
"K...ke...kenapa kita bisa berakhir di Kutub Utara?!" tanya Rena sambil menghela napas panjang.
"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya" jawab Arya sambil berusaha merapikan barang-barang bawaanya.
"A..a..ahh iya kau benar, kita harus mencari tempat berlindung terlebih dulu" ujar Rena dengan kepala menoleh kesana kemari.
Tempat mereka berdiri saat ini diselimuti oleh es, dikejauhan terlihat beberapa gunung menjulang tinggi ke angkasa. Butiran-butiran salju terus menimpa kepala mereka sehingga membentuk tumpukan kecil yang terlihat seperti topi musim dingin.
"Begitulah, kupikir kita bisa menemukan gua atau sejenisnya disekitar sana" tunjuk Arya ke arah utara.
"Hmm....Arya?" panggil Rena pelan.
"I..i..iya?" sahut Arya cepat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rena dengan raut wajah khawatir.
"T..te..tentu saja! Kenapa kau bertanya demikian?"
"Wajahmu sungguh merah, apa kau yakin baik-baik saja?"
"Ugh...reaksi apa yang kau harapkan dari seorang pria yang ciuman pertamanya baru saja disaksikan oleh ratusan orang beberapa saat yang lalu" keluh Arya.
"Ah....." seru Rena sambil terlihat paham dengan apa yang terjadi, ia lalu mulai berjalan perlahan. Saat ia melewati Arya dia menyeletuk pelan "Mmm....tapi, kau terlihat menikmatinya"
"A..ap..apa?! Apa kau mengatakan sesuatu Rena?"
"Tidak ada, lupakan" jawab Rena sambil terus berjalan menjauh.
"Hey Rena! Tunggu sebentar! Memangnya kau tau kita mau pergi ke arah mana?!" panggil Arya sambil bergegas menyusul Rena.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya berjalan di depan sebagai pemandu bagi Rena, salju yang turun bertambah lebat dan angin juga mulai bertiup makin kencang. Sehingga jarak pandang mereka semakin terbatas.
"Brr...Arya?" panggil Rena dengan sedikit berteriak agar suaranya bisa terdengar.
"Hmm?"
"Kau....tidak merasakan apa-apa?"
"Apa kau baru saja bertanya apakah seorang Elementalist Es merasa kedinginan?" tengok Arya dengan nada suara heran.
Rena menanggapinya dengan mengangguk cepat sambil terus memeluk tangannya, Arya bisa melihat tubuhnya menggigil karena rendahnya suhu udara di tempat itu.
"Mmm...aku tau makna dari kata dingin, dan tentu saja aku bisa merasakannya. Hanya saja, sejujurnya aku tidak pernah merasa kedinginan selama hidupku"
"Tidak pernah merasa kedinginan?!" ujar Rena keheranan.
"Iyap, aku tidak tau hal seperti apa itu kedinginan. Bagaimana denganmu Rena?"
"A..ak..aku?" ulang Rena dengan gigi gemertuk.
"Huum, bukankah kau berasal dari Greenland. Dari yang kubaca, delapan puluh persen wilayah disana tertutup es"
"Emmo....kenapa kau menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu? Bukankah kita semua sejak lahir sudah berada di Elemental City?" seru Rena dengan nada suara tidak percaya.
"Ahahaha....benar juga, maaf. Aku lupa"
"Bagaimana mungkin kau melupakan hal seperti itu" celetuk Rena sambil menggelembungkan pipinya.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam diam, tapi tiba-tiba Arya mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan kepada Rena untuk berhenti. Arya lalu menukuk lututnya sambil menyentuh permukaan berlapis es yang sedang mereka pijak itu.
"Ada apa?" tanya Rena bingung.
"Ada sesuatu yang tertimbun di tempat ini, Rena tolong urus barang-barangku sebentar" sahut Arya sambil melepas barang-barang bawaanya satu persatu.
