Elementalist

Elementalist
Chapter 29 - Pertempuran Fairy Forest


__ADS_3

"Berani sekali kau menginjakkan kakimu di tempat ini, Kris" sapa Eudart sambil mengeluarkan aura yang sangat kuat.


Kemudian terdengar suara tawa dari balik debu-debu yang bertebaran diudara, sosok Kris terlihat dalam kondisi tangan yang hampir terputus akibat serangan Eudart sebelumnya.


Tangan kanan itu pasti sudah terpisah dari tubuh Kris apabila ia tidak menggunakan Grimoire untuk menahan serangan tersebut, ada sedikit daging dan kulit yang membuat tangan tersebut masih menempel pada tubuhnya.


"Hihihi....harusnya aku sudah tau setelah melihat wajah Diana dan bocah itu, kau juga pasti akan segera muncul Eudart. Benar-benar membuatku bernostalgia" sahut Kris sambil tersenyum girang.


"Kau pikir aku akan membiarkan orang yang telah mengambil mata kiriku berbuat sesuka hati di wilayahku?" tanya Eudart sambil meraih gagang pedangnya.


"Tentu saja tidak, hanya saja dari yang aku dengar kau sekarang adalah seorang Penjaga Pohon Suci. Aku tidak menyangka kau akan muncul disini"


Sesuatu yang terlihat seperti awan gelap tiba-tiba menyelubungi tangan kanan Kris, saat awan itu menghilang dari lengannya. Kris dengan santai menggerak-gerakan tangannya yang sudah kembali normal seperti sedia kala.


"Tentunya kau masih memiliki banyak tenaga untuk bertarung bukan?" tanya Eudart lagi.


"Begitulah, tapi bukan aku namanya. Jika tidak mempersiapkan sesuatu untuk hal-hal tidak terduga seperti ini" balas Kris sambil memamerkan gigi taringnya.


Kris menjentikkan jarinya, kemudian sebuah bayangan hitam terbang cepat dari dalam hutan dan hinggap dipundaknya. Disusul oleh puluhan bayangan hitam seukuran pria dewasa yang segera mengelilingi mereka dengan air liur menetes dari mulut masing-masing, puluhan Vampir itu terlihat sangat kelaparan.


"Terimakasih karena telah menghancurkan penghalangnya Eudart" ujar Kris dengan senyuman licik diwajahnya.


"Tidak perlu sungkan, dengan begini aku tidak perlu mencari tikus-tikus kecil milikmu lagi"


Arya yang masih terduduk didekat Eudart sambil memegang lehernya yang lecet akibat cekikkan dari Kris, hanya bisa meratapi nasipnya yang berada ditengah-tengah perseteruan dua monster dihadapannya. Dia segera melemparkan pandangan pada seratus Vampir yang baru saja muncul entah dari mana.


Ia juga sekilas melihat seekor kadal hitam bersayap yang hinggap dipundak Kris dengan mata berwarna merah darah, makhluk itu mengeluarkan suara pekikkan yang memekakkan telinga.


"Itukan---"


"Naga?!" ucap Rena tidak percaya.


"Bukan, itu bukan naga. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berhubungan dengan naga, itu....itu Wyvern" timpal Eridan membenarkan dengan mata melebar.


"Aku tidak menyangka dia bahkan memiliki seekor Wyvern, orang itu benar-benar berbahaya" ujar Reiss pelan.


"Baiklah, mari kita mulai" kata Kris sambil mengangkat tangan kanannya.


"Kupikir kita tidak akan mulai" jawab Eudart enteng.


"Grimoire; Claw of Destiny & Bloodfallen Sword'


"Reliquia D'Azuldria; Jurista"


Petir hitam lagi-lagi menyambar tangan kanan Kris, munculah sebuah pedang dengan bilah berwarna kehitaman. Pedang itu memiliki gagang berbentuk salip dengan ukiran tengkorak, belum selesai sampai disitu. Seluruh jari tangan kanannya kini telah ditutupi oleh Grimoire berbentuk cakar yang digunakan sebelumnya melawan Arya.


Kekuatan Eudart tidak kalah menakutkannya, saat dia menarik pedangnya. Arya bisa merasakan Agnet pada alam seperti terhisap ke arah pedangnya. Pedang itu seperti berubah menjadi lubang hitam bagi Agnet, terdengar suara mendengung dari pedang itu. Benda itu memancarkan cahaya berkelap-kelip yang sangat pekat.


"Dia memiliki dua Grimoire?!" teriak Azalea.


