Elementalist

Elementalist
Chapter 65 - Vilhelm


__ADS_3

“Kalian bisa memanggilku Cornus, dan dia Spina” sambung perwakilan Glacirus tanpa memperdulikan Arya dan Selena yang masih memandang Novis dengan tatapan aneh.


Arya memang mengerti, kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya. Dia termasuk orang yang menjadikan kata – kata ini sebagai prinsip hidup, namun kenyataan didepan matanya ini terlalu sulit untuk dipercaya.


Saat pertama kali melihat Novis, mereka semua langsung tau kalau pria ini bukanlah orang sembarangan. Mengingat penampilanya yang unik juga mempengaruhi penilaian mereka kala itu.


Sedangkan dua anak kecil dihadapan Arya dan Selena sekarang bahkan tidak terlihat berbeda dengan anak – anak naga yang menyambut mereka waktu mendarat di tanah lapang dekat Dragon Sanctuary.


Menyadari hal ini, Cornus menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menghela napas.


“Baiklah, kalau kalian tidak percaya mau bagaimana lagi? Berusahalah agar tidak kehilangan kesadaran. Elder Tantrum!”


Udara disekeliling tiba – tiba bertambah berat, Agnet bertekanan tinggi memancar deras dari dalam tubuh bocah laki – laki itu. Tekanan tersebut diarahkan tepat menuju Arya dan Selena, kepala keduanya seakan mau pecah.


Otomatis Arya langsung menggengam telapak tangan Selena yang ada disebelahnya. Ditengah – tengah rasa sakit mereka, secara mengejutkan gelang Arya dan cincin Selena mengeluarkan cahaya terang.


Cahaya itu mengelilingi keduanya dan membuat kondisi mereka kembali seperti semula.


“Efbi?”


“Delphin?”


Arya dan Selena tidak menyadari kalau ternyata tekanan tersebut masih berlanjut diluar lingkaran cahaya yang memancar dari Elemental Beast milik keduanya. Novis terlihat mengerutkan dahi penuh konsentrasi untuk bertahan melalui teknik Elder Tantrum ini.


“Cukup!” Spina memperingatkan sambil memukul pundak Cornus.


“Apa kalian puas? Kalau masih belum aku bisa saja menunjukan wujud nagaku kepada kalian, tapi itu bisa membuat Dragon Sanctuary porak—ekh!?“


Cornus gagal menyelesaikan kata – katanya karena Spina sudah membelitkan ekor miliknya pada leher Cornus.


Arya serta Selena menyadari kesalahan mereka dan segera meminta maaf atas perilaku tidak sopan yang keduanya tunjukan, untungnya dua Tetua naga itu tidak ambil pusing dan langsung memaafkan perbuatan tersebut.


Novis bisa menarik napas lega ketika akhirnya teknik Elder Tantrum Cornus menghilang, dia tidak pernah menyangka akan menerima tekanan sekuat itu setelah baru saja mengantar para Elementalist menembus lubang dimensi.


“Novis tolong panggilkan dia kemari”


“Dia? Dia siapa?”


“Siapa lagi? Tentu saja sang Snow White Guardian” ekspresi Cornus menunjukan ketidaksabaran.


“Ahh...”


Novis segera pamit, dia melambai kepada Arya dan Selena sambil mengedipkan sebelah matanya. Tanpa lupa mengucapkan kalimat semoga beruntung, iapun menghilang. Cornus dan Spina saling memandang satu sama lain penuh arti sebelum mengangguk.


“Tuan Arya, Nona Selena, kami sudah mendengar banyak hal mengenai kalian berdua dari para Pengawas Ujian....”


Mereka menjelaskan kalau semua sepak terjang Arya dan kawan – kawan selalu disampaikan secara rutin oleh Kesepuluh Pengawas Ujian ke tempat ini. Agar para naga tidak tertinggal dengan perkembangan tuan – tuannya.


“Namun....dengan berat hati, kami harus mengambil keputusan....kalian tidak diizinkan untuk mengikuti ujian selanjutnya”


Mendengar hal itu, Arya merasa seolah – olah ada beban berat yang jatuh kedasar perutnya. Selena juga menunjukan raut wajah tidak jauh berbeda, keduanya begitu terkejut mendengar hal itu.

__ADS_1


“Kalian tidak sedang bercanda kan?”


“Tidak sama sekali”


“Kali—!“


“Bisa aku tau alasannya?” Arya segera memotong Selena yang terlihat hendak melakukan protes.


Cornus dan Spina memberitahukan kalau Arya beserta Selena tidak memenuhi persyaratan dari keduanya untuk mengikuti ujian selanjutnya.


“Karena?”


“Kami pikir memberitahukan alasan utama kalian tidak bisa mengikuti ujian hanya akan memberikan pengaruh buruk untuk perkembangan kedepannya”


“Jadi bisa aku ambil kesimpulan bahwa kami memiliki kekurangan yang sangat fatal untuk ujian kali ini” Arya menatap tajam.


“Benar sekali” sahut kedua Tetua naga itu serempak.


