
Setelah pengumuman mengejutkan dari Ratu orang-orang mulai meninggalkan ruangan singgasana kecuali Arya dan Alalea, mereka berdua memiliki sebuah persamaan dan perbedaan disaat yang sama. Persamaan mereka adalah mereka berdua sama-sama bingung dan perbedaan mereka adalah Alalea sangat menunjukkan bahwa ia tidak mengerti apa yang terjadi sedangkan Arya diam dan berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin, ia tidak tahu hal ini akan menguntungkannya atau tidak tapi dia merasa kalau identitas yang dibuat oleh Ratu ini terbongkar maka habislah riwayatnya.
Tapi tentu saja dia juga tidak ingin bertunangan dengan putri, mungkin itu terdengar hebat seperti dicerita-cerita dongeng tapi dia adalah seorang Elementalist yang mengemban tugas besar dipundaknya, Ratu menyadari kalau mereka berdua tidak meninggalkan ruang singgasana lalu melemparkan tatapan bertanya pada mereka berdua.
"Nek? Nenek pasti bercanda kan?" mulai Alalea sambil tersenyum.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Ratu balik bertanya tanpa mengubah ekspresinya.
"Tapi kenapa begitu tiba-tiba? Nenek tidak pernah membahas hal ini sebelumnya, dan bahkan aku baru tahu kalau ada Elf yang tinggal diluar hutan" protes Alalea.
"Hal ini hanya diketahui oleh segelintir orang yang bisa dipercaya"
"Bahkan para bangsawan juga tidak mengetahui hal ini?" ujar Alalea heran.
"Cukup Alalea" tegas Ratu.
"Oh ayolah nek, Nenek tahu kan aku sudah memiliki kekasih? Dan kami bahkan sudah berjanji untuk bertunangan" keluh Alalea.
"Dimana sopan santun mu Alalea? Beraninya kau mengatakan hal itu dihadapan orang yang akan menjadi tunanganmu"
Alalea lalu melemparkan tatapan kesal kepada Arya, tatapan itu membuat Arya bergidik. Tatapan itu mirip sekali dengan tatapan yang diarahkan neneknya pada Arya beberapa saat yang lalu. Kemudian Arya sadar sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk ikut masuk kedalam pembicaraan keluarga ini.
"Mmm sebenarnya kalau putri sudah memiliki seseorang aku tidak keberat---"
"Tuh, nenek dengar sendiri bukan? Dia sendiri tidak keberat---"
"Alalea!" bentak Ratu akhirnya.
Seketika Alalea terdiam lalu menundukan wajahnya, air mata menggenangi matanya. "Aku benci nenek!!!" teriaknya lalu berlari keluar ruangan singgasa. Ekspresi Ratu tidak berubah sama sekali, ia kemudian menatap Arya yang masih berada di ruangan.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" tanya Arya akhirnya.
"Aku hanya ingin ada hutang yang terbayar" bisik Ratu sambil menutup matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Arya lagi.
Tapi Ratu hanya diam, karena merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Akhirnya Arya membungkukan badan untuk pamit dan segera meninggalkan sang Ratu sendiri di ruangan singgasananya.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Keesokan harinya Eridan membangunkan Arya awal sekali, dia masih mengantuk dan kedinginan. Karena sepulang dari istana kemarin Arya terus menginterogasi Eridan tentang apa yang sebenarnya direncanakan oleh Ratu sampai larut malam, dan nyatanya Eridan juga tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Sang Ratu. Dia hanya mengikuti skenario itu agar mereka terbebas dari masalah, seperti yang sudah Arya duga.
"Tenang saja Tuan Arya, Ratu dan ayahku memiliki hubungan yang cukup dekat. Jadi aku yakin Ratu tidak merencanakan sesuatu yang buruk" ujar Eridan menenangkan.
"Kalau kau ingin menenangkan orang lain sebaiknya kau membuat ekspresi yang lebih meyakinkan" timpal Arya sebelum meninggalkan Eridan untuk tidur tadi malam.
