Elementalist

Elementalist
Chapter 49 - Mole Pathway


__ADS_3

"Pak tua sialan itu....?!" geram Arya kesal sambil terus berlari pada gang-gang Underground Paradise dengan Lexa yang mengekor dibelakangnya.


Lexa bersiul pelan setelah melihat pemandangan yang ada dibelakangnya.


"Aru? Ini hanya perasaanku saja atau....mereka memang bertambah banyak?"


"Aku harap itu hanya perasaanmu saja, ayo! Kita harus cepat keluar dari sini, kalau tidak kita bisa semakin terperangkap"


Mereka berdua lalu menambah kecepatan lajunya, suasana hati Arya saat ini begitu buruk. Dia tidak menyangka beberapa saat setelah dirinya dan Lexa keluar dari kastil Vermaand, salah seorang istrinya keluar dan meneriaki mereka pencuri sambil menunjuk ke arah Arya dan Lexa.


Segera saja tanpa pikir panjang para penjaga langsung memburu mereka berdua, hal itulah yang membuat mereka berada disituasi sulit begini.


"Harusnya kalau dia memang tidak mau memberikannya ya bilang saja!" Arya mendengus dengan tatapan waspada kesekitarnya.


Para penjaga dengan perlahan tapi pasti sudah mulai mengepung mereka dari kedua sisi gang yang berbeda.


"Eh...??? Tapi jika dia tidak memberikannya aku tidak bisa menemukan hamster milikku" Lexa mengembungkan pipinya pertanda agak kurang setuju dengan kata-kata Arya barusan.


"Ya....maksudku adalah dia tidak perlu bertingkah seolah-olah menjadi seorang nice guy seperti itu, dia hanya perlu mengatakan tidak. Maka kita akan mencari cara lain untuk mendapatkan apa yang kita cari, tidak perlu menjadi buronan seperti ini"


"Ahh....aku sepertinya mengerti maksudmu"


Suara teriakan para pengejar mereka semakin terdengar jelas memenuhi udara.


"Persimpangan jalan didepan kita belok kanan" peringat Arya.


"Hah....? Apa?"


"Kanan! Karena arah satunya lagi jalan buntu!"


"Oke! Jangan belok ke kanan karena itu jalan buntu, berarti ke kiri"


"Hah....akhirnya—Eh?! Tunggu dulu, aku bilang—"


Belum sempat Arya menghentikannya, Lexa sudah berlari ke arah kiri. Mereka kedua berbelok ke arah yang berbeda. Seketika wajah Arya seperti orang yang baru saja tersambar petir, ia lalu dengan sekuat tenaga mengerem dan langsung berbalik arah untuk menyusul Lexa.


"LEXA....?!!!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Astaga....dosa apa yang telah kuperbuat....kenapa bisa jadi seperti ini sih?" gumam Arya lelah.


"Hmm Aru? Bukankah kau yang menyuruh untuk belok kiri? Kenapa terlihat kecewa seperti itu?" tanya Lexa dengan tampang tidak berdosa.


"Aku bilang belok ke kanan karena arah satunya lagi jalan buntuuu....." jawab Arya menahan amarah sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Dikejauhan mereka sudah bisa melihat ujung dari gang tersebut, sebuah dinding tinggi yang berdiri dengan kokoh menghalangi jalan mereka.


"Apa kau ada ide agar kita bisa keluar dari situasi buruk ini?!" lirik Arya hampa kepada Lexa.


"Mmm....bagaimana kalau kita menggunakan peta itu" saran Lexa.


"Bingo!" seru Arya sambil menepuk kedua tanganya.


Mereka masih memiliki harapan untuk terbebas dari keadaan genting ini, dengan terburu-buru Arya mengeluarkan peta yang mereka dapat dari Vermaand. Harapan untuk lolos dari situasi buruk itu segera menguap kembali setelah Arya melihat sekilas isi dari perta tersebut.


"Apa-apaan ini?!" Arya menggeleng tidak percaya.


"Hm? Ada apa?" balas Lexa sambil melirik isi peta.


Isi dari peta tersebut dipenuhi oleh jalan-jalan rumit yang bahkan tidak pernah keduanya lihat di Underground Paradise. Pada titik-titik tertentu pada peta tersebut ada angka-angka yang mungkin dimaksudkan sebagai penanda.



"Bagaimana mungkin kita bisa membaca peta ini kalau kita bahkan tidak tau dimana kita berada?!" omel Arya gusar.


"Apa menurutmu Raja menipu kita?"


"Seharusnya itu mustahil, karena dengan jelas isi kotak itu hanya ada peta ini. Dan kalaupun memang benar-benar palsu, dia tidak akan repot-repot membuat penjaga memburu kita seperti sekarang"


"Lalu....apa yang harus kita lakukan?"


