Elementalist

Elementalist
Chapter 51 - Winter Hollow


__ADS_3


"Fwah! Uhuk! Uhuk!"


Arya terbangun lalu memuntahkan benda dingin yang ada dimulutnya, ia tidak habis pikir bagaimana bisa salju-salju itu bisa ada disana. Kemudian dia bangkit dari posisi duduk dan memperhatikan sekitarnya.


Hanya ada tumpukan salju dan pohon cemara sepanjang mata memandang, pohon-pohon tersebut tumbuh sangat tinggi. Sampai-sampai saat dia mengadah ke atas, puncak dari pohon-pohon itu tidak terlihat.


"Dimana ini?" gumam Arya kebingungan.


Hal terakhir yang dia ingat adalah ketika rubah putih itu menabrak dirinya dan Lexa, alat teleportasi mereka aktif dan membuat keduanya muncul pada ketinggian 20 meter dari permukaan tanah.


Pendaratan yang Arya lakukan tidak terlalu mulus sehingga menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Tapi dia yakin kalau Lexa juga berada di tempat ini, yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah menemukan gadis itu sebelum dia membuat situasi ini semakin memburuk.


Tepat sebelum melakukan langkah pertama, Arya menangkap sebuah pergerakan dari sudut matanya. Diantara celah pohon cemara itu rubah putih yang menabrak dirinya dan Lexa berdiri diam sambil menatapnya dalam-dalam.


"Kau ini....sebenarnya apa?" tanya Arya dengan ragu.


Sejujurnya dia merasa bodoh menanyakan hal itu, karena sudah mengetahui tidak mungkin mendapatkan jawaban dari seekor rubah. Kalau Rena melihat hal ini dia pasti akan menatap Arya dengan heran seperti saat berbicara dengan Stella dulu.


Rubah itu langsung berbalik badan dan meninggalkan Arya, melihat hal tersebut dia hanya mengangkat bahu tidak peduli. Tapi ia merasakan sesuatu yang janggal disini, karena penasaran. Arya akhirnya mendekati tempat dimana rubah itu berdiri sebelumnya.


Ternyata disana tidak terdapat jejak kaki dari makhluk misterius tersebut, bagaikan tersambar petir dia langsung saja berlari untuk menyusul rubah itu sambil berteriak.


"Guide Vision?!!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Dengan sekuat tenaga Arya berlari dan melacak keberadaan Guide Vision miliknya yang berwujud rubah berbulu putih tersebut. Gerakan dari rubah itu sangat cepat, mungkin karena dirinya tidak memiliki fisik nyata pikir Arya.


Pergerakan rubah itu sangat luwes bagaikan angin yang bertiup di musim dingin, tanpa pikir panjang Arya langsung melompat dari satu pohon ke pohon lainnya agar tidak kehilangan makhluk tersebut.


Beberapa saat kemudian ketika bertemu sebuah persimpangan jalan rubah itu menghilang, benar-benar menghilang seakan-akan tubuhnya menguap di udara. Karena merasa bingung akhirnya Arya mendarat dan memandangi persimpangan jalan itu.


Dari kejauhan terlihat sesosok orang yang berdiri disana sambil menatap sesuatu, saat berusaha mendekati orang itu dengan mengendap-endap. Tanpa sengaja Arya menginjak sebuah dahan pohon dan merusak kesunyian yang ada disana.


Langsung saja orang itu menoleh, Arya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia langsung menghilang saat itu juga. Arya menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal.


"Kenapa apapun yang ada di hutan ini suka sekali menghilang begitu saja sih?!" gerutunya pelan.


Lalu saat mendekat akhirnya Arya tau apa yang sebelumnya dipandangi oleh orang tersebut, sebuah papan nama yang telah diselimuti salju. Dia membersihkan papan nama itu menggunakan lengan baju miliknya, mata Arya melebar saat membaca tulisan yang ada disana.


Dia mengusap matanya sekali lagi untuk memastikan apa dirinya tidak salah lihat.


"Tempat ini kan?! Yang benar saja! Kenapa aku bisa muncul di tempat seperti ini sih? Ini gawat, aku harus segera mencari Le—"


"Tidak perlu"


"WAAA....!?"


Arya merasa jantungnya hampir copot saat tiba-tiba Lexa sudah berdiri disebelahnya, gadis itu terlihat lelah karena suara napasnya yang memburu.


"Bisakah sekali saja kau tidak melakukan hal yang membuatku pusing? Hah?" tanya Arya sambil mencubit pipi Lexa.


"Aww....aww....Arya....sakit"


"Kau harusnya bilang apa?"


"Apa?"


"Kau masih bertanya?!"


"M...ma...maaf" ucapnya lemah.