"Dia adalah satu-satunya Vampir yang pernah memiliki dua Grimoire sampai saat ini, itulah mengapa dia bisa mempertahankan posisinya diantara ras Demon yang lainnya sampai sekarang" sahut Diana dengan dahi mengernyit.


"Senjata macam apa yang digunakan Tuan Eudart?" bisik Rena pelan.


"Jika Vampir memiliki Grimoire, kami para Elf memiliki pusaka bernama Reliquia. Itu adalah pusaka legendaris milik Tuan Eudart, Jurista" jawab Eridan sambil menelan ludah karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Ditengah-tengah suasana yang semakin mencekam, tiba-tiba beberapa Vampir terperosok ke tanah. Hal ini tentu membuat mereka terkejut, beberapa saat kemudian kepala mereka dipenggal oleh beberapa makhluk berotot yang membawa kapak perang ditangan mereka.



Para Dwarf dengan peralatan lengkap muncul dari dalam tanah dan mulai menyerang para Vampir, para Dwarf dipimpin oleh orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tribal Chief mereka Stämmig. Stämmig berdiri dibantu oleh tongkatnya dengan tenang ditengah-tengah pasukan miliknya.


Para Vampir yang masih belum pulih akibat serangan dadakan tersebut kembali dikejutkan dengan sulur-sulur tanaman yang mengikat tubuh mereka, beberapa dahan pohon segera melilit pergelangan kaki para Vampir dan menghempaskan mereka ke berbagai arah.


Mulailah bermunculan sosok-sosok berwarna hijau disekitar Diana dan yang lainnya. Para Druid dan pohon suci segera berkumpul dititik itu dengan pertahanan penuh.



"Tidak akan kami biarkan siapapun menyentuh Ratu" seru seorang Druid yang terlihat seperti pemimpin dengan lantang.


"Benar sekali!" terdengar ratusan suara menyahut


Orang-orang segera melihat kesana kemari untuk mencari sumber ratusan suara itu berasal, kemudian sebuah pohon mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.



Para Pixie segera terbang bergerombol dari pohon tersebut ke arah para Vampir, mereka melemparkan serbuk-serbuk emas ke mata para Vampir sehingga membuat mereka menggeram kesal.


Semua orang sangat terkejut akibat kedatangan tiga pasukan yang sangat tidak terduga ini, salah satu yang paling terkejut adalah Diana. Dia melempar tatapan bertanya pada Stämmig.


"Jangan salah sangka Yang Mulia, kami kemari bukan karena ingin melindungi anda. Karena bagi kami apapun hasil dari pertempuran ini, baik kalian kalah ataupun menang. Kami akan tetap menjadi budak bagi yang berkuasa, kami kemari karena dia" jawab Stämmig lembut atas tatapan bertanya Diana.


Ditengah kerusuhan itu, ada satu orang yang tidak bisa menyembunyikan senyumannya karena rencananya berhasil.


"Kelihatannya kau berhasil, Ivý" ujar Arya sambil tertawa cengengesan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Sebenarnya sejak awal pengepungan yang dilakukan oleh para Vampir, Arya sudah mengambil tindakkan dengan memanggil Ivý dengan Summoner Cube. Dia membawa kubus kecil itu dibalik jubahnya, sehingga tidak ada satupun orang yang menyadari pemanggilan tersebut.

__ADS_1


Arya meminta Ivý untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi pada Eudart dan Stämmig, dan seperti yang dia perkirakan. Keduanya tidak datang sendirian, saat membisikan perintah pada Ivý inilah baru Kris menyadari Arya melakukan sesuatu dan memintannya untuk berhenti. Arya tidak menyangka rencananya bisa berjalan semulus seperti ini.


Walaupun terkejut, Kris masih tersenyum santai. Dia seperti tidak terlalu memperdulikan datangnya bala bantuan yang berhasil Arya kumpulkan.


"Mengesankan, aku tidak menyangka semua makhluk Fairy Forest akan muncul. Bahkan para Dwarf juga ikut, tapi apa kalian pikir----"


"BUMM!"


Belum sempat Kris menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara ledakan besar dari salah satu sudut. Ledakan itu membuat beberapa tubuh para Vampir terhempas ke udara dan berubah menjadi debu, semua perhatian orang segera teralihkan ke arah sumber ledakan tersebut.


Lima orang Elf muda dengan seragam berwarna putih berjalan dengan tegap ke dalam medan pertempuran, mereka berlima memiliki warna mata yang berbeda. Kelimanya mengeluarkan aura yang sangat kuat.


"Telah terjadi kerusuhan yang sama di seluruh wilayah Fairy Forest, kami segera membereskan semuanya dan menuju ke tempat ini secepat yang kami bisa. Mohon maaf atas keterlambatannya Yang Mulia" kata Elf pemilik mata biru yang berdiri paling depan.


