
Hitungan detik, salah satu Warlock terkuat ras Witch menghilang. Aura kegelapan bak langit malam melumuri tubuhnya, dia muncul kembali tepat di tengah arena. Tangannya mengisyaratkan Arya tuk turun ke sana, jika tidak. Ia akan tau akibatnya.
Tanpa banyak orang sadari, senyuman tipis menghiasi wajah si bocah berambut putih. Ketika hendak berjalan, Ryan menangkap tangannya. Ekspresi ketakutan juga wajah pucat seperti susu basi menatap balik Arya.
‘KAU GILA!?’ ucapnya tanpa suara.
“Mungkin, hehehe” bisik Arya santai.
Kibaran jubah seragam Divina Academy milknya mencuri perhatian semua mata, beberapa orang yang mengenalinya tentu saja terkejut. Termasuk Merlin dan Morgiana, sebab keduanya tau betapa berbahayanya kondisi saat ini.
“Aku tak mengerti isi pikirannya”
“Siapa perduli? Ayo tampilkan pertunjukkan menarik untuk kami, siapa sangka kembali ke Magihavoc benar – benar keputusan tepat” Friska tergelak senang mendengar kata – kata heran teman masa kecilnya tersebut.
Sementara itu, terjadi diskusi hangat pada meja Penyihir Agung. Ketiga tamu bertanya – tanya dalam hati mengenai identitas anak tidak waras di sana, sebab menganggu pertarungan adalah suatu penghinaan. Apa lagi jika dilakukan oleh tuan rumah.
“Vrivana Payne? Kau mau diam saja? Muridmu bisa celaka lho, hohoho” pria ringkih ketua Wonder Invocation melirik gadis berpakian serba hitam. Namanya adalah Deviar Udafarihm, beliau merupakan pemegang gelar Shaman terbaik sejak lima puluh tahun lalu hingga sekarang.
“Buka matamu baik – baik pak tua pikun, jelas – jelas dia murid sekolah ini. Untuk apa orang – orangku duduk dibangku penonton” jawab perempuan tadi ketus.
“Apa anda ingin menjelaskan sesuatu? Professor Iruphior?” laki – laki berambut cokelat bertanya ragu kepada sang Kepala Sekolah.
“Hmm? Menurutmu aku menyembunyikan hal penting Aluxium?”
“Aku tidak bermaksud kurang sopan, namun setiap dirimu tertarik. Sekilas terlihat kilatan cahaya dimatamu” ujar Aluxium Ulzegrus sang pemimpin Evil Destroyer.
“Hahaha....aku cuma bisa bilang anak itu punya potensi melebihi Merlin”
“HAH?!” langsung saja mata mereka manatap tajam Iruphior.
“Kawanku, leluconmu tidak lucu sama sekali” Deviar memandang remeh.
“Silahkan kalau kalian anggap aku berbohong, tetapi ingat. Aku sudah memperingatkan lho, sebaiknya awasi baik – baik dia kalau tidak ingin menyesal ketika turnamen dimulai. Kuharap Kepala Sekolah Lefay jangan terlalu keras padanya” gumam Ilzaxar Iruphior mengetukan jari berirama ke lengan kursi miliknya.
------><------
Rhilore Lefay menghentak – hentakkan kaki tidak sabaran, dia benar – benar kesal kesempatan muridnya menjatuhkan mental seisi Divina Academy gagal dikarenakan bocah Necromancer ingusan. Begitu anak tersebut memasuki arena.
__ADS_1
Sang Warlock melesat kemudian melepaskan pukulan kuat yang dialirkan energi sihir, dampaknya dinding podium dibelakang Arya remuk hampir roboh dihantam aura hitam. Senyuman puas Rhilore Lefay tapi tak bertahan lama, karena ekspresi cuek pemuda dihadapannya.
“Fyuh! Tadi nyaris sekali” Arya membersihkan debu pada pundak jubah miliknya.
“Nak, berikan alasan masuk akal kau mengganggu duel barusan atau aku pastikan serangan berikutnya tak akan meleset dari kepalamu”
“Mmm? Tuan sungguh ingin aku membongkar perlakuan busuk sebelumnya? Kupikir semua orang yang memiliki mata bisa melihat hal itu”
“Jelaskan maksudmu” Rhilore mengangkat sebelah alis.
“Melemparkan debu? Pertarungan penyihir terhormat? Hehehe omong kosong, muridmu benar – benar lucu” kata Arya tersenyum diikuti tawa tertahan penonton sekitar.
Rhilore menyadari kesalahan telak mereka, ketika anak didiknya berusaha membalas sindiran halus Arya. Dia langsung bertindak cepat menahan, selesai mengakui memang ada tindakkan kotor waktu pertandingan. Pria berpakaian serba hitam ini berbalik ingin pergi.