"Pertama-tama kita harus mengurus yang ada dibelakang kita" jawab Arya tegas sambil berbalik dan meraih gagang Mandalika.


Gerombolan penjaga sedang berlari ke arah mereka dengan senjata terangkat, tepat ketika jarak mereka semakin dekat. Sebuah benda yang terlihat dan seukuran bola kasti jatuh dari atas, semua orang menatap benda itu dengan heran.


Tiba-tiba benda itu terbuka sambil mengeluarkan suara nyaring, asap tebal langung memenuhi gang tersebut. Membuat jarak pandang semua orang terganggu, dengan tanggap Arya dan Lexa langsung menutup hidung mereka dengan jubah.


"Bom asap?" ujar Arya bingung.


Beberapa saat kemudian muncul enam sosok yang memunggungi mereka berdua, Arya dan Lexa saling melirik satu sama lain dengan tidak percaya.


"Kalian? Apa yang kalian lakukan disini?!"


Gill, Rose, Lam, Lim, Karam, dan Zakam secara mengejutkan berdiri disana seolah-olah melindungi Arya dan Lexa.


"Awalnya kami berkeliaran disekitar sini karena berharap kalian akan mentraktir kami setelah mendapatkan hadiah dari Raja" Gill menjelaskan.


"Tapi sepertinya situasinya tidak memungkinkan" tambah Karam.


"Bagaimana menurut kalian dengan bom buatan kami?" tanya Lam dan Lim bersemangat.


"Pergilah, kami akan menahan mereka disini" bisik Rose santai.


"Apa kalian nanti tidak apa-apa? Kami tidak ingin membuat kalian semua dalam masalah" Arya masih terlihat ragu.


"Tenang saja, tapi sebelum itu. Axel?" Rose kemudian mendekati Arya dengan cepat.


"I..I..iya?"

__ADS_1


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Eee....tentu, jika aku sanggup memenuhinya. Kenapa tidak?"


"Tolong....elus kepalaku" kata Rose girang sambil menyodorkan kepalanya.


"Hah?—"


"Sudahlah! Lakukan saja!"


Arya melakukan seperti yang dia minta, setelah itu Rose segera berbalik dan dengan penuh semangat berteriak sambil menerjang para penjaga.


"Yosh....dengan begini aku akan semakin semangat! Bersiaplah kalian para kuaci berzirah!"


"Apa benar hanya karena elusan kepala bisa menjadi semangat seperti itu?" ujar Arya bingung.


"Hmmm...." Lexa melirik Arya dengan tatapan aneh, lalu secara tiba-tiba mencubit lengan Arya.


"Aw?! Apa yang kau lakukan?!" seru Arya kaget.


"Eh? Maafkan aku hehehe, aku juga tidak tau. Tapi entah mengapa aku tiba-tiba ingin sekali mencubitmu" balas Lexa sambil terkekeh polos.


"AP—"


Baru saja Arya ingin meledak, secara tidak terduga ada seseorang yang melemparkan sebuah kerikil ke arahnya. Ia menangkap batu kecil tersebut sambil menoleh ke arah kerikil itu berasal. Ternyata ada sebuah celah yang sangat kecil pada dinding sehingga jika tidak terlalu diperhatikan maka tidak akan terlihat.


"Psst?! Hey! Kemarilah kak"


"Kaukan....anak yang waktu itu" kata Arya dengan mata melebar.


"Syukurlah kakak masih mengingatku, ayo kemari. Kita harus mengeluarkan kalian berdua dari sini"


Anak itu lalu segera menghilang kedalam celah sempit tersebut, tanpa diduga ternyata celah itu cukup besar untuk orang dewasa. Tapi memang untuk menyusup kedalam celah tersebut harus memiliki badan yang cukup ramping.


Mereka berhasil keluar ke jalan diseberang gang tempat kerusuhan terjadi, akhirnya Arya bisa bernapas dengan lega.


"Bagaimana kau bisa menemukan kami?"


"Poster buronan kalian sudah tersebar diseluruh kota, banyak orang yang mencari kalian. Tapi banyak juga yang mengajukan protes, mereka adalah para penggemar kalian saat pertandingan di Duo Battle Festival. Lalu aku mendengar kabar tentang keributan yang terjadi dan seperti prediksiku, kalian berada disana"


"Kau anak yang cerdas" puji Arya lembut membuat bocah itu tersipu malu.


"Aru? Siapa dia?" tanya Lexa bingung.


"Dia salah satu anak jalanan yang tinggal ditempat ini"


"Baiklah yang paling penting sekarang adalah bagaimana cara mengeluarkan kalian berdua dari tempat ini. Ayo! Akan aku antar kalian melalui jalan yang aman"


"Hei hei hei tunggu sebentar, siapa namamu dik?" Arya berusaha menenangkan bocah itu.


