
Begitu memasuki Rumah Sakit, Arya dan Callista segera menuju meja resepsionis untuk menyerahkan selembar surat dari Allucia kemudian menunggu. Dia bilang salah satu kenalannya akan membantu mereka berdua.
Rumah Sakit yang berada di Distrik Perak ini cukup padat pengunjung akibat kebanyakan orang Distrik Perunggu juga datang kemari untuk berobat, itulah sebabnya ketika duduk berseliweranlah banyak individu dengan kepentingan masing – masing.
Hal tersebut tentu menarik perhatian Callista, ia memperhatikan sambil tanpa alasan yang jelas menghisap jari telunjuk tangan kanannya.
“Bisakah kau tidak melihat orang – orang dengan tatapan kelaparan seperti itu?” celetuk Arya menatap Callista sedikit takut.
“Hah? A..ak..aku tidak melakukannya!” gadis itu tersentak kaget kemudian langsung cepat – cepat menundukan kepala ke arah kakinya sendiri.
“Tenang saja, alasan kita kesini memang untuk menyelesaikan masalahmu”
“Lagi pula inikan salahmu”
“Eh? Kenapa jadi aku yang sal—“
Sebelum perdebatan semakin membesar, salah seorang suster datang menghampiri lalu meminta keduanya untuk ikut ke ruang Dokter kenalan Allucia. Sesampainya disana, Arya dan Callista disambut oleh seorang perempuan muda berambut pirang.
Jas lab miliknya yang putih bersih menyilaukan mata mereka, dengan penuh antusias beliau menjabat tangan Arya maupun Callista sambil memperkenalkan diri sebagai Dokter Melly.
“Aku tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan sekali seumur hidup seperti ini, kemarilah. Kak Allucia sudah menjelaskan semuanya” serunya semangat.
Melly ternyata merupakan junior Allucia sewaktu mereka mempelajari Kedokteran saat masa sekolah dulu. Tentu dia juga tau menahu mengenai informasi seputar Elementalist dan masih banyak hal – hal yang tidak bersifat umum untuk orang awam.
Callista duduk di kursi pasien ditemani Arya tengah berdiri santai tepat di sampingnya, Melly mengelluarkan empat sampel darah pada wadah kaca kecil dari balik saku jas. Ia meminta Callista mencobanya satu per satu.
Perlahan ekspresi Callista berubah semakin enek, terlihat jelas kalau dia bisa muntah kapan saja. Hanya sampel terakhir yang dapat ditelan. Itupun dengan penuh perjuangan.
“Aku senang akhirnya bisa melakukan penelitian mengenai konsumsi darah Vampir tapi....nampaknya aku banyak keliru di sini” Melly menulis beberapa hal pada catatanya.
“Maksudnya?” tanya Callista memiringkan kepala.
“Biarkan aku bertanya terlebih dahulu, apa para Vampir pemilih dalam meminum darah?”
“Ada beberapa yang seperti itu namun hanya masalah selera saja”
“Tapi tubuh Nona Callista terlihat tidak bisa menerima golongan darah lain”
“Aku tidak mengerti maksud anda tapi tiga darah diawal tadi benar – benar terasa seperti lumpur, huek....yang terakhir juga sebenarya sama saja. Walaupun setidaknya aku bisa menelannya” Callista menggeleng sambil bergidik pelan.
“Intinya kau itu cuma bisa meminum golongan darah O, apa karena darahku begitu ya?” timpal Arya tiba – tiba.
“Apa? Yang terakhir tadi sama seperti milikmu? Tapi kenapa tidak terasa dingin dan manis?”
“Kalau kau ingin begitu masukan saja mereka ke pendingin lalu tambahkan sedikit gula”
Selepas meminta sedikit darah Arya untuk diteliti, Melly mengambil kesimpulan kalau terdapat kandungan khusus sehingga menyebabkan perbedaan mendasar antara milik Arya dan orang lain. Hal ini sepertinya benar – benar berpengaruh kepada indera pengecap Callista.
Lalu Arya berdiskusi dengan Dokter Melly untuk mencari jalan keluar, akhirnya setelah mendonorkan beberapa liter darah. Keduanya pergi meninggalkan Rumah Sakit tanpa lupa mengucapkan terima kasih pada sang Dokter.
__ADS_1
“Kau harus mengambil jatah darah di sini setiap bulannya, mengerti?”
“Kenapa aku tidak boleh meminumnya langsung darimu?” Callista balik bertanya.
“Bukannya tidak boleh, bagaimana jika kau membutuhkan darah ketika aku sedang pergi? Kau tidak berpikir kita akan selalu bersama setiap saat bukan?”
“Tapikan kau Blood Servant milikku” dengusnya kesal.
“Carilah yang lain kalau begitu” saran Arya santai.
“Tidak mau, karena tak akan ada yang sama sepertimu”
------><------
“Manusia makhluk yang hebat ya? Walaupun lemah, kalian masih bisa tetap bertahan. Beberapa waktu lalu aku tak pernah bermimpi bisa melihat semua ini”
Mereka duduk di salah satu bangku taman ECP, Callista memandangi orang – orang yang berlalu lalang mengerjakan aktivitasnya masing – masing penuh kesungguhan.
