
"ARGHHH....!"
Pria itu terus berteriak seperti orang gila sambil memeluk tubuh lemas yang ada dihadapannya, dia terus mengguncang-guncangkan tubuh tersebut untuk menjaga harapannya kalau ini semua belum berakhir.
Kemudiannya semuanya gelap, adeganpun berganti dimana pria tersebut sedang mencengkram leher seorang laki-laki lain dengan tangan kanannya. Laki-laki itu sampai terangkat dari tanah akibat cengkraman tersebut.
"Kau....monster!" umpat laki-laki itu dengan suara tercekik.
Wajah pria itu tidak terlihat, wajahnya gelap seperti tertutup rasa duka yang sangat dalam. Tetapi entah mengapa walaupun ekspresinya tidak dapat diketahui. Semua orang tau kalau dia sedang tersenyum bengis.
"Hehehe...hehehe...kau tidak pantas berbicara seperti itu. Demon"
Lalu secara tiba-tiba muncul bongkahan es raksasa dari dalam tubuh laki-laki tersebut, bongkahan es tersebut seperti muncul begitu saja dan membuat tubuh laki-laki itu hancur menjadi potongan-potongan kecil.
Darah merembes keseluruh tempat, ditengah suasana yang semakin kacau. Pria tersebut mengeluarkan suara tawa puas yang membuat semua orang yang mendengarnya pasti akan merinding.
"WAA....!!!" teriak Arya kencang.
Dia segera duduk dari posisinya yang berbaring, napasnya memburu seperti orang yang telah berlari mengelilingi Elemental City beberapa putaran. Secara perlahan ia pun memperhatikan seluruh tubuhhnya bergetar dengan hebat.
Arya menghela napas panjang sambil menutup wajahnya, kemudian dengan hati-hati ia membaringkan tubuhnya sekali lagi masih dengan wajah tertutup.
"Mimpikah? Ck! Ini buruk, aku mulai tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang kenyataan" keluhnya dengan kepala berdengung.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Tanpa Arya sadari ia kembali tertidur beberapa menit, namun tidurnya segera berakhir karena suara yang tiba-tiba terdengar seperti tepat dibisikan pada telinganya.
"Apa kau baik-baik saja Tuan? Kau berteriak kencang sekali"
Arya langsung terduduk kembali sambil masih mengusap-usap matanya.
"Mandalika?"
Betapa terkejutnya Arya saat tiba-tiba secara perlahan selimut yang dia kenakan memunculkan sebuah timbul, seperti ada sesuatu yang muncul entah dari mana dibawah selimutnya. Timbul itu semakin membesar sampai seukuran manusia dewasa.
Saat akhirnya selimut itu tersingkap, terlihat seorang wanita tanpa busana balik menatap Arya dengan senyuman manis diwajahnya.
"WAAA....!!! Mandalika apa yang kau lakukan?!" teriak Arya sama kencangnya dengan yang sebelumnya.
Dengan sigap ia menutupi tubuh Mandalika dengan selimutnya, Mandalika masih tersenyum santai tanpa terlihat peduli tentang penampilannya yang bisa membuat orang lain salah paham.
"Aku khawatir karena kau tiba-tiba teriak seperti itu" Mandalika merujuk pada respon Arya saat melihatnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak teriak kalau kau tiba-tiba berubah wujud seperti ini?! Lagipula kenapa kau tidak menggunakan sehelai benangpun pada tubuhmu?" protes Arya.
"Memunculkan pakaian butuh waktu dan energi yang lebih banyak, jadi aku—"
"Baiklah-baiklah aku mengerti, aku baik-baik saja jadi bisakah—"
Belum sempat Arya mengucapkan kata-kata yang ada dipikirannya, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Padahal dia sangat yakin telah mengunci pintu tersebut.
