakah kau jelaskan apa sebenarnya dia ini?” Shaqihr menyeletuk masih terguncang menyaksikan eksekusi tadi.
“Di—“
“Mustahil aku membiarkan ikan teri melukai murid – murid akademiku....”
Jawaban Fibetha terputus akibat kemunculan wanita penyihir bertopi tinggi dari ruang hampa, ia menatap wajah mereka secara bergiliran kemudian berhenti tepat di Arya. Anak – anak The Figment Squadron langsung mengambil posisi siaga untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
“Profesor Brevil....?”
“Hah....turunkan tongkat sihir kalian, apa begitu cara kalian berterima kasih kepada penolong kalian? Lagipula kalau memang ingin membunuhnya buat apa aku repot – repot menghabisi sarden ini?” ujarnya ketus sembari berkacak pinggang.
Gloom mendekati tuannya dengan patuh, makhluk panggilan Arietta Brevil itu bersikap jinak sangat berbeda seratus delapan puluh derajat beberapa menit lalu. Saat teman – temannya masih ragu, Arya menenangkan dan bertanya tujuan kedatangan mantan guru Necromancer miliknya di Divina Academy tersebut.
“Kenya menitipkan sesuatu untukmu....”
SYU...!!! CTAK...!
__ADS_1
“Ramuan?” gumam Arya bingung.
“Iyaa dia berkata ingin kau menjadi orang pertama yang mencoba mahakaryanya atau apalah, setauku benda di tanganmu merupakan ramuan pemulihan biasa namun khasiatnya sudah ditingkatkan sepuluh kali lipat”
“Kau yakin itu bukan jebakan?” Ryan berbisik hati – hati karena tatapan tajam Brevil terhadapnya.
Sebelum Arya sempat menjawab tekanan di udara tiba – tiba meningkat drastis sampai membuat semua orang memucat, dia langsung mengarahkan pandangan ke arah datangnya aura mengintimidasi barusan dan langsung mengerti jika situasinya benar – benar gawat.
“Apa – apaan—“
“Ryan? Kau ingat pembicaraan kita soal formasi sihir darurat ayahmu?”
“Tentu....mengapa?”
“Aku ingin kau mengaktifkannya sebagai jaminan....kemudian lakukan evakuasi secepat mungkin” jawab Arya serius.
“HAH!? ALASANN—“
“Jangan banyak bertanya! Lakukan saja!”
“Aku bahkan tak tau keberadaan—“
“Di sini....”
Zapius Gerrow secara mengejutkan mendarat tepat di samping putranya, ia menyerahkan pusaka Sky Estuary beserta mantra kunci yang Arya maksudkan. Sembari menepuk pundak Ryan sang ayah memintanya tuk bergegas, Arya lalu menghadap ke anggota The Figment Squadron lainnya.
“Aku memohon dengan sangat uluran tangan kalian untuk membantu Ryan”
“Akan ada waktunya kita bicara....ketika semua kekacauan ini berakhir, aku janji....”
BUG...!
“Kau tidak boleh mati, akulah yang bakal menghabisimu....” Hanna berkata sambil menempelkan bogem ke dada Arya.
Arya cuma tersenyum kemudian memberikan anggukan setuju, ketika Ryan bertanya hendak kemana ayahnya dan kenapa tidak ikut pergi saja Mr.Gerrow membalas kalau dirinya mau menemui kawan lama dengan tatapan terkunci kepada Merlin.
Mendengar jawaban demikian akhirnya Ryan bangkit disusul oleh Arya, posisi berdiri dua sahabat itu saling memunggungi satu sama lain. Mereka lalu mengangkat tangan kanan secara berbarengan terus memukul keras punggung masing – masing.
“Semogar berhasil....”
“Kau juga....”
SYU.....!!!
“Maaf....telah membohongi anda selama ini Profesor....”
“White—tidak....Arya Frost kuharap suatu hari nanti kita bisa bicara sembari minum teh bersama....” kata Brevil bersiap tuk pergi.
“Tentu....tapi kalau anda berjanji untuk mentraktirku”
__ADS_1
“Heh....dasar murid kurang ajar....”
“Sampaikan terima kasihku kepada Profesor Weahl....” Arya berpesan dan tanpa menuggu lama membuka penutup botol kaca kecil di tangannya.
------><------
“Sedikit saran, sebaiknya tarik mundur orang – orang kalian sebelum terlambat....” peringat Louis menyimpan kembali sabit raksasanya.
SYUUU....!!! WUSHH....!!!
“MUNDUR.....!“
Memanfaatkan segenap kemampuan masing – masing keempat petinggi Fatum menyampaikan perintah tersebut yang tentu membuat hampir semua anggotanya tersentak kaget, lalu ketika hentakan kaki dua Elementalist menyentuh bumi cuma para Vanguard sahaja sudah meninggalkan lokasi.
BRUAAKKK....!!! JGEERR....!!!
Hembusan angin kuat pengoyak kulit ditambah hujan kristal merah muda mengincar siapapun dalam jangkauan mereka, beberapa cukup beruntung sukses menyelamatkan diri tetapi nasip sisanya berakhir tragis. Tidak perduli kawan atau lawan serangan barusan dilancarkan demi satu tujuan, yaitu memberikan kesan pertama memukau.
“Hahahaha....lemah sekali, kalian bukan semut yang hanya dengan diinjak tewas bukan?”
“Louis? Kau harus membayar lebih atas pekerjaan melelahkan ini....” Xavier melirik ketus terus menyusul rekannya melepaskan sebelah sayap hasil jarahan perang sebelumnya.
“Lakukan sesukamu....”
“Hmm....jadi kalian teman – teman seperjuangannya ya?”
Pupil mata Reiko bergerak cepat menandai posisi delapan Elementalist di area pertempuran, sewaktu masih asyik menilai calon mangsanya kepulan debu sekitar sana tiba – tiba terbelah akibat terjangan seekor naga bersisik biru dari angkasa.
Mulutnya membuka lebar hendak mencabik Reiko menggunakan gigi – gigi runcingnya namun terhalang akibat menubruk dinding transparan, gadis itu menoleh heran lalu tertawa geli melihat tindakan Safira.
Dalam sepersekian detik Kunzite datang menyambar Safira sehingga membuat kegaduhan besar akibat duel antar kadal raksasa, situasi makin kacau disebabkan banyaknya korban terluka usai kedatangan duo berbahaya ini.
“Asuna? Bukankah dia....Reika?” celetuk Timothy linglung.
“Jangan terperdaya atas penampilan—“
BUAKKHHH....!!! KRANG....!!!
Belum Asuna selesai bicara, Reiko hadir di hadapan Timothy dan melepaskan pukulan telak menuju perutnya sampai menyebabkan pelindung besi yang melapisi badannya melesak ke dalam. Darah segar muncrat keluar menghiasi mulut pemuda tersebut, saking cepatnya pergerakan Reiko para Elementalist lain terlambat bereaksi.
Lexa serta Selena menciptakan bagian tubuh jumbo dengan elemen mereka untuk menyergap musuh namun hembusan angin malah menghancurkan semuanya sehingga keduanya terpental mundur menempel pada dinding reruntuhan bangunan. Wujud Master masing – masing seolah tak memberi perbedaan sama sekali, Xavier menguap malas sembari memainkan jari – jarinya.
“Kau bisa sendiri ya? Aku enggan mengotori tanganku....”
“Heh?! Akuilah kalau dirimu memang telah uzur pak tua....” Reiko menyeringai terus mengeluarkan Elemental Weapon berbentuk cambuk bertabur kristal setajam silet siap merobek daging lawan – lawannya.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.