Elementalist

Elementalist
Chapter 256 - Intuisi Orion


__ADS_3

Beberapa jam sebelum matahari mulai terlihat di ufuk timur, semua orang berkepentingan selain warga sipil sedang berkumpul untuk membahas strategi menghadapi serbuan Fatum. Arya termasuk yang paling akhir memasuki ruangan rapat tersebut disusul teman – temannya lima belas menit berselang.


Raut wajah mereka nampak buruk sehingga membuat para hadirin bertukar pandang namun tidak ada yang cukup berani angkat bicara menanyakan alasannya, melihat sepertinya anggota lain telah lengkap Astral mengambil alih pimpinan dan menjelaskan gambaran besar situasi sekarang.


Berkat kerja sama luar biasa seluruh titik portal sihir di dalam Elemental City sukses dibersihkan cukup cepat, hal ini berdampak positif bagi pihak mereka karena tak perlu lagi memikirkan serangan kejutan seperti sebelumnya.


Penduduk – penduduk juga telah diamankan pada bungker luas ciptaan Pusat Penelitian lalu hanya menyisakan para relawan yang ingin ikut serta bertarung menjaga sekeliling kota, ekspresi masing – masing perlahan berubah murung ketika Pengawas Astral menjabarkan kekuatan lawan.


“Jumlahnya sangat jomplang ya....”


“Benar, lebih mirip misi bunuh diri menurutku dari pada perang” komentar salah satu peserta.


“Apakah kita akan menghalau mereka memasuki dinding Perunggu?”


“Lee? Buat apa melakukan hal merepotkan begitu? Biarkan saja kemudian ambil keuntungan atas ketidaktahuan musuh atas kondisi kita....” Shu menimpali kurang setuju.


“Tapi nanti dampak kerusakannya terhadap kota—“


“Hey? Untungnya bagi kita menghindari segilintir kehancuran tidak ada sama sekali jika pada akhirnya Elemental City jatuh ke tangan Fatum?”


Diskusi perlahan memenuhi penjuru ruangan, beberapa menyarankan Astral meminta pertolongan anggota organisasi Pax di seluruh dunia tetapi ia hanya menghela napas dan memberitahu kalau telah mencoba menghubungi hanya saja sayangnya belum mendapat jawaban. Alalea tak kuasa menahan diri mengepalkan kuat – kuat tanganya hingga memutih akibat rasa bersalah.


Diondra pun merasakan hal sama, dia berharap mampu mengabari ayah maupun adiknya tentang kondisi gawat mereka. Ada juga kemungkinan Fatum bakal menjadikan Atlantos sebagai target berikutnya, sewaktu debat makin parah hentakan keras kaki Po mengakibatkan semua terdiam seketika.


“Ketimbang saling menyalahkan serta mengharapkan bantuan khayalan, lebih baik menentukan cara mengatasi kekurangan orang kita....”


“Aku setuju dengan Magna, ada yang punya ide? Mungkin anda Tuan Kinichi?” kata Romero sembari menoleh.


Si Werebeast kucing terkesiap namanya dipanggil oleh sang Pengawas buta, memang sebenarnya ia punya suatu hal dalam benaknya tetapi mendapati semua perhatian langsung tertuju padanya dalam sepersekian detik agak membuatnya ragu.


“Beritahukan kepada kami....” Arya mengangguk memberikan dorongan mental.


Kinichi menelan ludah berat sebelum maju terus memulai presentasinya, adik – adiknya dan perwakilan ras Werebeast disana terkagum sekaligus bangga mendengar betapa briliannya ide tersebut. Terlihat anggota yang lain juga berpikiran sama, selesai Kinichi bicara Pengawas Allucia segera menyeletuk. “Aku suka elemen kejutannya, namun apakah kita punya cukup waktu untuk mempersiapkan semua itu?”.


“Aku setuju, meski menggiurkan tapi terlalu beresiko....ditambah dengan adanya para Titan....”


“Iyaa....memang disanalah letak kelemahan rencana ini” ujar Kinichi mengakui.


“Baiklah, berikut—“


“Tidak, mari lakukan ide barusan....”


Setiap pasang mata langsung mengarah ke tempat duduk orang yang bicara, Arya bangkit berdiri kemudian melangkah pelan tepat menuju sebelah Kinichi. Dia lalu mengetuk – ngetukan jarinya kepada rancangan buatan anak tertua Nyanko Kyōdai di atas meja.


“Arya? Kau tadi melamun ya? Kita semua sepakat kalau—“


“Sabar dulu, kalian bahkan belum mendengar jalan keluar dariku. Jadi....”


Saat giliran Arya menyampaikan sesuatu ternyata tidak setenang orang – orang sebelumnya, beberapa kali ada yang ingin memotong namun dia cepat mengangkat tangan meminta agar dibiarkan menyelesaikan terlebih dahulu. Saat mengakhiri penyampaianya tak ada satupun individu masih duduk pada kursinya masing – masing.


“Bagaimana? Masalah waktu terselesaikan?”


“Anda yakin bisa menahan selama itu hanya menggunakan trik ini?” Pengawas Astral menatapnya tajam.

__ADS_1


“Mungkin dalam kondisi biasa tidak, namun ceritanya akan berbeda jika semuanya memasuki tahap Master....”


“APA!?”


“Kau pikun ya? Mana mungkin kami—“


“Bisa....”


“Maksudmu?” tanya Asuna bingung.


“Akan kupastikan kalian bersembilan termasuk Ali dapat melakukannya....”


