Elementalist

Elementalist
Chapter 149 - Offer


__ADS_3

Mungkin ada sekitar lima belas menit waktu terlewat begitu saja selesai Arya menghancurkan alat pengukur sihir, penguji yang berada disebelahnya terdiam tak tau harus melakukan apa. Kemudian tiba – tiba Kepala Sekolah bangkit dari posisi duduk dan dalam sekejap sudah berdiri tepat dihadapan Arya.


“Halo Tuan White? Berkenankah dirimu ikut denganku sebentar?”


“A...ak...aku?.....” wajah Arya pucat pasi, dia tidak pernah menyangka akan merusak benda tersebut. Pokoknya ia harus memikirkan jalan keluar situasi ini.


Waktu beberapa penguji berusaha mendekat, Kepala Sekolah mengangkat tangan agar semua diam di tempat. Sementara Arya juga cepat – cepat bersiul tiga kali supaya Ryan yang hendak membuat keributan untuk kabur mengurungkan niatnya.


“Bagaimana?” tanya pria tua itu lagi sambil tersenyum ramah.


“Tentu Kepala Sekolah”


“Bagus....kalau begitu, mari”


ZAP!


Bertepatan dengan tangan Kepala Sekolah menyentuh pundaknya, mereka berdua menghilang dari lokasi ujian. Ryan menggertakan gigi, Turin dan Qibo buru – buru menghampirinya ingin menanyakan tindakan lanjutan.


“Sihir Ruang dan Waktu....teleportasi ya? Ck!? Kawan, berhati – hatilah. Pria itu bukan orang biasa”


------><------


SYU!


Arya mengerjapkan mata beberapa kali demi menyusaikan diri dengan kondisi penerangan remang –remang. Cahaya di sana jauh lebih sedikit dari pada tempat ujian tadi, dia sudah berdiri linglung di ruangan besar penuh perabotan – perabotan unik.


“Silahkan duduk Tuan White, kau ingin minum sesuatu yang manis, asam, atau pahit?”


“A....sam kupikir” jawab Arya hati – hati setelah menuruti perintah Kepala Sekolah.


“Pilihan bagus, Taubay!”


Suara bising cangkir dan teko mulai terdengar, benda - benda tersebut melayang ke meja lalu menuangkan sebuah cairan ungu untuk Arya. Menghargai pemberian, sang Elementalist meminumnya sekali teguk. Rasanya lezat juga tak asing, namun dirinya belum yakin bahan dasar apa rahasia pembuatannya.


“Kau menyukainya?”


“Huum, enak sekali”


“Syukurlah, Tuan White? Kau tau siapa aku?”


“Anda adalah Kepala Sekolah Divina Academy, Ilzaxar Iruphior”


Nama itu cukup melekat dalam benak Arya, sebab Ryan, Turin, maupun Qibo selalu mengingatkan agar berhati – hati pada sosok ini. Beliau merupakan salah satu Penyihir Agung bersama empat pemimpin Akademi Sihir besar lainnya.


Tersebar kabar kalau dia pemilik kekuatan paling besar diantara mereka. Witch tipe Universal tersohor, The Quiet Genius. Julukan tersebut disematkan kepadanya sejak masih berusia belia, banyak sekali penemuan hebat dan berpengaruh ciptaan Ilzaxar tersebar di seluruh negeri para penyihir.



“Senangnya, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri bukan?”

__ADS_1


“Kepala Sekolah, soal alat pengukur sihir—”


“Rongsokan itu? Tak usah dipikirkan, sudah lama aku meminta mereka tuk menggantinya. Tindakanmu justru membantu menyadarkan para pemalas di sana, terima kasih ya” jawabnya enteng.


“T..ta..tapi....Kepala Sekolah, harganya—”


“Ssstt cukup, lupakan saja. Dan tolong berhenti menyebutku sebagai Kepala Sekolah, kau hanya perlu memanggilku Profesor”


“Baiklah Profesor Iruphior” Arya membalas masih tak mengerti.


“Tepat begitu, ngomong – ngomong Tuan White. Apa kau bisa bermain catur?”


“Eh?”


------><------


Keduanya bermain catur entah sudah berapa jam, dari sekitar sepuluh ronde yang telah mereka lakukan. Arya mengalami kekalahan telak, tetapi ada suatu hal janggal di sini membuatnya tidak ingin menyerah mudah.


“Skak”


“Ugh!? Hmm....”


“Hehehe aku kagum Tuan White, pada usia muda. Kau terbilang cerdas juga teliti, sudah lama aku tidak mengalami perlawanan sesengit ini” puji Iruphior.


“Sepertinya....aku kalah lagi Profesor, ahahaha”


Permainan catur sihir sebenarnya tidak memiliki perbedaan sigfikan dengan catur biasa, hanya saja pemain mampu menggerakan bidak tanpa perlu memindahkannya. Cuma menggunakan pandangan mata dan memikirkan ke mana arahnya, sudah dapat membuat pion – pion itu mengikuti perintah.


“Sekali lagi”


“Hehehe....aku suka tatapan semangatmu walaupun sudah ditaklukan berkali – kali Tuan White. Tapi kupikir cukup dulu bermainnya, aku akan langsung ke intinya saja”


“Hmm?”