"Kakak!?" teriak Eridan


"Kakak!? Dia kakak Eridan? Jadi....mereka adalah—" seru Arya tidak percaya.


"Benar, Lima Ksatria Pentagram generasi saat ini" lanjut Eudart santai.


"Orion, lakukan apa yang harus kalian lakukan" perintah Diana.


"Tentu, Yang Mulia" seru Orion sambil membungkukkan badan ke arah Diana, setelah mengangkat kepalanya ia segera bergerak maju sambil berkata "Alba, pulihkan para tamu undangan yang tidak bisa bergerak"


"Sedangku lakukan" jawab Elf bermata putih yang sudah hampir selesai membuat sebuah formasi sihir.


Saat formasi sihir itu selesai, sebuah cahaya putih segera muncul dari tanah yang mereka pijak. Para Elf yang tidak bisa bergerak segera bangkit dan meneriakan teriakan perang ke udara, mereka segera mengeluarkan senjata dan siap untuk ikut bertempur. Arya hanya bisa melongo melihat kejadian itu.


Menyadari keterkejutan Arya, Eudart segera berbisik "Akulah yang memanggil mereka berlima, kau tidak perlu terkejut seperti itu. Aku ini mantan Ksatria Pentagram, kau ingat?"


Kali ini ekspresi Kris benar-benar berubah, dia tidak menyangka situasinya akan berbalik arah begitu cepat seperti ini. Tidak ada senyuman lagi yang merekah diwajahnya.


"Wah wah wah aku tidak menyangka situasinya akan seburuk ini, Daemord segera pergi dari sini. Bawa Tuan Putri itu pergi bersamamu, kita tidak bisa pulang dengan tangan kosong bukan?" perintah Kris.


Daemord langsung mengangguk dan melesat membawa Alalea yang kondisinya semakin lemah pergi dari tempat itu, dia disusul oleh tiga Vampir lain yang bertugas sebagai pengawalnya. Melihat hal itu Arya segera berdiri.


"Nak, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Eudart.


"Tentu" sahut Arya sambil mengumpulkan Agnet pada kakinya.


Dia sudah siap untuk mengejar Daemord, tepat saat dia melakukan langkah pertama. Kris dengan sebuah tombak berwarna kemerahan yang sepertinya terbuat dari darah membidik ke arahnya "Tidak akan kubiarkan kau menyusul mereka"


Sebelum Kris melemparkannya, tombak itu meledak. Kris dengan senyuman kesal menatap Eudart yang baru saja membuat formasi sihir untuk menghancurkan tombak miliknya.


"Berani sekali kau mengalihkan perhatianmu saat berhadapan denganku" komentar Eudart dengan aura membunuh.


Arya tidak membuang waktu lagi, dan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melesat mengejar Daemord.


"Terimakasih atas pujiannya" balas Eudart.


Eudart dengan cepat menggambar sebuah formasi sihir berbentuk seperti arah mata angin, sudut-sudutnya mengeluarkan cahaya dengan warna yang berbeda-beda.


Sementara itu Kris segera menggenggam gagang pedangnya dengan kedua tangan serta mengarahkannya ke tanah untuk ditancapkan, Wyvern dipundaknya memekik pelan sambil mengeluarkan aura gelap.


Tidak mau kalah Uil segera hinggap dipundak tuannya dan mengeluarkan aura kebiruan, kedua makhluk magis itu ikut masuk ke dalam pertempuran.


"Cinco Esquinas de Magia; Supernova"


"Blood Field; Blood Vortex"


Arya yang baru saja meninggalkan tempat pertempuran bisa merasakan ledakan sihir yang luar biasa, hal itu membuat tubuhnya merinding. Padahal dia yakin jarak antara dirinya dengan tempat itu sudah cukup jauh, tapi dia masih bisa merasakan bagaimana dahsyatnya serangan tersebut.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Arya untuk mengejar Daemord, dia sudah bisa melihat empat sosok yang sedang berusaha menjauh dari tempat pertempuran. Menyadari bahwa Arya sudah hampir menyusul mereka, ketiga Vampir pengawal segera berbalik arah dan mengepung Arya.


Mereka membiarkan Daemord pergi sendirian membawa Alalea, Arya segera mendarat pada permukaan tanah hutan diikuti oleh tiga Vampir tersebut. Mereka menarik keluar senjata mereka, Arya menggenggam erat katanannya dengan kedua tangan sambil mendesis.


