
Tanpa disangka Arya secara perlahan mulai mengalami penerimaan di Sekolah, berawal dari teman – teman sekelasnya saja. Lalu menjalar cepat ke seluruh siswa pada segala angkatan, dia sendiri terkejut dan agak kurang suka mendapat sapaan selamat pagi oleh orang yang ia sendiri tak tau siapa.
Dugaannya sementara adalah akibat andil Amira mengubah penampilannya, sekarang Arya berhenti menggunakan kacamata juga lebih menata rapi rambut sehingga mukanya nampak jelas. Walau setiap ada kesempatan Amira tidak melihat, Arya akan mengacak - acaknya kembali.
“Arya mau ke kantin bersamaku?”
“Hei ayo kemari ikut bermain”
“Lihat kesini! Arya!!!”
“Ugh...ha...halo, p...per...permisi aku ada urusan sebentar....” ujar Arya kewalahan.
Ketika berhasil lepas dari kerumunan orang. Ia berkeliling mencari biang keladi semua ini, ketemulah Amira yang sedang memainkan ayunan sendirian di halaman belakang Sekolah. Arya menatapnya sinis dengan wajah merah padam.
“Fufufu....bagaimana kabarmu Tuan populer?” Amira menggoda sambil terkikik geli.
GRAB!
“Kau....harus bertanggung jawab....”
“Eh?! Arya? Tunggu dulu! Jangan berani – berani me—WAAA!!!”
Arya memegang erat dua tali ayunan yang duduki Amira kemudian memutarnya sekuat tenaga, begitu selesai gadis tersebut berjalan oleng sembari memaki – maki Arya penuh kebencian. Adu mulutpun terjadi.
Ketika pulang, keduanya mampir ke tempat bermain biasa. Bukit kecil dengan pohon pada puncaknya, kucing – kucing langsung keluar dari tempat persembunyian waktu merasakan kehadiran Arya dan Amira.
Arya membagi rata makanan untuk mereka semua, kemudian menuruti permintaan Amira mengiringi lagu buatanya menggunakan seruling daun Arya. Permainan itu benar – benar indah, bahkan para kucing ikut berbaring malas memejamkan mata di sekitar mereka.
Arya bersama Amira menyusul merebahkan tubuh di rumput menatap langit biru luas membentang, beruntung jumlan awan tidak terlalu banyak hari itu, entah mengapa tiba – tiba tangan Amira menggapai kemudian menggenggam erat Arya.
Membuatnya heran dan menoleh, gadis berambut cokelat tersebut balik menatapnya tersenyum sendu. Perlahan dia semakin mendekatkan badan.
“Ada apa? Kau sakit?” Arya bertanya sedikit khawatir.
“Hmm...tidak kok, aku cuma sedang ingin melakukannya saja”
“Amira?”
“Ne....Arya? Akankan kita berdua bisa terus bersama seperti ini?” gumam Amira lembut.
Dia tidak langsung menjawab, Arya terdiam sejenak berusaha berpikir makna serta alasan pertanyaan aneh itu. “Entahlah, mungkin hanya sampai kita lulus Sekolah Dasar”.
“Tapi....aku tak mau....”
“Hah? Terus—“
“Saat dewasa, maukah kau menikah denganku?”
__ADS_1
JDUK!
Kepala Arya menubruk keras batang pohon diatasnya mendengar pertanyaan tak logis tadi, menikah katanya? Dia bahkan sekarang baru memikirkan ingin pergi ke SMP mana ketika lulus, dan Amira ternyata sudah memiliki perencanaan jauh sekali kedepan.
“Aww....!? Kau yakin? Pernikahan bukanlah sesuatu seperti bermain rumah – rumahan, itu adalah suatu upacara sakral kau tau?”
“Tentu saja! Kau pikir aku bodoh?! Kenapa?! Kau tidak menyukaiku?!”
“Bukan begitu, kita masih anak – anak. Kau punya kesempatan banyak bertemu laki – laki yang jauh lebih baik dan pantas. Pikirkan baik – baik sebelum bicara” kata Arya menggelengkan kepala lelah.
“Aku....bukan tipe yang menyesali keputusanku lho” Amira menegaskan.
“Kau—“
“Bersihkan rumput di dahimu ceroboh”
CUP!
Amira menyingkap poni rambut Arya lalu mendaratkan kecupan cepat pada keningnya, mengakibatkan Arya terkesiap kemudian mundur beberapa langkah tak mampu berkata apa – apa.
“A...Am...Amira dirimu serius—“
“Janji ya? Untuk selalu bersama”
“Ekh....terserah kau sajalah!” Arya membuang muka diikuti gelak tawa riang Amira.
------><------
Mereka tiba di sebuah lokasi yang nampak seperti kamp atau barak pasukan yang ingin pergi berperang. Lebih banyak terlihat makhluk hijau lain berbagai ukuran memenuhi lokasi tersebut, empat pengawal menggiring sosok berjubah menghadap ke pimpinan mereka.