Arya merasakan perubahan sikap Iruphior, meski nampak tenang. Sebenarnya dia berada dikondisi siaga penuh. Sewaktu sang Kepala Sekolah merogoh saku jubahnya, Arya pun menggapai tongkat sihir miliknya.


“Tuan White, asal kau tau. Kami tidak pernah mempermasalahkan latar belakang seseorang, namun bakat adalah hal utama. Mempertimbangkan kemampuan milikmu, penyihir tua ini ingin menawarkan sesuatu”


“Apakah itu?”


“Bagaimana kalau kau bekerja di Divina Academy sebagai Profesor baru?”


PHWUH!!!


Minuman Arya sampai keluar dari hidungnya begitu mendengar kata – kata Iruphior, sambil terbatuk – batuk dan mencari tisu untuk mengelap dia berkata heran.


“Uhuk! Uhuk! P...Pr...Profesor?! Anda pasti bercanda”


“Tentu saja tidak, aku memang sedang mengajukan kontrak kerja padamu” wajah serius Iruphior semakin membikin Arya frustrasi.

__ADS_1


“Kepala Sekolah, aku kemari untuk belajar sihir dan menjadi murid! Mungkin kekuatan sihir milikku memang terlihat menjanjikan tetapi sungguh, pengetahuanku soal mantra benar – benar minim”


“Kalau masalahnya itu tenang saja, makannya aku ingin memberikanmu benda ini” dia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil seukuran kuku Manusia.


Iruphior kemudian menjelaskan kalau orang – orang menyebutnya sebagai Essence of Memory. Cairan didalamnya berisi seluruh pengetahuan dan ingatan milik si pria tua dari dirinya remaja sampai sekarang.



Jika Arya meminumnya, semua ilmu, mantra, dan sihir Iruphior akan dia kuasai sekejap mata. Berbekal hal tersebut, bukan suatu yang mustahil bagi Arya menjadi pengajar di Divina Academy.


“Jawabanmu Tuan White....?”


“Aku berterima kasih atas kepercayaan, apresiasi, juga kemurahan hati Profesor. Namun sepertinya dengan berat aku harus menolak” sahut Arya tenang.


“Boleh aku kudengar alasannya?” Iruphior mengangkat sebelah alis tertarik.


“Mungkin agak terdengar konyol dan naif, menurutku itu merupakan tindakan curang”


“Ini akan menguntungkanmu, dan tidak ada orang lain yang dirugikan”


“Anda salah, aku berencana mengikuti Five Heavenly Stars Tournament. Apabila aku meyetujui permintaan Profesor, bukankah aku sudah pasti menang”


Gelak tawa memecah keheningan ruangan tersebut, Iruphior tertawa terbahak – bahak sampai air matanya keluar. Arya menatap heran bertanya – tanya dalam hati apa orang itu sudah gila atau kerasukan makhluk gaib.


“HAHAHAHA! Begitu rupanya, sayang sekali. Tapi mau bagaimana lagi, jadi kau berencana mengikuti Turnamen Tuan White? Nampaknya kau harus berusaha keras karena hanya Witch bintang lima keatas yang boleh berpartisipasi, dan waktunya cuma tersisa enam bulan lagi”


“Saya akan berjuang”


“Hihihi....kau tau, aku memiliki kemampuan bernama Assessment Eye. Sehingga dapat melihat sihir seseorang dalam bentuk warna, biasanya kebanyakan penyihir memiliki aura putih, ataupun hitam jikalau pernah melakukan suatu tindakan tabu tertentu.


Namun, ada beberapa kasus khusus kemunculan warna lain. Contohnya Marylin Merlin, energi punya gadis itu adalah jingga. Dan boleh dibilang ia menjadi salah satu Witch paling berbakat sampai saat ini, tetapi ada yang lebih aneh lagi.”


“Mmm....?”


“Sihir milikmu, mereka berwarna merah dan jingga pekat. Baru pertama kali aku melihat kejanggalan tersebut”


“Aku....tidak mengerti maksudmu Profesor” jawab Arya jujur.


“Berarti kita sama”


CTAK!


Dengan satu jentikan jari, sebuah portal muncul. Iruphior mengatakan kalau itu mengarah tepat ke pintu keluar akademi, Arya menundukan kepala hormat tuk pamit. Sepertinya dia berhasil lolos menjadi murid Divina Academy tanpa masalah.


Tepat sebelum keluar, Iruphior melemparkan sesuatu yang membuat Arya hampir jantungan jika sampai terjatuh akibat nilai barang tersebut.


“P..Pr...Professor?! Bukankah aku—“


“Simpanlah, siapa tau berguna untukmu. Buang saja kalau kau tidak membutuhkkannya, lagi pula semua isinya ada dikepalaku. Sampai jumpa” sang Kepala Sekolah menolak niat Arya mengembalikan Essence of Memory kemudian menutup kembali portal tadi.

__ADS_1


Saat anak laki – laki itu tak terlihat lagi, si pria tua mengeluarkan sepuluh papan catur dari udara kosong sembari tersenyum kecut.


“Bocah mengerikan, ia mampu memprediksi dua puluh langkah ke depan. Jika tidak curang, sudah pasti aku kalah telak. Hehehe”


__ADS_2