"Jangan menghalangi jalanku, Áfxisi Dance of Three Clover Leaves"


Serangan itu sangat cepat sehingga ketiga Vampir itu telat bereaksi, mereka bahkan tidak sadar kalau kepala mereka sudah terpisah dari tubuh masing-masing. Arya kembali melanjutkan pengejarannya atas Daemord, dia kembali berhasil menyusul Daemord dengan kecepatannya.


"Kali ini tidak akan kulepaskan" bisiknya pelan.


Arya merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan sebuah benang kawat, ia menarik benang itu dengan giginya. Sebenarnya setelah pertarungannya dengan Zayn beberapa waktu yang lalu, dia meminta Zayn untuk mengajarinya cara menggunakan benang.


Sepertinya inilah saat yang tepat untuk mencoba hal tersebut, Arya segera menebar benang tersebut diantara pepohonan disekelilingnya. Kemudian dengan cekatan mengarahkan benang itu ke arah Daemord, saat benang itu sudah mengelilingi Daemord. Arya menarik benangnya dengan sekuat tenaga.


Benang-benang tersebut langsung saja melilit Daemord dan membuatnya tidak bisa bergerak, dia melepaskan pegangannya pada Alalea. Alalea yang lemas terjun bebas langsung ke arah permukaan tanah hutan, tanpa pikir panjang Arya segera berusaha meraihnya.


"Dapat!" seru Arya.


Arya menangkap Alalea dengan kedua tangannya, tapi dia melakukan kesalahan saat pendaratan sehingga keduanya jatuh tersungkur ke tanah. Alalea yang semakin melemah menatap Arya dengan tatapan bertanya.


"Jangan menatapku seperti itu" kata Arya sambil mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari balik jubahnya.


Mata Alalea melebar melihatnya, Arya segera menuangkan cairan kuning yang ada pada botol tersebut pada mulut Alalea. Alalea bisa merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya, setelah bisa bernapas dengan normal diapun bertanya.


"Bagaimana---"


"Caraku mendapat penawarnya? Tentu saja dengan mengambilnya dari Kris, itulah salah satu alasanku untuk bertarung dengannya"

__ADS_1


"Kapan?" tanya Alalea lagi.


"Saat aku mematahkan tangannya" balas Arya santai.


"Kenapa?"


"Mmm....?"


"Maksudku kenapa? Setelah semua yang aku katakan pa----"


Kata-kata Alalea tersendat ditenggorokannya setelah menyadari aura dari Daemord, dia baru saja melepaskan diri dari benang milik Arya. Dia terlihat sangat kesal.


"Dasar bocah sialan, kau merusak semuannya" ujar Daemord dengan sinis sambil mencabut pedangnya.


Arya juga segera berdiri sambil mencabut katana miliknya, ia lalu menoleh pada Alalea sambil berbisik pelan.


"Kita mungkin hanya menjadi tunangan palsu, tetapi jika terjadi sesuatu....akulah satu-satunya orang yang akan melindungimu"


Mata Alalea melebar, dia menjulurkan tangannya untuk menggapai Arya sambil berkata" Tunggu! Biarkan aku menyem----", belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya. Arya dan Daemord sudah melesat dan menerjang satu sama lain, Arya maju dengan keyakinan ini akan menjadi puncak pertarungan di Fairy Forest.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Tubuh Arya melayang beberapa meter diudara, dia merasakan cengkaraman kuat pada lehernya. Tubuhnya semakin lemas karena kekurangan oksigen. Sementara itu Daemord dengan santai mengarahkan cengkeraman tangannya ke arah Arya.


Memang pada dasarnya tenaga Arya sudah terbuang banyak sejak bertarung dengan Kris, dia tidak bisa berbuat banyak untuk melawan Daemord yang masih bugar.


"Kau menyembunyikan kekuatanmu selama ini, dasar kutu busuk!" umpat Arya dengan suara parau.


"Hahaha....lihat siapa yang bicara, dengan ini sepertinya para Manusia akan kehilangan salah satu Elementalistnya" balas Daemord sambil bersiap menusukkan pedangnya.


"Tidak!" teriak Alalea.


Tepat sebelum pedang Daemord menusuk jantung Arya, sebuah cahaya berwarna hitam menghantam pedang tersebut. Serang itu sangat kuat, sehingga membuat Arya maupun Daemord terpental jauh. Alalea segera menghampiri Arya, sementara orang yang menyerang mereka segera mendekati Daemord.


Orang itu adalah salah satu dari Lima Ksatria Pentagram dengan mata berwarna hitam, ia melihat Daemord dengan tatapan menghina. Daemord yang melihat itu hanya bisa terbata-bata.


