
“Anguista....!!!” bisik Ali sebelum melompat.
Mendengar aba – aba tersebut si ular coklat langsung menerjang sendirian, Annabelle dan Lilian segera bersiap namun ternyata Anguista tidak mengincar keduanya melainkan bergerak gesit melilit sekujur tubuh boneka beruang dibelakang mereka. Anguista membuka mulut lebar - lebar lalu menyemburkan pasir berjumlah besar tanpa henti yang menyelimuti lawannya.
“Winnie!?” Annabelle berseru panik.
“Anna!? Lupakan mainanmu kemudian beri aku bantuan untuk menghabisi Elementalist jadi – jadian itu....”
“Dia bukan mainan!?”
“Huh!? Terserah....” ujar Lilian lelah sembari memutar bola matanya.
Lilian mengepakkan sayap siap menuju ke arah tempat Ali bergelantungan menggunakan selendang miliknya pada dahan pohon. Annabelle merapalkan mantra dalam hitungan detik, sebuah sambaran petir hitam muncul menghantam Anguista sehingga lilitannya ikut terlepas.
“Menjauh ular sial....”
“Oi!? Kau dengar aku?!”
“Berisik! Charta Avem!”
Ali menelan ludah berat karena tiba – tiba entah dari mana datang kawanan burung kertas berwarna – warni mengikuti Lilian usai Annabelle mengarahkan tangan kepada dirinya. Insting Ali sadar kalau makhluk – makhluk aneh tadi bukanlah pertanda baik dan langsung bergerak menjauh, sayangnya kecepatan Ali masih kalah jika dibanding laju terbang mereka.
“Celaka!?” Ali menggigit bibirnya sendiri ketika sudah dikepung.
BUMMM...!!!
Ledakan api besar nampak beberapa meter diatas permukaan rawa, tiap biji burung kertas sebelumnya meletup dengan kekuatan setara puluhan dinamit. Lilian memicingkan mata mencari gerakan mencurigakan, benar saja tidak berselang lama siluet seperti bola raksasa terjatuh.
Lilian langsung melemparkan tombaknya yang telah dilapisi Agnet, cahaya kekuningan menyinari senjata tersebut. Saking tinggi kecepatan melesatnya belum satu tarikan napas benda barusan mengenasi sasaran.
SRRTT....!!! I JDEERR!!!
“Hah....hah...hah....pyuh....nyaris....” kata Ali bermandikan keringat dingin.
Ujung tombak milik Lilian menancap cuma sekitar tiga inci dari posisi Ali, pada kejadian ledakan sebelumnya Ali berhasil menciptakan pelindung pasir tepat waktu jadi tak tergores sedikitpun oleh sihir Annabelle. Tetapi ketika ia jatuh Lilian siap membidik bola cokelat buatannya.
Belum sempat Ali memulihkan diri atas tindakan mengejutkan itu, tombak tercabut dan menyebabkan cahya memasuki celah bekas tancapannya. Ali mengubah bentuk pasir sekitarnya kembali terpecah lalu mendorong Lilian sejauh mungkin bahkan sewaktu perempuan tersebut baru hendak mengintip ke dalam.
“Kyaaa....!!!”
“Circulus Ignis!”
__ADS_1
Hawa panas aneh memaksa Ali mengalihkan perhatian, ternyata kobaran api luar biasa sudah mengelilinginya dan terus bertambah sempit. Annabelle sebagai pelaku menyaksikan sambil melayang santai di udara.
Ali memanfaatkan kemampuan pengendaliannya demi mengumpulkan cukup banyak pasir yang diarahkanya pada sekitar telapak kakinya. Meski durasinya sebentar, Ali berhasil terbang berkat kekuatan elemenya sehingga tak terpanggang hidup – hidup.
“DASAR PALSU! ENYAH KAU!!!” bentak Lilian menyerang sekali lagi melalui titik buta.
------><------
TRANG!
Ali menahan ayunan penuh energi Lilian, keduanya beradu senjata untuk kesekian kalinya. Tetapi kali ini berbeda, mereka tak menetap disatu tempat melainkan terus menerus berpindah dari satu lokasi menuju lokasi berikutnya sampai hampir seluruh titik rawa tersentuh.
Sementara Annabelle menembakan sihir dukungan bagi Lilian dan akhirnya membuat Ali benar – benar terdesak. Hujaman bertubi – tubi memaksa Ali mundur hingga punggungnya terbentur dahan pohon besar alias jalan buntu.
“Kena!? Holy Spearhead!”
Ali menyaksikan laju serangan Lilian seolah melambat, seperti dia tengah menghitung detik – detik kematiannya. Ali hampir memejamkan mata pasrah saat tiba – tiba wajah para Elementalist laki – laki yang menoleh muncul dalam benaknya sembari berkata ‘kau berjanji tuk menyusul kami’.
