Elementalist

Elementalist
Chapter 169 - Lima Menit Pembukaan


__ADS_3

Kilatan berwarna kuning melesat mengitari angkasa, Olivia beberapa kali berhenti sambil meneropong berbagai arah menggunakan tangan. Ekspresinya semakin buruk tambah cemas, menyesal teledor ketika sedang bertugas.


Dia akhirnya memutuskan tuk melakukan satu lagi putaran sebelum kembali, namun tetap saja pulang dengan tangan kosong. Sesampainya di Divina Academy Olivia bergegas menuju ruangan tempat dirinya meninggalkan Morgiana.


Berharap ada kabar baik dari Witch Class Warlock tersebut, cepat – cepat ia mengetuk pintu dan masuk. Wajah cantiknya langsung kehilangan warna sewaktu menyadari kalau telah muncul sesosok individu lain di sana.


“Morgiana apa kau—HIYY!??”


“Hmm....lihat siapa ini....kau tau konsekuensinya bukan?” Merlin tersenyum sinis sembari menggemertakan buku – buku jarinya.


“S...se...senior!? A...ak...aku bisa jelaskan—“


“Maaf, tapi aku tidak butuh penjelasanmu.....”


“KYAA....!!?”


CTAK! CTAK! CTAK!


“Huu....” isak Olivia memperhatikan telapak tangannya yang memerah menyakitkan.


“Tidakkah kau terlalu berlebihan?” Morgiana bertanya lalu meletakkan segelas minuman hangat untuknya.


Merlin diam saja tanpa berkomentar sibuk memilih gaun bagus dari lemari, selesai mengenakan baju dia duduk kemudian melemparkan asal pakaian sebelumnya. Morgiana sigap menangkap benda itu penasaran.


“Jubah lusuh?”


“Mmm? Ah....orang yang menemukanku memberikannya” balas Merlin cuek.


“Ugh.....dasar kampungan, kau pasti menderita harus memakai selera rendahan begini. Biar kubuangkan” Morgiana mengeluarkan lidahnya jijik.


“Ngomong – ngomong senior? Siapakah orang tersebut?” celetuk Olivia akhirnya berani bicara.


“Hah? Ahh....bukan suatu hal penting, bagaimana jalan acara di Lembayung Hall?”


Ketiganya berbincang panjang lebar, dan baru berhenti ketika jam menunjukan tepat tengah malam. Olivia serta Morgiana meminta izin undur diri terlebih dahulu. Merlin duduk sendirian mengamati langit malam dari balik jendela dengan tangan memegang sebuah buku yang dijadikannya sebagai alasan untuk tinggal lebih lama.


Beberapa menit kemudian gadis itu berdecak kesal, ia menjulurkan tangan lalu merapalkan mantra pemanggilan. Jubah jelek hasil buangan Morgiana menghampirinya, Merlin memeluk lututnya sendiri sambil membenamkan wajah ke kain hitam tersebut.


“Dari pada memenggal kepalanya....apa lebih baik kujadikan saja dia koki pribadi ya....?”


------><------


Orang – orang sudah mulai berkumpul di satu titik wilayah kota Magihavoc, sebuah arena menakjubkan berdiri megah khusus menyambut ajang bergengsi ini. Semua mata dan perhatian tertuju ke sana.


Monitor sihir teresebar menyeluruh demi menyorot Five Heavenly Stars Tournament, sewaktu kelima Penyihir Agung menampakan diri. Suara tepuk tangan juga siulan memenuhi udara, bukti betapa antusiasnya masyarakat akan tontonan menarik tersebut.


Para pembawa acara pun penuh semangat, dua pasang pemuda pemudi menempati salah satu menara. Mereka adalah Gexar, Aldor, Iserish, dan Aqora. Empat murid Divina Academy yang menjadi komentator saat seleksi perwakilan sekolah.


Begitu penyampaian kata – kata sambutan oleh masing – masing Kepala Sekolah usai, waktunya tim – tim peserta menampakan diri. Satu per satu mulai keluar sesudah nama kelompoknya dipanggil, sempat ada kehebohan besar ketika Candidate of Destiny masuk arena.


Jubah emas indah menyelimuti tubuh sepuluh Witch muda berbakat itu, Friska bersama Edruvior memimpin anggotanya. Tim A diketuai oleh sang Black Mara sementara yang B dibawah komando si Warlock bermarga Le Rogue.


Marylin Merlin tersenyum puas dari atas podium menonton, komposisi ini tidak mungkin mengecawakan menurutnya. Lalu berikutnya tiba giliran dua perwakilan Divina Academy lainnya tuk muncul.

__ADS_1


“Hmm....Hanna? Kau yakin kita harus memakai pakaian—“


“Iya, keluarga Vonsekal merupakan sponsor utamanya. Sesuai nama bukan? Inilah alasan mengapa temanya seperti pasukan Squadron. Jangan banyak mengeluh! Bantu saja aku oke?”


“Kenapa juga kita mendapat urutan paling belakang sih?” Arya menghela napas lelah.


