
Terlihat seorang pria berlari tergopoh – gopoh masuk ke dalam sebuah ruangan, didalamnya ada seorang pria dan gadis elf yang sedang membaca tumpukan dokumen pada meja. Mereka berdua menoleh penasaran.
“Ada apa Ursa? Kau terlihat kurang sehat” tanya Astral khawatir.
“Gio....lihat ini!” Berlin menyerahkan sebuah kertas.
Alalea yang berdiri disampingnya ikut membaca isi dari surat misterius tersebut. Ketika mata keduanya sampai diakhir kata, ekspresi serius menghiasi wajah mereka.
“Ini pesan S.O.S” Astral menghela napas.
“Belum tentu, ini bisa jadi jebakan. Dari mana datangnya surat ini?” Alalea menanggapi sambil menoleh ke arah Berlin.
“Itulah masalahnya, kertas ini berasal dari arah Dark Side” jawab Berlin pelan mulai menggaruk – garuk kepala bingung.
“Apa?! Aku tarik kembali kata – kataku barusan, ini memang jebakan. Pantas saja aku mencium bau tidak sedap darinya” seru Alalea memalingkan wajah jijik.
“Belum tentu Nona, kertas ini hanya dimiliki oleh orang – orang yang mempunyai hubungan khusus dengan Pax. Kami menyebutnya Sender Origami Swan”
Kertas unik tersebut akan berubah bentuk menjadi angsa kertas ketika pesan telah dituliskan, dia akan terus terbang sampai tiba ditujuan apapun resikonya. Merupakan salah satu alat komunikasi terbaik milik Pax.
“Walaupun misalnya benar, tidak mungkin kita pergi menyerbu Dark Side demi satu orang saja bukan?”
“Saya tau siapa pemilik kertas ini, tapi....percaya atau tidak. Bukan orang itu yang menulis isinya”
“Jadi bagaimana? Ingin mengirim tim untuk mengintai serta mengambil tindakan untuknya?” tanya Alalea masih kurang setuju dengan rencana penyelamatan tersebut.
“Akan sulit bergerak secara berkelompok di Dark Side, saya pikir itu bukan ide bagus....”
“Mau menjadikannya misi solo saja? Tapi siapa yang cukup hebat dapat menyusup, mengumpulkan informasi, dan menyelamatkan si pengirim kalau suratnya memang benar. Aku ragu ada orang seperti....”
Astral dan Berlin menatap Putri Elf itu penuh arti, Alalea diam sebentar berusaha menebak – nebak isi pikiran keduanya.
“Jangan bilang kalau kalian ingin meminta....”
------><------
Saat Arya sedang berada ditengah – tengah hari liburnya, dia mendapat panggilan pribadi dari Pengawas Astral. Waktu masuk ke ruangan ternyata Alalea juga sudah ada disana, dari wajah mereka Arya bisa tau ada sesuatu yang serius perlu dibicarakan.
“Kalian tentu tau aku sedang menikmati hari liburku bukan? Hadeh....”
Astral mulai menjelaskan situasinya pada Arya, ia mendengarkan baik – baik sambil mengangguk. Perlahan kepalanya mulai menangkap garis besar masalah ini.
“Boleh aku lihat suratnya?” Arya menyodorkan tangan.
Arya mengambil kertas tersebut kemudian membolak balik lembaran itu cepat sebelum membaca isi pesannya.
__ADS_1
Siapapun penuntut keadilan diluar sana, tolong. Selamatkan Dewi Cinta Cacat dari kedalaman kurungan penjara milik Sang Penguasa Malam, bantuanmu akan selalu diingatnya dan menjadi hutang budi seumur hidup.
Langkahmu pun berubah ringan, jam pasir mulai berputar. Bulan dibagi empat bagian agar Sang Dewi tetap mampu bersinar.
Ttd
CT
“Surat ini....punya makna terselubung” gumam Arya pelan sebelum mengambil pena diatas meja.
Dia mulai menggaris bawahi kata – kata dalam surat yang menurutnya memiliki pesan tersembunyi, Astral dan Alalea menunggu dengan sabar. Mereka juga tidak pernah mengerti isi kertas itu sejak pertama kali membacanya. Kecuali sebagai pesan permintaan bantuan darurat.
“Yang dimaksud penuntut keadilan adalah Pax, Dewi Cinta Cacat menggambarkan orang yang harus diselamatkan. Penguasa Malam merupakan antagonis utama, aku tidak terlalu mengerti dengan dua hal ini”
“Menurutmu apa arti lanjutannya?” Alalea bertanya penasaran.
“Orang ini bisa membantu dan mempermudah kita jika ditolong, batas waktunya adalah satu minggu pertama bulan depan. Kalau gagal, dia akan mati. Sedangkan CT(City) disini mungkin....berarti kota atau memang penulisnya bernama CT(Siti)? Entahlah” ujar Arya ragu.
“Kesimpulan bodoh macam apa itu?” celetuk Alalea sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Ohh....iya? Apa kau punya kesimpulan yang lebih baik Nona sok pintar?” Arya membalas kesal.
