
‘Agnetku terkunci, aku tidak bisa berkomunikasi dengan satu atribut pun. Tenang.....analisis....cari peluang untuk membalikan keadaan.....’
“Cepat! Kenapa kalian lamban sekali dasar payah!” Werebeast yang betugas membawa tahanan menodongkan trisula ke punggung mereka.
Arya dan Edlyn bergerak mengikuti perintah, pencahayaan remang – remang akhirnya membuat dirinya bisa melihat sekeliling. Arya berdecak pelan menyaksikan kapal karam besar nan megah tempat berdirinya markas Faksi Laut atas penyerangan Atlantos.
Satu per satu sosok manusia setengah ikan mulai nampak, jumlahnya mencapai ribuan menurut hasil pengamatan sekilas Arya. Begitu hampir tiba ke tengah kerumunan, keduanya menyadari tiga Werebeast berpenampilan sedikit berbeda.
Arya mengenali salah seorang yaitu Wanio, lawanya beberapa hari lalu. Sementara dua diantaranya memiliki wujud layaknya hiu serta paus memancarkan kekuatan tak kalah dari kawannya tersebut. Kesamaan ketiganya sekarang adalah menatap Arya penuh rasa haus darah.
“Arya? Tiga Werebeast disana diketahui merupakan pemimpin Faksi Laut, para informan kami telah menyampaikan sebelumnya. Shayu, Balaeno, dan Wanio. Walau begitu ini juga kali pertama aku melihat mereka....” bisik Edlyn cemas.
Sang Elementalist Es menganggukan kepala, ia juga pernah mendengar kabar serupa ketika mencari fakta – fakta mengenai musuh di Elemental City. Penampilan Wanio terlihat paling buruk, dia mengatupkan gigi kuat – kuat berusaha untuk maju tapi dihadapang oleh dua kakak angkatnya.
Sepertinya Werebeast berbentuk leluhur buaya itu baru siuman kemudian tengah memulihkan kondisinya akibat luka pemberian Kevin saat penyerbuan Atlantos berhasil digagalkan. Pandangan Arya mulai berkeliaran, berusaha mencari cara keluar dari situasi menyulitkan bagi keduanya.
Dilain sisi mata Edlyn terpaku pada sesosok Mermaid yang cukup mencolok ditengah lautan para Werebeast. Senyum memuakan menghiasi wajahnya, Arya maupun Edlyn akhirnya diberhentikan tepat dihadapan pimpinan musuh.
“Pengkhianat....kau pikir bisa lolos dari semua ini....?” Edlyn mengumpat murka.
“Hehehe....ayolah Tuan Putri, bukan begitu sikap seorang sandra. Bersabarlah sebentar lagi, saat semua selesai. Kau akan menjadi miliku selamanya”
“Dalam mimpimu!”
“Berisik sekali, tolong beri gadis tersebut sedikit pelajaran” perintah Balaeno.
Tepat sewaktu salah seorang prajurit Werebeast hendak memukul Edlyn, tekanan luar biasa mengerikan terasa. Membuat ekspresi seluruh individu sekitar sana menegang, Arya melepaskan hawa buas seolah berkata jika berani menyentuhnya. Bersiaplah lenganmu putus.
Meski Agnetnya terkekang, cukup memanfaatkan tatapan mata serta gerakan menjilati bibir sendiri sudah dapat mengakibatkan mereka menyadari nyawa masing – masing terancam. Shayu maju kehadapan Arya kemudian melakukan hal sama. Hingga efek perbuatannya tadi hilang tanpa bekas.
“Jadi kaulah yang melukai Wanio? Sekarang aku mengerti alasannya....”
Arya tersenyum seakan tak terpengaruh intimidasi Sang Megalodon, lepas kendali. Wanio menerjang maju dan mendaratkan pukulan keras kepada muka Arya, darah segar mengalir keluar dari hidungnya.
“Jawab ketika kakakku bicara padamu!”
“Arya!?”
“Pisahkan mereka”
Edlyn ditarik menjauhi Arya, anak laki – laki itu mengernyit kesakitan tapi masih mempertahankan ketenangannya. Ia membuat gerakan dengan arti ‘apa kau sudah gila?’. Kehabisan kesabaran Wanio mencekik Arya kuat – kuat.
“Mari lihat bisakah kau masih tersenyum saat kupatahkan lehermu!”
Kejadian tersebut berlangsung hampir satu menit penuh, tepat sebelum Arya kehilangan kesadaran. Seseorang berenang cepat dari atas kemudian mendarat dekat lokasi mereka berada, rambut birunya yang dikepang dua mengambang kesana kemari disebabkan arus air laut.
“Wah wah wah kita kedatangan tamu rupanya” Shayu menolehkan kepala sembari menunjukan taring – taring tajam nan menyeramkan.
__ADS_1
------><------
“Berhenti!”
“Kakak?!”
‘Diondra!?’
Arya melebarkan mata, tidak mempercayai pengelihatannya sendiri. Diondra muncul disana sendirian tanpa pengawalan sedikitpun, tindakan yang entah harus disebut gila atau bodoh. Menyadari tatapan Arya, gadis itu menjawab. “Aku kemari tuk menyelamatkan kalian”.
