
Dengan penampilan berantakan dan penuh kebas maupun luka Po melangkah mundur, ia berusaha mengatur napas sambil mengamati seksama lawan – lawan di hadapannya. Kondisi Astral sekarang menyebabkan dirinya sulit berkosentrasi karena mencoba menahan keinginan kuat untuk menoleh.
“Gio....”
“Kupikir sekarang bukan saatnya kau mengkhawatirkan orang lain....” bisikan lirih dekat telinganya langsung dia respon secepat kilat.
Namun ayunan tangan Po yang seharusnya mengenai wajah musuhnya malah hanya melewati kumpulan kabut dingin, Shakespeare tertawa puas akan kejahilannya kemudian muncul kembali tepat di sebelah James berada.
Pengawas Po tanpa memberi jeda sedikitpun melesat bahkan sebelum gelak pria tersebut selesai, Agnet berjumlah besar berkumpul dalam genggamanya siap menghancurkan apapun targetnya. Tetapi sewaktu hidung Shakespeare tinggal sedikit lagi patah tertinju, sepasang kapak serta sebilah pedang berhasil menghentikan laju bogem berwarna merah menyala itu.
“Woaaa...!? Eh? Pyuhhh....hampir saja....” Shakespeare menyeka keringat pada dahinya lega.
“Berhenti bercanda atau nanti aku laporkan kepada Boss....”
“Oh...ayolah James? Memang begini caraku bertarung, ngomong – ngomong terima kasih banyak Tuan Eric, Nona Joana....”
“Kau cukup membalasnya dengan....menutup mulutmu....” kata Eric memutar – mutar kedua bola matanya.
“Setuju....”
“Kalian bertiga sama saja, tolong jangan mengincarku wahai Pengawas Ujian. Aku bukanlah tipe petarung jarak dekat....”
Usai berucap demikian Shakespeare menempelkan tangannya ke mulut terus meniup kencang, kepulan asap berhembus dan memaksa Po menjaga jarak. Entah apa yang baru saja dilakukannya tapi Po sangat mengerti ini bukanlah pertanda baik.
Pupilnya bergerak kesana kemari namun gagal menembus ketebalan kabut ciptaan Shakespeare, setelah bertarung cukup lama dia menyadari para Mutant berjuluk Vanguard tadi tak bisa diremehkan. Masing – masing mempunyai kemampuan unik nan istimewa sehingga kalau lengah sedikit mereka pasti memberikan kejutan luar biasa.
‘Aku harus mengincar dua pengguna Agnet Creation barusan dahulu supaya aman....’ batinnya waspada.
“Kau berhak mendapat pujian atas keberhasilanmu menghadapi kami sendirian....”
WUSH!!! TRANG!!!
Eric si pria berambut kemerahan bersenjatakan kapak kembar keluar memberikan serangan melalui titik buta, untungnya reaksi Po masih cukup cepat sehingga ia buru – buru melapisi sikunya menggunakan Agnet lalu saling beradu kekuatan dengan Eric.
Sebeleum Eric sempat berkomentar, Po langsung mengenggam erat kerah pakaianya kemudian memanfaatkan kakinya sendiri untuk menjegal. Ketika badan Eric terangkat ke udara hendak terbanting datanglah perempuan lain mengarahkan pedangnya menuju sisi tubuh Po, berkat kecerdikannya dia telah memprediksi hal tersebut dan akhirnya menyiapkan perisai hidup.
SRAT....!!!
“Ups....maaf”
__ADS_1
“Gadis sinting sialan....!” Eric menggeram kesal sampai urat pelipisnya menonjol.
Eric menyeka darah bekas luka goresan pada pipinya dengan wajah merah padam, ia balik mengunci pergerakan Po sambil menyeringai lebar. Peningkatan tenaga yang drastis tentu membuat sang Pengawas terkejut bukan main, di tengah usahannya melepaskan diri Eric langsung melemparnya tinggi.
“Satelite Empowerment....”
Sebuah sinar merah membelah langit saat James mulai menekan tombol papan ketik berwarna – warni di depannya, barang itu mengeluarkan aura pekat sebagai pertanda kekuatan Agnet miliknya. Menyadari datangnya bahaya Po mencoba menghindar tapi empat buah rantai emas menjerat kaki juga tangannya.
“Golden Chain....” gumam Shakespeare menulis sesuatu pada buku kecil memakai pena bulu angsa hitam.
JDUAR.....!!!
Ledakan dahsyat pun terjadi menerbangkan beragam materiil menuju segala arah, Po terguling – guling beberapa meter akibat terkena telak jurus tadi. Kulitnya menderita luka bakar parah begitu diperiksa, tidak berniat memberi istirahat Eric maupun Joana meringkusnya sekali lagi.
