Elementalist

Elementalist
Chapter 181 - Hibernasi


__ADS_3

Arya dan Ryan tidak menyangka setibanya di Elementalist jam menunjukan pukul dua belas malam, tetapi untung saja para petugas memberitahukan kalau Astral masih terjaga di kantornya. Buru – buru mereka menuju ke sana tuk melaporkan hasil akhir misi.


Begitu membuka pintu, raut wajah lelah Astral balik menatap. Arya bersama Ryan saling pandang sesaat kemudian segera duduk setelah dipersilahkan, pria tersebut mendengarkan baik – baik penjelasan dari keduanya.


Namun ada sebuah kejutan yang cukup membuat Arya kagum, ternyata Ryan sempat mencuri satu buah pusaka pada saat genting sehingga Merlin sekalipun tak menyadarinya. Benda ini adalah satu tangkai tongkat sihir panjang dengan hiasan bola biru di ujungnya.



Jika tidak salah, namanya Sky Estuary. Astral memeriksa sebentar dan mengkonfirmasi kebenaran soal barang itu, Ryan begitu girang sampai hampir berteriak apalagi waktu Arya setuju membiarkan ia yang menyimpannya.


“Kau yakin?”


“Huum, lagi pula aku sudah punya satu di sini. Anggap sebagai ganti tongkat rusak milikmu dulu”


“Yess....terima kasih! Kau memang sahabat terbaik Shiro-San, biarkan aku mencium—“


“Kau mau mati sebelum menikah ya?” Arya menggapai gagang Mandalika penuh ancaman.


“Ahahaha baik – baik aku mengerti, Pengawas Astal aku permisi!” kata Ryan semangat ingin menunjukan hasil jarahan tersebut kepada ayahnya.


Ketika suara berisik Ryan mulai tidak terdengar, Arya menoleh ke arah Astral. Dia menggaruk – garuk kepala sebentar lalu berkata, “Eee....Pengawas? Dirimu terlihat kurang sehat, apa ada sesuatu terjadi?”.


“Anda pergi hampir setengah tahun, bisakah Tuan bayangkan bombardir pertanyaan yang diarahkan pada saya?” Astral menghela napas.


“A...ah....maaf, sepertinya aku meninggalkan banyak masalah”


“Tak apa, yang terpenting anda pulang dengan selamat. Silahkan isitrahat”


Arya menutup pintu ruangan Astral perlahan, ia berpikir keras tiap kali melangkah. Kemudian terbersitlah ide tuk pergi ke permukaan dan menginap di kediaman Hartoso dulu karena punya firasat buruk melihat tampang kecapean sang Pemimpin Pengawas Ujian.


------><------


Keesokan harinya, Reika melompat penuh suka cita dan merangkul Arya sampai hampir terjungkal sewaktu sarapan pagi. Gadis itu terus mengomel tentang kemana saja Arya selama beberapa bulan terakhir, ia bahkan sampai ingin berkunjung ke Pusat Penelitian namun selalu dihalangi entah sengaja ataupun tidak sengaja oleh Pak Hartoso.


Arya baru berhasil melepaskan diri dari adik angkatnya ketika waktunya untuk berangkat sekolah tiba, Reika meminta diantar dengan alasan kangen. Sebab sudah lama tidak bertemu, Arya menyetujui permohonan manja tersebut.


Penampilannya mencuri perhatian banyak sekali orang, mereka bertemu Kemala saat di depan gerbang masuk. Arya melambaikan tangan kepada keduanya sebelum berpisah dan meninggalkan lokasi.


Dia berangkat menuju Pusat Penelitian tanpa terlalu memperdulikan tatapan mata dari berbagai arah, sesampainya Arya berjalan sangat hati – hati tuk menyusuri lorong – lorong tempat itu. Lebih mirip mengendap – endap ketimbang melangkah, perlahan dirinya menyodorkan kepala demi mengamati isi kantin.


Suasana telah sepi karena memang jam sarapan usai sekitar dua jam lalu, menyadari situasi aman iapun berusaha ke dalam. Namun tepukan pada pundaknya membuat Arya terpekik sembari mengangkat tangan tanda menyerah.


“PHUAHAHAHA....! Kenapa kau panik begitu sih?”


Pengawas Varuq terbahak – bahak memegangi perutnya yang sakit melihat respon bocah dihadapannya, Arya mengatur kembali napas baik - baik. Jantungnya terasa mau copot, kemampuan menyelinap pria ini sungguh luar biasa.


Bahkan Arya tak merasakan apapun hingga tepukan lembut menyentuh tubuhnya, Varuq tersenyum jahil terus menempatkan lengan sekitar bagian belakang leher Arya. “Jadi....kalau boleh tau, mengapa anda bersikap seolah pencuri di rumah sendiri? Tuan? Hehehe....”.

