
Arya dan Asuna sama – sama mengingat dengan jelas pernah melihat wajah pemuda itu di salah satu buku sejarah mereka, berdiri diantara deretan sembilan orang lainnya yang memiliki posisi sama tinggi. Pengalaman tersebut sangat membekas terutama bagi Arya sebab orang tersebut berdri tepat di sebelah Jack Frost.
“Bagaimana caramu membangkitkan Elementalist Angin dua generasi terdahulu....?” geram Arya murka.
“Berterimasihlah, aku berhasil membawa kembali True Elementalist yang telah hilang kepada umat Manuisa. Kata membangkitkan mungkin sedikit kurang tepat, aku hanya merekonstruksi tubuh serta sedikit ingatannya menggunakan sampel DNA.
Semuanya berjalan mulus akibat usaha pantang menyerah layaknya proses Thomas Alva Edison menciptakan bola lampu, seperti kata pepatah. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil” Louis tersenyum sombong sembari berkacak pinggang.
“Kau sebelumnya berkata ingin menghapuskan sistem Elementalist, namun sekarang malah membawa mereka pada pihakmu? Dasar munafik!” umpat Asuna kesal.
“Ayolah, aku memang berkata demikian. Tapi apakah kalian tak berpikir kalau membersihkan secara keseluruhan tergolong mubazir? Lagi pula Xavier juga Reiko adalah persiapan untuk menjadi kartu As bagi kami saat perang melawan ras – ras besar di luar sana”
“Keparat gila....”
Arya mengambil kuda – kuda siap menyerang, selang hitungan detik ia melakukannya suara keras terdengar cuma terpisah beberapa sentimeter dari lehernya. Sebuah senjata tajam berbentuk lingkaran melesat kembali menuju tangan Xavier.
“Mengapa kau menghalangiku perempuan sial?” tanyanya sinis.
“Jangan menyentuh milikku, urus gadis api satunya” Reiko menoleh dengan wajah polos.
“Kenapa kau pikir aku berkenan menurutimu?”
“Ohh kau harus....”
JGER.....!!?
Adu aura antara Xavier melawan Reiko mengakibatkan seluruh bangunan bergetar hebat, Louis menghela napas sebelum bergerak melerai mereka. Asuna melihat hal itu sebagai kesempatan mulai bersiap melepaskan pukulan, kobaran api melapisi genggaman tangannya.
Sayang belum sempat dia melepaskan serangan, Xavier melakukan gerakan mendorong. Hembusan angin teramat kencang menghantam Asuna hingga badannya terhempas dan menempel di dinding ruangan.
“Kyaaa....!?”
“Asuna?!—“
KRTAKK! KRRTAK! TRING....!!!
Langkah Arya terhenti akibat tembok kristal berbentuk lingkaran yang mengelilinginya, sementara Reiko berjingkrak – jingkrak mendekat santai sambil tersenyum lebar. “Kau tidak boleh berpaling dariku lho Onii-chan hihihi....”.
“Cih...!?”
------><------
Asuna menarik napas dalam – dalam kemudian berteriak keras, seketika hawa panas luar biasa meledak sekitar tubuhnya menyebabkan dinding di belakang punggungnya perlahan meleleh. Xavier segera menghentikan serangannya karena tidak ingin kebakaran semakin menyebar luar.
Begitu terlepas Asuna langsung maju bersiap menusukkan Amaterasu, Xavier melemparkan salah satu Chakram miliknya sembari memegangi erat yang lain. Asuna berhasil menepisnya dan terus melaju, tetapi memanfaatkan pengendalian anginnya Xavier membawa kembali benda tersebut demi mengincar tengkuk Asuna sedangkan dia menyerang dari depan.
Asuna menyadari hal ini lalu menancapkan ujung senjatanya ke lantai, pusaran api terbentuk terus bertambah cepat membumbung tinggi menyentuh langit – langit. Xavier berdecak kesal dan cepat – cepat mundur sejauh mungkin.
“Kau tipe perempuan temperamental ya? Pantas saja kalian tidak cocok....” ujar Xavier melirik pertarungan disebelahnya.
“Tutup mulutmu....!!!”
__ADS_1
Di lain sisi Arya sedang berusaha bertahan berbekal Mandalika atas ratusan lecutan Reiko, ternyata benda di tangan si gadis berambut merah muda bukanlah sebuah pedang biasa. Melainkan senjata unik yang dapat memanjang dan bergerak luwes kemana saja sehingga lebih mirip seperti cambuk.
“Maximum Sense....”
“Ohh...!?” Reiko mengerjap kagum.
Selesai mengaktifkan Maximum Sense Arya memilih berhenti menghalau serangan Reiko kemudian menghindari tiap pecutan cepat tadi, dia menutup mata sembari melangkah kesana kemari dengan tenang. Hebatnya tak satupun goresan berhasil mendarat pada tubuhnya, Reiko nampak menikmatinya jadi terus menambah kecepatan laju ayunan tangannya.
Namun tiba – tiba sosok Arya menghilang dari pandangannya, hawa kehadiran misterius menyebabkan Reiko sigap menoleh dan menemukan sang Elementalist Es siap mendaratkan serangan balasan. Tapi begitu melihat wajah Reiko, gambaran samar – samar Reika memanggil dirinya mengakibatkan Arya berhenti sesaat.
