
TRANG! TRING! TRANG!
Sekelebatan bayangan serta percikan api menghiasi udara ketika pertarungan pedang berkecepatan tinggi terjadi di tingkat dua Kuil Rodentia, jika dilihat secara kasat mata. Kemampuan milik keduanya berimbang.
Tiupan angin kencang muncul saat bilah pedang mereka saling beradu, Arya menggertakan gigi sambil menatap tajam lawannya. Senjata dua orang ini menjadi kaku karena saling mengunci satu sama lain.
“Teknik pedang yang luar biasa, gurumu pasti orang hebat”
“Melihat kerusakan akibat perbuatanmu, bukankah sedikit tidak pantas memberi pujian pada pemilik tempat ini?” balas gadis itu dingin.
“Ahahaha maaf ya, mungkin aku memang agak berlebihan. Aku cuma ingin mengunjungi seorang teman saja kok” Arya tertawa canggung.
“Saudari Kizuna tidak mungkin memiliki teman sepertimu!”
BUAKH! WUSH! TRANK!
Arya terpental mundur beberapa langkah, belum sempat dia bersiap. Tanpa menyianyiakan peluang sebuah tebasan mengarah tepat ke lehernya. Mata semua saksi pertarungan melebar seketika tubuh Arya menghilang bak kabut tipis.
“Ritme Langkah Bayangan? Bocah ini....boleh juga....hehehe” Nezumi tertawa pelan sudah melupakan permainan catur yang terpaksa berakhir runyam akibat teriakan si penyusup.
“Siapa sebenarnya....” gumam Garyu parau.
Walau berada di bangunan utama kuil Rodentia tingkat pertama, kedua Shio mampu menonton jalannnya pertarungan seakan berjarak hanya beberapa meter saja dari mereka. Entah mengapa Arya merasa seperti diawasi oleh segerombolan hewan buas, ia bersiul pelan sembari mengelap keringat dahinya.
“Wuhh....tadi itu hampir saja....”
“Hei penyusup?! Katakan apa tujuanmu sebenarnya!”
“Kan sudah kubilang dari awal? Aku kesini tuk men—“
“Jangan berharap bisa mengusik Kizuna selama aku menjaga tempat ini....
Gadis tersebut menodongkan pedangnya penuh kebencian kepada Arya, teriakan penyemangat sayup – sayup mulai terdengar. Hawa kehadiran beberapa orang sekitar sana semakin terasa jelas bagi Arya.
ORANG SEPERTIMU....TAU APA MENGENAI—“
“Sebagai saudari seperguruan....kau pasti menyadarinya bukan? Kebiasaannya menatap langit dengan mata kosong”
“Ugh...!!?”
“Walau cuma beberapa hari bersama, setidaknya aku tau itu bukanlah sesuatu yang baik. Aku kemari hanya ingin memastikan pilihan Kizuna dari mulutnya sendiri, jika dia menolak. Aku akan segera pergi”
Ekspresi si gadis melunak, perlahan ia memegang gagang pedang menggunakan kedua tangan sebelum berkata penuh kehormatan.
“Tidak akan kuberikan saudariku kepada orang lemah, aku Kuuga. Sebagai Pemimpin Keamanan Kuil bersumpah akan menghentikanmu”
“Ahahaha mohon maaf atas ketidaksopananku Nona Kuuga....
Arya membuka tudung jubah, rambut putihnya berkilau disinari matahari. Nampak Bai melingkar nyaman di sekitar leher laki – laki itu.
Elementalist Es, Arya Frost”
Pernyataan tersebut bagai sambaran petir untuk semua penghuni Kuil Rodentia, para gadis kuil saling tatap tak percaya. Bahkan Kuuga mengerjapkan mata beberapa kali karena kebingungan.
__ADS_1
“Elemen...talist....?”
“Huum, senang berkenalan denganmu. Mari kita akhiri, kalau boleh jujur aku ini memang orang yang sedikit sibuk”
“Jangan sombong! Hya...!” Kuuga maju mengerahkan kemampuan terbaiknya.
‘Mandalika....jangan lukai siapapun oke?’
‘Sesuai keinginan anda’
“First Dance; Swinging a Single Sword”
WUSH! SYAT! KRAKK!
Kejadian berikutnya begitu cepat, Arya dan Kuuga sudah saling memunggungi satu sama lain. Suara jatuh ke tanah patahan pedang sang Pemimpin Keamanan Kuil sebagai pertanda berakhirnya duel mereka.
Tetapi yang lebih mengejutkan, bangunan tingkat dua Kuil Rodentia ikut terpotong oleh bekas tebasan berbentuk menyilang. Karena takut akan roboh, perempuan – perempuan penghuninya segera berlarian keluar dari sana.
“Kau....menang tolong jaga Kizuna....”
“Baik, serahkan padaku” jawab Arya sembari menyarungkan pedang.
Baru saja selesai melakukan itu, tiba – tiba terdengar bunyi kain – kain terpotong. Arya menoleh sekilas sebelum cepat – cepat mebalikkan badannya lagi.
“KYAA PAKAIANKU!!!???” teriakan histeris memenuhi udara.
“M...MM...MAA...MAAF!”
‘Hmm? Bukankah anda memintaku untuk tidak melukai siapapun? Jadi wajar saja busana mereka tersayat semua’ Mandalika membalas polos.