“Hihihi....huahahaha.....mengharukan sekali, siapa sangka Sang Putri Sulung Kerajaan Atlantos datang kemari dengan sukarela. Harusnya kami melakukan ini sejak awal eh?”
“Kalian menginginkan aku bukan? Lepaskan keduanya sebagai gantinya”
“Maaf, tapi mustahil. Anak ini terlalu merepotkan dan sangat menambah daya tempur pasukan manusia duyungmu, namun melepaskan adikmu mungkin dapat dipertimbangkan” seru Balaeno mengambil senjata.
“Ugh....”
“Kakak jangan dengarkan mereka! Segera pergi dari sini!” Edlyn berontak.
“Diam!”
BUKH!
“Kyaa....”
Diondra nampak tengah berpikir keras, Shayu memberikan waktu tiga detik untuk menentukan pilihan ingin melepaskan siapa. Kondisi Arya berada diujung tanduk karena kapan saja lehernya dapat dipatahkan Wanio, sementara dirinya tidak mau membuat Edlyn terluka.
“Satu....”
‘Diondra....rencanamu gagal....’
“Dua....”
‘Biarkan aku mengambil alih cepat.....sebut namaku!!!’
“Tig—“
‘DIONDRA!’
“VITISA!!!”
BRRRR!!!
Agnet luar biasa memancar keluar dari dalam tubuh Diondra, tangannya terangkat ke atas seolah hendak menggapai sesuatu. Detik berikutnya, payung berwarna biru muncul seketika mengejutkan seluruh Faksi Laut Werebeast.
__ADS_1
Edlyn melongo, kagum kalau kakaknya mampu memanggil keluar salah satu bekas pusaka legendaris peninggalan ibu mereka. Arya sendIri tiba – tiba merasa kepalannya disengat listrik bertegangan tinggi, mata Diondra menyala terang. Dua ekor ikan koi mengitari tubuhnya.
“Kyma....”
“BERPENCAR!” teriak Shayu menyadari datangnya bahaya.
“Ekrixis!!!”
SYUUU!!!
Sihir sinar kebiruan kuat membelah dasar lautan, tau kalau Wanio lengah. Arya memanfaatkan segenap tenaga terakhirnya untuk membebaskan diri kemudian menarik rantai emas borgolnya menuju tembakan ujung payung Diondra.
CTANG!
Keduanya berhasil terlepas, sayangnya meski Edlyn sukses terbebas seutuhnya. Pergelangan Arya masih dihiasi benda keemasan menyebalkan itu, serangan Diondra mengacaukan situasi. Apa lagi setelah memotong dua kapal karam pada lokasi tersebut sampai rubuh.
Ledakan besar menyebabkan arus air bergelora, Arya terseret hingga beberapa meter jauhnya. Disitulah ia menggigit sebuah obat tablet yang disembunyikan diantara disela – sela mulutnya. Begitu melepas syal pada sekitar leher, nampak semacam ingsang baru telah tumbuh.
“Hahhh....bernapas....aku tidak pernah tau rasanya seenak ini....”
“Tangkap dia!”
WUSH!!!
“Apa!? Kemana perginya?!”
“Hahaha jangan terlalu meremehkan aku ya”
Dia dapat berenang sangat cepat sekarang disebabkan efek ramuan buatannya juga mulai membiasakan diri. Para Werebeast langsung menyerang tanpa berbelas kasih, walaupun sudah berubah wujud. Tetap saja melawan lusinan manusia setengah ikan di dalam air dan tidak mampu menggunakan Agnet sungguh merepotkan. Frustrasi, Arya berusaha terus menghindar.
“Siapa sangka Diondra ternyata salah satu Seven Arcenciel Witch, haurusnya aku segera sadar. Mengingat pesan Kruel dulu soal warna biru di kedalaman laut selatan tapi—Woaaa!!!”
Arya mengerem buru – buru begitu melihat pasukan Werebeast berjumlah besar nampak berkumpul ke arah yang dia tuju. Bingung harus melarikan diri kemana, memilih maju ataupun mundur sama – sama kena.
JDUARRR!!!
Sebagian dasar laut terlempar lalu menghempaskan Werebeast – Werebeast barusan, seekor binatang besar kehitamanan serta memiliki panjang luar biasa mulai memporak porandakan barisan prajurit dihadapan Arya.
Barulah Arya tersadar kalau ternyata mereka bukan menghadangnya, melainkan sedang berusaha mengusir salah satu Penghuni Laut Dalam dari sarangnya dan sepertinya gagal. Makhluk tersebut malah makin ganas nan brutal.
Menyerang semua secara membabi buta, mulutnya terbuka lebar. Beberapa Werebeast memilih menjauh menyelamatkan diri, saat dia berenang cepat menuju Arya. Seketika itu juga si monster berhenti, tubuhnya raksasa miliknya seakan menyusut layaknya anjing penakut, sementara senyuman pada wajah Arya kian melebar.
“Tak kusangka kita akan bertemu lagi di tempat ini....belut kecil shishishi....”
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.