“Ugh...—akh...!?”
SYUU...!!! BUAKH...!!!
Waktu krusial itu lalu dimanfaatkan oleh salah satu Vanguard yaitu Eric untuk melemparkan sebuah kapak menuju Arya sampai pemuda tersebut terpental ke posisi semula, bukannya berterima kasih atau senang atas bantuan barusan sorot tatapan Reiko menjadi dingin.
Tanpa basa – basi ia balik mengarahkan cambuknya, para Vanguard lain langsung merespon cepat tuk menjauh. Sementara Eric kurang beruntung terkena telak hantaman Reiko sampai – sampai badannya melesak masuk beberapa meter menabrak dinding.
“Siapa yang mengizinkanmu ikut campur brengsek? Sekali lagi kau ulangi kuhancurkan kepalamu....” ancamnya sungguh – sungguh.
“Ekh...cuih!?”
“Wuahahaha rasakan! Dasar Viking sombong....” Gehrig tertawa mengejek.
“Sudah – sudah maafkan dia....Xavier? Reiko? Cepat selesaikan, kita tidak punya banyak waktu” perintah Louis.
Arya bersama Asuna terbaring berdekatan, keduanya menderita luka cukup berat ditambah kehabisan stamina usai melawan False Vanguard penjaga pintu masuk. Perlahan masing – masing tubuh mereka terangkat ke udara mengikuti gerakan tangan Xavier.
“M...ma...maaf...” ujar Asuna buru – buru menghentikan usahannya melepaskan diri.
“Tingkat Kekuatan Tahap Pertama....” suara Xavier maupun Reiko saling menyahut satu sama lain, dengan satu tangan tertuju ke arah depan.
“Bohong.....”
“Master!”
“Asuna...!?”
BUMMM....!!!
------><------
“Selesai?” Louis bertanya santai.
“Ahh...sepertinya....” sahut Xavier kemudian menguap terus berbalik.
Arya dan Asuna tergeletak berlumuran darah tak jauh dari posisi yang lain, siapa sangka Xavier bahkan Reiko telah menguasai Master. Padahal para Elementalist selain Arya belum pernah mencapai tahap itu.
“James? Aktifkan alat teleportasi....”
“Laksanakan....”
“Tunggu....sebentar....uhuk – uhuk!?”
__ADS_1
“Hmm...?”
Mereka semua menyaksikan Arya bersusah payah bangkit berdiri, jika bukan karena tindakan Reiko sebelumnya mungkin beberapa anggota Vanguard akan langsung menyerang untuk menghabisi musuh.
“Onii-chan....tidurlah, jika lebih dari ini kau bisa mati. Reiko tak mau membunuhmu sekarang” Reiko berkata lembut.
“Rei...ka...”
“Onii-chan....Reika telah—“
“Aku tidak perduli lagi....aku akan membawamu pulang meskipun harus menghancurkan seluruh tulang dalam tubuhmu....!!!”
Seekor serigala putih bertanduk muncul begitu saja dihadapan Arya, menatap lawan – lawan tuannya sambil menggeram. Matanya perlahan mengeluarkan cahaya terang, Arya mengangkat tangan kemudian menunjuk ke langit.
“Elemental Beast?”
“Wahai Jiwa yang Dirundung Penyesalan....Penuhi Panggilanku Demi Menghilangkan Rasa Bersalahmu....”
“Oi oi oi!? Kau bercanda!? Di umur segini dia mampu menguasainya!? Itulah alasan mengapa rata – rata jabatan Ketua Elementalist hampir selalu dipegang oleh mereka, para Elementalist Es memang monster....” seru Xavier bersiaga.
“Sebenarnya apa makna ucapannya?”
“Kalimat tadi bukan kata – kata biasa, melainkan Mantra pelepasan segel Elemental Beast untuk mengaktifkan puncak kemampuan fi—“
“Tingkat Kekuatan Tahap Kedua....Lord....!!!”
JDUAARRR....!?
Ledakan Agnet luar biasa menghancurkan seluruh bangunan markas utama tersebut, beruntung berkat pengetahuan Xavier. Dia juga Reiko berhasil menciptakan pelindung bagi sepuluh orang lainnya, dibalik kepulan asap terdapat siluet makhluk besar berdri gagah.
Wujud serigala sebelumnya benar – benar berubah, sekarang tingginya sekitar dua setengah meter dan sangat mengerikan. Bukan hanya dia, penampilan Arya yang berdiri dihadapannya ikut berganti. Sosok Asuna sekilas terlihat terlindung dibalik punggung mereka berdua.
“Hati – hati dia—“
ZINGG...!!!
Belum sempat Xavier menyelesaikan peringatannya, Arya dan Efbi sudah mengepung. Arya mengayunkan pedangnya sementara Efbi mengumpulkan energi sekitar mulutnya siap melepaskan tembakan hawa dingin.
“Horizon Splitter....”
BUMMM....!!!
- Two Diffrerent Sides Arc Status : Finish -
Author Note :
Update terakhir di tahun 2020, semoga keinginan dan cita - cita kalian segera tercapai. Mudah - mudahan 2021 nanti menjadi tahun yang lebih baik dari tahun - tahun sebelumnya. Happy New Year Fellas....!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1