“Apa kau benar – benar tidak apa – apa terkena sinar matahari?” nada suara Arya sedikit khawatir.
“Em em. Tidak punya bayangan, sinar matahari, bawang putih, pasak besi. Kau sedang membiacarakan Vampir zaman kapan sih?”
“Kau masih marah?”
“Tidak”
“Kau ini keras kepala sekali!”
Callista menatap Arya dan terkejut seketika karena mata pria itu sudah berwarna merah, taringnya mencuat sedikit diantara bibir.
“Berusaha menyembunyikan perasaanmu dariku eh? MiLady? Kekeke” Arya tertawa geli.
“Arya kau yakin....berubah di tempat seperti ini? Bagaimana jika sampai ada orang yang melihatmu?”
“Tak usah dipikirkan, kau sebelumnya bilang bukan? Kalau aku adalah Blood Servant milikmu, bisakah kau membuktikan hal itu?
“Hah? Wujudmu yang sekarang ini sudah cukup menjadi buktiknya”
Tatapan gusar Callista terarah kepada Arya, namun si Elementalist Es masih tersenyum tenang tak bergeming sedikit pun. Membuat kesabaran sang nona mencapai batas, akhirnya ia memerihtahkan Arya untuk melompat ke dalam danau.
Namun sayang, dia tetap diam seakan tidak terpengaruh oleh perintah Callista. Mulut Callista melebar tak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Kubilang masuk ke dalam air!”
“Aku menolak” jawab Arya dan secara perlahan matanya kembali menjadi biru.
“A..ap..apa?”
Callista sangat terkejut, ia tidak pernah mendengar sekalipun kalau ada seorang Servant dapat menolak perintah langsung dari tuannya. Lebih parahnya lagi Arya seperti bisa mengendalikan mode Servantnya sesuka hati.
__ADS_1
Disaat itulah Arya mulai menceritakan semuanya, alasan kenapa dia mampu melakukan semua ini ternyata karena sewaktu pembuatan kontrak. Atau ketika Callista menggigitnya dulu, tubuhnya menolak kekuatan Demon tersebut.
Akibatnya tubuh Arya berkontraksi hebat sampai hampir mati, untung saja Kruel membantu sehingga kekuatannya tidak saling menghancurkan satu sama lain. Hal tersebut membuat terdapat sebuah cacat pada kontrak Arya.
“Dengan kata lain, aku bisa menolak perintah yang menurutku tidak relevan” ia mengakhiri ceritanya.
“Tapi...Kruel tidak pernah menceritakan apapun soal ini sebelumnya”
“Dia sengaja karena mengira kau akan memberikan hak milikku padanya dengan mudah”
Callista terlihat begitu terpukul, suasana berubah senyap seakan tak ada orang yang akan berbicara lagi. Tapi akhirnya Arya berdiri dan mengelus lembut kepala Callista.
“Walaupun begitu tenang saja, aku akan tetap melindungimu. Karena....kau adalah teman berhargaku MiLady”
“Terima kasih” sahut Callista sendu membalas dengan cara menggenggam tangan Arya erat - erat
Arya memberikannya waktu untuk menenangkan diri, tapi tanpa alasan jelas entah mengapa bagian belakang kepalanya terasa gatal. Seperti diawasi oleh sesuatu.
“Nee Arya? Aku ingin minum, seteguk saja” Callista memohon sambil memasang wajah memelas.
“Eh?! Di sini? Kau yakin?”
“Tidak apa – apa bukan? Aku tidak merasakan kehadiran orang lain kok”
“Hah....apa boleh buat?” kata Arya menghela napas lalu menarik kerah bajunya.
“Yey....!!!”
Callista langsung bergerak cepat naik ke pangkuan Arya sambil memandangi wajahnya, sehingga posisi mereka saat ini berhadapan satu sama lain.
“Hei!? Kondisi ini?! Orang – orang bisa salah paham!”
“Aku tidak perduli, selamat mak—“
GRAB!
“Eh???”
Tiba - tiba enam buah tangan menahan kepala Callista tepat sebelum dirinya menggigit pundak Arya. Sosok – sosok gadis mengerikan dengan tatapan amarah yang sudah memuncak balik menatapnya. Terlihat jelas urat saraf memenuhi wajah masing – masing.
“Gadis kecil...., aku sudah cukup bersabar dari tadi....” desis Alalea.
“Kupikir aku salah menilai tampang tak berdosa milikmu” Asuna menambahkan.
“Hei Callista? Bagaimana kalau kau meminum sup sayur buatanku saja?” tanya Rena tersenyum dingin.
“Gigit, dan akan kupatahkan gigimu” Elizabeth berbisik penuh ancaman.
“Menggigit orang itu tidak baik lho....Callista” ujar Lexa memayunkan mulutnya.
“Akan kuajarkan dirimu sedikit tata krama Manusia” Selena baik hati menawarkan.
__ADS_1
“KYAA....???!!!”