
SYUU!!!
“Woaaaa....!?”
Teriakan para Elementalist terdengar akibat perubahan tiba – tiba di sekitar mereka, semuanya memperhatikan sekeliling bingung mengapa bisa muncul pada lokasi tersebut. Tak jauh dari tempat delapan remaja itu nampak sosok berambut putih tengah bertekuk lutut sekaligus memandangi tangannya.
“Ckkk....waktuku kian menipis....”
“Bagaimana caranya kita bisa sampai kemari? Bukankah ini sisi luar dinding Perak?” celetuk Timothy heran.
“Sepertinya kita baru dipindahkan secara paksa”
“Maksudmu teleportasi tanpa menggunakan alat?”
“Maaf mengganggu diskusi menyenangkan kalian anak – anak, tiba saatnya untuk kabur”
Ten akhirnya bicara dan menarik perhatian mereka semua, ia menjelaskan sengaja membawa kelompok tersebut ke sana karena letaknya berbanding terbalik dengan persiapan orang – orang yang berada di Pusat Penelitian. Sehingga dapat meminimalisir kemungkinan kerja sama antara musuh untuk menggagalkan evakuasi keduanya secara bersamaan.
“Mendekatlah cepat, ada beberapa lawan kuat sedang mencari kita juga percayalah itu pasti tidak membutuhkan waktu terlalu lama”
“Hei pak tua? Aku tau kau sangat kuat, jika kau memang berniat membantu kami. Mengapa kau tidak habisi saja mereka?” Zayn menatapnya tajam.
Pertanyaan barusan segera membuat suasana menjadi canggung, Elementalist – Elementalist lain yang awalnya bersikap biasa saja mulai mewaspadai pria itu. Ten menghela napas sebelum menggaruk – garuk kepalanya lelah.
“Kau benar, mungkin aku memang mampu melakukannya”
“Lalu?”
“Sayangnya ada beberapa hal yang harus kalian ketahui dahulu....” ujar Ten menunjukkan kedua jarinya.
Pertama adalah eksistensi Ten sebenarnya sudah tidak ada di dunia, dia merupakan sisa energi kehidupan seseorang dari masa lalu yang meminjam sebuah wadah berupa tubuh. Dengan kata lain kalau sampai Ten mengambil tindakan sesuai ucapan Zayn maka akan ada konsekuensinya.
“Itu akan mempengaruhi pengalaman kalian untuk berkembang sebagai Elementalist di masa sekarang, serta bakal mengacaukan garis takdir....”
“Apa maksudmu?” Asuna bertanya serius.
“Dunia ini sedang bergerak menuju kehancuran, terdapat begitu banyak jalan menuju ke sana sampai tak terhitung jumlahnya dan hanya satu saja cara tuk menghindarinya. Aku takut menutup peluang tipis tersebut”
“Kami....tidak mengerti apa yang kau bicarakan”
“Memang seharusnya demikian....jangan terlalu dipikirkan. Intinya berbahaya, kalian cukup mengetahui itu” komentar Ten melambaikan tangannya santai.
Alasan berikutnya sekaligus terakhir terkait kompatibilitas, Ten menunjuk badannya sendiri seraya memperhatikan satu per satu wajah mereka. Tubuh atau wadah yang dia gunakan sekarang mempunyai batasan kemampuan mendasar, sehingga kalau dipaksakan mengeluarkan seluruh kemampuan asli Ten berpeluang menghasilkan cedera fatal.
“Untuk melakukan sesuai dengan ucapanmu tadi, aku memerlukan kekuatan di luar batas kesanggupan kawan kalian menanggungnya. Kalau boleh jujur aku cukup terkesan ia masih mampu bertahan, tetapi kalau lebih dari ini badannya akan meletup layaknya balon. Puff....!”
Ekspresi semuanya langsung berubah pucat, detik berikutnya Ten tersenyum puas ketika delapan pemuda – pemudi itu menodongkan senjata mereka ke lehernya. Tatapan masing – masing sangat mengintimidasi serta mengerikan.
__ADS_1
“Keluar....sekarang” Asuna mendesis penuh ancaman.
“Baiklah – baiklah aku mengerti, apa begini cara kalian mengucapkan terima kasih setelah semua bantuanku? Lagi pula memang waktuku telah hampir habis....namun sebelum itu”
ZINGG....!
Ten menghilang dari kuncian mereka semudah membalikan telapak tangan, ia meloloskan diri kemudian membentuk sebuah lingkaran pelindung memanfaatkan sisa tenaganya. Ten akhirnya membersihkan tangan sebelum menoleh.
“Setidaknya cuma ini hal terakhir yang bisa kulakukan tuk menolong, kalian berdua sebaiknya kemari. Karena sebentar lagi dia akan kembali terus merasakan rasa sakit teramat sangat usai meminjamkan raganya selama sepuluh menit....” kata Ten memanggil Rena dan Selena lalu perlahan diselimuti bulir – bulir cahaya putih.