"Kapten kenapa kau berisik seka—"
Pertanyaan Timothy juga tersangkut ditenggorokan saat melihat pemandangan yang ada dihdapannya, dia terdiam beberapa saat seakan-akan mencerna apa yang sedang terjadi. Lalu dengan cepat ia menutup kembali pintu itu sambil berkata.
"Maaf telah mengganggu"
"Hei?! Tunggu sebentar ini bukan seperti—"
Seolah tidak memperdulikan Arya, langkah Timothy terdengar menjauh dengan cepat. Arya bisa mendengar sekilas dia meneriakan sebuah nama, mungkin memanggil tepatnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Arya segera menuju pintu.
Sebelum dia sampai ke depan pintu, tiba-tiba sudah ada tiga sosok yang berdiri tepat di depan kamarnya. Arya segera menutup celah pintu kamar dengan tubuhnya sendiri sambil menelan ludah dan mengumpat dalam hati.
"Ahaha....hai Asuna, Elizabeth, dan juga Rena. Ada perlu apa ya?" tanya Arya sambil dengan berhati-hati melangkah keluar kamar dan menutup pintu dibelakangnya.
"Apa yang dikatakan Timothy itu benar?" mulai Rena.
"Eee....t..te..tentang apa ya?"
"Bolehkah aku melihat-lihat kamarmu? Kak Arya?" tanya Elizabeth sambil tersenyum manis namun sambil memancarkan aura yang sangat gelap.
"I...i...itu agak....kamarku sebenarnya sedang sangat berantakan jadi—"
"Kau mau menyingkir dari situ atau kau lebih memilih hangus bersama pintu yang ada dibelakangmu?" ancam Asuna sinis dengan tangan terangkat.
"Wow....wow...tunggu sebentar! Dilarang menggunakan kekerasan. Lagipula kenapa kalian bisa masuk ke asrama laki-la—"
Ketiga perempuan mengerikan itu tidak memperdulikannya, dan dengan mudah berhasil menyingkirkan Arya dari depan pintu. Mereka memasuki kamarnya dengan mata haus darah.
"Berakhir sudah!!!" batin Arya.
Lamunannya tiba-tiba buyar karena ada seseorang yang mencolek bahunya. Mandalika sudah berada diluar kamar dan berdiri tepat disebelahnya, ia lalu menggenggam tangan Arya kemudian secara perlahan berubah wujud kembali menjadi sebuah katana yang ada digenggaman Arya.
Timothy berlari dengan tergopoh-gopoh menuju kamar sambil menanyakan bagaimana hasilnya.
"Tidak ada siapapun" jawab Asuna.
"Beraninya kau menuduh Kak Arya! Dasar besi karatan!" hina Elizabeth dengan pedas.
"Bercandamu tidak lucu, Timothy" timpal Rena cemberut.
"Bukannya begitu, aku sungguh melihat Kapten—"
Kata-kata Timothy terhenti karena Arya sudah menggenggam bahunya dengan sangat keras sambil memasang sebuah senyuman terbaiknya.
"Kau tau Timothy? Aku memiliki beberapa teknik baru yang ingin aku coba, aku butuh teman SEJATI seperti dirimu. Kau tentu bersedia membantuku bukan?"
"T...te..tentu kita teman sejati Kapten, tapi saat ini Kevin dan Zayn ada diruang latihan. Kau tidak ingin dengan mereka sa—"
__ADS_1
"Tidak, aku ingin mencobanya sekarang"
"TIDAKKK.....!!! TOLONG....SIAPAPUN, SELAMATKAN AKU....!!!"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Ugh....aku punya keyakinan kalau kau benar-benar ingin membunuhku tadi" ringis Timothy sambil berusaha bergerak dengan hati-hati.
"Untuk apa kau mengatakan hal yang sudah jelas seperti itu" balas Arya riang.
"Dasar kejam" gumam Timothy pelan.
"Bisakah kau berjalan lebih lebih cepat?"
"CARANYA?! Jangan berbicara seperti orang tidak berdosa seperti itu dong!"