“Tuan Arya, apa anda bisa mengambil tugas ini?” Astral angkat bicara.
“Serahkan padaku, walau sulit tetap akan kucoba”
“Tunggu dulu! Arya apa kau benar – benar akan melakukan ini? Kenapa tidak menyerahkannya pada Varuq?“
“Pengawas Varuq lebih dibutuhkan disini, keamanan Elemental City ditopang oleh Sepuluh Pengawas Ujian. Tenanglah, jika menyusup memang lebih baik untuk pergi seorang diri. Aku akan baik – baik saja. Jangan beritahukan kepada yang lain soal ini, mereka nanti khawatir. Dah....” Bocah itu langsung menghilang tanpa memberikan kesempatan si Putri Elf bicara.
“Aku bukannya khawatir kau tidak bisa menjaga keselamatanmu, yang aku takutkan jika kau sampai pergi seorang diri. Firasatku mengatakan kau tidak akan pulang sendirian, hei Pengawas? Pemilik kertas ini laki – laki bukan? Bisakah kau bersumpah akan hal itu?” tanya Alalea dengan pipi mengembung kesal.
“Ahaha....e....seharusnya sih....” Astral menjawab sepelan mungkin.
------><------
Arya menuju Divisi Sihir keesokan harinya, Mr.Gerrow menyambut begitu antusias kedatangan Arya sampai – sampai terus menjabat tangannya dalam jangka waktu lama. Pria paruh baya itu menceritakan betapa kagumnya ia terhadap peforma Arya untuk beberapa kejadian akhir – akhir ini.
Secara mengejutkan, ternyata Ryan juga sedang ada disana. Walaupun sebenarnya sering saling melempar ejekan, Arya harus akui dia memang merasa sedikit merindukan sahabatnya itu. Entah kapan kali terakhir bertemu dan berbincang – bincang.
Ryan akhirnya meminta izin kepada Ayahnya agar dirinya saja yang menunjukan alat – alat sihir untuk membantu Arya, melihat Arya tidak keberatan. Mr.Gerrow pun setuju.
“Bagaimana kabarmu Uban – san?” Ryan menyengir jahil sambil melangkahkan kaki bersebelahan dengan Arya.
“Panggil aku begitu lagi, maka akan kusuruh Safira menggigit kepala kosongmu itu?”
__ADS_1
“Oke oke aku mengerti, kau ini....sekarang sudah berani menindasku mentang – mentang memiliki kekuatan ya”
“Salah satu alasanku mengikuti Ujian Elementalist memang untuk itu” jawah Arya memasang wajah datar.
“Brengsek”
Ryan mulai mengambil barang – barang yang sudah disiapkan untuk Arya, ia juga menjelaskan fungsi serta cara pemakaiannya. Pada akhirnya Arya cuma mengambil satu alat saja, karena hanya benda tersebut yang menurutnya bisa berfungsi baik.
“Hey? Akhir – akhir ini kudengar kau semakin populer” gurau Ryan menyikut pelan tulang rusuk Arya.
“Maksudnya?”
“Ohh....ayolah! Tidak ada satupun dari kami disini tak tau mengenai pertunanganmu dengan Putri Alalea”
“Kenapa masalah pribadiku jadi tersebar luas begitu? Lagi pula aku belum menyetujuinya” Arya menyahut enteng.
“Sobat, kau sudah gila! Dia adalah seorang Putri Elf!? Elf!? Ras pemilik paras terbaik di seluruh dunia!”
“Lalu?”
“Hah....benar juga, aku lupa. Sekarang aku sedikit kasihan dengan mereka semua” Ryan menghela napas.
“Siapa?”
“Gadis – gadis yang pernah menyukaimu”
“Memang ada?”
“Jangan bilang kau lupa waktu kita SMP”
“SMP?” ulang Arya bingung.
Pandangan Ryan berubah kesal, bisa terlihat jelas saraf didahinya berdenyut – denyut menahan amarah.
“Kau benar – benar bajingan, beraninya kau melupakan hari dimana dirimu mendapat semua cokelat Valentine satu sekolah!? Kau pikir berapa harapan laki – laki dan perempuan yang hancur karenamu pada hari itu hah!!?”
------><------
Astral dan Alalea mengantar Arya pada hari keberangkatan, dia melambai kepada mereka berdua sebelum segera turun dari Elemental City. Alat teleportasi memang tidak dapat mengakses Dark Side, sama halnya dengan waktu Arya dan Rena pergi ke Fairy Forest dulu.
Mereka hanya dikirim dekat perbatasan saja, kali ini karena tidak pernah mendapat koordinat Dark Side. Arya terpaksa harus pergi kesana secara manual, tapi ketika pulang. Orang – orang di Elemental City bisa melakukan teleportasi untuk mengirimnya kembali.
“Baiklah, waktunya menuju Dark Side. Wilayah kekuasaan para Demon, aku datang”
Author Note :
Misi Solo Bunuh Diri Arya di Dark Side Telah Dimulai!!! Seven Deadly Sins siap Menanti!
__ADS_1