Berbekal sisa – sisa energinya Po menendang pergelangan Eric tepat waktu, alhasil arah ayunan kapaknya berbelok terus malah mengoyak bagian perut gaun Joana. Ekspresi wanita tersebut seketika berubah gelap, dengan tatapan sedingin es ia bertanya, “Kau mau mati hah!? Dasar viking buruk rupa!”.
TRANG....!!!
“Hahaha....sekarang kita impas! Rasakan!” Eric menjawab tanpa rasa bersalah.
Keduanya saling menyerang satu sama lain penuh dendam seolah melupakan keberadaan musuh mereka, Pengawas Po mulai memperban lukanya dan memulihkan diri dibantu pecahan tubuh kayu Deera. Sementara anggota Vanguard lainnya cuma dapat menepuk jidat lelah, bingung memikirkan cara melerai perkelahian konyol barusan.
“Mulai lagi....”
“Bisa kau memberitahuku caranya?” ujar James balik bertanya.
“Entahlah, pokoknya harus cepat”
“Mengapa?”
“Sebab sepertinya Tuan Pengawas Ujian itu akan jauh bertambah kuat....” Shakespeare mengarahkan kepalanya ke lokasi Po berdiri, tangan si pria nampak gosong dan dihiasi garis tipis semburat kuning kemerahan layaknya lava panas.
------><------
“AKH....!!!”
Jeritan pilu terdengar nyaring memecah udara, bunyinya berasal dari seorang anak perempuan yang meringkuk kesakitan di tanah. Sebuah aura gelap pada sekitar dadanya makin melebar lalu menelan dirinya secara perlahan sejak Limbo diaktifkan.
Dekat sana salah satu Dua Belas Shio memperhatikan dengan seksama, awalnya Hebihime berniat bertarung melawan gadis tersebut satu lawan satu dan menghabisinya. Tetapi efek sihir terkutuk para Witch malah mengakibatkan niat bertarungnya menghilang, meski adalah musuh dia tidak sudi membunuh lawan tak berdaya.
__ADS_1
“Hah....bagaimana ini?”
“KYAAAA......!!! ARGH.....!!!”
“Apakah aku harus membantu mengakhiri penderitaanmu dengan mencabut nyawamu? Hey jawab aku? Wahai Elementalist Cahaya....” tanya Snake Shio perlahan mendekati Elizabeth.
------><------
“Zayn? Dengarkan aku....”
“Hmm?” Zayn memasang telinganya baik – baik.
“Aku tau kondisi sekarang sungguh menguntungkan bagimu atau pun diriku, namun beda cerita dengan rekan – rekan kita lainnya”
“Aku mengerti, apa rencanamu Kapten?”
“Tolong tahan mereka sebentar bersama makhluk panggilanku selagi aku mencari cara membatalkan mantranya...."jelas Arya lirih.
Zayn memberikan anggukan pertanda setuju atas rencana yang baru saja disampaikan Arya kepadanya, namun tiba – tiba secara bersamaan semua anggota Fatum di hadapan mereka melepaskan kekangan bayangan milik Zayn kemudian menyerang.
Friska berdecak gusar saat sihirnya hancur menabrak dinding transparan ciptaan Silvesta, sebelum sempat mengutuk ia terpaksa mengambil posisi bertahan karena kelima abdi Arya bergerak serentak. Guiliano melayangkan pukulan keras sampai Baekho tertekan ke dalam tanah menahannya.
Percivale sukses menangkis segala serangan membabi buta Moona menggunakan perisainya lalu memberikan banyak luka di kulit sang Wrath Sins, sedangkan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai Bunny menarik kakinya selesai menendang karena beradu menghadapi pedang Luisa.
Zulqar terlihat mengunci pergerakan Mira serta Hayha, makhluk yang diberi julukan oleh Arya sebagai Absolute King ini tanpa kesulitan meladeni kedua Vanguard bahkan sedikit malas – malasan sebab perintah membingungkan Tuannya.
‘Jangan berani – berani membunuh gadis itu, terserah kau mau melakukan apa terhadap musuh lainnya. Kau dengar aku? Zulqar?’
Melihat situasi kondusif, Zayn mengincar lawan tersisa. Dia mencengkram muka Greenhook memanfaatkan kekuatan elemen kegelapan berupa telapak hitam raksasa berkuku tajam, si Raja Goblin mengayunkan gadanya kemana – mana sayang tidak sekalipun mengenai sasaran.
“APA – APAAN!? GROAAAR....!!! LEPASKAN AKU BRENGSEK!”
“Aku terus bertanya – tanya mengapa ia belum memakai sihir kuno usai menyaksikan kehebatannya saat pengejaran beberapa waktu lalu....” Hayha berkomentar.
“Ah...benar, alasan utama Ketua meminta James merencanakan penyelundupan Antimage Seal demi menangkal kemampuan merepotkan ini....tunggu sebentar! Sejak kapan?! Hayha pindai area sekitar!?”
“Eh? Ada apa?”
“Target kita....menghilang” sahut Mira ketir.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.