SRATT...!!! KRAKK!!! JDUK!!!
“Hmm...?” Lilian mengangkat alisnya keheranan.
Pria dihadapanya hanya dengan waktu singkat memiringkan kepalanya lalu mengakibatkan tombak miliknya cuma merobek pelipis sang musuh, darah segar membanjiri wajah Ali. Sorban yang menutupi rambutnya ikut terkoyak, Annabelle juga cukup terkejut menyaksikan kejadian barusan.
“Aku sempat berpikir kau telah menerima nasipmu untuk mati....”
“Mengapa anda berpikir demikian?” tanya Ali berusaha tersenyum.
“Lihatlah....”
Llian mengarahkan pandangan menuju lokasi Anguista sedang terkekang oleh lima buah sihir pedang cahaya ciptaan Annabelle, beberapa sisi tubuhnya tertancap sangat dalam sehingga tidak mampu bergerak. Ali merasa iba melihat ular tersebut meronta – ronta ingin menolongnya.
“Elemental Beast milikmu tertangkap, sedangkan Elemental Dragonmu hanyalah hasil rekayasa genetika. Tidak sekuat punya True Elementalist, lagi pula kekuatanmu terbatas menggunakan satu atribut saja bukan?”
“Benar sekali....”
“Menyerahlah, akan kuberikan kau kematian yang tak menyakitkan. Aku tau dirimu menikmati saat berbicara akibat alat Anna tapi....”
“Aku masih bisa menang....” bisiknya lembut.
“Hah!? Kau buta!? Kekuatan pasirmu tidak bergu—“
“Corrosion Touch....”
__ADS_1
------><------
Belum sempat Lilian menyelesaikan kalimatnya, seluruh tanaman disekitar mereka secara tiba – tiba rontok layaknya daun kering menjadi timbunan pasir. Annabelle segera megeluarkan tali supaya mampu menarik mundur Lilian menjauh dari Ali.
“Apa – apaan!?”
Ternyata selama pertarungan menghadapi Lilian, Ali selalu menyentuh tiap pohon agar ia dapat menyerap keluar cairan mereka sampai kering kerontang. Sebenarnya pasir yang disemprotkan Anguista sebelumnya juga berfungsi mempercepat proses itu.
“Ini bukan mengeluarkan air lagi!? Dia menyerap kehidupan seluruh tanaman disini!?” Annabelle menjerit.
Entah bagaimana caranya, dalam hitungan detik hanya ada padang pasir sejauh mata memandang. Ombak tinggi butiran coklat tersebut menyapu kedua gadis False Vanguard hingga terpisah, Ali menempelkan telapak tangan ke tanah berbekal sisa – sisa tenaganya.
“Akh....!? Lilian!?
“Anna!? Tolong ak—“
“Sahara Rampage....”
BRRRR.....!!!
Masing – masing pijakan Annabelle maupun Lilian melesak kedalam, menciptakan dua buah lubang pasir hisap selebar lima belas meter. Badan mereka tenggelam tanpa mampu melakukan apa – apa seakan dilahap undur – undur raksasa tidak kasar mata.
Annabelle berjuang melepaskan diri tetapi sia – sia, cahaya matahari diatasnya semakin menghilang tertutup timbunan pasir. Ketika hanya tersisa tangan kanannya saja, seseorang menariknya keluar. Annabelle terbatuk – batuk yakin sekali ia dan ajal hanya terpisah jarak setipis kertas.
Ketika napasnya sudah kembali normal, akhirnya Annabelle melihat sosok penyelamatnya. Ali berdiri kaku memunggunginya, saat pria tadi berbalik Annabelle mengambil sikap siaga terlebih Ali berjalan terhuyung – huyung mendekatinya.
Ditengah – tengah napas tercekatnya, Ali gesit menangkap pergelangan Annabelle. Dengan anggota badan gemetar hebat Annabelle ingin sekali berteriak kemudian menampar laki – laki dihadapannya namun tak punya keberanian, sewaktu hendak berteriak histeris Ali menaruh sesuatu ditelapak tangannya.
Annabelle membuka sedikit matanya dan menemukan peniti tengkorak merah muda yang dia berikan sebelumnya kepada Ali. Pria tersebut terus berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat serta bibir tanpa suara miliknya.
‘Terima....kasih....’
BRUK!
“Hei!? Kamu...!?”
Ali tumbang miring menabrak tanah berpasir dibawahnya, pandangannya kosong meski terbuka. Satu per satu kemampuan indra – indranya meghilang menandakan kalau ia sudah mati rasa. Ali tidak bisa bergerak lagi seolah tulangnya terbuat dari agar – agar.
‘Mungkin.....ini efek samping penggunaan kekuatan pengendalian secara berlebih bagi Artificial Elementalist cacat sepertiku.....maaf Kapten....semuanya.....aku....’
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.