Mereka berdua memasuki ruang latihan dengan hati-hati, agar teman-teman mereka yang sedang berlatih tidak merasa terganggu. Mereka mengenakan perlengkapan mereka sambil melanjutkan pembicaraan tadi.
"Sudah kubilangkan, wanita yang tadi itu adalah Mandalika" jelas Arya lelah.
"Jadi maksudmu? Wujud asli pedangmu itu adalah seorang wanita tanpa busana?"
Arya memukul kepala Timothy cukup keras agar dia jera, "Enak saja! Kau pikir isi kepalaku seperti dirimu?"
"Tapi aku masih heran kenapa Elemental Weapon milikmu bisa seperti itu Kapten" ujar Timothy sambil mengusap kepalanya.
"Hah?! Memangnya saat kau membuat kontrak dengan Ladon, kau tidak bertemu dengan wujudnya?" tanya Arya bingung.
"Tidak, aku hanya mendengar suara saja"
Mendengar hal itu Arya berpikir sejenak, apa tidak ada Elementalist selain dirinya yang bertemu dengan wujud sejati Elemental Weapon mereka. Walaupun dia sendiri belum sempat menanyakan langsung pada yang lainnya.
Sebenarnya Elemental Weapon yang paling mencuri perhatian adalah milik Arya dan Asuna, alasanya adalah karena Mandalika satu-satunya yang bisa berubah wujud ke bentuk sejatinya. Dia adalah satu-satunya Elemental Weapon yang bisa melakukan hal itu saat ini.
Sedangkan Amaterasu milik Asuna mencuri perhatian karena memiliki dua jenis mode, Asuna menggunakan sebuah bahan khusus dalam membuat Elemental Weapon miliknya sehingga hanya dengan sedikit perubahan suhu. Senjata itu dapat berubah bentuk.
Dari melee mode (rapier) menjadi range mode (longbow), Asuna hanya tinggal memanaskan tanganya dan senjata itu akan berubah sesuka hatinya. Menurut Arya pribadi senjata itu sangat menakjubkan dan memang paling tepat dengan cara bertarung Asuna sendiri.
Kevin bercerita kalau bahan yang digunakan Asuna itu sangat sulit dicari, mereka beberapa kali sampai harus turun ke kawah gunung berapi demi bahan itu. Saat Arya sedang asik berpikir, tiba-tiba ia merasa sesuatu menusuk punggungnya.
"Aku sudah lama ingin mencoba hal ini, ayo bertanding" tantang Asuna sambil menodongkan Amaterasu ke punggung Arya.
"Boleh saja, bagaimana kalau ini menjadi pengganti janji di Ujian Pertama itu" tawar Arya sambil berbalik.
Mendengar hal itu para Elementalist yang lainnya segera menghentikan aktivitas mereka, semuanya memberikan ruang untuk dua orang yang sudah siap bertarung ini.
"Ini akan menarik" desis Timothy bersemangat.
"Kalau sekarang....aku tidak bisa memprediksi hasilnya" komentar Kevin.
"Semangat Aru! Semangat Una!" teriak Lexa.
Keduanya berhadapan satu sama lain, Arya memulai serangan dengan menerjang Asuna. Senjata merekapun beradu, tepat sebelum Arya melancarkan serangan selanjutnya. Asuna segera membuat jarak dan mengubah Amaterasu menjadi range mode.
Asuna terus menembakan panahnya, jadi semakin Arya menjauh maka semakin banyak pula anak panah api yang akan mengejarnya. Karena semakin terpojok, Arya akhirnya melompat pada tembok dan mengayunkan pedangnya secara vertikal dari bawah keatas.
"Menarilah, Mandalika!"
Aura hitam biru menyelubungi Mandalika, pedang itu kemudian berubah wujud. Lalu saat diayunkan aura hitam biru itu membentuk sebuah tebasan seperti bulan sabit raksasa yang mengarah ke Asuna. Panah-panah Asuna segera dilahap tanpa sisa oleh aura tersebut.
