
“Uhuk...akh...uhuk! Cuih! Ugh....kepalaku....” Arya mengeluarkan semua air yang masih tersisa disaluran pernapasannya sambil terbatuk – batuk.
“Kapten! Kau sudah sadar?”
“Mmm....? Apa yang terjadi?”
Kevin, Zayn, Timothy, dan Ali cepat – cepat mendekat mengerubungi Arya. Mereka berusaha membantu agar anak itu bisa kembali bernapas dengan normal, Arya yang kepalanya masih terasa pening melihat sekeliling.
Ternyata dia masih berada dipinggir danau tempat ujian dilaksanakan, namun para penguji sudah tidak ada. Hanya terdapat teman – teman Arya dan Selena ditempat tersebut, Kevin memeriksa tubuh Arya dengan hati – hati.
“Syukurlah tidak terlalu parah, hanya ada satu dua tulang patah saja”
“Itu parah bagiku, tolong jelaskan situasinya”
Mereka berempat mulai menceritakan semua yang terjadi setelah Arya terlempar ke udara, mulai dari pernyataan lulus Vilhelm, pengesahan para Tetua Klan beserta Sepuluh Pengawas Ujian, dan penarikan keluar dirinya oleh Selena dari danau.
Arya mendengarkan baik – baik semuanya, namun ia merasa ada yang kurang. Seperti empat orang ini berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, tapi dia tidak bisa menebak tentang apa itu.
“Ada pemberian waktu rehat sejenak sebelum pelaksanaan ujian selanjutnya, mereka mungkin ingin memberi kami kesempatan untuk tau kondisi kalian berdua” Timothy mengakhiri penjelasannya.
“Hah....seluruh tubuhku terasa remuk, aku lelah sekali. Sepertinya aku tidak bisa menyaksikan ujian kalian, maafkan aku dan semoga beruntung teman – teman” kata Arya lelah sambil meregangkan tangan sebelum membaringkan tubuhnya sekali lagi.
‘Tidak usah dipikirkan, malah kami kagum kau masih mampu berbicara setelah melewati semua itu’ Ali menambahkan penuh antusias.
Kelimanya mulai membicarakan tentang apa saja yang terjadi selama ujian tadi berlangsung, tidak jauh dari sana. Seorang gadis sedang duduk bersimpuh sambil menunduk ke tanah, dia terlihat layaknya pelaku kejahatan besar.
Empat orang gadis berdiri mengelilinginya dengan tangan terlipat, tatapan mereka begitu menusuk sampai – sampai membuat tubuhnya bergidik pelan.
“Apa kau punya alasan? Wahai terdakwa?” geram Elizabeth.
“Terdakwa?—“
“Jangan memotong! Kau hanya boleh bicara untuk menjawab pertanyaan kami!”
“Sel....aku tidak pernah menyangka kau selicik itu” Lexa menatap rendah dirinya.
“K..k..kupikir, Selena tak bersalah. D...d...dia hanya...., sedikit....nakal” terbata – bata Rena menangkan yang lain, namun terlihat jelas senyuman diwajahnya itu hanya sebuah topeng demi menutupi perasaan kesalnya.
“Aku cuma ingin membantu agar dia kembali bernapas” Selena menyeletuk pelan.
“Alasan konyol macam apa itu! Lalu kenapa kau tidak menggunakan pegendalian air milikmu saja untuk menarik keluar air dari paru – parunya”
__ADS_1
JDARR!
Ekspresi Selena berubah seakan tersambar petir, kenapa ia tidak memikirkan hal itu! Padahal sederhana sekali. Apa karena terlalu cemas? Atau mungkin sejak awal dia memang ingin untuk....
“Kondisinya mendesak! Aku tidak bisa berpikir jernih, lagi pula tenagaku habis setelah melakukan serangan terakhir tad—“
“Kami tidak peduli! Itu bukan alasan kau bisa....bisa....m....me....mengambil WAA....Ena!? Sel jahat sekali!” isak Lexa sebelum berbalik memeluk Rena.
“Asuna!? Kau juga katakan sesuatu dong!” toleh Elizabeth.
“Hah?! A...a...aku?! Kenapa? Jangan seret diriku dalam masalah ini, lagi pula aku tidak perduli mau apapun yang kalian lakukan pada laki – laki menyebalkan itu!” Asuna menimpali dengan marah.
“HAH?!~”
Arya mengeryitkan dahi akibat keributan para Elementalist wanita, ia duduk kemudian menoleh ke arah kelima gadis tersebut sambil bergumam.
“Ssshh....apa sih yang mereka ributkan? Dan mengapa juga bibirku terasa manis? Salah satu dari kalian menaburinya gula ya?”
------><------
Tanpa terasa hari ujian lewat begitu saja, untungnya mereka bersepuluh dinyatakan lulus. Arya ingat sekali petang hari itu teman – temannya silih berganti masuk ruang perawatan darurat dengan luka yang tidak kalah jauh darinya.
Wajah Timothy bahkan bengkak sampai tidak bisa dikenali lagi, anehnya Arya belum sempat berbicara dengan Selena sejak ujian selesai. Gadis itu seperti berusaha menghindarinya, Arya jelas sekali mendengar ia bersikeras dirawat ditempat berbeda.
