
Zapius Gerrow atau orang yang lebih dikenal oleh Arya dan teman – temannya sebagai Mr.Gerrow langsung memanggil putranya Ryan ketika kemiringan Elemental City semakin parah. Menurut perhitungannya beberapa menit kedepan jika dibiarkan saja maka akan terlambat mengambil tindakan.
“Nak? Pinjamkan aku Sky Estuary sebentar” katanya sembari menjulurkan tangan.
“Hah?! Ayah ingin melakukan apa?!”
“Tak ada waktu untuk menjelaskan! Cepat atau pulau melayang ini bakal terbalik kemudian menghempaskan seluruh penghuni di dalamnya!”
“Oke....” Ryan membalas ditengah teriakan panik orang – orang sekitar lokasi.
Begitu kulit tangan Zapius bersentuhan dengan tongkat berhiaskan permata berwarna biru tersebut energi sihir kuat sejenak menyapu dataran sekelilingnya sampai puluhan meter, mengakibatkan individu – individu yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap Agnet berdiri bulu kuduknya.
Zapius memejamkan mata sebentar demi mencari sesuatu, satu menit berselang ia bangkit karena telah berhasil menemukannya. Usai memerintahkan putranya agar tidak pergi kemana – mana Zapius berteleportasi tepat di samping seorang anak perempuan.
“HIYYY!??” teriaknya kaget.
“Putri Diondra?”
“Eh? Bukankah anda....Mr.Gerrow.....?”
“Benar, saya membutuhkan pertolongan demi menyelamatkan semuanya. Bersediakah Tuan Putri membantu?”
Mendengar ucapan barusan serta melihat tatapan serius pria paruh baya dihadapannya menyadarkan Diondra betapa gentingnya situasi sekarang, dia buru – buru mengangguk setuju. Zapius tersenyum sebelum menggapai lengannya kemudian berpindah lokasi lagi kali ini bersama – sama.
Diondra terkesiap ketika membuka mata sudah berada pada puncak menara tertinggi di Elemental City yang berdiri megah menghiasi pusat Distrik Emas. Zapius memanggilnya supaya mendekat sambil menusukkan Sky Estuary ke lantai, selesai laki – laki tersebut mengajukan permintaanya ekspresi sang putri Atlantos sungguh keheranan.
“Anda mau aku mengumpulkan Agnet sebanyak mungkin dengan memanfaatkan Vitisa?”
“Tepat sekali, Miracle Iris Catra merupakan Magical Tools peringkat paling atas. Tidak ada satupun orang mengetahui kapasitas penyimpanannya, bahkan hingga sekarang para peneliti berbagai ras setuju mereka tak memiliki batasan dalam menampung bahan bakar sihir.....”
“Lalu setelah itu?” Diondra masih berusaha mencerna informasi tadi.
“Alirkan semuanya kepada saya, semuanya akan saya gunakan sebagai pegangan untuk menstabilkan keseluruhan pulau melayang ini dan membuat seluruh penduduk tidak terlempar keluar....”
“HAH!? Anda yakin!? Tapi....bukankah jika salah sedikit maka tubuh anda—“
“Benar, meletup layaknya balon hehehe....” potong Zapius sembari tertawa santai.
Sewaktu Diondra hendak melayangkan protes lain, Zapius memberitahunya kalau mereka tak punya banyak kesempatan tuk berdebat sekarang sehingga mau tidak mau Diondra harus terpaksa setuju. Dia mengangkat payung tinggi – tinggi ke arah atas menggunakan tangan kanan sementara satunya lagi menempel pada bola kristal biru Sky Estuary yang dipegang Zapius.
“Mari kita mulai....”
__ADS_1
Sesuai aba – aba Zapius perlahan namun pasti Diondra menyerap seluruh energi semampunya dengan bantuan Vitisa. Jumlah Agnet melimpah mengalir deras memenuhi menara tempat keduanya berada, saat badan Diondra mulai bergetar akibat tekanan tinggi luapan kekuatan barusan.
Sebuah perasaan lega timbul akibat dari pengendalian luar biasa Zapius, seolah bendungan penahan sebelumnya menghilang kemudian membiarkan hasil serapan Diondra lewat begitu saja. Cahaya biru muda indah menyelimuti Elemental City, mulut Diondra melebar saking kagumnya.
‘Siapa sebenarnya orang ini?!’
------><------
Arya merasakan sensasi aneh sebentar lalu baru menyadari kalau tanah Elemental City kembali stabil, belum sempat mecari tau penyebabnya. Safira sudah terbang melewati dinding Distrik Emas dan menghampiri kerumunan tak jauh dari sana.
Nampak Hartoso, Aditya, Kemala, juga Lexa berkumpul di situ. Arya membantu Bintang untuk turun, kejadian berikutnya sangat mengharukan. Keluarga Nasution berhasil dipertemukan kembali, Aditya memeluk erat kedua perempuan paling berharga bagi dirinya tersebut seolah mereka dapat menghilang kapan saja.