"Fire Pillar"
Dengan susah payah Asuna menahan serangan itu, ia membuat sebuah tiang api untuk menahan aura tebasan dari Mandalika. Tanpa diduga kemudian ia membuat busur dari api pada tangan kirinya, Asuna lalu memasang Amaterasu dalam bentuk rapier sebagai anak panah busur tersebut.
Arya dengan santai mengangkat Mandalika diatas kepalanya bersiap untuk melepaskan serangan berikutnya.
"Amaterasu Strike!"
"Dance of three clover leaves"
Kedua serangan itupun dilepaskan, tapi tepat sebelum keduanya bertemu diudara. Mereka menghilang, digantikan sesosok pria yang dengan santai muncul disana sambil membersihkan tangannya.
"Sepertinya kalian berdua sedikit berlebihan, Tuan Arya, Nona Asuna" celetuk Astral.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Sudah kubilang lebih baik kita menghentikan mereka" kata Timothy sambil menggelengkan kepala.
"Bukannya kau yang paling bersemangat saat melihat mereka bertanding?" ujar Kevin menghela napas keheranan.
Arya dan Asuna segera mendekat kemudian meminta maaf kepada Astral, mereka berdua sadar kalau sepertinya mereka sedikit lepas kendali.
"Tidak apa, tapi lain kali tolong jangan menggunakan kekuatan yang bisa meruntuhkan tempat ini" saran Astral dengan senyuman tipis diwajahnya.
Astral lalu memberitahukan kepada Arya bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya, tentu Arya kebingungan. Seingatnya dia tidak memiliki janji dengan siapapun hari itu, kalaupun itu Pak Hartoso atau Reika. Mereka pasti akan menghubunginya terlebih dahulu.
"Sepertinya kau mempunyai sebuah teknik baru, kau pasti rajin berlatih"
"Lama tidak bertemu, Arya"
"Shu sensei!? Lee saboemnim?!"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Apa yang kalian berdua lakukan disini?!" ujar Arya keheranan.
Dia segera memberi hormat pada kedua guru bela dirinya itu, walaupun masih dengan wajah tidak percaya.
"Setidaknya kau masih memberi hormat pada gurumu, sepertinya kau masih mengetahui apa itu tata krama" komentar Shu tergelak.
__ADS_1
Pria yang berbicara ini adalah Akabane Shu, dia adalah pria berambut hitam sepinggang yang selalu membawa sebuah bokken (pedang kayu) kemanapun dia pergi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Pria satunya.
Jeremy Lee adalah kepala intruktur tempat Arya berlatih taekwondo, dia adalah pria botak yang selalu menunjukan senyum hangat diwajahnya.
"Baik, tapi....apa yang kalian berdua lakukan disini?" tanya Arya lagi.
"Apa Gio tidak pernah memberitahukannya padamu?" tanya Shu melempar pandangan bertanya pada Astral.
"Tentang Shu sensei dan Lee saboemnim? Seingatku tidak pernah"
"Berhenti berbicara formal seperti itu, kita tidak sedang berlatih. Kau cukup memanggil kami Master" saran Lee.
Shu lalu mendekat ke Astral dan merangkul lehernya dengan satu tangan.
"Apa sesusah itu memberitahukan padanya tentang aku dan Jerry?"
"Bukannya begitu, aku hanya belum sempat. Senior" sahut Astral tanpa ekspresi.
"Senior?! Maksudnya—"
"Benar sekali! Kami bertiga adalah saudara seperguruan. Tepatnya, murid dari ibumu"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Hah?! Berarti kalian berdua juga bisa menggunakan Agnet?" seru Arya tidak percaya.
Para Elementalist lainnya semakin tertarik dengan dua wajah baru yang ada dihadapan mereka, awalnya karena keduanya adalah guru dari Arya. Tapi setelah pernyataan mengejutkan itu mereka semakin memperhatikan.
