Elementalist

Elementalist
Chapter 220 - Almost


__ADS_3

“Kapten!?”


“Kevin!? Beri aku pijakan!” perintah Arya cepat.


“Hah!?”


Kevin terkesiap sebentar akibat kejadian mengejutkan sebelumnya namun akhirnya menyadari maksud dari Arya. Ia menyatukan kedua telapak tanganya siap melontarkan pemuda tersebut kedepan, Arya menempatkan masing – masing kakinya disana lalu melesat.


Tambahan kekuatan pengendalian elemen petir Kevin semakin membuat gila laju Arya, dalam sepersekian milidetik jarak antara musuh dengan dirinya hampir terpangkas habis. Hayha tak tinggal diam, gadis itu kembali membidik antusias terus melepaskan rentetan tembakan.


DOR! DOR! DOR!


Pada kondisi normal sangat sulit menghindari serangan ini karena selain peluru bergerak Arya pun tengah maju sehingga sama saja saling bertabrakan. Tetapi efek Three-Colur Emperor Eye mengubah segalanya, Arya mampu melihat lusinan bijih besi tajam mengarah ke titik – titik vitalnya serta menemukan celah untuk mengatasinya.


TRANG! TRING! TRENG!


Dia berputar – putar di udara sambil memainkan pedangnya demi menepis seluruh peluru, Arya sekilas nampak layaknya seorang penari yang melakukan gerakan akrobatik. Hayha tersenyum kecut menyadari si Elementalist Es telah mencapai jangakuan serangan idealnya.


Perempuan pirang tersebut langsung merespon amat cepat mengeluarkan sebuah belati entah dari mana kemudian memasangkannya pada ujung senapannya. Bersedia meladeni pertarugan jarak dekat menghadapi Arya.


SLASH! TRANG! TRING! BRMMM!!! BRMMM!!! CKITTT!!!!


Hayha menunjukan kemampuan berkendara luar biasa, gadis itu tidak terlihat kesulitan sedikitpun bertukar serangan melawan Arya sambil terus memaksa motornya berjalan. Keduanya silih berganti menerjang dan menimbulkan percikan bunga api akibat pergesekan senjata mereka, beberapa manuver motor Hayha bahkan menyebabkan Kevin menelan ludah ngeri.


“Bagaimana bisa ia mengendalikannya seolah sedang bermain – main!?”


Sementara Kevin berjuang keras menyusul, pertukaran serangan terjadi semakin intens. Secara kilas sangat terlihat jelas Hayha tak diunggulkan, konsentrasi yang terbagi sungguh merepotkannya menanggulangi sabetan – sabetan Mandalika. Puncaknya Arya sukses melucuti senjata Hayha memanfaatkan satu ayunan tangkas.


TRANG!


“First Dance—“ dia memutar – mutar pedangnya berniat mengakhiri semua ini.


PSYUUU!!! JDUAR!!!


Namun sialnya tiba – tiba satu buah bola baseball melintas disebelah kepalanya kemudian meledak, Hayha tidak menyiakan – nyiakan kesempatan itu untuk menjaga jarak aman sedangkan Arya agak melambat dikarenakan terkena dampak bom barusan.


Gehrig kembali memunculkan setengah badan dari atas kendaraan sembari mengenakan sebuah sarung tangan. Lemparannya tepat sasaran juga kencang seperti hasil tembakan meriam, perlahan dia mengangkat tangan lalu memberikan kode komunikasi kepada rekannya.


“Ckk!? Padahal aku baru mau bersenang – senang, apa boleh buat?” Hayha berdecak kesal mengerti maksud Gehrig.


Dia langsung tancap gas menyusul yang lain, saat sudah sampai tepat dibelakang. Bagasi mobil terbuka, memperlihatkan ruangan cukup luas. Hayha tanpa menunggu segera masuk ke dalam, disana nampak sebuah tabung seukuran manusia. Mata Arya melebar menyadari ada wajah tertidur Reika menghiasi kaca benda tersebut.

__ADS_1



“Kap—!?“


“Áfxisi”


PSYUUU!!!


Kevin baru saja hendak menenangkan Arya tapi sang Kapten telah maju lagi dengan sangat cepat hingga menyebabkan dirinya terhempas kebelakang. Arya melompat tinggi berusaha menggapai lokasi Reika, namun disana Hayha bersama Gehrig berdiri siaga.


“MINGGIR! KEMBALIKAN ADIK—ARGH!?“


WUSHH!!! JLEB!!!


Arya terjatuh berguling – guling, rasa perih menghiasi pundak kirinya. Satu anak panah berhasil bersarang disana, masih berbekal tubuh penuh debu Arya berusaha bangkit mengejar kembali. Dari atas kendaraan Hayha melambai serta memberinya kecupan jarak jauh perpisahan sebelum pintu bagasi tertutup.


“Tidak!!!”


“Awas!!?”


