
“Huhuhu....hahaha....” Rhilore menutup wajah sambil berusaha menahan tawanya.
Keempat Kepala Sekolah lain meliriknya aneh, tetapi Vrivana Payne masih berdiri sejak kedatangan Arya. Dia masih belum percaya akan apa yang dilihatnya sewaktu kedatangan spektakuler bocah tersebut.
‘Aura gelap tadi....sebenarnya kekuatan seperti apa tersembunyi dibalik sikap santainya’
Pemimpin Holy Fist terus terkikik geli, tak mampu menahan diri tuk menunjukan luapan kesenangan atas kejadian di arena saat ini. Murid kesayangan serta salah satu orang paling berbakat dalam akademinya tengah menekan si kurang ajar.
“Mau sampai kapan kau begitu? Wibawamu bisa hilang lho” komentar Auluxium lelah.
“Hihihi....maaf hanya saja lihat! Perjuangan keras ia bertahan, dasar naif. Menerima usulan lawan tanpa berpikir terlebih dahulu. Huahaha aku tak sanggup lagi, perutku sakit hehehe....”
Deviar Udafarihm mengelus – elus janggutnya mengawasi pertandingan panco Arya melawan Daniel. Matanya kian lama makin menyipit, ada suatu hal aneh di sini baginya. Lalu akhirnya dia memutuskan membuka suara. “Kau begitu percaya diri, namun nyatanya menurutku keduanya cukup berimbang”.
“Teruslah mengoceh sepuasmu pak tua, tidak ada satupun orang mampu mengalahkan Daniel dalam pertarungan jarak dekat apalagi sudah bersentuhan kulit. Kalian tentu tau sendiri betapa mengerikannya sihir Life Drain bukan?” balas Rhilore Lefay menyisir rambut menggunakan tangannya.
KRETAK! KRUTAK! KRETEK! BRRTTT!!!!
“Apa!?”
Bersamaan dengan kata – katanya barusan, secara mengejutkan muncul banyak retakan menghiasi permukaan arena. Semuanya berasal dari pijakan Arya maupun Daniel, urat saraf berkedut kesal pada pelipis sang Penyihir Agung Class Warlock.
‘Bocah tengik itu.....dia sengaja mengulur – ulur waktu! Cepat selesaikan!!!’
Daniel yang masih terkejut akibat reaksi adu kekuatan barusan menyadari pandangan gurunya di atas podium. Sembari mengela napas ia memberikan anggukan mengerti, dan perlahan tapi pasti. Punggung tangan Arya terus mendekati meja batu.
Barulah Rhilore Lefay dapat bernapas normal kembali, yakin hanya tinggal masalah waktu sebelum tim perwakilan sekolahnya menang. Tapi suara tawa tertahan menyebabkan suasana hatinya lagi – lagi memburuk.
“Apa ada sesuatu ingin anda katakan? Kepala Sekolah Iruphior?”
“Ahh....maaf tak bermaksud mengganggumu saudara Lefay”
“Lalu?”
“Lihatlah baik – baik” pria tua itu menunjuk tenang ke arah adu panco.
Suara tarikan napas keras memenuhi udara, gerakan tangan Arya berhenti kurang dari lima sentimeter sebelum menyentuh permukaan batu. Kemudian yang membuat Rhilore kaget bukan main adalah ekspresi penuh tenaga Daniel berusaha menekan sekuat tenaga agar pertarungan segera berakhir.
“Apa kalian ingat ucapanku sebelumnya?” celetuk Iruphior.
“Heh?”
__ADS_1
“Bukankah telah kuperingatkan untuk berhati – hati? Karena dia mempunyai potensi melebihi Merlin”
“Omong kosong—“
“Lihatlah baik – baik Kepala Sekolah Lefay, saat di mana seorang Necromancer mampu mengalahkan Warlock dalam adu fisik dan juga.....melewati para Class Universal”
“Tidak mungkin....”
“Sama persis seperti impianmu....saudari Payne” Iruphior menekankan tegas.
Vrivana Payne berjalan semakin mendekati pinggir podium, dia memegang kuat pagar tempat berbentuk beranda tersebut hingga remuk. Ingatan pahit masa lalunya serta gertakan gurunya dulu kembali terngiang – ngiang.
‘Dasar anak bodoh! Murid tak tau diuntung! Mana ada kesempatan Necromancer dekil macam dirimu bisa mengalahkan orang – orang terpilih seperti Witch Universal!!! Bangunlah dari mimpi siang bolongmu!!! Terima ini!!!’
Tanpa sadar, telapak tangannya menyentuh luka hasil cambukkan yang tersembunyi dibalik jubah hitamnya. Perhatian penuh wanita itu terarah kepada Arya, layaknya seseorang ingin membuktikan sesuatu.
“Ayo perlihatkan padaku, betapa terangnya cahaya harapan redup tadi....” bisiknya lembut.