‘Bukan begitu juga! Tapi pemandangannya memang sedikit bagus sih....Tidak! Tidak! Tidak! Aku ini bicara apa?! Maksudku—‘
“DASAR TIDAK BERMORAL....!!!”
“WOA.....KABUR!!!”
“Bagaimana...dia melakukannya....”
Mata Garyu terkunci pada sosok Arya yang sedang berusaha menerobos masuk ke tingkat pertama Kuil Rodentia, sementara Nezumi sudah duduk kembali meminum teh olong favoritnya penuh ketenangan.
“Sebuah pedang hebat....selalu bisa memenuhi ekspektasi Tuannya”
------><------
Berbanding terbalik dengan keberhasilan Arya memporak – porandakan Rodentia, pasukan Pax benar – benar berada pada situasi tertekan. Ada sekitar dua ratus Werebeast menyerbu mereka melalui berbaga arah.
Pengungsi yang sudah berhasil lewat dan masuk ke Sentoki no Meikyuu dapat dipastikan tiba di Elemental City. Lebih diutamakan wanita, orang tua, dan anak – anak. Cuma terdapat lima puluh orang saja garis depan milik organisasi yang dapat bertarung.
Ditambah bantuan dari sembilan Elementalist dan Nyanko bersaudara, namun sekarang mereka semua terpisah akibat jalannya pertempuran. Tak tau di mana posisi masing – masing.
“Menunduk!”
__ADS_1
SYUU! JDAR!
Tiga buah anak panah menancapi bagian – bagian vital Werebeast penyerang Kurobara, sebelum meledak membakar habis tubuhnya menjadi abu.
“Terima kasih Nona Asuna”
“Cepat pulihkan dirimu”
Asuna menghantam dahan pohon di sebelahnya, cairan kekuningan bak getah merembes keluar. Hanya sekali oles. Kondisi tubuh Kurobara kembali normal, salep obat buatan Rena telah tersebar ke seluruh tanaman sekitar mereka.
Selesai membantu, si Elementalist Api segera kembali ke medan perang. Dia berpapasan dengan Lexa yang sedang menghadapi kepungan lima Werebeast seorang diri, Timothy melindungi puluhan keluarga pengungsi, dan duel sengit Zayn melawan salah satu Jenderal Petarung.
Begitu berbelok diujung jalan, Asuna menemukan pemandangan mengerikan. Macow tengah dicekik oleh Werebeast beruang cokelat besar, tubuh – tubuh tak bernyawa teman seperjuangannya bergelimpangan mengelilingi lokasi tersebut.
“Menjauh....uhuk....No...na”
Bukannnya lari, Asuna menambah kecepatan lajunya sambil mengubah Amaterasu menjadi melee mode. Api perlahan menyulut ujung tajam rapier miliknya.
“Nokoribi Kogeki!”
Serangan itu memaksa Werebeast beruang mundur dan melepas Macow. Asuna segera memberikan obat, namun karena sudah sangat babak belur. Lukanya pulih dengan lambat, sewaktu hendak berdiri untuk menyerang balik. Macow menggapai tangan Asuna sembari menggeleng.
“Nona....dia adalah Arkouda...., lari....saya mohon....”
“Tidak bisa, jika dibiarkan. Ia akan melukai lebih banyak orang lagi, sekalipun bukan tandinganya. Aku harus menghabisinya di sini”
“Hehehe mulutmu besar juga untuk seorang gadis kecil” si beruang terkekeh.
“Berisik!”
Tanpa basa – basi Asuna mulai menyerang, Arkouda sendiri menggunakan sebuah pentungan jumbo sebagai senjata. Sebenarnya Asuna jauh lebih unggul dalam segi kecepatan, ini terbukti dari mendaratnya beberapa serangan api miliknya.
“Hyahaha cuma segini kemampuanmu!? Kau berani menyebut dirimu Elementalist Api?”
Kulit tubuh Arkouda ternyata memiliki daya tahan tinggi terhadap panas, serangan elemen Asuna tak dapat menembus kulitnya. Lama kelamaan ia semakin terdesak, sampai akhirnya sebuah hantaman keras membuat tubuh Asuna terlempar jauh.
“No...uhuk...na!?”
“Lemah! Lemah! Lemah! Dasar kalian Manusia SAMPAH!”
Mendengar hinaan itu mata Asuna membuka, ia berjungkir balik di udara sebelum mendarat dengan mulus. Pupil bewarna merah menatap lekat – lekat musuh dihadapannya.
“Tarik kembali kata – katamu!”
“KYAHAHA! BUATLAH AKU MELAKUKANNYA JIKA KAU MEMANG PANTAS!”
‘Aku sudah bosan memandangai punggungnya, melihatnya lemah terbaring tak sadarkan sendiri terus menerus. Oleh karena itu....aku juga harus jadi lebih kuat lagi!’
“SELAMAT TINGGAL GADIS KECIL!” Arkouda mengayunkan pentungan tepat ke arah kepala Asuna berada.
Saat sang Jenderal Petarung mengira semua sudah berakhir, badan Asuna berubah. Berkobar panas mengakibatkan senjata kayu si beruang terbakar menjadi arang, tak membiarkan dia sadar. Asuna langsung melakukan tusukan menembus tubuh Arkouda.
__ADS_1
“WOAA...!? PANAS! PANAS....!!!”
“Senbon....zakura” bisik Asuna setelah tubuhnya kembali seperti sedia kala.