“Tolong beri kami waktu tambahan, aku berjanji pasti akan pantas mengikuti ujian kalian bagaimanapun caranya. Kami tidak bisa berhenti disini dan menghancurkan impian yang lain. Masa depan dunia ada ditangan kami bersepuluh”


Tetua Klan Glacirus dan Aquasix kemudian setuju untuk memberikan mereka waktu tambahan selama seminggu, jika dalam seminggu itu tidak menunjukan hasil. Keduanya akan dikirim kembali ke Elemental City.


Arya berterimakasih dan segera menyeret Selena pergi menuju kediaman yang diberikan untuk mereka tidak jauh dari tempat itu. Saat keduanya tiba di pintu masuk, mereka berpapasan dengan seorang pria.


Dia memiliki rambut biru sebahu yang diikat dengan pita hitam, mata mereka bertemu untuk sesaat. Waktu seakan berhenti sebentar ketika itu terjai, tapi karena sedang terburu – buru Arya menepikkan kejadian tersebut dari pikirannya.



Dia tidak bisa melihat apa – apa, hanya ada kegelapan dan rasa dingin disekitarnya. Ia ingin berteriak keras meminta tolong untuk dikeluarkan dari sana, tapi semua organ tubuhnya seolah – olah mengingatkan kalau dia harus menunggu.


Akhirnya penantian itu berbuah manis, kegelapan tersebut sirna. Wajah seorang gadis muda nan cantik menjadi pemandangan pertama yang dia lihat. Gadis tersebut mengangkat tubuh mungil lemah miliknya yang baru saja menetas.



“Kau terlihat menakjubkan, mulai sekarang kita akan bertualang bersama. Bagaimana menurutmu? Vilhelm?”


Sejak saat itu, Vilhelm menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi sang Tuan. Ia terbang menjelajah dunia bersamanya, bertarung melawan berbagai macam musuh, dan melewati segala rintangan yang menghadang.



Sampai suatu waktu, keduanya menyempatkan diri kembali ke tanah kelahiran Vilheilm. Para pemimpin tempat itu menceritakan mereka sebuah legenda, bukan hanya menceritakan. Mereka bahkan menunjukannya.


“Vilhelm? Aku yakin dia juga merasa kesepian, persis seperti yang kau rasakan dulu”


“Mungkin saja, tapi banyak yang percaya dia telah lama mati karena tidak pernah menunjukan reaksi sedikitpun. Orang – orang sudah menyerah melihat apa yang ada didalam” sahut Vilheim sambil berdiri disebelah tuannya.


“Tidak, aku sangat percaya dia masih hidup dan menunggu. Terus menunggu sampai saat ini”


“Kalau memang begitu aku merasa kasihan padanya, pasti berat menunggu entah berapa juta tahun lamanya”


“Iya, tapi aku tau. Waktunya akan segera tiba”

__ADS_1


“Mmm....Kenapa?”


Keduanya lalu bertaruh, jika sampai kelak Vilhelm benar – benar bisa melihat isi benda itu. Maka dia harus mengikuti semua perintah tuannya tanpa terkecuali, jika tidak. Maka tuannya akan melakukan hal yang sebailknya dari Vilhelm.


“Dia akan bangun dari tidur panjangnya, ketika putraku menginjakkan kaki di tempat ini” ujar Tuan Vilhelm sambil mengelus perutnya


“Lyan? Kau?—“


“Tuan Vilhelm!!!”


Lamunan Vilhelm buyar seketika, ia menoleh dan mendapati Novis dimuka pintu masuk kediamannya. Anak itu menyampaikan kalau Tetua sedang mencarinya, dengan malas Vilhelm bangun dan melambaikan tangan untuk mengusir Novis.


Novis segera pergi karena mendengar ada beberapa penjaga baru yang mencarinya, Vilhelm berjalan sendiri menuju tempat Tetua Klan. Saat dia hendak masuk, tiba – tiba dua anak manusia keluar dari tempat itu.


Entah mengapa dia merasa familiar dengan salah satu dari mereka, seorang bocah laki – laki dengan rambut berantakan. Ia masuk dan langsung menghadap Tetua Klan.


“Ada apa Tetua mencariku?”


Dia sedikit terkejut melihat Tetua Aquasix juga berada disana, ketika baru setengah mendengar penjelasan dari mereka berdua. Mata Vilhelm melebar, dia segera menoleh ke arah pintu keluar.


“Anak itu....” batinnya.


Tiba – tiba sebuah teriakan kencang merusak suasana, ternyata pelakunya adalah Novis yang terlihat sangat kelelahan. Dia masuk ke tempat ketiganya berada dengan keringat mengguyur deras.


“T...t....t..te...te....te”


“Ada apa Novis?” Cornus mengangkat sebelah alisnya.


“A....a....a....a....a...a”


“Apa?!” Cornus dan Spina membentaknya.


“Kalau bicara itu yang benar” Vilhelm menepuk punggungnya dengan keras.


“Ancient Egg!!!”


“Ada apa dengan Ancient Egg?!” wajah mereka bertiga berubah serius.


“Ancient Egg menunjukan reaksi!”


“APA?! KAPAN?!!”


“Tepat ketika para Elementalist menginjakan kaki di tempat ini”


 


Author Note :


Terimakasih atas segala dukungan kalian kepada Elementalist dan Author melalui like, bintang, komen, dan tipsnya. Dukungan kalian sangat berarti untuk kami, Thank you very much :)


__ADS_1


__ADS_2