Sementara Hartoso memberikan anggukan puas atas kerja bagus putra angkatnya, tapi yang paling mencuri perhatian Arya adalah Lexa yang tengah mengotak – atik alat komunikasi pada telinganya. Akhirnya dia memutuskan medekatinya untuk bertanya ada masalah apa.
“Kenapa kau kelihatan cemas begitu?”
“Arya? Tadi aku sempat terhubung dengan teman – teman tapi kehilangan sinyal! Kelihatanya ada suatu hal penting....” balasnya tergesa – gesa.
Arya meminta satu kemudian memakainya, berusaha mengotak – atiknya agar dapat digunakan. Ia jarang melihat Lexa terlihat tidak tenang dan menurutnya itu bukanlah pertanda baik. Namun ternyata dia juga cuma mendengar suara layaknya badai pasir.
“Tuan Elementalist....”
Ketika Arya baru mau memberi usulan, panggilan pelan membuatnya menoleh. Bintang ditemani Aditnya serta Kemala menghampirinya demi mengucapkan terima kasih maupun minta maaf telah merepotkan. Wanita tersebut menunduk penuh penghormatan, suami dan putrinya dibelakang menatap Arya dalam – dalam.
“Bibi? Kau tau aku tidak pernah bisa membencimu bukan?”
Tubuh Bintang tersentak kaget mendengar suara barusan, ia perlahan mengangkat kepalanya terus menemukan wajah pemuda paling dibencinya selama beberapa tahun terakhir muncul dari balik topeng Frost Knight.
“Arya....?” bisiknya dengan mata bekaca – kaca.
“Permisi....gelang ini....boleh untukku ya?”
Arya megambil peninggalan terakhir Amira lalu mengenakannya di pergelangan tangan. Dalam sepersekian detik entah mengapa dia merasa ada sebuah sentuhan hangat menggenggam erat dirinya. Arya tersenyum lembut kepada Bintang sebelum mengajak Lexa naik ke atas Safira kemudian melesat menuju angkasa, meninggalkan ibunda Amira membuang seluruh perasaan bersalahnya bersama keluarga miliknya.
“Apa tidak apa – apa membogkar identitas sekarang?”
“Kupikir, lagi pula Kemala sudah mengetahui siapa dirimukan?”
“Kalau begitu aku juga....” Lexa cepat – cepat melepas penutup wajahnya.
__ADS_1
‘SRRTTT....lo....ha....halo? Halo? Siapapun tolong jawab....’
“Zayn?” seru Arya bersyukur mendengar suara familiar tersebut.
‘Ohhh....Tuhan....akhirnya Kapten aku bisa menghubungimu....’
“Arya punyaku masih layaknya dengungan pasukan lebah marah biarkan aku mendeng—“
“SSSSTTTT....!? BERISIK!”
‘Ahhh maaf....’
“Bukan! Bukan! Bukan! Bukan kau Zayn, aku tengah ditempeli Lexa jadi....”
Diskusi mereka berlanjut, Arya berusaha menggali informasi sebanyak mungkin. Dari penjelasan Zayn Arya dapat mengambil kesimpulan kalau saat ini semua Elemetalist telah memiliki alat komunikasi namun ada semacam pengacau sinyal yang terkadang membuat koneksinya putus nyambung.
Arya mengingat keberadaan James pada pihak musuh lalu berpikir kemungkinan perangkat sesuai ciri – ciri demikian memang kemungkinannya ada. Oleh karena itu dia segera memerintahkan kelima makhluk panggilannya yaitu Giuliano, Percivale, Silvesta, Luisa, dan Zulqar untuk melacak benda tersebut.
Dia yakin dengan kemampuan sihir Silvesta mencari tau gelombang pengganggu begitu bukanlah hal sulit, dikala sedang berpikir Arya tersadar kalau ketinggian terbang Safira terus berubah – ubah. Namin sebelum ia sempat bertanya Zayn memberitahunya sesuatu.
‘Kapten? Kau tau ternayata lokasiku sangat dekat ledakan besar terakhir, untungnya semua baik – baik saja. Jadi usai mengamankan situasi aku memutuskan mencari tau sumber ledakan dan mampukah dirimu tebak apa yang kutemukan?’
“Pelakunya?”
‘Tidak, melainkan sebuah ruangan rahasia berisi semacam teknologi kuno berukuran raksasa....’
“Hah? Menurutmu benda apa itu?” tanya Arya penasaran.
‘Sepertinya....sih pendorong utama pulau ini supaya tetap melayang, tapi kondisinya sekarang sudah hancur berkeping – keping....mengingat kekuatan bomnya sangatlah dahsyat’
“Tunggu sebentar....jadi maksudmu....”
‘Huum, akupun tidak tau mengapa kondisi pulau bisa stabil tetapi yang jelas pemandanganku di depan tembok terluar sekarang adalah Elemental City sedang bergerak cepat bersiap menghempas permukaan bumi dalam hitungan menit....’
“APAAA....!?”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1