Arya akhirnya melepaskannya, Lexa mengusap kedua pipinya yang sudah memerah sambil cemberut. Dia lalu mulai menceritakan bagaimana caranya bisa menemukan Arya, sama seperti Arya. Ternyata Lexa juga sempat tidak sadarkan diri pasca mendarat.


Lexa terbangun setelah Rake berusaha membuatnya tersadar, tapi dia tidak bisa menemukan Arya disekitar sana. Saat ia sudah memutuskan untuk pergi mencari Arya, Lexa melihat Arya melesat di pepohonan dengan cepat lalu segera berusaha untuk menyusulnya.


"Tapi aku tidak menyangka gerakanmu cepat sekali, aku sampai kewalahan untuk mengikutimu" ujar Lexa sambil mengipas-ngipaskan tangan ke wajah.


Mendengar penjelasan dari Lexa itu, Arya hanya diam sambil mengangguk-angguk beberapa kali. Melihat respon Arya yang biasa saja membuat Lexa sedikit kesal.


"Kenapa kau hanya diam saja dari tadi sih!"


"Aku sedang berpikir, apa kau melihat ada orang yang berdiri disini sebelumnya?" Arya balik bertanya.


"Mmm? Orang? Tidak tuh, jarak kita terlalu jauh. Jadi mungkin saat aku tiba dia sudah tidak ada"


"Apa kau bisa merasakan keberadaan orang lain disekitar kita?"


Lexa kemudian menyentuh tanah dengan tangannya, lalu beberapa saat kemudian bangkit kembali sambil menggelengkan kepala.


"Sepertinya tidak ada, tapi aku tidak bisa memastikannya karena tanah disini diselimuti oleh salju"


"Hah....aku punya berita baik dan berita buruk, mana yang ingin kau dengar terlebih dahulu?" Arya menatap Lexa sambil duduk dihamparan salju.


"Tentu saja berita baik" sahut Lexa yang mulai mengumpulkan salju digenggamannya.

__ADS_1


"Berita baiknya adalah kita sudah berada di tempat yang tepat, aku sudah melihat Guide Vision milikku dan aku yakin Ice Temple ada disekitar sini"


"Baguslah kalau begitu, bukankah kita hanya tinggal mencarinya saja?" balas Lexa sambil membuat manusia salju dibantu oleh Rake.


"Ya benar sekali, tapi berita buruknya adalah kita tidak punya petunjuk dimana letak pasti kuil itu dan tidak tau medan yang ada disekitar si—"


"Yey! Jadi! Wohoo!"


"Hey! Apa kau mendengarku?" tanya Arya dengan kesal.


"Iya....iya....aku dengar, tenang saja. Kita hanya perlu menelusuri tempat ini" jawab Lexa tidak peduli.


"Hah....sudahlah, ngomong-ngomong Lexa. Apa kau tau mengenai Winter Hollow?"


"Bukannya itu adalah salah satu Four Season Zone yang ada di wilayah kekuasaan Witch?


"Benar, ternyata kau tau juga ya?" ucap Arya dengan nada tidak percaya.


"Kalau mengenai hal besar seperti itu sih aku juga pasti tau, kenapa kau menanyakannya?"


"Karena kita sedang berada disana"


Kepala manusia salju yang telah dibuat oleh Lexa langsung jatuh ke tanah, dia menoleh ke arah Arya dengan mulut terbuka lebar.


"HAH?!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Arya....lapar....!" rengek Lexa sambil mengusap perutnya.


"Berisik, setidaknya kalau kau lapar. Pergilah mencari sesuatu untuk dimakan" balas Arya cuek.


Arya sedang berusaha membuat tempat berlindung untuk keduanya bermalam dengan menggunakan kekuatas es miliknya. Sementara Lexa hanya duduk diam bermain salju bersama Rake.


"Eh...?! Kau sungguh mengatakan hal sekejam itu kepada seorang gadis?" ujar Lexa merengut tidak percaya.


"Kalau kau adalah gadis normal mungkin akan kupertimbangkan untuk bersikap lembut padamu"


"Huh! Dasar menyebalkan!"


"Iya-iya terserah kau mau bilang apa, bisakah kau mengambilkan air bersih untuk kita?" pinta Arya yang sudah mengumpulkan beberapa kayu bakar.


"Dimana? Yang aku lihat disini hanya tumpukan salju"


"Ada sungai yang tidak membeku 7 meter ke arah Selatan dari tempat ini"


"Baiklah-baiklah, dia pikir aku ini apa? Pesuruh? Iyakan Rake?" gumam Lexa sambil mengambil beberapa botol untuk mengisi air.


"Tidak ada Tuan menyebalkan" sahutnya dengan lidah terjulur.


"Berhati-hatilah" peringat Arya dengan raut wajah serius.