Mereka berdua meninggalkan rumah tanpa membawa Rena, dengan mata sayu Arya bertanya pada Eridan dia akan dibawa kemana dan kenapa mereka tidak mengajak Rena.
"Ratu memintaku untuk membawa anda ke tempat latihan para prajurit Elf" jawab Eridan dengan wajah tegang.
"Mmm? Dan untuk apa hal itu dilakukan?"
"Sepertinya Ratu mengharapkan hubungan mu dengan tuan putri Alalea semakin dekat dengan melakukan ini, tuan putri juga akan berada disana"
"Kenapa seorang pewaris tahta bisa berada di barak pelatihan?" tanya Arya bingung.
"Sebaiknya anda jangan meremehkan tuan putri Alalea, dia mempunyai kemampuan yang baik dalam menggunakan pedang dan busur" kata Eridan sambil menoleh memperingatkan.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Tidak mungkin kan Ratu hanya mengharapkan sang pewaris tahta hanya bisa duduk di singgasana? Dia mengharapkan Putri Alalea juga bisa membawa pasukan untuk berperang di garis depan"
"Masuk akal" jawab Arya sambil mengangguk.
Mereka melewati gerbang setinggi 7 meter yang berbentuk seperti ranting pohon yang saling melilit dan ditumbuhi bunga-bunga berwarna merah, setelah melewati gerbang itu mereka disajikan sebuah lapangan luas yang sudah ramai diisi oleh para Elf yang sedang berlatih, ada yang sedang mengayunkan pedang kepada sesuatu yang berbentuk seperti orang-orangan sawah di mata Arya, ada juga yang sedang memanah, dan berlatih sihir.
Ketika Arya dan Eridan lewat beberapa dari mereka menghentikan kegiatan mereka dan berbisik-bisik, Eridan membawa Arya ke kumpulan orang yang berada diujung lapangan. Ada enam orang yang berada disitu, Arya mengenali dua orang diantaranya. Yaitu Reiss orang yang menyerahkannya ke Ratu, dan tentu saja Putri Alalea. Keempat laki-laki Elf lainnya tidak ia kenali.
Ketika mereka sampai Alalea menatapnya dengan tajam, bukan hanya dia sih. Kelima orang lainnya juga melihatnya dengan tajam terutama Reiss. Dia terlihat sedikit tidak senang akan kehadiran Arya disini.
"Kenapa kalian lama sekali, cepat bersiap!" hardiknya.
"Maaf-maaf kesalahanku" kata Eridan sambil tertawa dan segera menarik Arya.
__ADS_1
Eridan dan Arya segera mengenakan perlengkapan yang sudah disediakan, sambil memasang sebuah pelindung dada Arya bertanya pada Eridan.
"Siapa mereka berempat?" ucapnya sambil mengarahkan pandangan pada para laki-laki yang sedang berbicara dengan Alalea.
"Mmm penasaran? Cemburu?" goda Eridan.
Tanpa menjawab Arya segera meraih gagang katananya.
"Eh.....a..aku hanya bercanda tuan" katanya cepat.
"Sekali lagi kau berkata seperti itu aku akan langsung mencabut pedang ini" ancam Arya.
"Baiklah aku mengerti" ucap Eridan sambil menelan ludah.
"Apa anda pernah mendengar Pasukan Elit milik ras Elf tuan Arya?"
"Pasukan Elit?" ulang Arya.
"Benar, pasukan ini terdiri dari lima orang pria pilihan dari lima keluarga. Mereka dikenal sebagai Lima Ksatria Pentagram"
"Pentagram?"
Lalu Eridan mengambil sebuah ranting pohon dan membuat gambar tanda "+" di tanah, lalu dia menulis nama pada setiap ujung garis.
"Negdria di Utara, Blandria di Barat, Rodria di Selatan, Azuldria di Timur, dan Orodria di Pusat" ujar Eridan sambil menambahkan titik ditengah tanda "+" itu.
"Kau menamainya Pentagram, tapi ini tidak terlihat segi lima bagiku. Ini lebih mirip seperti empat arah mata angin" komentar Arya.