SRRTTT!? TRANG!!!


Kevin datang tepat waktu menepis serangan sesosok bayangan yang mengincar leher Arya, Kevin merasa waswas karena tau kalau lawan dihadapannya bukanlah pelaku penembakan anak panah pada Arya tadi. Ia yakin ada seorang lagi sedang bersembunyi juga mengawasi gerak – gerik mereka.


------><------


“Kapten?” Kevin menoleh dan memanggil dengan nada sendu, ikut menyesal sebab tak mampu berbuat banyak beberapa saat lalu.


“Adududuh....maaf, apa kami mengganggu?” terdengar suara yang sengaja dimanis – maniskan.


Kevin menggeram kepada seseorang, penampilan sosok pengincar leher Arya sebelumnya kali ini terlihat seluruhnya. Dia merupakan laki – laki berambut sepundak berwarna kecokelatan, pakaiannya serba hitam juga dipenuhi renda – renda dan menimbulkan kesan kemayu.


Arya berdiri susah payah, tatapan matanya kosong. Ia berjalan maju terhuyung – huyung kedepan sambil mencabut anak panah pada pundaknya, darah segar mengguyur deras namun dia seolah tidak perduli.


“Minggir....”


“Wah wah wah kalau aku jadi dirimu mustahil berani melakukan hal barusan, sedikit saran meski kita tak berada dipihak sama. Hentikan pendarahanmu terlebih dahulu....”


“PERSETAN!!! ENYAH KAU!”


Arya menerjang siap mengayunkan pedangnya penuh amarah sementara si pemuda hanya diam seolah pasrah ditebas lehernya, dalam sepersekian detik entah bagaimana ia mulus menghindar kemudian cahaya keperakan menghiasi telapak tangannya.

__ADS_1


SRRTTT!?


Lagi – lagi Kevin mengambil tindakan memanfaatkan instingnya, menggunakan kecepatan tinggi dia menyeret Arya menyingkir sebelum semua terlambat. Kondisi mental Arya perlahan tenang kembali, kejadian tadi bagaikan tamparan keras baginya karena diselamatkan dari lubang maut oleh Kevin dua kali berturut – turut.


Si musuh sendiri terlihat sedikit kurang senang, dia memainkan pisau bedah kecil dicelah – celah jari jemarinya. Menunjukkan betapa mahirnya dirinya memakai senjata tak lazim tersebut, caranya berdiri membuat Arya maupun Kevin merasa kurang nyaman. Ada aura pembunuh kuat memancar dari dalam tubuh pria ini.


PLAK!?


“Kapten?” suara tamparan keras bukan cuma mengagetkan Kevin, lawan mereka ikut menaikan sebelah alis.


Arya baru menepuk keras kedua pipinya hingga kemerahan, sang Elementalist Es lalu menarik napas panjang supaya hatinya tenang. Satu menit berselang matanya membuka, sudah tidak ada lagi tiga warna berbeda disana. Hanya nampak pupil biru khas Azuldria.


“Maaf Kevin, aku terbawa suasana. Kita pasti menghadapi salah satu False Vanguard”


“Ahh....parahnya lagi aku yakin rekannya masih mengamati kita, orang yang bertanggung jawab memanah dirimu Kapten” Kevin bernapas lega menyadari Arya telah balik lagi seperti sedia kala.


“Aku tau arah datangnya”


“Eh? Sungguh?!”


“Ya, soalnya benda itu menancap ke tubuhku. Jadi aku mampu memperkirakan lokasi datangnya, mari kita kalahkan mereka lalu menjemput Reika bersama – sama” kata Arya tenang namun Kevin segera menolak.


Mereka mulai berdebat, masing – masing tidak ada yang ingin mengalah. Sang False Vanguard hanya terkekeh geli cukup terhibur menyaksikan adu argumen dua pemuda itu. Ketika akhirnya selesai barulah dia angkat bicara.


“Bagaimana? Kalian tidak perlu memperebutkanku tau?”


SRRTTT!?


Tanpa memperdulikan ucapannya sekujur badan Kevin langsung dialiri petir berwarna kekuningan, hantaran listrik bertegangan tinggi menghiasi kulitnya sebelum ia melesat. Musuhnya merasakan datangnya bahaya dan segera melompat mundur, bukannya terus mengejar. Kevin malah berhenti kemudian menyatukan kedua telapak tangannya.


“Sekarang Kapten!?”


“Arahnya sudah benar!”


Arya ternyata telah siap menyusulnya, dalam satu tarikan napas dia menginjak pijakan buatan Kevin menggunakan kaki kanannya. Kevin mengumpulkan seluruh energinya terus menghempaskan Arya ke udara, anak laki – laki itu langsung menghilang sangat cepat layaknya sebuah sambaran petir di langit mendung diiringi suara gemuruh.



“Lightning Catapult!?”


SRRTTT.....JGERR!? PSYUU....!!!!

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2