"Ayolah Arya, apa yang bisa terjadi? Aku hanya akan mengambil air"


"Jangan gegabah, kau ingat kita sedang berada dimana bukan?"


"Iya-iya, cerewet"


Saat akhirnya Lexa sudah tidak terlihat, Arya kembali melanjutkan pekerjaanya. Persiapan ini harus dilakukan dengan baik dan benar, tidak ada satu orangpun yang tau dengan pasti akan apa yang mereka temui di Four Season Zone.


Four Season Zone adalah salah satu dari beberapa Sacred Palace paling terkenal di dunia, tempat-tempat ini dipenuhi dengan banyak misteri dan kejanggalan yang menyebabkan banyak orang tertarik untuk memasukinnya.


Dikatakan kalau Four Season Zone mengandung sihir kuno yang menyebabkan empat wilayah tersebut memiliki hanya satu musim saja sepanjang tahun. Four Season Zone ini terdiri dari Spring Straight, Summer Twisted, Autumn Sunken, dan Winter Hollow.



Kabar mengenai sihir kuno itu jugalah yang menyebabkan para Witch sangat berambisi untuk menguasai wilayah ini, banyak kabar yang beredar kalau bahan-bahan pembuatan tongkat sihir dikumpulkan dari Four Season Zone.


Yang menjadi buah pikiran Arya hanyalah satu, jika tempat ini memiliki sesuatu sehebat sihir kuno. Bukankah itu berarti bukan hanya makhluk seperti mereka berdua saja yang ada disini. Baru saja Arya mengusap keningnya lega karena pekerjaan telah selesai, terdengar suara teriakan Lexa.


"KYAA...!"


"Astaga...., kali ini apa lagi? Bukankah dia sudah kuperingatkan untuk hati-hati?" ujar Arya lelah lalu menggapai Mandalika untuk segera menyusul Lexa ke sungai.


Setelah sampai ditujuan, Arya melihat Lexa sedang berusaha menahan mulut seekor ikan raksasa agar tidak tertutup dengan kedua tangannya. Arya mendekat sambil menghela napas.



"Apa yang sedang kau lakukan?"


"M....me....menurutmu?!" Lexa balik bertanya dengan gigi menggertak.


"Memberi makan seekor ikan sungai raksasa?"


"Ha.ha.ha lucu sekali, sekarang cepat bantu aku atau aku akan segera kehilangan Elemental Beast milikku bahkan sebelum 24 jam memilikinya!!!"


"Apasih yang dilakukan oleh tikus tanah bodoh ini bersama pemiliknya sampai sekarang?" pikir Arya heran.

__ADS_1


Dia mencabut Mandalika dan dalam sekejap membuat ikan sungai itu terpotong menjadi beberapa bagian. Arya berhasil menangkap Rake lalu mengembalikannya pada Lexa.


"Setidaknya kita mendapatkan makan malam, lain kali kalau aku butuh umpan untuk memancing. Aku akan segera menghubungimu. Oke?"


Lexa segera memeluk Rake dengan erat sambil menggeleng sekuat tenaga, melihat hal itu Arya hanya tertawa kemudian kembali ke lokasi bermalam mereka dengan membawa potongan-potongan besar daging ikan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


KRTAKK!!!


Arya langsung membuka matanya dengan waspada, dia mengawasi sekitarnya dari posisi duduk. Lexa dan Rake masih tertidur pulas di dekat bekas api unggun. Arya yakin sekali mendengar suara dahan patah beberapa saat yang lalu.


Dia bangkit berdiri untuk mencari dari mana suara itu berasal, sebelum pergi ia memasangkan selimut untuk Lexa dan Rake agar keduanya tidak menggigil. Cahaya bulan menerangi pepohan di Winter Hollow malam itu.


Pencahayaan yang remang-remang menambah kesan horror disana, Arya berjalan dengan hati-hati sambil memasang telinganya baik-baik. Namun tangan kanannya sudah memegang gagang Mandalika dengan erat.


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang membuat seluruh tubuh Arya merinding, kakinya langsung melemas dan tidak bisa digerakan. Ia memejamkan mata sambil terus berdoa, salah satu alasan kenapa dia sangat tidak menyukai hantu adalah karena mereka tidak bisa dihajar.


"Kuntilanak kah? Tapi tunggu dulu, apa yang dilakukan mbak kunti di tempat sedingin ini!?" gumam Arya pada diri sendiri.


Saat itulah dia baru tersadar kalau hantu tidak mungkin mengeluarkan suara ketika menginjak dahan pohon. Dengan hati-hati ia mengikuti suara tawa yang terdengar samar-samar itu sampai tiba disebuah tanah lapang.


