Elementalist

Elementalist
Chapter 59 - Pendapat


__ADS_3


"Ayah! Ayah! Bangun!"


Arya merasakan sesuatu menekan-nekan dadanya dengan lembut. Diapun membuka sedikit matanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Mmm?"


Efbi dengan wujud serigala kecil sedang memijat tubuh Arya dengan penuh semangat, diapun bangkit dari posisi berbaring sambil menggaruk kepala.


"Ada perlu hoam....apa?" tanya Arya menguap lebar masih setengah tertidur.


"Ayah bilang akan mengajakku untuk melihat-lihat kota hari ini, kapan kita akan pergi? Ayo!" Efbi menggoyang-goyangkan ekor antusias.


"Pukul berapa ini?"


"Enam pagi"


Arya mengusap mata pelan lalu menepuk kedua pipinya keras. Ia turun dari tempat tidur dan segera mengambil handuk.


"Baiklah, tapi sebelum itu kita harus mandi" Arya mengangkat bagian belakang leher Efbi seperti induk kucing yang mengangkat anaknya.


Setelah semua persiapan selesai, Arya keluar kamar sambil bersenandung pelan. Dia membawa Efbi beserta Mandalika bersamanya.


"Sebelum pergi, sebaiknya kita melapor terlebih dahulu. Aku belum tau kondisi yang lain seperti apa" batin Arya penasaran.


Arya dan Lexa memang tiba di Elemental City cukup larut, sehingga para penjaga portal menyarankan keduanya beristirahat terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan dirinya belum mengetahui kondisi terkini Ujian Elementalist Ketiga.


Padahal seharusnya minimal mereka berdua tau berada diposisi berapa kelompok mereka, Arya mendekati salah satu papan pengumuman dan membaca informasi yang tertera disana dengan seksama.


"Tidak buruk" gumamnya pelan.


Ternyata Arya dan Lexa berada diposisi pertengahan, alias urutan ketiga. Hanya kalah cepat dengan Timothy dan Asuna yang menempati posisi pertama, serta kelompok Zayn bersama Rena diurutan kedua.


Urutan empat dan lima tiba tidak berselang lama dengan kedatangan mereka, cuma berselisih hitungan satu dua jam saja.


"Apa Kevin, Selena, Ali, dan Elizabeth sudah melihat ini ya?"


Karena Kantin masih belum menyediakan sarapan, Arya memutuskan berkeliling sambil mengenalkan lingkungan baru untuk Efbi. Saat sedang asyik menjelaskan, suara gaduh menarik perhatiannya.


Pintu ruang latihan terbuka lebar, dengan penasaran akhirnya diapun mengintip ke dalam sana. Ternyata hampir setengah dari Elementalist sudah berada di tempat itu. Mereka berlarian kesana kemari mengejar binatang-binatang yang asing bagi Arya.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?" Arya melangkah masuk sambil memasang ekspresi tidak percaya.


"Halo Arya, selamat datang"


"Oh? Hai Rena"


Dia menyapa balik Rena yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk, gadis berambut hijau itu mendekap seekor rusa kecil dipelukannya. Arya bisa melihat beberapa lembar daun tumbuh disekitar leher binatang bertanduk tersebut.


"Aku dengar kau tiba tadi malam, bagaimana kabarmu?" Rena tersenyum hangat padanya.


"Baik, kau sendiri?"


"Begitulah. Hehehe"


"Kelihatannya yang lain sedikit sibuk" celetuk Arya pelan.


Rena lalu menjelaskan pada Arya kalau sepertinya para Elemental Beast yang lain menjadi sedikit bersemangat ketika melihat ruangan luas sehingga mulai berlarian. Karena suasana mulai tidak terkendali, tuan-tuan mereka berusaha menghentikan lalu inilah hasilnya.


"Tapi Elemental Beast milikmu sepertinya cukup tenang"


"Ah....dia? Namanya Deera, awalnya juga ikut berlarian sih. Tapi saat aku memintanya berhenti dia menurut hahaha" Rena tertawa canggung.