"Benar sekali tetapi, Segi lima itu terdiri dari lima titik bukan?" jawab Eridan sambil menunjuk kembali lima titik pada gambar.
"Sedikit memaksa sih tapi, ya sudahlah. Jadi apa mereka itu yang disebut Ksatria Pentagram?" tanya Arya lagi.
"Tentu saja bukan, para Ksatria Pentagram berada langsung dibawah komando Ratu. Untuk apa mereka berada di barak latihan?" ujar Eridan heran.
"Lalu?"
"Mereka adalah para calon Ksatria Pentagram, yang akan menggantikan Ksatria Pentagram yang menjabat saat ini nantinya"
"Tapi dari yang aku lihat mereka hanya ada empat, dimana satu orang lagi? Jangan bilang kalau....." kata Arya menoleh ke arah Eridan dengan tatapan tidak percaya.
"Kau tidak terlihat menjanjikan" komentar Arya.
"Anda tidak perlu terlalu jujur seperti itu kan" balas Eridan lemah.
"Jangan terlalu dimasukan ke hati hahaha" kata Arya sambil menepuk bahu Eridan dan tertawa.
"Aku sebenarnya tidak terlalu optimis kami bisa menjadi Ksatria Pentagram, karena para Ksatria Pentagram saat ini diangkat saat mereka masih sangat muda dan aku juga tidak pernah berpikir bisa melampui kakakku, kami berlima adalah adik dari Lima Ksatria Pentagram saat ini"
"Belum tentu kan seorang adik tidak bisa melampaui kakaknya" ujar Arya memberi semangat.
Eridan hanya tersenyum lalu menunjuk kepada calon Ksatria Pentagram yang lainnya sambil berkata. "Elf dengan rambut pendek yang acak-acakan itu adalah Audax D'Rodria, adik dari Razel D'Rodria. Ayah mereka dikenal sebagai komandan yang membantai pasukan musuh seorang diri saat ia menjabat sebagai Ksatria Pentagram"
"Lalu yang mengikat rambutnya itu adalah Cessa D'Blandria, adik dari Alba D'Blandria. Ayah mereka pernah bertarung melawan para Penyihir Agung dari ras Witch seorang diri. Selanjutnya yang berambut sebahu itu adalah Daemord D'Negdria, adik dari Falxus D'Negdria. Ayah mereka pernah diberi misi memasuki wilayah ras lain seorang diri, dia menghilang selama beberapa waktu. Namun pada akhirnya ia berhasil menyelesaikan misi itu dan kembali tanpa tergores sedikitpun. Oh iya, dan juga aku mau menambahkan bahwa Daemord itu adalah kekasih Putri Alalea" kata Eridan sambil melirik Arya.
"Ada apa? Lanjutkan" protes Arya setelah menyadari Eridan tidak melanjutkan ceritanya.
"Anda terlihat.........tertarik tuan" komentar Eridan.
"Dan mengapa kau bisa berpikir seperti itu?"
Tanpa Arya sadari sejak Eridan menyebutkan bahwa Daemord adalah kekasih Alalea, ia mengangkat sebelah alisnya dan terus memandangi pasangan yang sedang berbicara sambil tertawa-tawa tersebut.
"Eee.......lupakan saja, yang terakhir adalah Rexy D'Orodria, adik dari Regulus D'Orodria. Ayah mereka dikenal sebagai orang yang berhasil mengimbangi pertarungan tiga hari tiga malam melawan ibu anda, Lyan Frost. Elementalist paling berbakat dalam sejarah" ucap Eridan dengan nada serius.
Setelah mendengar hal itu Arya memperhatikan Rexy dengan seksama, dia memiliki rambut terurai panjang sampai pinggang dengan tubuh yang tegap. Tapi yang paling mencolok dari penampilannya adalah mata emas miliknya yang seolah-olah menatap rendah segala sesuatu yang ada dihadapannya.
"Untuk anda ketahui tuan, hubungan antara keluarga Orodria dan Azuldria bisa dibilang agak sedikit kurang baik" bisik Eridan.
"Mmm? Mengapa?"