Disana ada seorang gadis kecil yang sedang menari-menari seorang diri sambil membawa payung berwarna jingga. Umurnya mungkin sekitar 10-12 tahun, saking asyiknya menari gadis itu tidak menyadari kedatangan Arya.



Beberapa menit kemudian dia berhenti menari dengan tiba-tiba sambil menatap Arya dengan wajah terkejut. Sebelum ia sempat untuk kabur, Arya sudah membuat dinding salju disekeliling tanah lapang tersebut agar anak perempuan itu tidak bisa lari.


Dengan raut wajah ketakutan anak itu segera meringkuk sambil membuka payung miliknya, Arya mendekat lalu berbicara dengan lembut.


"Hey tidak apa, aku hanya ingin berbicara"


"Pergi sana orang asing! Jangan ganggu aku! Aku tidak punya apapun untuk dicuri!" teriaknya kencang.


"Aku bukan seorang pencuri, aku hanya ingin tau apa yang sedang kau lakukan disini malam-malam begini? Apa kau tersesat? Butuh bantuan?"


"Eh?!" gadis itu berhenti berontak lalu mengintip Arya dari balik payungnya dengan tatapan curiga.


Arya membalas tatapan itu sambil tersenyum hangat, melihat hal itu gadis tersebut kembali bersembunyi dibalik payungnya sambil mendesis.


"Aura bagaimana ini? Apa kita bisa percaya padanya? Apa maksudmu dengan meminta pendapatku?! Kalau dari yang aku lihat sih....dia sepertinya orang baik"


Arya hanya bisa mengangkat sebelah alisnya mendengar gadis itu berbicara sendiri, namun tiba-tiba muncul suara yang sangat aneh sampai membuat Arya tidak bisa menahan tawanya lagi. Gadis itu segera menutup kembali payungnya sambil cemberut dengan wajah memerah karena malu.


"Apa kau lapar?" tanya Arya sambil mengeluarkan sisa makan malam miliknya.


Mata gadis itu langsung berbinar dengan air liur yang juga mulai menetes, dia memakan ikan bakar itu dengan lahap. Selagi dia makan, mereka berduapun mulai berbincang-bincang, dari perbincangan itu Arya mengetahui kalau nama gadis itu adalah M.


"Jadi M? Apa yang kau lakukan di tempat ini?"


"Hehehe soal itu, sebenarnya aku sedang mencari sesuatu" jawab M antusias, sikapnya langsung berubah 180 derajat setelah diberi makanan. Seperti tipikal anak kecil pada umumnya.


"Mencari sesuatu? Sendiri?" tanya Arya bingung.


"Hemm? Aku tidak sendri, aku bersama Aura" sahutnya sambil menggeleng.


"Aura?" ulang Arya.


"Benar, Aura!" kata M sambil menyodorkan payung miliknya.


Arya menatap wajah berseri-seri gadis itu dan payung tersebut bergantian. Lalu mengangguk-angguk pelan.


"Sepetinya aku mengerti"


"Mmm kau terlihat tidak percaya" M mengembungkan pipinya kesal.


"Aku percaya kok! Dulu aku juga memiliki teman khayalan"


"Aura bukan teman khayalanku! Mmm apa? Kau ingin menyapanya? Kau yakin? Mmm baiklah! Hey kak? Aura bilang ingin menyapa kakak" seru M dengan payung yang sudah ditodongkan ke arah Arya.


Arya terlihat ragu, lalu berusaha menolak dengan lembut agar tidak menyakiti hati gadis polos itu.


"Aku pikir tidak per—"


Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, M sudah mengetuk payung itu ke kening Arya. Pikirannya seperti terlempar ke sebuah dimensi yang berbeda, sensasinya sama seperti saat dia membuat kontrak dengan Mandalika.


Seorang gadis dengan rambut jingga panjang berdiri disana sambil tersenyum padanya. Dia menyentuh kedua pipi Arya lalu berbisik.



"Aku tidak menyangka akhirnya bisa bertemu denganmu, ini benar-benar dirimu bukan?"


"Maksudnya?" balas Arya kebingungan.


"Hmm, kelak kau akan mengerti. Aku Aurantiaco akan menjadi yang pertama untukmu" jawabnya sambil menempelkan dahinya ke dahi Arya.


Langsung saja pikiran Arya seperti kembali ke dalam tubuhnya. Namun ia merasa sangat lemah, kemudian diapun terbaring di tanah bersalju itu.

__ADS_1


"Eh?! Apa yang kau lakukan padanya Aura?! Menyapa katamu?! Kenapa dia bisa lemas begitu?!" terdengar seruan panik dari M.


Itu adalah kata-kata terakhir yang terdengar oleh Arya sebelum kesadarannya mulai menghilang dengan perlahan tapi pasti.


__ADS_2