__ADS_1


“Tidak bisakah kau merasakan horor dan wajah pucatku Pengawas?”


“Wuahahaha tentu aku lihat, tetapi kau memang beruntung”


“Maksudnya?”


“Yang lain sedang menjalankan misi, mereka tidak berada di sini. Hukumanmu nampaknya masih harus menunggu shishishi”


“Sykurlah—“


“Jangan senang dulu, kau lupa mengenai ketiga Tuan Putri itu ya?”


“Ekh!?” Arya yang baru bernapas lega hampir tersedak ludah sendiri.


“Sebaiknya kau menemui satu – satu, saranku pergilah ke perpustakaan dahulu. Ia melakukan hibernasi tak lama setelah kau pergi, sikapnya mungkin jauh lebih ramah dari pada sisa dua orang lainnya”


“Anda membicarakan siapa?”


Tapi sebelum menjawab, Varuq menyelonong begitu saja sambil melambaikan tangan, “Sudah, berangkat saja. Nanti tau sendiri, aku heran mengapa hidupku tidak seindah milikmu? Memangnya aku punya dosa apa?”.


------><------


TRING! TRING! TRING!


“Permisi....”


“Hahahahaha—ah!?”


Gerakan Arya terhenti akibat tatapan tajam seorang gadis berkacamata, dia melakukan kecerobohan karena menyangka tidak ada orang lain di sana. Efek sering sendirian saja menghuni Perpustakaan membuatnya terbawa suasana.



“Ma...maaf mengganggu waktumu! Aku akan segera pergi begitu menemukan temanku”


“Hah? Teman? Kau bicara apa sih? Kemari”


“Eh?”


“Kubilang sini” mata gadis tadi mengeluarkan cahaya merah.


Kaki Arya begerak sendiri seolah mampu berpikir, saking terkejutnya ia bahkan tidak bisa berkata apa – apa. Sesampainya di meja Perpustakaan. Si perempuan kembali memberi perintah, “Duduk”.


JDUK!


“A..ap..apa....ma...mak..sudnya...”


“Berani sekali dirimu melupakan Nonamu padahal cuma sebentar tak bertemu” dia menjepit hidung Arya menggunakan jari.

__ADS_1


“Hah? CALLISTA!??”


------><------


Arya sungguh takjub atas perubahan sang putri Vampir, memang sebelumnya dia mendengar dari Varuq kalau Callista telah melakukan tidur panjang atau hibernasi. Namun penampilannya sekarang benar – benar berbeda.


“Kau mengganti gaya rambutmu?”


“Hmm? Huum sedikit, karena mereka tumbuh panjang nan berantakan ketika aku bangun. Tapi itu bukan alasan kau tidak mengenaliku” jawab Callista masih cemberut.


“Aw! Aw! Aw! Hidungku!!!”


Terjadilah pergumulan antara keduanya, suara tawa serta kikik geli mereka bergaung ke segala penjuru perpustakaan. Untung saja saat ini tidak ada seorang pun sehingga mereka tak perlu takut menganggu pengunjung lain.


Callista cekatan mencengkram bahu Arya kuat, lalu mendekatkan bibirnya sembari berbisik dengan napas memburu. “Hah....hah....hah....Arya....hah....hah....”.


“Eh? M...My...My Lady?”


“DA.....RAH.....”


“Tunggu seben—“


“Tidak bisa! Tenggorokanku sangat kering ketika bangun, dan sialnya stok darahmu telah habis bahkan di rumah sakit. Maka dari itu aku harus rela bertahan meminum cairan – cairan menjijikan selama seminggu terakhir”


“Callista? Tarik napas—“


“AKU TIDAK TAHAN LAGI!”


WAA!!!


Arya terpaksa membiarkan Callista meminum darahnya sampai puas, ia menduga mungkin begini rasanya menjadi seorang ibu menyusui. Setengah jam berlalu barulah si gadis Vampir melepas gigitanya sambil memasang wajah sumeringah.


“Ah....e....nakkk....”


“Senang?”


Tubuh Arya mengeluarkan cahaya sebab melakukan regenerasi, darah – darahnya yang telah dihisap Callista tergantikan dalam hitungan detik. Bahkan luka bekas taring di pundaknya perlahan menutup, melihat kejadian barusan. Callista sekali lagi membuka mulut.


“Selamat ma—“


“Oi!? Kau pikir sudah berapa liter yang kau minum hah?!”


Callista ternyata tengah mencari informasi – informasi mengenai Vampir milik Manuisa karena pengetahuannya juga masih minim tentang hibernasi. Selesai menanyakan alasan gadis tersebut di Perpustakaan, Arya berpamitan tuk menuju Werebeast Village.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2