
Kabar mengenai kondisi Arya menyebar luas dan memberikan dampak besar kepada seisi Pusat Penelitian. Orang – orang mulai mempertanyakan bagaimana cara menyelamatkan nyawa anak laki – laki tersebut.
Sementara itu, para Pengawas Ujian bergerak cepat mencari jalan keluar permasalahan. Mereka benar – benar menutup akses bertemu Arya, penjagaan ketat selama dua puluh empat jam penuh menghiasi ruang perawatan miliknya.
Pak Hartoso sebagai wali Arya sengaja tidak dibeitahukan kabar ini karena takut dapat memberi efek buruk juga kepada kesehatan beliau. Kesedihan mendalam menaungi rekan – rekan Elementalist lain, tak ada satupun diantara mereka punya napsu makan sejak hari itu.
Alalea mengurung diri, sehingga mengakibatkan Callista kebingungan harus berbuat apa. Werebeast anggota Pax juga saking merasa bersalahnya tak berani meninggalkan tempat yang sudah disediakan untuk mereka.
Tiga hari berselang rampungnya misi Zoonatia, Astral mengadakan rapat Pengawas Ujian. Demi membahas lebih lanjut tentang tindakan berikutnya. Dia menegaskan kalau nyawa Arya harus diselamatkan apapun resikonya.
“Cederanya parah, namuh masih bisa ditangai. Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara mengobati seseorang yang bahkan disentuh saja tidak bisa?” geram Allucia sambil merobek beberapa catatan miliknya.
“Masih ada harapan, jika aku dan Frone langsung bertindak tepat waktu” Rea menunduk lesu.
“Seluruh organ dalam tubuh Tuan Arya membeku, bukankah itu sama saja dengan mati?” komentar Po.
Tanpa basa – basi Bianchi menarik kerah bajunya sekuat tenaga, menyebabkan si pria gempal terpaksa menunduk “Tarik kata – katamu! Jangan putus asa! Kita pasti bisa, benarkan Gio?”.
Astral cuma diam, tidak tau harus memberikan jawaban apa pada wanita itu. Setelah menarik napas dalam – dalam, si pemimpin duduk menatap wajah mereka satu per satu. Suasana serius menyelimuti ruangan.
“Menghilangkan kondisi Self Freezing bukanlah suatu yang tidak mungkin, namun membutuhkan api tingkat tinggi sebagai pondasi”
“Bukannya di dalam tubuh Tuan Arya terdapat Insanus Fire pemberian Klan Ignisar?” tanya Liquite.
“Kupikir jika dia tidak sadarkan diri maka api tersebut tak akan aktif” Gustav menyuarakan pendapat.
“Lalu? Sekarang bagaimana?” Ursa terlihat sedikit kesulitan mengikuti arah percakapan.
“Nona Asuna....” celetuk Varuq mengejutkan yang lain.
“Benar...., tetapi mengingat kondisi mentalnya sekarang....mungkin sulit mengharapkan dia”
Baru saja berhenti bicara, pintu ruangan terbuka. Membuat kesepuluh pasang mata memandang ke arah sana seketika. Si pelaku menunjuk tubuhnya sambil berkata.
“Kalau begitu....izinkan aku untuk membantu”
“Anda....?”
------><------
__ADS_1
Keesokan harinya dilakukan pertemuan sekali lagi, kali ini hampir semua orang – orang penting hadir. Para Elementalist, Alalea, Callista, Kizuna, dan masih banyak lainnya. Termasuk bawahan masing – masing dari mereka.
Astral membuka acara dengan menceritakan garis besar masalah yang tengah dihadapi, saat mencapai bagian telah mendapatkan obat bagi Arya. Ekspresi hadirin langsung berubah, tatapan penuh harap mengelilingi lokasi tersebut.
“Tak usah bertele – tele, langsung ke intinya saja” potong Alalea.
Sorakan setuju bergema kemudian menyebabkan seluruh ruangan bergetar dibuatnya, semua memberikan desakan untuk segera menolong Arya. Bukan malah menghabiskan waktu di sini.
“Tenang, mohon tenang dulu sebentar. Baiklah, sepertinya sudah waktunya giliran anda”
Astra menoleh pada seorang gadis dibelakang dirinya yang ternyata adalah Kizuna, perempuan bertelinga rubah itu berjalan ke tengah podium sedikit malu – malu. Kemudian menyampaikan maksudnya berada di sana.
Sesudah akhir rencana Kizuna dijabarkan, suara bisik – bisik memenuhi ruangan. Para Pengawas Ujian sempat menduga akan jadi seperti ini, karena memang begitulah respon mereka sendiri ketika lebih dulu diberitahu oleh Kizuna.
“Nona? Apa anda yakin?” Kinichi menanyakan perihal keputusan mantan anggota Dua Belas Shio tersebut.
“Putri tolong pikirkan masak – masak” saran Harpyja nampak khawatir.