"Sebenarnya keluarga Orodria menganggap diri mereka sebagai pemilik sah tahta kerajaan, mereka adalah pemegang kekuasaan terlama yang pernah ada dalam sejarah kaum Elf. Tapi kekuasaan mereka runtuh setelah adanya keputusan untuk membiarkan Pohon Hellig yang memilih pemimpin. Pohon Hellig selalu memilih orang yang paling pantas menjadi Pemimpin kaum Elf, dan tanpa sebuah alasan yang jelas untuk beberapa ratus tahun terakhir Pohon itu belum pernah memilih pemimpin baru, sepertinya ia masih percaya dengan pemimpin saat ini beserta para keturunannya"
"Ternyata bukan hanya manusia yang berebut kekuasaan" komentar Arya.
__ADS_1
"Tentu saja, itulah penyebab munculnya perang. Ayo kita harus segera kesana" kata Eridan sambil menarik Arya.
"Tunggu sebentar" tahan Arya.
"Ada apa lagi?" tanya Eridan sambil menoleh.
"Aku belum mendengar kisah tentang ayahmu, apa dia tidak punya kisah heroik seperti ayah-ayah mereka?"
Eridan hanya merundukan kepala dan memalingkan wajahnya dari Arya sambil berkata "Aku dan kakakku, Orion D'Azuldria dianggap sebagai anak seorang pengkhianat. Karena ayah kami berteman dekat dengan ibumu"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya baru sadar bahwa ternyata sejak ia terbangun setelah pingsan saat memasuki Fairy Forest kondisi tubuhnya sangat prima, ia bahkan tidak pernah merasakan kondisi tubuhnya lebih baik dari saat ini. Hal itu terbukti saat ia bisa mengimbangi para calon Ksatria Pentagram dalam latihan mereka, Arya berhasil mengikuti semua latihan fisik mereka seperti berlari dan mendaki pohon dengan baik.
Dia melakukan semua itu sambil terus memikirkan kata-kata Eridan sebelumnya, bagaimana ia dan kakaknya dianggap sebagai pengkhianat karena ayah mereka memiliki hubungan dengan ibu Arya. Arya sedikit merasa bersalah setelah mendengar hal itu, padahal hal tersebut tidak ada sangkut paut dengan dirinya, tapi Arya yakin bahwa ayah Eridan telah memilih jalan terbaik untuk kepentingan semua orang, bahkan kedua anak laki-lakinya.
"Aku tidak menyangka anda bisa mengikuti semua latihan ini dengan baik, aku cukup lega melihatnya" bisik Eridan pada Arya.
"Sungguh? Aku juga tidak percaya bahwa diriku bisa melakukannya"
"Ayo, selanjutnya kita akan berlatih menggunakan panah dan pedang"
Arya mendapat sebuah informasi penting dengan mengikuti latihan ini, yaitu ternyata para Elf kebanyakan dilatih menggunakan pedang dan panah. Jadi bisa dibilang pasukan mereka rata-rata pasti bisa menggunakan kedua senjata ini dengan baik, hal ini bisa ia laporkan pada Astral saat ia kembali nanti. Itu pun jika dia berhasil kembali dengan selamat.
Enam orang lainnya sudah bersiap diposisi mereka untuk memanah target secara bergiliran, sedangkan Arya masih duduk dibawah pohon tempat busurnya telah disediakan mengamati apa yang mereka lakukan. Sebagai orang yang dihormati Putri Alalea diberikan urutan pertama, dan sepertinya Eridan tidak berbohong. Alalea dengan sangat mudah mengenai lingkaran target tepat ditengah-tengah. Dengan sedikit sombong ia melemparkan pandagan mengejek pada Arya.
Yang lainnya pun bertepuk tangan, bahkan Arya juga ikut bertepuk tangan walaupun ia memasang wajah masam. Tapi ia akui bahwa Tuan Putri itu memang bisa memanah, Daemord (sang kekasih Tuan Putri) selanjutnya bersiap sambil terus memuji Alalea. Tapi anak panahnya hanya mengenai area lingkaran kedua dari tiga lingkaran target. Lingkaran target itu memiliki tiga area lingkaran berwarna merah yang berjarak masing-masing 10 cm, Alalea berhasil mengenai target tepat ditengah sedangkan Daemord hanya bisa mengenai area kedua.