“Kau tau? Anak seumurkupun tau jika berbuat salah harus melakukan apa?”
“Keparat! Tarik kembali kata – kata—“
“Lakukan” Rhilore berbisik tegas dan langsung dipatuhi oleh si murid.
Sierra terlihat takjub setelah anak itu menundukan kepala minta maaf kepadanya, siapapun mengetahui kenangkuhan para siswa lima akademi besar. Sebab mereka juga begitu, terlihat jelas kalau laki – laki tersebut mengepalkan tangan keras akibat kesal dan tidak terima atas perlakuan ini.
“Hah? Jangan bercanda! Memangnya aku berbuat kesalahan apa kepada ******** kecil sepertimu!”
“Ssstt! Bisakah kau diam mulut sampah? Ucapanmu dapat menyebabkan telinga semua hadirin berdarah, siapa juga bicara denganmu? Aku tengah memberikan pertanyaan untuk Tuan Lefay, atau anda lebih senang dipanggil sebagai Kepala Sekolah Holy Fist?”
Tekanan udara yang sudah mulai tenang kembali bergejolak, Rhilore Lefay menoleh. Matanya seakan siap mencabik – cabik tubuh Arya, tetapi sang target masih dapat memasang senyuman terbaiknya.
“Nak? Kau ingin mati muda? Kusarankan nikmatilah hidup terlebih dahulu” genggaman tangan pria tersebut megeluarkan aura mengerikan.
“Kau membuatku turun kemari karena menolong teman sekolahku, bukankah aku layak mendapat maaf darimu?”
“Kita lihat apa kau memang pantas”
“Berhenti mengigau, aku mana bisa menang melawan seorang Penyihir Agung” ujar Arya mengangkat kedua bahu.
“Lalu?”
__ADS_1
“Mari bertaruh”
------><------
“Pfft...!? Aku akui kalau dia benar – benar gila! Tapi wajah cemasmu sungguh lucu Arietta! Hahaha!!!” Ward Mock berusaha sekuat tenaga menahan gelak tawa.
“Berisik!”
Arietta Brevil memang tidak bisa tenang, jantungnya terus berdetak lebih cepat setiap murid nekatnya itu memprovokasi perwakilan Evil Destroyer. Apalagi setelah anak tersebut mengajukan pertaruhan tak masuk akal lainnya kepada Rhilore Lefay.
Karena jika bertarung secara langsung melawan Kepala Sekolah akademi Warlock berkemampuan tinggi dirinya memiliki kesempatan menang nol persen, Arya menawarkan bagaimana kalau beliau digantikan oleh muridnya.
Yaitu Witch pria yang menjadi lawan Sierra sebelumnya, tanpa pikir panjang. Si murid meyanggupi dan memohon pada Rhilore tuk setuju, nampak jelas kalau dia punya dendam juga niat buruk kepada Arya.
Setelah resmi, Rhilore ingin jika Arya kalah. Maka dirinya berhak melakukan apapun demi membuat jera bocah kurang ajar itu, tapi jika malah Arya menang. Ia meminta Rhilore meminta maaf sambil menempelkan kepala di lantai.
Mendengar kedua pihak sudah sama – sama sepakat, Arietta tidak bisa duduk santai lagi. Sebab bisa saja ini menjadi kali terakhir dia bertemu dengan murid kesayangannya.
“Tenanglah Arietta, pertandingan hampir dimulai” Mascia menghentikan gerak gelisah rekannya.
Di arena, Arya dan musuhnya saling berhadapan. Seringai sangar memuakan ditunjukan oleh sang murid Evil Destroyer, sembari menggemertakan buku – buku jari, ia berjalan semakin mendekat.
“Akan kuberi kau pelajaran bocah tengik!”
“Mohon bimbingannya senior” Arya memberi salam sopan.
“Necromancer bertubuh lembek sepertimu bisa apa hah!?”
Pertarungan berakhir dalam hitungan detik, pukulan kencang pria bongsor tadi ditahan menggunakan sebelah tangan oleh Arya.
“Tetetete, aku mampu melakukan ini”
BUAKH! KRAKK!
“ARGGH!!!”
Arya balik memukul genggaman tangan musuhnya, langsung saja terdengar suara tulang remuk diikuti jeritan sendu seperti hewan terluka. Arya berputar di tempat sebelum mendaratkan sepakan keras pada leher anak tersebut membuat dirinya terbang melayang keluar arena.
Suasana lokasi senyap seketika, Arya melangkah menuju pinggir kemudian menggandeng tangan Sierra. Dia mengankat tangan gadis itu tinggi – tinggi seperti mengumumkan pemenang, tepuk tangan meriah meledak saat mereka berada di tengah arena.
__ADS_1
“Ada yang ingin anda katakan? Tuan?” tagih Arya menatap tempat duduk para Penyihir Agung.