
Saat Arya dan kawan – kawan kembali ke Atlantos, mereka disambut layaknya pahlawan. Begitu pintu kota terbuka ratusan duyung menyambut penuh suka cita sembari mengelu – elukan nama kelimanya. Neptune bersama pasukan Fin Raider pun demikian, tetapi sang Raja entah mengapa selalu memaksa kedua putrinya agar tak terlalu jauh. Seperti orang yang takut kehilangan.
Hari itu seluruh kota mengadakan perayaan atas keberhasilan menang dalam perang melawan Faksi Lautan ras Werebeast. Dengan ini hubungan antara Atlantos dan Elemental City bertambah erat, bukan mustahil Neptune kelak mengirim bantuan ketika rumah para Manusia berada pada situasi genting.
Arya membiarkan rekan – rekannya menikmati waktu istirahat sebentar, jujur saja pertarungan beberapa kali terakhir kian memberat. Sehingga Arya mempunyai perasaan kurang nyaman, seolah tengah mencari sesuatu dikegelapan tanpa mengetahui sekitar sana makhluk mengerikan menunggu untuk menerkam.
Neptune mengajukan supaya kelima Elementalist menetap selama seminggu, namun ide tersebut ditolak mentah – mentah oleh Arya. Ia entah mengapa mau cepat – cepat pulang ke Elemental City, Arya sendiri bingung alasan dirinya begini. Firasatnya mengatakan akan ada suatu hal buruk terjadi sebentar lagi.
Waktu sang ketua menceritakan tentang masalahnya, Kevin, Selena, Elizabeth, dan Rena mengerti lalu setuju berangkat secepat mungkin. Berkat bantuan Ocean Eel Eater sebelumnya, si penghuni laut dalam ditawarkan bekerja sebagai tugangan Raja Neptune.
Tentu makhluk itu tidak menolak, lagi pula warga Atlantos pasti memperlakukannya dengan baik dan dia bisa membuat supaya tak terjadi bentrokan antara kaumnya melawan para manusia duyung. Ecuxor berterima kasih sungguh – sungguh kepada Arya karena semua hal barusan dapat terjadi akibat pengaruh miliknya.
“Aku merasa aneh mendapat ucapan terima kasih dari belut rakasasa macam dirimu, tapi syukurlah. Pokoknya terpenting kau tidak meminta korban dari kapal lewat lagi atau kupastikan kau menerima balasannya” Arya tertawa sembari mendelik, mengakibatkan tubuh Ocean Eeel Eater gemetar ketakutan.
Dia pergi setelah memberitahu rencana kepulangan mereka ke Neptune, melihat betapa seriusnya Arya. Meskipun enggan akhirnya ia merelakannya tanpa lupa berjanji suatu hari membalas budi atas bantuan para Elementalist.
“Aaa....jaga kesehatanmu pak tua....” ujar Arya berbalik sambil melambaikan tangan
“Tentu kau juga....aku mengawasimu....”
“Eh? Maksudnya?”
“Tidak, tidak ada. Selamat jalan, kami siap mengantarkan kalian esok hari.....”
“Dasar aneh....”
Saat kembali menuju kamar, Arya dikejutkan oleh dua gadis yang seakan menunggunya di depan pintu ruangan pribadinya. Diondra dan Edlyn bangkit melihat Arya akhirnya tiba, keduanya berkata ingin menyampaikan sesuatu.
Menyadari tatapan penuh tekad mereka, Arya mengizinkannya. Ketiganya masuk kedalam kamar Arya tuk berbicara, ekspresi Arya berubah – ubah selesai mendengarkan penjelasanan gila kakak beradik dihadapannya.
“Kalian yakin?” tanyanya mengangkat sebelah alis.
“Iya! Sangat!”
“Bagaimana pendapat Raja soal ini?”
Diondra serta Edlyn saling menatap satu sama lain sebelum meggeleng pelan, Arya menggaruk – garuk kepala lelah. Sudah ia duga kalau Neptune sampai tau pasti menggagalkan rencana dua anak perempuannya itu. Masing – masing putri kerajaan Atlantos duduk menunggu jawaban Arya.
“Hah....aku sih tidak keberatan, jika memang telah sepakat silahkan saja. Lagi pula ini masalah keluarga kalian....”
“Huum....terima kasih!” seru keduanya bersamaan kemudian memegang tangan Arya.
“Waaa!? Aaa....iya – iya terserah.....”
------><------
Neptune menatap kereta yang membawa para Elementalist kembali menuju pantai sungguh – sungguh, dia menugaskan Jagoon si Ponocheros kurir mengantarkan tamu kehormatanya tersebut. Para warga juga melambai penuh semangat hingga sosok transportasi pahlawan mereka tidak terlihat lagi.
Semua mulai kembali pada aktivitas masing – masing, Neptune memasuki ruang singgasananya ditemani Edlyn. Sang raja duduk lalu terdiam, merasakan ada sesuatu hal janggal dan aneh tetapi bingung mengenai apa. Sesudah mengingat – ingat sebentar barulah Neptune tersadar.