"Halo Deera" Arya mengelus jidat Deera dengan jari telunjuknya.


Si rusa menggerakan kedua telinganya senang ketika Arya melakukan hal tersebut.


"Mana Elemental Beast milikmu Arya?" tanya Rena melihat sekeliling.


"Eee....dia disini, Efbi?" panggil Arya.


Efbi meloncat dari lantai kemudian hinggap dipundak Arya, ia menatap Rena dan Deera dalam-dalam sebelum menyeletuk pelan.


"Ibu?"


JDUKK!


Bagian belakang kepala Arya terbentur dinding ruang latihan dengan keras karena mendengar celetukan Efbi, dia meringis kesakitan sambil berusaha mengusap air matanya.


"Kau tidak apa-apa?!" Rena bergegas menolong.


"Dia bukan Ibu?"


"Tentu saja bukan!"


"Oah...., lalu perempuan mana yang aku harus panggil Ibu?" tanya Efbi polos


"Untuk sekarang kumohon jangan pernah panggil siapapun Ibu" rengek Arya dalam hati.


Setelah menanyakan kondisi Arya, Rena berkenalan dengan Efbi yang menggoyang-goyangkan ekornya penuh semangat. Tiba-tiba suara berkecepatan tinggi melesat diantara mereka.


WUSHH!


Arya bersiul pelan ketika melihat seekor gagak, kelinci, dan lumba-lumba melintas dihadapan mereka lalu disusul oleh tuan-tuannya.


"Delphin...?!!" panggil Selena lelah.


"Lumba-lumba itu terbang?!"


"Crowsha? Ugh....gagak ini—" Zayn menambah kecepatannya.


"Nimble?! Kema—Eh?! Kak Arya!? Kapan kakak datang?" Elizabeth merubah arah lajunya langsung menuju Arya.


Tanpa menunggu lebih lama gadis itu lompat lalu mendekap Arya sangat erat hingga ia kesulitan bernapas dibuatnya.


"Ekh...?! Aku baru saja tiba Elizabeth, bisakah kau melepaskanku?" pinta Arya berusaha sebisa mungkin agar tidak menyakiti perasaannya.


"Aku kangen sekali kak, apa kau tidak merindukan adik perempuanmu ini?"


"Eee....seingatku, aku hanya punya satu orang adik perempuan"


"Ohh...ayolah, tidakkah kau ingin memberikan adikmu ini kecupan selamat datang mmm....?" ucap Elizabeth sambil mendekatkan wajahnya.


"Ah....sepertinya aku menjatuhkan dompetku! Dimana ya?! Haruskah aku kembali ke kamar untuk mengambilnya?!" Arya membuang muka.


"Tidak akan kubiarkan kakak la—"


"Bukankah ada yang lebih penting? Kulihat kelinci milikmu berlari ke luar ruangan, kau harus cepat jika tidak ingin kehilangan jejaknya"


"Apa?! Hei! Tunggu!!!"


"Huh...., tadi itu hampir saja" Arya menghela nafas lega.


Setelah Elizabeth sudah tidak terlihat lagi, pada sisi lain ruangan Arya mendapati Kevin, Timothy, dan Ali yang sedang bergerumul dengan Elemental Beast mereka masing-masing.

__ADS_1


"Tenang tenang tenang, jangan arahkan ayunan ekormu itu padaku Simius!" Kevin memegangi seekor kera berekor jumbo.


"Aw aw aw duri! Duri! Berhenti menusuk tangan tuanmu landak sial! Ali!? Lepaskan Anguista dan segera tolong aku" omel Timothy geram.


Ali sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya sudah dililit ular berwarna cokelat terang. Setengah jam berlalu dan suasana akhirnya kembali tenang, tapi penampilan mereka semua sangat berantakan.


"Bisakah ini disebut awal yang baik untuk kita?" Arya menahan tawa melihat yang lain.