Tanpa ragu, Arya menerima ajakannya. Tubuhnya sudah gatal berbaring terus selama beberapa hari terakhir, Vilhelm menggendong Arya dipunggungnya. Hanya dengan beberapa tarikan napas, mereka sudah sampai disebuah tebing.
Disana hanya ada satu pohon kecil yang tumbuh, pemandang langit dari tempat itu membuat Arya berdecak kagum. Bintang – bintang dapat terlihat jelas, menyadari hal tersebut. Vilhelm tersenyum.
Keduanya berbicara banyak malam itu, Arya menceritakan semua pengalaman yang telah ia lewati untuk sampai ke tempat ini. Dan hanya bisa dibalas oleh Vilhelm tentang betapa bosannya berada di Dragon Island selama beberapa tahun terakhir.
Walau baru pertama kali bicara empat mata, Arya merasa sedang bersama seorang kawan lama. Tidak ada sedikitpun rasa canggung diantara mereka, tanpa terasa fajar mulai menyingsing. Disitulah Arya bertanya pelan.
“Kenapa....kau bisa terdampar disini?”
“Lyan melepaskan kontrakku dan Mirianne, hanya menyisakan Ruina disisinya. Pilihan yang kumiliki hanya kembali kesini” Vilhelm menghela napas seakan tau cepat atau lambat pertanyaan ini pasti datang.
“Apa alasannya?”
“Mungkin karena kau, dia ingin kami membantu harapan terakhirnya”
__ADS_1
“Sebenarnya kalian berhadapan—“
“Sesuatu yang jahat, belum saatnya aku memberitahumu”
“Mmm, terima kasih sudah menemaniku berbicara” Arya tersenyum senang.
“Sama – sama” balas Vilhelm sambil mengusap rambut Arya dengan mata sendu.
------><------
Seminggu kemudian hari penetasan pun tiba, Kesepuluh Elementalist akan menetaskan telur – telur yang telah mereka dapatkan saat ujian. Caranya sederhana, mereka hanya perlu mengalirkan kekuatan Elemen milik masing – masing ke dalam telur tersebut.
Arya mendapat nomor urut terakhir untuk acara kali ini, teman – temanya satu persatu mulai maju ke hadapan para Tetua Klan naga sambil berusaha menetaskan telur mereka. Dari yang Arya lihat, kebutuhan tenaga penetasan berbeda – beda.
Ada yang cuma membutuhkan sedikit tenaga bisa menetas dan sebaliknya, menyerap tenaga Elementalist sampai hampir kering baru menetas. Para korban kejadian ini adalah Kevin, Timothy, Asuna, dan Selena.
Ketiganya berjalan sempoyongan setelah melewati proses tersebut, Arya sedang berpikir keras mengenai pemberian nama. Diapun mulai mengurut nama – nama naga Elementalist lainnya dari Asuna, Kevin, Rena, Timothy, Lexa, Zayn, Elizabeth, Ali, dan Selena.
'Atsui, Sheen, Fertill, Solido, Cleft, Nagi, Ultra, Naem, dan Espuma ya?' batinya sambil mengernyitkan dahi.
Akhirnya gilirannya pun tiba, ia melangkah penuh percaya diri menuju tengah area penetasan. Tanpa disadari semua orang menahan napas, karena teringat teriakan menggelegar misterius sewaktu Arya mendapatkan telurnya.
Tidak hanya itu, orang – orang yang mengetahui kalau isi Ancient Egg akan segera terlihat tidak mampu menahan diri lagi, ini berlaku untuk para Tetua Klan. Arya mulai mengumpulkan kekuatan elemen ditangannya.
Namun ketika berusaha dialirkan, tenaga lain dari dalam Ancient Egg malah mendorong milik Arya. Karena tidak siap, Arya terkejut dan terpaksa menerima semua energi pemberian telur tersebut. Hal ini berlangsung cukup lama.
Saat semuanya sudah habis, retakan mulai terlihat pada cangkang telur. Seekor anak naga berlapis es begitu cantik keluar sambil menolehkan kepalanya ke arah Arya, matanya melebar kemudian dengan langkah kecil berusaha mendekati si Elementalist Es.
Arya segera mengangkat makhluk mungil itu dan menempatkannya dipundak, tanpa disangka – sangka sang naga mulai menarik napas dalam – dalam sebelum mengeluarkan raungan sangat kuat. Terlihat jelas udara ikut bergetar dibuatnya.
Semua naga tiba – tiba menundukan kepala seketika, tidak terkecuali para Tetua Klan. Mereka bersepuluh bertekuk lutut menghadap Arya.
“Tetua? Apa yang terjadi?” Kesepuluh Pengawas Ujian bertanya heran.
“T...t...ti...tidak tau, tubuh kami....bergerak sendiri” jawab Cornus pucat.
Sebaliknya, Astrid tersenyum lebar. Ia perlahan memukul – mukulkan tangan ke tanah sambil berseru “Drakenkoningin! Drakenkoningin! Drakenkoningin!”
Seruan tersebut semakin hebat bergema saat satu persatu naga mulai mengikutinya, Arya melirik naga es dipundaknya sebentar. Lalu menggosokkan lembut kepalanya penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Sepertinya kita berdua punya bakat untuk menarik perhatian banyak orang ya? Safira”