><
‘Selamat tinggal sang Karma, jika berjodoh....kita pasti bertemu lagi hehehe’
“HAH!.....akh.....”
Usai mendengar ucapan perpisahan tersebut dalam sekejap Arya merasa dihempaskan ke realita, belum sempat bernapas normal perasaan paling menyiksa selama hidupnya terjadi. Dia jatuh meringkuk dengan seluruh urat saraf menegang.
Paru – parunya serasa diremas, sementara otot maupun tulangnya menjerit protes. Saking sakitnya Arya hanya bisa membuka mulutnya lebar – lebar tanpa mampu mengeluarkan suara selain bunyi tercekik layaknya hewan tengah di sembelih.
“Hei!? Bantu kami memegangginya!?” terdengar samar – samar teriakan yang nantinya diketahui sebagai Selena ketika menyaksikan badan Arya bergetar hebat.
Berkat kombinasi teknik penyembuhan Elementalist Alam dan Air perlahan kondisinya membaik, Arya akhirnya mampu bernapas lega disusul teman – temannya. Namun bocah itu segera bangkit tanpa memperdulikan kondisi kacau dirinya.
“Arya?”
“Kau yakin tidak mau istirahat sebentar lagi?” Rena memeganginya cemas.
“Iya....duduklah membentuk lingkaran. Kalian harus beradaptasi dengan iklim gerbang dimensi”
Arya lalu berjalan sambil mengeluarkan Mandalika sebelum memukulkan tangannya ke belakang sekaligus mengoyak udara kosong berbekal pedangnya. Tidak berselang lama bekas sayatan tersebut membuka seperti luka menunjukkan sebuah ruang hitam yang memberikan kesan keputusasaan.
Bukan hanya mereka saja dapat merasakan pengaruh terbukanya gerbang dimensi, semua orang di seluruh penjuru dunia merasakan kehampaan lubang kecil itu. Namun para individu sekitar Elemental Citylah paling terkena dampaknya.
“Cepat....tindakan barusan bagaikan pisau bermata dua, kita mempercepat proses keberangkatan sekaligus memberitahu koordinat lokasi pada musuh”
“Apa kita akan meninggalkan Ali?” bisik Lexa pelan.
“Ali tak seperti Reiko, dia bukanlah Perfect Artificial Elementalist. Mustahil baginya membuka gerbang dimensi....”
“Bagaimana dengan kami? Kenapa kau bisa yakin kami bisa melakukannya?!” Kevin berseru.
“Karena kalian adalah teman – temanku....”
“Kita sungguh pergi meninggalkan semuanya?”
__ADS_1
“Kalian sudah mengetahui rencananya bukan? Dua tahun lagi, kita bakal bertemu kembali untuk merebut apa yang telah diambil oleh Fatum dan menghancurkan mereka. Keputusan mundur mungkin terlihat seperti sikap pengecut, tapi juga bijak karena kau bisa kembali dengan lebih kuat demi tujuan lebih besar....” gumam Arya duduk menghadap ke arah Louis bersama rekan – rekannya tengah begerak menuju lokasi mereka.
Ketiga atributnya perlahan berubah menjadi tiga cahaya kecil yang menghiasi telapak tangannya, dia kemudian mengangkatnya tinggi – tinggi dan masing – masing segera melesat berpencar entah kemana mengikuti instruksi sang Tuan.
“Aku percayakan mereka kepada kalian. Kinichi?”
“Tuan Arya?! Anda sudah kembali?! Aku baru saja ingin menghubung—“
“Di sini persiapan hampir selesai, bagaimana denganmu?”
“Kami....juga”
“Bagus. Louis, Xavier, Reiko, Garyu, Kris, dan Regulus ada pada kami. Jadi kemungkinan Merlin bersama koleganya akan mengincar kalian....”
“D...di...dimengerti”
“Katakan kepada Pengawas Varuq, Ryan, serta Eridan bahwa rencananya segera dimulai....”
“Siap laksanakan!”
“Oh iya Kinichi aku lupa....”
“Hmm?”
“Terakhir.....tolong sampaikan maafku kepada semuanya”
“Jangan bodoh, anda tidak perlu meminta maaf. Tapi jika anda masih memaksa, ucapkan sendiri”
“Cih, dasar kucing kurang ajar. Dia langsung memutus saluran komunikasinya....sekarang tugas tersisa hanya mempertahankan pelindung ini sebisaku” Arya perlahan mulai menjulurkan lengan sambil tersenyum penuh konsentrasi.
Ada enam bayangan kecil ia dapati melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya, sangat kentara tujuan mereka datang bukan cuma untuk bertegur sapa. Masing – masing bergerak sigap menarik senjata lalu melepaskan serangan pamungkas tanpa membuang – buang waktu.
Author Note :
CH-9
Reader : Thor kemana aja? Koq ngilang seminggu!?
Author : Gejala Coved temen2 wkwkwk maaf2 ni
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1