
Tubuh Arya perlahan mengeluarkan cahaya kebiruan teramat terang, auranya mulai bergejolak kesegala penjuru. Membuat semua orang sadar kalau dia akan menggunakan seluruh sisa tenaganya.
Selena menatap punggung laki – laki itu dengan tatapan cemas dan hanya bisa mendoakan semoga dirinya baik – baik saja, ia ingin berusaha membatalkan rencana ini tapi tak kuasa melakukannya setelah melihat betapa serius Arya.
Dia ingin berlari mendekati Arya kemudian memeluknya sekuat tenaga, tidak ingin orang itu terlepas lagi dari sisinya. Namun dalam kondisi sekarang pilihan yang dimiliki tidak banyak, berani maju menerjang segala resiko. Atau mundur sebagai seorang pengecut.
“Tenanglah” Arya tiba – tiba bicara seolah bisa membaca pikiran Selena.
“Eh?”
“Bukannya aku yang akan maju? Jadi mengapa malah jantungmu yang berdebar – debar hebat seperti itu?”
“Jantung?” ulang Selena bingung.
“Telingaku jadi sedikit lebih sensitif karena situasi sekarang, memang terdengar konyol tapi hanya rencana ini yang bisa kita lakukan. Jadi tolong, percayalah padaku. Kita berdua pasti lulus”
“Maaf, maaf karena meragukanmu”
Arya langsung melesat cepat diatas danau es, setiap langkah kakinya membuat es tersebut mencair secara perlahan. Selena menarik napas dalam – dalam sebelum menggerakan tangan untuk mengendalikan air disana.
Terebentuklah pusaran air yang terangkat ke udara dan menyelimuti seluruh bagian bawah tubuh Arya. Volume airnya semakin bertambah, kini semua pergerakan Arya berdasar pada pengendalian air Selena.
Si Elementalist air mengakhiri jurusnya dengan memukulkan telapak tangan ke pinggir danau sambil berbisik.
“The Push of Heirloom Wave” napas Selena mulai berat karena tidak memiliki sisa tenaga lagi.
Arya yang terbawa teknik ombak Selena sedang berada dalam kondisi konsentrasi maksimal, dia tidak berani menggerakan tangannya sedikitpun dari gagang Mandlika. Karena ia tau, hanya memiliki satu kesempatan saja.
Tidak boleh menyia – nyiakan perjuangan Selena, jika aku gagal. Maka berakhir sudah, itulah kata – kata yang terngiang dikepalanya sekarang. Vilhelm juga tidak diam saja, ia mulai melebarkan sayap kemudian mengepak – ngepakannya kencang.
“Eternal Blizzard!”
Efbi muncul disamping Arya kemudian mengeluarkan lolongan dasyat untuk menahan serangan tersebut, serigala kecil itu tidak akan membiarkan siapapun mengganggu tuannya. Bahkan jika lawannya seekor naga sekalipun.
Lolongan Efbi membuat sebuah pelindung tak kasat mata bagi Arya sehingga dirinya dapat bergerak leluasa, saat jarak antara dia dan Vilhelm hanya tersisa lima meter. Arya menarik pedangnya dengan luwes dan elegan sembari berkata.
“Third Dance; Dance of Five Waterfall Fairies”
------><------
Dipinggir sebuah danau berair jernih, terlihat seekor kadal raksasa bersayap sedang memperhatikan seorang gadis cantik berambut putih yang sedang memainkan pedangnya. Dia melakukan gerakan demi gerakan dengan begitu luar biasa.
Membuatnya terlihat seperti menari menggunakan pedang ditangan, gadis itu tertawa senang tanpa memperdulikan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Akhirnya ia menyarungkan pedang dan menghampiri sang naga.
“Bagaimana menurutmu? Bukankah aku semakin mahir” tak lupa si gadis mengelus pelan kepala naga tersebut dengan sayang.
“Berapa kalipun kau bertanya, jawabannya tetap sama. Tidak tau, naga tidak menggunakan pedang. Bagaimana mungkin aku bisa memberi komentar?”
__ADS_1
“Ohh....ayolah, kita pernah bertarung melawan beberapa ahli pedang. Tentu kau bisa membedakan yang hebat dan tidak” gadis itu mengembungkan kedua pipinya kesal.
“Tidak penting”
“Heh....kau ini membosankan sekali”
Gadis tersebut mulai menguap dan duduk bersandar pada tubuh sang naga, ia mengambil sebuah dahan kayu kecil kemudian menggunakannya sebagai kuas untuk menulis ditanah. Perlahan senandung pelan mulai terdengar dari mulutnya.
Sang naga memejamkan mata, berharap semoga waktu berhenti. Dan ketenangan ini bertahan selamanya, saat sudah selesai menggambar. Si gadis memetik sebuah bunga dekat situ, ia membolak – bolikannya sambil terlihat berpikir serius.
“Hey Vilhelm?”
“Mmm?”
“Apa menurutmu....ada sebuah teknik pedang yang bisa membuat satu ayunan terlihat lebih banyak?”