------><------
‘Siaallll....!!! Agnetku bisa terhisap hingga kering kalau begini terus’ umpat Arya menggertakan gigi kesa dalam diaml.
“Hehehe....padahal aku suka melihat wajah putus asamu, tetapi pria tua kurang sabaran di sana nampaknya tak senang menunggu lebih lama lagi. Mari akhiri” Daniel mengucapkan tadi pelan – pelan sehingga menambah kesan memuakan.
“Tidak secepat itu.....”
“Heeh....kau cukup hebat ya? Dapat bertahan sampai sekarang”
“Ugh.....” Arya memaksa seluruh otot lengan kanannya agar bertahan.
‘Oi? Arya?’
‘Hah? Ada apa?’
‘Biarkan aku yang menhadapinya’
‘Eh!? Tapi di sini terlalu ramai, kau tak bisa—‘
‘Sudah! Sudah! Serahkan kendali penuh padaku, akan ku selesaikan bahkan sebelum dirimu selesai mengoceh’
‘Tu....tunggu dulu! Safira—‘
“Game Over....eh?—Ekh....!!!” wajah sombong Daniel hilang karena sadar sekuat apapun ia mendorong, bunyi punggung tangan Arya menyentuh permukaan meja batu tak kunjung terdengar.
__ADS_1
“Jangan berlagak bocah tengik....” suara parau membuat bulu kuduknya berdiri.
Anak laki – laki berambut cokelat tersebut memekik pelan saat melihat wajah Arya, matanya telah berubah ganas bak hewan buas. Bukan cuma itu, cengkraman tangannya bertambah kuat berkali – kali lipat.
“Kau....sebenarnya ap—“
“BERANI SEKALI DIRIMU MENCURI TENAGA TUANKU DASAR TUKANG SIHIR SAMPAAHHH....!!! HYAAA!!!”
SYUU!!! BRUAK!!! BRRRR!!!
Dalam satu gerakan tangkas nan kuat, kesadaran Safira yang mengambil alih tubuh Arya melakukan serangan balik. Daniel tak siap menghadapi perubahan tiba – tiba barusan sehingga harus rela tubuhnya ikut terangkat dari tanah.
Bantingan keras tadi bukan hanya menyebabkan lengan Daniel saja menghantam meja, namun seluruh badannya melesak ke dalam arena. Tempat pertandingan yang dibuat menggunakan bahan dasar beton khusus tersebut terbelah menjadi dua secara horizontal.
Ditambah retakakan kecil maupun besar menghiasinya, anggota tim Figment Squadron dan wakil Holy Fist harus berusah payah menjaga keseimbangan juga berpengangan agar tidak jatuh serta terlempar keluar area pertarungan.
Safira mengembalikkan penguasaan tubuhnya kepada Arya sekejap mata, mengakibatkan sensasi kurang menyenangkan. Sembari berjalan oleng mundur, dia menutup jarak pandanganya sendiri dengan tangan supaya orang – orang tak melihat pupil naga yang masih tertinggal.
‘Sembunyikan lagi hawa keberadaanmu Safira!’ desak Arya cepat.
Masih bernapas agak berat, ia memperhatikan ulah dari naganya. Yakin membutuhkan waktu tidak sedikit untuk memperbaiki kerusakan parah arena, akhirnya Arya menemukan sosok Daniel terbaring tak sadarkan diri dekat sana.
“Syukurlah dia masih hidup” gumamnya penat.
WOAAA.....!!! PLOK! PLOK! PLOK! SUIT....!!!
“Eh?”
Hampir semua orang berdiri dari tempat duduk memberikanya tepuk tangan, suitan, dan sorakan kagum. Bahkan pada podium Penyihir Agung sekalipun, tetapi ada satu wajah syok berat di antara mereka berlima.
“MEEE....NANGGG....!!!” teriak Ryan gembira diikuti oleh Ikey, Shaqihr, Hanna, juga Fibetha.
“TUAN ARYAA.....!!! KYAA....!!!” Iserish tak kalah histeris.
“Pemenangnya adalah Figment Squadron A....!!!”
“ARYAAA....!!!”
“WUAAA....!!!”
Arya hampir terjungkal sewaktu keempat gadis anggota kelompoknya melompat bersamaan kemudian memeluk erat. Dia bersumpah mendengar derit suara tulang punggungnya akibat beban tersebut. Kyra, Bella, Laura, maupun Sierra hanya tertawa melihat ekspresi kesakitan ketua mereka.
__ADS_1
Friska tersenyum lebar tanpa menyadari kalau Merlin yang berada di sampingnya memasang wajah sumeringah serupa. Entah mengapa walaupun sadar ini bukanlah kabar baik bagi Candidate of Destiny, sang Orange Witch tetap senang.
Setelah para penanggung jawab berdatangan membawa Daniel tuk mendapat perawatan, Arya bersama anggota lain dipersilahkan meninggalkan lokasi. Tepat ketika menginjakkan kaki keluar arena, pandangannya berubah gelap dan kesadarannya pun menghilang.