"Aku lapar...." rengek Timothy.


"Makhluk-makhluk ini benar-benar....." timpal Kevin.


"Oh iya, ngomong-ngomong sepertinya kita masih kurang satu or—"


Belum selesai Arya bicara, Efbi turun dari pundaknya dan menatap tajam ke arah pintu masuk. Seluruh bulu serta ekornya menegang. Geraman pelan terdengar dari tubuh serigala kecil itu, semua perhatian langsung tertuju padanya.


Saat pintu terbuka, seekor kucing kecil dengan ujung ekor yang dilapisi api masuk. Dia melangkah ringan sampai akhirnya melihat Efbi, respon sama diperlihatkan. Kucing tersebut balik menggeram tidak senang ke arah Efbi.


"Leona? Jangan pergi sendi—eh? Apa yang kalian semua lakukan disini?" Asuna datang menyusul kucing api kecil itu.


Ketika menyadari apa yang terjadi, Asuna langsung mengangkat Elemental Beast milliknya sambil menjauh.


"Kau tidak boleh bermain sembarangan Leona, terutama dengan anjing kampung seperti itu"


"Tunggu sebentar Nona, apa aku tidak salah dengar?" Arya tidak terima.


"Hah?"


"Mulai lagi" Kevin dan Timothy saling menatap satu sama lain.


"Kucing garongmu itulah yang lebih dulu mendekati Efbi" bantah Arya.


"Kucing garong? Matamu buta ya? Dia ini singa, jadi anjing kampung itu milikmu? Pantas terlihat dekil"


"Harusnya itu kata-kataku, apa kau terlalu bodoh sampai tidak bisa membedakan serigala dan anjing?"


Udara semakin terasa berat akibat perseteruan tidak penting ini, kata-kata hinaan mulai saling dilemparkan. Ketika kondisi semakin tidak terkendali, salah satu Elemental Beast lagi-lagi terlepas dari tuannya. Makhluk itu melesat diantara celah kaki Arya.


"Rake?! Kembali ke—WAA....Arya menghindar!"


Tapi semuanya terlambat, Lexa menabrak Arya sampai keduanya terjatuh. Posisi Lexa saat ini berada diatas Arya yang sudah terbaring di lantai.


"Lexa....kau ini" kata Arya lelah.


"Ahaha....maafkan aku"


"EHH?!"


Arya dan Lexa balik menatap teman-temannya heran, mereka semua terlihat sangat terkejut.


"Apa?" tanya keduanya serempak.


"S...se...sejak kapan Lexa memanggil namamu dengan benar Arya?" Selena memiringkan kepala.


"Hah?"


"Bukankah dia selalu menggunakan panggilan konyol kepada kita? Seperti Zee, Eli, Una, dan lain-lain?" tambah Kevin.


"Seingatku sampai sebelum ujian, dia masih memanggilmu Aru" Rena juga penasaran.


"Akhh!!! Aku tidak terima! Aku yang menjadi teman satu timnya pertama kali saja masih dipanggil Oty, Kapten kau ikut denganku"


"Hei?! Timothy tung—"


Arya diseret pergi oleh para Elementalist laki-laki, gadis-gadis masih menatap mereka dengan heran.


"Mmm? Apa maksudmu?" Asuna dan yang lain menoleh ke arahnya.


"Sebagai pertanda aku ikut dalam persaingan ini" Lexa tersenyum senang.


"Persaingan apa?" ulang Selena bingung.


"Huh! Terserah padamu, pada akhirnya akulah yang akan menang" Elizabeth menimpali dengan percaya diri.


"Mengenai apa ya?" jawab Rena lembut, tapi entah kenapa terkesan dingin.


"Aku....tidak perduli" tutup Asuna.


Ketiga gadis itu kemudian segera pergi meninggalkan Lexa dan juga Selena.


"Tidak perduli namun tetap memberikan respon, kau ini lucu sekali Una" Lexa tertawa pelan.