“Seperti kata pepatah, pahlawan selalu datang terakhir hohoho” kata Ryan tergelak.


“Berhenti tertawa layaknya pahlawan bertopeng, hah....dan buat apa pula kau membawa bendera?!”


“Sekolah meminta kita membawa satu jadi—“


“Ayo!!! Sudah waktunya!!!”


“WAA!!!”


“The Figment Squadron!!!”


Laura menarik tangan Arya sambil tersenyum, dia terpaksa menyipitkan mata akibat sinar matahari. Lorong tadi membuat pengelihatanya tak terbiasa akan tempat terang. Waktu Arya berdiri di tengah terus melemparkan pandangan barulah saat itu juga gemuruh sambutan meledak. Di sisi lain Ryan mengibarkan bendera penuh semangat.



“TUAN ARYA....!!!” Iserish berteriak histeris berbekal suara yang telah dibesarkan dengan sihir.


“A....hahaha....halo semua....senang melihat kalian baik – baik saja” ujar Arya tertawa canggung.


------><------


“Apa semua akan berjalan lancar ya?” gumam Laura khawatir.


“Tenanglah” Arya menyarankan santai.


“Huum, kupikir Ryan pasti dapat mengatasinya” tambah Kyra percaya diri mengingat latihan yang telah keduanya bersama lewati.


“Lawannya....hei Arya? Lihat” Sierra menunjuk seberang arena.


“Hmm? Ahh...wajah familiar ternyata”


Perwakilan Holy Fist datang dengan langkah gagah, orang paling depan dalam barisan adalah Warlock waktu itu. Anak laki – laki berbadan kekar lawan Sierra sebelumnya, mata mereka bertemu. Senyum lebar Arya menyebabkan tubuhnya bergidik pelan.


Wasit memanggil masing – masing ketua, Ryan juga pemuda barusan segera menghadap. Setelah mendengar peraturan yang ada dan menyanggupinya, sang pengadil langsung menjauh.


“Aku sudah sangat senang mendengar kabar melawan Divina Academy, inilah waktunya membalas dendam pikirku. Namun malah harus berhadapan dengan ikan teri macam kalian”


“HAHAHAHA....lisanmu boleh juga untuk orang yang tangannya diremukkan oleh seorang Necromancer?” Ryan terkikik geli.


“Jaga mulutmu dasar sampah”


“Hihihi hal sama berlaku untukmu”


Ryan berbalik badan sebelum melambaikan tangan, ketika sudah berkumpul kembali bersama anggota tim B wajahnya berubah.


“Kita akan serius sejak awal, mari singkirkan pembual di sana dalam waktu lima menit”

__ADS_1


“BAIK!”


Tepat begitu aba – aba dimulai terlihat, Necromancer Holy Fist mengeluarkan belasan undead untuk menyerbu. Figment Squadron merapatkan barisan, Arya di podium penonton memperlihatkan senyum senang di wajahnya.


“Ikey?” panggil Ryan”


“Aye aye kapten, Anosep!”


“Sekarang Hanna, waktunya dirimu bersinar”


“Berisik, jangan meremehkan aku”


Cahaya ungu sihir Enchanted Aurora si Shaman menyelubungi tubuh kelima anggota tim, Hanna menjentikan jari dan menciptakan dinding api setinggi sepuluh meter. Membumi hanguskan seluruh makhluk panggilan musuh.


“Serangan balik! Maju Shaqihr”


Dalam sekejap anak laki – laki tersebut menerjang ke arah barisan musuh, Warlock sombong berbadan kekar sebelumnya bergerak menghadang.


“Tidak semudah itu!!!”


“Hehehe....kena kau. Tacel!”


Shaqihr mengaktifkan sihir tepat waktu, memanfaatkan kecerobohan lawan yang maju. Ia berhasil menghajar Necromancer dan Exorcist perwakilan Holy Fist. Tetapi Witch Universal telah siap menyerang menggunakan tongkat sihirnya.


“Paynell!!!”


“Fi?”


DUAR!!!


“APA!?”


Salah satu topeng iblis kepunyaan Fibetha menyusul Shaqihr kemudian melahap seluruh serangan sihir barusan. Tepuk tangan meriah mulai terdengar kembali.


“Keparat!? Jadi tujuanmu dari awal memang menyingkirkan Exorcist kami!?”


“Ah ah....salah. Sebaiknya kalian mengengok ke arah sana” saran Shaqihr menunjuk ke balik punggungnya.


Mata semua anggota melebar, ketua kelompok Holy Fist cepat – cepat memerintahkan sisa anggota kelompoknya membuat pelindung. Sebuah bola api besar melayang rendah dekat tongkat sihir Ryan, siap dilepaskan kapan saja.


“Mundurlah”


“Dimengerti” Shaqihr langsung menurut.


“Irahatam Latoth!”



“UWAAA....!!!”


“Sayonara.....” bisik Ryan dingin.


JDUARRR!!!

__ADS_1


__ADS_2