------><------


Setengah jam sebelum gelombang pertama maju menyerang, nampak kesepuluh Elementalist duduk membentuk formasi huruf ‘V’ dengan Arya sebagai pusatnya. Tangan kiri dan kanannya menyentuh punggung Kevin serta Zayn kemudian berlanjut terus sampai Elementalist terdepan.


Wajah mereka pucat pasi akibat tegang melakukan hal ini pertama kali, bahkan orang – orang yang menemami mereka di atas dinding Emas ikut merasakan kepanikan termasuk Eridan. Cuma Arya sendiri masih terlihat santai lalu sempat menguap karena belum tidur sama sekali.


“Jangan berhenti mengatur napas atau tubuhmu akan penyok terus meledak tuan besi berkarat....”


“Bagaimana caranya aku bisa tenang kalau tekanan kalian begitu besar padaku!?” Timothy menyahut dari depan.


“Berusahalah lebih keras seperti yang lain! Siapapun tolong berikan dia pelajaran untukku!”


“Aww!? Rena!? Apa perlu mencubitku sekeras itu!?”


“Bersiap....waktunya hampir tiba.....” peringat Arya dan perlahan memejamkan matanya.


Aura aneh berwarna gelap yang berasal dari sampingnya ketika masih berada dalam alam bawah sadar menyebabkan dirinya sedikit menoleh. Bahkan tanpa melihatnya ia tau siapa orang yang berdiri di sana.


“Ada sesuatu mengganggu pikiranmu Eridan?”


“Tuan Arya? Kakakku....mustahil terkecoh dengan hal ini....” Eridan berbisik pelan.


“Heh....jika demikian sepertinya kita harus berdoa supaya ia cukup arogan menyimpan semuanya sendiri....aku mulai!”


“YA....!!!”


“Mercury Order! Master!”



Agnet luar biasa memancar melalui lengan Arya menuju kawan – kawannya kemudian saling sambung menyambung satu sama lain hingga Elementalist paling depan. Mereka bersepuluh membuka kelopak matanya secara bersamaan dan menunjukan cahaya terang benderang menyorot dari dua titik tersebut.


------><------


“Klon?”


“Pfftt....kikiki....huahahaha.....!!!”


Orion gagal menahan gelak tawanya saat semua pihak Fatum menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri tubuh yang ditusuk oleh Yami berubah menjadi sebongkah boneka es. Hal serupa terjadi pada badan Elementalist lain sesuai elemen masing – masing.


“Oi? Orion kau—“

__ADS_1


WUSSHH....!?


Alba gagal menyelesaikan kalimatnya karena sergapan cepat Louis, Merlin, Garyu, dan Kris sudah menodongkan senjata ke leher temannya. Ketiga Ksatria Pentagram tersisa tak mampu mengambil tindakan sebab bawahan pemimpin empat ras tersebut mengunci pergerakan mereka.


“Hmm? Ada perlu apa ya?”


“Kau mengetahuinya sejak awal....?” bisik Louis dingin.


“Tentu....”


“Mengapa kau tidak memberitahu kami?”


“Apa kalian pernah bertanya?”


“Bocah....pikirkan baik – baik ucapanmu sebelum bicara....” Merlin mendesis.


“Hihihi namun bukankah lucu sekali? Jika memang Kesepuluh Elementalist sungguhan berada di tembok terluar, sejujurnya aku tidak akan mengirim kroco – kroco tapi langsung kesana menangkap mereka menggunakan tanganku sendiri. Kalian....punya otak tidak sih?”


“KEPARAT KECIL INI!” geram Garyu naik pitam.


Dia menggapai kerah pakaian Orion terus bersiap melayangkan tinjunya tetapi belum sempat pukulannya mencapai target sebuah portal keemasan membuka dekat lokasi keduanya berdiri. Dari dalam sana muncul barisan pasukan Elf berjumlah besar dipimpin oleh sang Raja baru, Regulus D’Orodria.


“Mmm? Apa yang terjadi?”


“YANG MULIA?!”


Para Ksatria Pentagram segera melepaskan diri kemudian membungkuk, Orion tersenyum lebar sebelum menepik tangan Garyu dan menyusul ketiga temannya. Anggota Fatum lain tertegun melihat kemunculan pasukan ras terkuat tadi tanpa bisa berkata – kata.


“Rajaku? Anda baik – baik saja? Biarkan aku menyembuhkanmu....”


“Ahh? Ini? Aku hanya bertukar beberapa serangan melawan Eudart, pak tua itu masih lihai sekali ternyata....”


“Orion?” Razel memanggil pelan usai Alba menuntun Regulus untuk mendapat perawatan.


“Hah?”


“Kau bahkan menyembunyikannya dari kami....” tambah Falxus datar


“Eeee....apakah kalian tidak pernah mendengar pepatah untuk membodohi musuhmu, kau harus mengelabui kawanmu terlebih dahulu? Hehehe.....”


“Menurutmu siapa pemilik rencana ini? Eridan?”


“Humm....mustahil, kemampuan adik kecilku belum sampai ke tahap tersebut....namun harus kuakui dia memang mempunyai darah Azuldria....”


“Jadi pelakunya? Putria Alalea?”



“Hahahaha kau bercanda? Tentu saja bukan, melainkan sang Ketua Elementalist itu sendiri....” Orion menerawang jauh tepat menuju puncak dinding Distrik Emas, di mana lokasi tubuh asli Arya dan teman – temannya berada.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2