"Lexa? Sebenarnya persaingan apa? Aku benar-benar tidak mengerti"


"Ahh Sel? Syukurlah kau tidak mengerti, karena jika kau ikut. Hanya akan menambah saingan saja, dah...., aku mau ke kantin. Lapar"


Lexa melambai dan meninggalkan Selena yang masih terlihat bingung serta kesal karena merasa satu-satunya orang paling lambat diantara mereka berlima.


------<<>>------


Akibat banyak kejadian tidak terduga, Arya tidak jadi mengajak Efbi berkeliling kota kemarin. Dia saja baru bisa kembali ke kamar saat sudah larut malam, untuk membayar hal tersebut. Mereka berangkat pagi-pagi pada keesokan harinya.


"Efbi orang-orang bisa ketakutan jika melihat wujudmu yang seperti itu" Arya mengingatkan.


Mendengar itu, Efbi berubah menjadi sebuah gelang bermotif indah yang menghiasi pergelangan tangan tuannya. Arya membawa Efbi ke berbagai tempat menarik di Elemental City, sambil berusaha secara perlahan mengajarinya banyak hal.



Melihat antusias yang ditunjukan Efbi sangat besar, Arya hanya bisa menggeleng-gelleng. Jika dia sudah tidak melihat dunia selama seratus tahun mungkin akan menunjukan respon serupa.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Arya melangkah santai keluar dari salah satu toko.


"Huum! Sangat mengasyikan! Apa Ayah membeli salah satu persegi yang dapat dibuka dan berisi penuh informasi itu?"


"Ini namanya buku, berhenti memberikan panggilan panjang seperti tadi"


"Ahaha maaf" Efbi tertawa canggung.


"Aku hanya membeli beberapa bacaan ringan juga buku bergambar untukmu, aku harap bisa menambah wawasanmu tentang dunia" Arya menambahkan sambl memeriksa belanjaanya sekali lagi.


"Terimakasih Ayah"


Arya berjalan tanpa memperhatikan sekitar sehingga menabrak seseorang, ia berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh lalu menoleh dan segera minta maaf.


"Maaf aku tidak sengaja"


"Tidak apa, aku juga sedang tidak terlalu mem—eh?! Arya?"


"Mmm? Selena?"


------<<>>------


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu secara kebetulan dipermukaan seperti ini" kata Selena setelah makanan mereka sampai.


"Sama" komentar Arya singkat sebelum menyeruput minumannya.

__ADS_1


Setelah pertemuan yang tidak terduga, Arya dan Selena memutuskan untuk mampir berbicara ke salah satu kafe dekat situ. Tapi Arya tau dari sudut pandang orang lain ini bisa disebut kencan, hal itu terbukti dari perasaan tidak enak disekitarnya sejak mereka sampai disana.



"Pandangan tajam pria-pria kesepian ini bisa membunuhku" batin Arya lesu.


"Jadi....apa yang kau lakukan dipermukaan?" Selena menyuap kue pesanannya.


Arya menceritakan kepada Selena tentang alasan dia pergi berkeliling, gadis itu mengangguk-angguk sambil mendengarkan dengan seksama.


"Wah....pasti enak ya punya Elemental Beast penuh rasa penasaran seperti Efbi, kalau Delphin sih lebih memilih tidur di kamarku"


"Dia mungkin hanya lelah karena keasyikan bermain kemarin"


"Mungkin"


"Kau sendiri? Sedang apa?" Arya balik bertanya penasaran.


Selena tidak menyangka pertanyaan itu keluar sehingga diapun tersedak, ia memberitahukan pada Arya mengenai beberapa barang-barang menarik yang dicari olehnya.


"Ehh....kau tidak terlihat seperti gadis penghobi belanja"


"Ahaha begitukah?"


"Huum, sendirian?"


"Uhuk uhuk uhuk k...ke...kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Selena tergagap.