"Tentu, apa kau pikir Pak Hartoso akan membiarkanmu dilatih oleh sembarang orang?" timpal Shu.
Benar juga pikir Arya, Pak Hartoso tidak mungkin hanya menyuruhnya dilatih dengan orang-orang biasa. Dengan tanpa latar belakang tertentu.
"Snow White Empress Lyan memiliki tiga orang murid Arya" jelas Lee.
"Dan Junior kami inilah yang dipilih olehnya sebagai Pengawas Ujian" tambah Shu sambil mengusap-usap kepala Astral.
Arya hanya terdiam sambil melongo, dia butuh waktu untuk mencerna hal ini. Namun tiba-tiba dari salah satu pintu terdengar teriakan marah.
"SHU?!"
"Ah....halo Bianc—"
Belum sempat Shu menjawab, Bianchi sudah memukul wajahnya hingga dia terpental ke ujung ruangan. Semua orang yang disana sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat hal itu.
"Apa-apaan ini?!" bentak Shu marah sambil mengusap pipinya.
Bianchi segera mendekat sambil menarik kerah bajunya.
"Kau masih berani bertanya?! Pasti kaukan yang mengajarkan teknik berbahaya itu pada Arya" hardik Bianchi kesal.
"Hah?! Teknik ap—"
"Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kau mengajarkan Kamaitachi pada Arya?"
"Kamaitachi?! Aku tidak pernah mengajarkannya" balas Shu dengan wajah bingung.
"Lalu yang dipertandingan Final itu apa?!"
"Eee....aku sebenarnya hanya menonton pertandingan pertama" gumam Shu pelan.
"HAH?! Guru macam apa kau ini?!"
"A..ak..aku percaya kalau dia pasti akan menang, jadi—"
Pertengkaran keduanya semakin menjadi-jadi, akhirnya Pengawas Astral menunjukan video pertandngan Final Ujian Elementalist Pertama di tempat itu. Setelah melihat video itu wajah Shu berubah menjadi serius.
"Arya, pasang kuda-kuda teknik itu seakarang!" perintahnya.
Arya tanpa membantah segera melakukan apa yang dia suruh, dengan sangat cepat Shu memukul beberapa titik bagian tubuh Arya.
"Teknik seperti ini pasti memberatkan tubuhmu, berapa kali batas penggunaanya?" tanya Shu cepat.
Arya cukup terkejut karena Shu bisa langsung mengetahui hal tersebut tanpa perlu diberitahukan terlebih dahulu.
"Tiga kali"
"Hah....sudah kuduga, teknik asal-asalan seperti ini. Walaupun memiliki dampak yang mirip pasti akan memberatkan"
"Apa maksudmu?! Teknik itu adalah milikmu bukan?!" tanya Bianchi kesal dengan alis terangkat.
"Maaf Pengawas Bianchi, tapi Master Shu memang tidak pernah mengajarkan teknik itu padaku" kata Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh?!"
"Tuh! Dengar? Apa kubilang, aku menyempurnakan teknik itu bertahun-tahun. Aku tidak mungkin mengajarkannya pada Arya secepat itu" seru Shu puas.
"Lalu? Bagaimana bisa?" tanya Bianchi semakin bingung.
"Eee....aku juga penasaran, bagaimana bisa kau membuat teknik yang mirip seperti Kamaitachi?" tambah Shu sambil menoleh pada Arya.
"Aku....aku pernah melihat Master menggunakannya"
"Tunggu sebentar...., bukanya aku hanya pernah menunjukan teknik itu sekali padamu?"
__ADS_1
"Iya" jawab Arya polos sambil mengangguk-angguk.
"B..be..berarti....BERARTI KAU MENIRU TEKNIK YANG AKU SEMPURNAKAN DALAM BERTAHUN-TAHUN HANYA DENGAN SEKALI LIHAT?!"