“Edlyn?”
__ADS_1
“Iya Ayahanda?”
“Dimana Diondra? Mengapa ia tak ikut mengantar—tidak mungkin!!!“
“Hehehehe....” Edlyn nyengir lebar tau kalau Ayahnya telah sadar.
“Ecuxor!? Kepala Pengawal!? Minta Fin Raider mengejar Jagoon!”
“Terlambat Ayah, mereka pasti sudah berteleportasi ke Elemental City.....”
Neptune mengumpat kesal, bagaimana mungkin dia bisa selengah tadi. Tidak, bukan itu penyebabnya. Neptune terlalu memperhatikan gerak – gerik Arya yang dicurigai bakal menimbulkan masalah seperti Elementalist Es terdahulu, tapi sekarang malah Diondra menghilang padahal bocah tersebut tak melakukan apa – apa.
“Sial! Sial! Sial! Persetan aku bakal pergi menjemputnya sendiri!”
“Ayah? Tidak bisakah kita mendukung impian kakak?”
“Impian kau bilang!?”
“Iya, kak Diondra ingin melihat permukaan....” jawab Edlyn serius.
“Kamu tidak paham Edlyn, diluar sana sangat berbaha—“
“Ayah tau selama bersama Arya dan para Elementalist kakak seratus persen aman bukan? Lagi pula aku disini siap menerima seluruh tanggung jawab milik kakak....”
“Ugh....hah....ck!? Kenapa kalian mengikuti sikap keras kepala Myra sih...?” Neptune bergumam sembari memijit – mijit keningnya putus asa.
“Ahahaha karena beliau adalah ibu kami....hihihi.....” balas Edlyn tersenyum lebar.
------><------
“Baik, tolong bukakan portal pada koordinat yang telah ditentukan.....” Kevin segera mengirim pesan melalui alat komunikasi.
“Arya? Sebenarnya kita menunggu apa?” celetuk Selena penasaran.
“Hmm? Ahh...maaf belum memberitahu kalian, aku lupa....”
“Tentang?”
BYURRR!
“Teman – teman!?”
Suara percikan air membuat semuanya menoleh, seorang gadis berambut ribu berjalan keluar dari air. Ketika yang lain masih terpana, Arya mendekatinya kemudian memberi handuk untuk mengeringkan diri.
“PUTRI DIONDRA!?”
“Ehehehe....”
Keempat Elementalist diam seribu bahasa tidak mampu berkata – kata, Diondra mulai menjelaskan alasannya berada disana. Perubahan ekspresi wajah pada Selena, Rena, dan Elizabeth membuat Arya menelan ludah berat. Saat berusaha kabur, kerah pakaiannya ditangkap terus diseret menjauh.
__ADS_1
“WAAA!!!”
BRUAK!
Tiga gadis barusan menyudutkannya di batu karang sambil menodongkan senjata masing – masing. Arya mengangkat tangan tanda menyerah, tatapan mereka begitu dingin serta menghina sehingga Arya memilih diam takut salah berucap.
“Kau ingin mengatakan sesuatu Tuan?”
“Apa?!”
“Kau masih bertanya!? Diondra ingin ikut pergi ke Elemental City dan kau tidak pernah memberitahu kami!?”
“Aku juga baru tau kemarin ketika mereka mendatangi kamar—“
“Diondra bersama Edlyn mengunjungi kamarmu?!!”
Diondra menatap bingung cekcok ketiga perempuan dengan Arya dikejauhan sambil menyentuh bibirnya. Kevin merasa kurang enak terus menyarankan mengapa mereka tidak menunggu dekat portal saja selama menanti perdebatan konyol itu.
“Mari Tuan Putri, jangan terlalu dihiarukan. Cobalah untuk terbiasa....ahahaha....”
“Apa kalian selalu begitu?”
“Tidak, hanya Kapten yang demikian....”
‘Bagaimana perasaanmu?’ desis Vitisa tiba – tiba dalam kepala Diondra.
‘Sangat bersemangat....’
‘Heh, syukurlah. Aku punya satu permintaan lagi Diondra....’
‘Emm?’
‘Sentuhkan aku kepadanya saat kau sempat....’
“Ahh.....”
“Anda baik – baik saja Putri?” Kevin menoleh heran mengapa Diondra bergumam sendiri.
“Eh? Tidak apa – apa hehehe.....”
Arya kembali sembari memasang muka lesu, telinganya terasa panas diceramahi oleh Rena, Selena, dan Elizabeth diwaktu bersamaan. Kedatangan mereka bertepatan dengan terbukanya portal, satu per satu mulai masuk ke sana. Menyisakan Arya bersama Diondra ditempat paling akhir, si pemuda berambut putih menjulurkan tangannya santai.
“Ayo.....satu langkah lagi mencapai impianmu....”
“Huum baiklah! Pangeran....” sahut Diondra tersenyum manis.
- Atlantos Arc Status : Finished -
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.