Lalu selanjutnya anak panah Rexy dan Audax berhasil mengenai area lingkaran pertama, tapi tidak tepat ditengah-tengah seperti Alalea, jarak anak panah mereka mungkin hanya beda beberapa mili meter saja, kemudian anak panah dari Cessa mengenai area lingkaran kedua bagian luar. Hampir memasuki area lingkaran ketiga.
"Aku memang tidak terlalu baik dalam hal ini" keluhnya sambil menghela nafas.
"Hahaha kau memang payah" celetuk Audax sambil tertawa.
"Apa katamu? Mau aku bakar dengan sihir" ancam Cessa.
"Coba saja, akan kuhajar kau sebelum berhasil mengucap mantra" tantang Audax.
"Sudah-sudah kalian berdua" ucap Daemord menenangkan.
Lalu giliran Eridan pun tiba, ia menarik busurnya dengan loyo. Dan anak panahnya hanya mengenai area terluar yaitu area ketiga, seketika semua orang disitu tertawa kecuali Arya dan Alalea. Arya segera berdiri dari duduknya.
"Hahaha tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan payahnya Eridan" kata Audax terbahak-bahak.
"Hei sudah cukup" perintah Daemord.
Tapi Alalea memberikan dia isyarat dengan tangan bahwa hal itu tidak apa-apa, lalu dengan suara lirih Alalea berkata "Kau harus lebih giat berlatih Eridan"
"Hehehe baik Tuan Putri" kata Eridan sambil tertawa lemah.
Kemudian setelah suasana kembali tenang Reiss memandang Arya yang masih berdiri dibawah pohon, yang lain pun ikut menatap Arya. Lalu Reiss berteriak " Hei nak, giliranmu"
"Bolehkan aku memanah dari sini?" tanya Arya.
Setelah itu ia mendengar samar-samar Audax berkata "Hah?! Bocah itu pasti sudah gila"
"Jangan bercanda nak, mereka saja yang memanah dari posisi ini belum tentu bisa mengenai target" ucap Reiss kesal.
"Aku tidak sedang bercanda" balas Arya.
"Hah......terserah kau sajalah, sebenarnya kalau bukan karena diminta oleh Ratu aku juga tidak mau melatihmu" gerutu Reiss.
Arya lalu menjilat jari kelingking tangan kanannya kemudian mengangkat tangannya diatas kepala, dia diam dan menunggu.
"Apa yang sedang si bodoh itu lakukan?" komentar Audax.
"Dia sedang--------" kata Eridan dengan mata melebar.
"Memprediksi arah tiupan angin" potong Reiss dengan mata memicing.
Kemudian Arya mengambil anak panah dan menarik busurnya, ia kemudian membidik ke arah lingkaran target. Tapi secara tiba-tiba ia mengubah bidikannya, ia membidikan anak panah itu 2 meter diatas kepala Eridan dan yang lainya berada.
"Pfft kemana dia membidik" gelak Audax.
__ADS_1
Jarak lingkaran target sekitar 10 meter, cukup jauh. Tapi itu jarak yang ideal bagi Arya, saat ia dan Pak Hartoso sering berburu di Distrik Perunggu. Benar sekali, ayah angkatnya itu sering berburu. Dan tidak lupa ia selalu mengajak Arya, berkat beliau jugalah Arya mengetahui cara memanah.
Ia pun menarik napas panjang dan melepas anak panah itu, setelah melepas anak panah itu Arya segera duduk kembali. Anak panah tersebut melesat kencang ke arah atas kepala yang lainnya, tepat ketika anak panah itu berada diatas kepala mereka, tiba-tiba ada angin yang bertiup sehingga anak panah itu pun berubah arah dan dengan suara "Krakk!" keras membelah anak panah Alalea yang berada ditengah lingkaran target.