"Ka...ka...kakak?!"


"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi, pengkhianat" seru orang itu sambil mengayunkan tangannya.


Tangan kiri Daemord segera terpisah dari tubuhnya, dia berteriak sekuat tenaga karena merasakan kesakitan yang amat sangat. Pria itu sekali lagi mengangkat tangannya untuk menyerang, namun sebuah bayangan gelap segera membawa Daemord menjauh.


Kris muncul dengan tubuh babak belur, ia sepertinya cukup kewalahan melawan Eudart. Dia segera tersenyum pada orang itu sambil berkata.


"Hehehe....Falxus, kau benar-benar tidak punya belas kasih. Dia ini adikmu bukan?"


"Kau tidak punya hak untuk berbicara Demon" balas Falxus dingin.


"Wah wah wah jangan seperti itu, apa kau lupa kalau kau juga memiliki darah yang sama" goda Kris.


Falxus mengangkat pedangnya dan mengeluarkan sebuah petir hitam untuk menyerang Kris, sebuah serangan lain juga ikut mengarah kepada Kris dari balik pepohonan. Kris segera menghindar sambil membawa Daemord yang terluka.


"Sepertinya hanya sampai disini, hahaha waktunya pergi. Sampai jumpa" seru Kris sambil berubah menjadi bayangan dan terbang menjauh.


Falxus yang hendak mengejarnya dihentikan oleh Eudart yang tiba-tiba muncul entah dari mana, kondisinya juga tidak terlihat baik. "Biarkan mereka, mereka tidak akan mudah untuk keluar dari tempat ini"


Lalu Eudart melangkah mendekati Arya dan Alalea, Alalea masih mendekap Arya dengan mata berlinang air mata.


"Tidak!Tidak!Tidak!Tidak! Kau tidak boleh mati disini" isaknya.


Arya yang sudah merasa matanya semakin berat hanya bisa menyentuh pipi Alalea sambil tersenyum lemah.


"Kenapa anda menangis Tuan Putri?"


Setelah mengatakan hal itu, tangannya melemas dan terhempas ke tanah. Alalea segera menempelkan telingannya ke dada Arya. Dia tidak bisa mendengar suara detak jatung Arya.


"TIDAK.....!!!!!!" teriak Alalea.


Eudart yang tidak kuat melihat hal itu hanya bisa membuang muka, apakah benar bahwa semua muridnya telah dikutuk untuk bertemu kematian lebih awal.


"Tidak! Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mati disini, kau tidak boleh mati begini! Sanar! Sanar! Sanar!!!" seru Alalea dengan mata berlinang sambil terus meneriakan mantra Healing.


Dengan sangat mengejutkan Agnet dari seluruh hutan terserap kearah Alalea, hal ini membuat Eudart dan Falxus keheranan. Ini pertama kalinya mereka melihat Agnet dengan jumlah yang begitu besar berkumpul di satu tempat, setelah kejadian tersebut mereka mendengar tarikan nafas pelan dari Arya.


Alalea segera menghentikan tangisnya, dengan sigap Eudart segera mengangkat tubuh Arya.


"Tuan Putri serahkan sisanya padaku, Falxus kuserahkan Putri Alalea padamu" kata Eudart segera dan langsung menghilang dari tatapan mereka.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Setelah tiba kembali di Mediopolis, suasana sudah sangat kacau. Banyak mayat bergelimpangan, tapi tentu saja kebanyakan itu adalah mayat para Vampir, semua orang terlihat berduka atas kehilangan mereka. Tapi semua perasaan sedih itu tiba-tiba berubah menjadi cemas saat tiba-tiba Eudart muncul sambil membawa Arya.


Eudart tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya, ia segera menghadap ke Diana dengan wajah serius.


"Aku butuh bantuanmu, kalau tidak kita akan kehilangannya"


Diana langsung bangkit dari singgasananya sambil memberi perintah "Bawa dia, panggilkan semua tabib terbaik kerajaan. Dan siapkan Reliquia milikku"


Arya segera dibawa ke sebuah ruangan di dalam istana yang bernama Sala de Generación, tempat pemulihan terbaik ras Elf. Alalea yang baru saja tiba segera menuju kesana untuk membantu tapi dihalangi ibu dan neneknya.


"Alalea, kemampuanmu yang sekarang tidak akan membantu. Tenangkan dirimu dan serahkan semua ini padaku" ujar Diana lembut sambil melangkah menuju ruangan tersebut.

__ADS_1


Alalea masih menangis, dia terus menangis didekapan Azalea sambil berkata "Ini semua salahku! Ini semua salahku!"


__ADS_2