Karena kurang paham, akhirnya Timothy bertanya kepada Rattus mengenai omongan Kizuna lebih terperinci. Walau sedikit ragu, si tikus perlahan memberitahukan tentang beberapa informasi baru.
“Apa sih Orb yang kalian bicarakan?”
Mendengar penjelasan itu, para Elementalist menatap Kizuna seolah tidak percaya. Persi seperti tatapan orang – orang sebelumnya.
“Orb dilambangkan sama dengan hati, rencana Nona Kizuna memberikan Mythical Orb miliknya pada Tuan Arya benar – benar gila dan tidak masuk akal” Rattus mendecit lemah.
Berhubung Orb Kizuna berunsur api, bisa dipastikan ia dapat menetralisir kondisi Self Freezing Arya. Sehingga pria tersebut dapat langsung dirawat secara intensif demi memulihkan tubuhnya.
“Aku setuju, asalkan aku juga ikut membantu. Setelah Self Freezing Arya hilang, akan kugunakan sihir penyembuhan Elf untuknya” seru Alalea mengangkat tangan.
“Izinkan aku pun melakukannya, dengan mengaktifkan Blood Servant aku yakin regenerasi dia meningkat pesat sehingga kecepatan pulihnya bertambah secara signifikan” Callista tak mau kalah.
“Huum, mohon bantuanya kalian berdua” kata Kizuna menunduk memberi hormat mendalam.
“Kalau begitu....sudah diputuskan”
------><------
Tepat sepuluh hari dimulainya Self Freezing pada diri Arya, persiapan pemindahan Orb dilakukan. Kizuna, Allucia, Rea, Alalea, dan Callista membicarakan detail agar koordinasi mereka berjalan baik ketika waktunya tiba.
Begitu selesai, Harpyja bersama Shirone datang menghampiri Kizuna. Keduanya saling menatap sebelum memastikan sekali lagi.
__ADS_1
“Nona ini adalah kesempatan terakhir, apa anda benar – benar yakin ingin melakukan Orb Transfer?”
“Hmm? Tentu. Kenapa kalian baru bertanya sekarang?”
“Jika begini....maka Tuan Arya akan menjadi Orb Guardian anda bukan? Mempertaruhkan nyawa anda bukanlah tindakan bij—“
“Mau itu hati, jiwa, bahkan raga sekalipun pasti kuberikan. Karena....Arya merupakan orang yang merubah pandangan hidupku....”
Mendengar pernyataan yakin Kizuna, akhirnya Harpyja dan Shirone menyerah. Ritual pemulihan Arya disaksikan oleh beberapa peran penting di Pusat Penelitian, usai membuat simbol lingkaran besar menggunakan darah mengelilingi tempat tidur si Elementalist Es.
Kizuna memberikan isyarat jembol untuk menyatakan kesiapan, lokasi tempatnya berada sekarang berupa ruangan berbentuk oval lalu dilapisi kaca tembus pandang. Orang – orang melihat dari balik benda transparan tersebut.
Sang gadis rubah menarik napas teratur kemudian menyatukan kedua tangan, kesembilan ekor miliknya merekah dalam satu waktu. Pemandangan itu membuat terpana para penonton, api emas menjalari simbol lingkaran sebelum membungkus tubuh Arya.
Begitu Self Freezing melemah, Kizuna bergerak cepat menempelkan bibirnya ke Arya. Dan menciptakan suasana riuh bagi gadis – gadis lain.
“Apa yang—?!”
“Hei hei hei, Orb itu berada dalam tubuh. Memang begitu cara pemindahannya, jangan protes. Jika kau beratan Kizuna mencium Arya. Berarti kau setuju dia menggunakan cara lain, yang berarti sama saja dengan berhubungan. Mengerti Tuan Putri?” Timothy berusaha menenangkan Alalea.
“T..t..tapi?! Tidak ada yang pernah mengatakan apapun soal ini?! Dasar rubah licik.....”
“Jelas bukan, mengetahui respon kalian. Lebih baik disembunyikan saja” gumam Kevin pelan.
“Aku harus tambah hati – hati menilai orang dari penampilan, aku lupa kalau disini adalah medan perang” Callista tertawa lemah.
Kizuna melepaskan Arya bersamaan dengan menghilangnya delapan ekor miliknya, ia terhuyung mundur beberapa langkah. Allucia dan Rea langsung masuk diikuti Alalea serta Callista.
“Sanar”
“Blood Servant Activated, Permission Granted”
“MUNDUR!”
DUAR!
Kedua Pengawas membuat pelindung Agnet tepat waktu, sehingga tiga gadis itu tidak terkena ledakan besar. Siluet Arya berdiri dikelilingi api merah juga emas terlihat, senyuman sekilas nampak di wajahnya.
Ada sembilan ekor mengintip dari balik tubuh Arya, pupil matanya ikut berubah warna. Dua lingkaran emas tersebut melihat sekeliling sebelum kemudian menutup kembali.
__ADS_1