"Tidak, hanya saja biasanya para gadis suka ditemani jika melakukan hal-hal seperti itu" Arya membuang muka mengingat kejadian belanjanya bersama Asuna beberapa waktu lalu.


Selena memiringkan kepala melihat respon Arya, dia lalu berdeham pelan sebelum berbicara dengan tatapan serius.


"Arya? Apa kau tidak keberatan jika aku bertanya sedikit?"


"Mmm? Tentu, silahkan"


"Bagaimana menurutmu tentang para Elementalist perempuan yang lain?"


"Menurutku? Eee....bagaimana ya? Elizabeth itu sering bersifat manja dan kekanak-kanakan, persis seperti adikku. Dia membutuhkan arahan yang tepat agar tidak salah jalan, tapi ia termasuk gadis yang tekun.


Kalau Rena, merupakan gadis cerdas dan bisa melakukan apapun jika dia mau. Hanya saja dia kurang percaya diri, jika ada sedikit dorongan kupikir akan jadi lebih baik.


"Sedangkan Lexa adalah gadis yang ceroboh, menimbulkan masalah dan berbuat onar sudah jadi kebiasaannya. Tapi semua itu dilakukan agar dirinya mendapat perhatian, dia bisa jadi sedikit berlebihan jika tidak diingatkan"


Arya berhenti sebentar untuk berpikir sebelum melanjutkan.


"Asuna. Mmm....gadis pemarah, keras kepala, menyebalkan, dan ketus mungkin gambaran tepat untuknya. Tapi percayalah dia sangat baik, yang menjadi masalah adalah ketidakmampuannya menunjukan isi hatinya melalui perbuatan. Memang terdengar sedikit konyol tapi, begitulah dirinya"


Mata Selena melebar setelah mendengar semua itu, Arya tidak mengerti kenapa jadi memutuskan untuk diam.


"Kau....kau terdengar sangat mengenal mereka"


"Menurutmu begitu?" balas Arya cuek sambil memakan kentang goreng miliknya.


"Iya, aku sendiri sampai sekarang belum memahami mere—"


"Selena sendiri, menurutku adalah gadis paling biasa diantara mereka"


Warna wajah Selena langsung menghilang, gadis itu tertunduk lesu karena merasa kata-kata Arya barusan sama saja menyatakan kalau dia tidak memiliki suatu ciri khas yang dapat diingat.


"Ugh....aku tau, tidak perlu sampai mengatakannya kan?" timpal Selena sedih.


"Eh?! Kupikir kau salah mengerti Selena, bukankah menjadi gadis paling normal diantara mereka itu....membuatmu terlihat sempurna?"


Arya menatap mata gadis itu dengan bersungguh-sungguh, Selena tersadar lalu tertawa cekikikan mendengar perkataan tadi. Dia terlihat bersusah payah menahan tawa sampai matanya berair.


"Hihihi kau ini benar-benar....tapi, terimakasih ya Arya"


"Untuk apa?" tanya Arya bingung.


"Segalanya, besok kau ada acara?"


Arya menggeleng pelan, dia masih tidak mengerti kenapa Selena tertawa dan berterimakasih padanya.


"Bagus, ada yang ingin aku bicarakan. Ayo! Waktunya kita kembali"


Mereka berdua meninggalkan kafe sambil jalan bersebalahan, semuanya lancar sampai tiba-tiba Arya menabrak pohon dengan keras karena mendengar pertanyaan Efbi.


"Ayah? Apa sekarang aku sudah bisa memanggilnya Ibu?"


JDUK!!!


"Kumohon hentikan....! Berhenti menanyakan hal itu padaku!!!" jerit Arya histeris dalam hati.


Author Note :


Elemental Beast List :


1. Efbi (Frostbite)



2. Leona



3. Simius



4. Deera



5. Spike



6. Rake



7. Crowsha



8. Nimble



9. Anguista



10. Delphin

__ADS_1



Gambar hanyalah gambar, don't expect too much. Dah.... 


__ADS_2