“Mana mungkin ada, dari siapa kau mendengar omong kosong itu?”
“Alex”
“Kau percaya perkataan Alex?” Vilhelm menatap heran.
“Ehehe awalnya sih tidak, tapi....”
Gadis itu menarik pedangnya sekali lagi sembari berjalan ke pinggir danau, Vilhelm melihat gambar ditanah dekat kakinya. Terdapat beberapa gambar gerakan tebasan pedang yang tidak dia mengerti, si naga mulai menggerutu melihat perilaku aneh tuannya.
Dia mulai bergerak cepat mengayunkan pedangnya, mata Vilhelm melebar seketika waktu menyadari untuk sesaat. Ada lima wujud tubuh gadis tersebut yang menyerang ke lima arah berbeda.
“Lyan? Itu?—“
“Lyan Frost Original Skill; Tarian Lima Kelopak Bunga Mawar” tuturnya pelan.
------><------
Ingatannya menghantam keras benak Vilhelm saat melihat sosok Arya yang seolah berubah menjadi lima, hal ini mengakibatkan reaksinya melambat untuk sepersekian detik. Lima tebasan dangkal mendarat pada tubuhnya.
“Kau terlalu naif jika berharap bisa melukaiku dengan ini”
“Tentu aku tau, tujuanku memang bukan untuk itu”
Vilhelm menoleh dan melihat tubuh Arya yang melayang sedang berusaha menggapai salah satu telur, ternyata jurus tadi hanya sebagai pengalihan agar dia dapat melewati penjagaan Vilhelm kemudian mencuri telur darinya.
'Telur yang mana!? Seingatku Selena bilang hanya ada satu telur disarangnya, kenapa disini banyak sekali!' batin Arya bimbang.
Memang dihadapanya terdapat sebuah sarang penuh dengan telur naga, ia tidak tau mana yang harus diambil. Semuanya terlihat sama dimatanya.
__ADS_1
'Ahh sudahlah! Serahkan sisanya pada takdir!'
Lalu Arya memutuskan memejamkan mata dan meraih telur mana saja, secara tak terduga. Tangannya melewati celah – celah antara telur disana kemudian mengenai butir yang berada dipaling dasar.
Tepat ketika kulitnya bersentuhan dengan cangkang telur tersebut, sebuah suara keras terdengar dibenak semua orang.
'AKHIRNYAA!!!'
Teriakannya begitu kencang sampai membuat kepala terasa mau pecah, untuk sesaat pandangan Arya mulai kabur bersamaan dengan kesadarannya. Ada dua suara mulai terdengar jelas, ia mengenali salah satunya.
“PAK TUA...!?”
“Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?”
“JANGAN BERBICARA SEOLAH PERDULI SEPERTI ITU! KAU HANYALAH SISA ENERGI SAJA!”
“Kau benar, aku hanya sisa energi. Tapi aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi, anggaplah aku mewakili tubuh asliku”
“BERHENTILAH BERSIKAP SOK AKRAB DENGANKU!”
“Hehehe kau tidak pernah berubah, aku senang bisa menyerahkan putriku pada tuanmu”
“DIA BUKAN TUANKU! DAN TIDAK AKAN PERNAH MENJADI TUANKU”
Ledakan Agnet besar muncul mendorong tubuh Arya terlempar tinggi ke udara, menggunakan seluruh sisa tenaganya ia berusaha mendekap kuat telur yang baru saja didapat. Perlahan tubuhnya mulai jatuh akibat tarikan gravitasi, matanya berkunang – kunang hebat.
“Apa itu tadi? Ugh....ini gawat, kesadaranku mulai....”
BYUR!
Arya jatuh ke dalam danau, tapi untungnya Vilhelm berhasil menangkap telur rampasan Arya sebelum menghantam permukaan air. Dia melayang ke tepi danau tempat Selena berada, Vilhelm meletakan telur digaris finis sebelum menoleh.
“Kalian lulus, selamatkan dia”
Mata Selena langsung berkaca – kaca, tanpa menunggu lebih lama lagi dia segera masuk ke dalam air. Tidak butuh waktu lama, ia berhasil menarik Arya keluar dari dalam danau. Cepat – cepat ia menempelkan telinganya didada Arya.
Wajah Selena memucat ketika menyadari Arya tidak bernapas, entah karena cemas atau apa. Gadis itu langsung menempelkan bibirnya dan memberikan napas buatan untuk Arya, sehingga membuat semua Elementalist perempuan berdiri dari tempat duduknya.
“I...i...in...ini...mimpikan? Aku pasti.....salah lihatkan?” dengan lemah Rena mulai terbata – bata.
Asuna membuka mulutnya namun tidak ada sepatah katapun yang mampu keluar, alisnya mulai berkedut – kedut. Ekpresinya menunjukan gabungan antara terkejut, heran dan juga kesal.
“SE....LE...NA....!!!” teriak Elizabeth bersama Lexa.
Author Note :
__ADS_1
Nice movement Selena ( ̄▽ ̄)ノ The First Volume of Civil War. Begins!