"Tin" sahutnya pelan.


"Baiklah Tin, aku berterimakasih karena kau ingin membantu kami. Tapi kami belum bisa pergi sekarang"


Arya melirik Lexa sebentar, ia mengangguk tanpa ragu untuk menunjukan dia tidak keberatan untuk memberitahu Tin.


"Kami sedang mencari sesuatu" tambah Arya.


"Hm? Kalau begitu....mungkin aku bisa membantu kalian" sambar Tin bersemangat.


Menurut Arya tidak ada salahnya untuk mencoba, kemudian ia menyodorkan peta itu kepada Tin sambil bertanya.


"Apa kau tau cara membaca peta ini?"


Mulut Tin menganga lebar setelah melihat isi peta itu, dengan terbata-bata ia menjawab.


"I..in..ini....peta Mole Pathway!?"


"Mole Pathway?" ulang Arya dan Lexa bersamaan.


"Itu adalah nama yang kami berikan untuk jalur pembuangan air yang ada dibawah Underground Paradise! Tapi ada beberapa jalan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya berdasar peta yang kakak bawa"


"Bisakah kau membawa kami kesana?" tanya Lexa dengan mata berbinar.


"Tentu saja! Ayo! Salah satu jalan masuknya tidak jauh dari sini" jawab Tin sambil tersenyum senang.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Mereka bertiga akhirnya tiba dipintu masuk Mole Pathway, pintu masuk ini diberi nomor 141 berdasar peta milik Arya dan Lexa menurut Tin. Jalan masuk itu berupa sebuah lubang yang tersembunyi dibawah salah satu tempat sampah berukuran jumbo.


Tanpa berlama-lama mereka segera memasuki lubang tersebut, Arya adalah orang yang masuk terakhir untuk memastikan lubang itu tersembunyi kembali. Didalam Mole Pathway mereka disambut oleh kegelapan yang membuat mereka bahkan tidak bisa melihat tubuh masing-masing.


"Ya ampun! Aku lupa untuk membawa alat penerangan!" seru Tin panik.


Suara aliran air menggema pada seluruh terowongan bawah tanah itu, Arya mengacungkan satu jarinya sambil dengan fokus berbisik.


"Brillante"


Sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari ujung jari telunjuk Arya, membuat Lexa dan Tin terkesiap karena mata mereka baru saja beradaptasi dengan kegelapan yang ada disana. Mata Tin melebar takjub melihat cahaya itu sementara Lexa menatap Arya sambil memiringkan kepala.


"Bagaimana cara kau melakukannya Aru?"


"Ini? Ini hanya sebuah teknik sederhana" balas Arya santai.


Padahal keringat dingin sudah membasai tengkuknya, orang yang baru mengetahui dirinya memiliki darah Elf hanyalah Rena. Dia belum memberitahu para Pengawas maupun teman-temannya yang lain, untungnya Lexa sepertinya menerima jawaban itu dan tidak bertanya lebih jauh lagi.


Ketiganya lalu melanjutkan perjalanan hingga pada akhirnya tiba disebuah titik dengan nomor 129 pada peta. Di peta terlihat sebuah jalan masuk keterowongan panjang yang mengarah langsung ke tengah-tengah Mole Pathway, yang mana menurut Arya itu adalah tempat dimana situs itu berada.


"Seperti yang aku bilang, ada beberapa jalan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Terutama terowongan panjang yang mengarah ke tengah ini" ujar Tin dengan wajah bersalah.

__ADS_1


"Lexa?" panggil Arya.


Lexa kemudian menempelkan tangannya pada dinding tersebut sambil memejamkan mata, beberapa saat kemudian dia berbicara dengan penuh keyakinan.


"Tidak salah lagi, ada sebuah terowongan lain dibalik dinding ini"


"Eh?!"


"Baiklah" celetuk Arya lalu berdiri sambil memegang Mandalika.


Dia mulai mengetuk-ngetuk dinding serta lantai yang ada disana menggunakan gagang Mandalika, setelah beberapa kali melakukannya. Akhirnya dia menemukan tempat dimana suara ketukannya terdengar berbeda, langsung saja dia menyodok bagian dinding tersebut dan membuat dinding itu bergeser menunjukan jalan rahasia yang ada dibaliknya.


"Bingo" serunya puas.


Arya dan Lexa segera memasuki jalan rahasia itu, sebelum pergi lebih jauh mereka berdua menoleh ke arah Tin.


"Aku sebenarnya ingin membawamu untuk pergi, tapi tempat yang kami tuju mungkin sangat berbahaya. Aku tidak ingin kau celaka, lagi pula kau mempunyai sesuatu yang berharga untuk dilindungi bukan?" tanya Arya sambil tersenyum.


Tin mengangguk sambil membalas senyuman Arya dengan tulus. Arya dan Lexa lalu melemparkan kantung uang milik mereka kepada Tin.