“Lapor Ayah, kami sudah membawa dia” salah satu berbicara sambil bertekuk lutut.
“Phuahaha anggur di malam hari memang terbaik, bagus. Kerja kalian bagus sekali”
“Salam Greenhook” kata orang berjubah, suaranya agak berat sehingga dapat dipastikan ia adalah seorang pria.
Sang Raja Goblin menatap remeh sosok itu, dia duduk pada singgana kayu berhias ujung tombak diatasnya. Cawan emas besar berisi anggur bertengger gagah pada genggaman makhluk hijau berwajah seram tersebut.
“Dan....kau adalah....”
“Tidak penting siapa identitasku, aku datang kemari untuk mendengar jawabanmu”
“LANCANG SEKALI KAU BICARA MAKHLUK RENDAHAN!!!—“
“Tunggu sebentar, kau menawarkan kami menyusup ke dalam Elemental City. Dan bisa kupastikan dirimu adalah Manusia, bagaimana aku mempercayaimu jika kau tak memberitahukan kejelasan mengenai identitasmu?” Greenhook menenangkan salah seorang putranya.
“Kau terlalu banyak bicara Goblin tua, beri aku ja—“
__ADS_1
“MATI KAU!”
SRAT!
Keempat pengawal sebelumnya menyerang bersamaan, mengarahkan senjata mereka ke tubuh pria misterius itu. Detik berikutnya, badan keempatnya terbelah menjadi dua. Sebuah sabit raksasa berwarna kehijauan muncul entah dari mana menghiasi tangan si laki – laki berjubah.
Tentu saja hal ini mengakibatkan keriuhan, teriakan amarah Goblin melihat saudara mereka dibunuh mulai menggila. Siap kapan saja menyerbu pembunuh keparat dihadapan masing – masing, namun orang tersebut masih bersikap tenah sembari membersihkan darah yang melumuri senjatanya.
“Bocah....gerakan tadi....kau—“
“Biar kuperjelas, aku tidak takut sama sekali dengan kalian semua. Sekarang beri aku jawaban, iya? Atau tidak....?”
Keheningan menyelimuti beberapa menit kedepan sampai akhirnya suara Greenhook memecahkan suasana. “Phuahahaha, menarik sekali. Baiklah aku setuju”.
“Bagus, ambilah. Disana sudah tertera bagaimana serta melalui apa kalian bisa masuk ke dalam, kuharap semua berjalan lancar. Semoga beruntung” ujar pria itu sebelum menghilang.
Saat suasana mulai tenang, salah satu anak buah Greenhook mendekat. Bertanya kenapa sang Raja membiarkan pria tadi pergi dan bertindak semena – mena.
“Huhuhu....kita butuh informasinya, tak kusangka ternyata para Manusia masih serupa serigala berbulu domba. Menjual ras sendiri eh? kekeke”
“Ayah kalau ini perangkap....”
“Tenang saja, dia tidak mungkin repot – repot kemari dan memaksa sekeras itu jika ingin menipu kita. SEMUANYA DENGAR, WAKTUNYA BERPESTA! BESOK KITA AKAN MENIKMATI PARA WANITA MANUSIA SAMPAI PUAS! HYAHAHAHA”
WOOO!!!
“Mengenai identitas laki – laki tersebut....” si anak buah bertanya sekali lagi.
“Huhuhu, aku cuma bisa bilang. Kalau dia adalah saudara dari wanita tercantik yang pernah aku temui selama hidupku....hihihi” balas Greenhook sambil menjilati bibirnya sendiri.
------><------
“Tumben? Kau datang pagi sekali”
“Hahaha sepertinya aku terlalu bersemangat, tehe”
Hari itu adalah hari pertama libur semester, Arya dan Amira berjanji bertemu di stasiun untuk pergi rekreasi ke Distrik Perunggu. Tak disangka keduanya datang setengah jam lebih awal dari janji pertemuan mereka, sesuatu hal yang tidak biasa terjadi.
Cepat – cepat gadis tersebut menyeret Arya masuk ke dalam, setelah membeli tiket kereta api di loket. Keduanya mencari tempat duduk, kendaraan umum cukup penuh saat suasana liburan seperti sekarang. Untungnya mereka datang cukup pagi sehingga dapat kursi kosong.
“Aku tidak pernah menyangka benar – benar pergi menggunakan kereta api saat liburan, para petugas stasiun juga terlihat tidak mempermasalahkan usia kita” komentar Arya mengernyitkan dahi.
“Hmm mungkin karena hari libur”
“Bisa jadi, kau sungguh sudah meminta izin pada orang tuamu bukan?”
“Huum! Tentu! Aku berpamitan dengan sangat baik!” senyum sumeringah menghiasi wajah Amira.
Author Note :
__ADS_1
Aneh banget lho, jumlah pembaca banyaan gw, yang tiap hari update gw, yang dapat rangking mereka :v keselnya lagi ada beberapa judul yang gw ingat bgt pernah promosi di sini wkwkwk sad bgt sumpah.