"Ambilah, kau lebih membutuhkannya. Kau juga boleh menyimpan peta itu, gunakanlah dengan baik. Segera kembali ke atas sebelum kau tidak bisa melihat jalan keluarnya, Dah....!"


"Kak!?" panggil Tin membuat langkah mereka berdua terhenti.


"Hmm?"


"Boleh aku tau....nama kalian yang sebenarnya?"


"Lexa Brown"


"Arya Frost, Elementalist generasi saat ini"


Tepat setelah Arya menjawab, dinding itu segera menutup dan kembali seperti semula. Tin langsung memanjat keluar melalui pintu masuk 129, dia mendengar keributan kota sambil tersenyum bangga karena telah mengetahui siapa panutan hidupnya.


Dia tidak pernah menyangka, kalau saat perang besar kelak. Akan berdiri pada barisan terdepan dibawah komando langsung sang idola.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya dan Lexa melanjutkan perjalanan mereka dalam diam, setelah mungkin sekitar dua jam menyusuri lorong tersebut akhirnya mereka melihat cahaya dikejauhan. Arya memang sudah menduga jarak yang dilewati akan cukup panjang karena pada peta juga terlihat seperti itu.


"Jalan keluar! Horeee!!!" seru Lexa sambil bergegas.


"Oi Lexa! Hati-hati! Kita tidak tau terowongan ini sudah berumur berapa tahun, kalau roboh bagaimana?" Arya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.


Tapi Lexa tidak memperdulikan perkataan Arya dan tetap melaju dengan kencang menuju jalan keluar. Langkah mereka berdua terhenti ketika melihat pemandangan yang menyambut mereka, sebuah padang luas membentang dihadapan Arya dan Lexa.


Tepat ditengahnya ada sebuah bangunan besar terbuat dari batu raksasa yang terlihat miring.



"Earth Temple" ucap mereka bersamaan.


Mereka berdua lalu bersorak gembira karena telah berhasil sampai ke tempat itu, Arya punya keyakinan kalau Elemental Beast milik Lexa memang ada disana.


"Mmm Aru? Apa ini hanya perasaanku saja atau memang tanah disini bergetar?" tanya Lexa.


Arya memang sedikit merasa ada yang aneh, seperti ada makhluk besar yang melangkah dan membuat tanah bergetar.


"Aku juga merasakannya tapi—"


Sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya, suara hentakan keras dibelakang mereka membuat keduanya terangkat dari tanah. Dengan perlahan mereka berdua menoleh sebelum berteriak sekuat tenaga.


"AAA....!???"


Sesosok Golem raksasa membalas teriakan mereka dengan raungan yang tidak kalah keras, Arya segera menarik lengan Lexa untuk menjauh dari jangkauan makhluk itu.



"Lari! Lari menuju Earth Temple sekarang!!!" perintah Arya.


Keduanya langsung melesat tanpa menoleh kebelakang sedikitpun, getaran pada tanah membuat mereka mengetahui kalau makhluk itu belum menyerah.


"Lexa...!? Perlambat makhluk itu!"


"Caranya?!"


"Terserah! Buat dia tersandung atau apapun itu! Yang penting dia tertahan"


Lexa lalu menghentakkan kakinya dengan kuat, sebuah tembok berukuran kecil muncul diantara kaki Golem tersebut. Tapi itu sudah lebih dari cukup, makhluk itu jatuh terjerembab dengan suara keras. Langsung saja Arya dengan sigap memerangkap makhluk itu dengan membuat beku tanah disekitar sana.


Mereka sampai dipintu masuk Earth Temple dengan napas terengah-engah.


"Makhluk itu....sudah tidak mengikuti kita lagi bukan?" tanya Lexa tersengal.


"Aku harap begitu" jawab Arya sambil bertopang pada lututnya.


Keduanya berusaha beristirahat sebentar untuk mengambil napas, Lexalah orang yang mengambil tindakan terlebih dahulu.


"Baiklah! Waktunya pergi!" ujarnya dengan Gnome yang sudah terpasang dilengan.



"Oi tunggu sebentar, sebaiknya kita jangan sampai terpisah" seru Arya cepat.


"Ahh....tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Dah....sampai ketemu didalam Aru" timpal Lexa cuek dan langsung menghilang dari pandangan


"Hei! Kita bahkan tidak tau ada perangkap atau ti—ohh....sudahlah lupakan" gumam Arya lelah.


Arya kemudian akhirnya masuk untuk menyusul Lexa beberapa menit kemudian, dia berjalan dengan hati-hati dan santai. Namun semua itu berubah ketika tiba-tiba suara teriakan histeris memenuhi udara.

__ADS_1


"KYAAAA!!!"


"LEXA...?!" panggil Arya panik.


__ADS_2