Setelah Rena berdiri cukup jauh sambil membawa barang-barang itu, Arya memasang kuda-kuda sambil membuat pose seperti ingin membuka sesuatu. Ia menarik napas perlahan lalu meregangkan kedua tangannya.
Seketika tempat itu bergetar, es ditempat itu seperti bergeser menuju tepian. Arya terus mengulangi gerakan itu beberapa kali sampai akhirnya terbentuk sebuah lubang dangkal dihadapannya. Saat sudah selesai, Arya segera melambai ke arah Rena.
"Rena?! Kupikir kau harus melihat ini?" panggil Arya dengan nada suara mendesak.
Rena segera belari tergopoh sambil memawa barang-barang bawaan Arya, saat ia melihat sesuatu yang ada didalam lubang dangkal tersebut. Dia terkesiap pelan.
"Ini kan?!"
__ADS_1
-----------------------------<<>>-----------------------------
Rena memasuki sebuah mulut gua sambil melihat sekelilingnya dengan hati-hati. Setelah memastikan semuanya aman diapun segera meletakan barang-barang bawaanya, kemudian melemparkan pandangannya sekali lagi ke arah mulut gua.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Rena dengan khawatir.
"Dia masih hidup, tapi dalam kondisi kritis" jawab Arya sambil memasuki gua.
Dibelakang Arya terlihat sebuah bongkahan es berbentuk ceper yang berjalan mengikutinya, diatas bongkahan es itu terbaring sesosok binatang berkaki empat yang sedang sekarat.
Arya menggerakan bongkahan es itu dengan tangannya, dan menempatkannya disalah satu sudut gua. Kemudian dia juga segera meletakkan barang-barangnya.
"Rena, apa kau bisa menumbuhkan tanaman Sun Ginseng, Mint Blood, Burning Ginger, Pepper Hell, dan Sky Cumin Tea?" tanya Arya cepat.
"Hah? Kau ingin aku menumbuhkan Magical Plants?" Rena balik bertanya dengan heran.
"Begitulah, apa tidak bisa?"
"Bisa saja sih, kebetulan aku mempelajari beberapa Magical Plants yang baru saja kau sebut dan masih banyak lagi lainnya sebelum berangkat Ujian. Karena kupikir akan berguna"
"Bagus" ucap Arya sambil mengarahkan tangannya ke salah sudut gua lainnya, segera saja es disana mencair dan memperlihatkan tanah gembur yang cukup luas. "Kau bisa menumbuhkannya disana, kita harus cepat"
Rena langsung melaksanakan apa yang Arya perintahkan, sementara Arya mengumpulkan kayu-kayu yang ia bawa dari Fairy Forest. Dia mulai menggesek-gesekan batu untuk menyalakan api.
"Inilah alasan kenapa aku membawa kayu-kayu ini, sebenarnya sih aku seharusnya tidak perlu repot. Karena kita sudah membawa sebongkah kayu bakar bagus disini" celetuk Arya sambil melirik Rena.
Rena segera menarik dahan pohon Hellig ke dekatnya, lalu memeluknya dengan erat sambil cemberut dan melemparkan pandangan curiga ke arah Arya.
"Hahaha kau tidak perlu menatapku seperti itu Rena" kekeh Arya pelan.
Rena lalu mulai mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti biji tanaman dari dalam tas pinggang miliknya, ia menanam lima biji tanaman itu. Kemudian menyentuh tanah tempat biji-biji itu ditanam sebanyak lima kali, secara perlahan Arya bisa melihat tangkai-tangkai tanaman tumbuh disana.
"Sebenarnya ini pertama kalinya aku melakukannya, jadi aku tidak tau apakah hasilnya akan sesuai dengan yang kau inginkan" ujar Rena sambil terus mengarahkan tangannya ke tanaman-taman tersebut.
"Tidak apa, yang penting kita sudah berusaha"
"Mmm....memangnya kau ingin menggunakan tanaman-tanaman ini untuk apa?"
"Aku ingin membuat ramuan untuk makhluk malang itu" jawab Arya dengan keringat yang memenuhi wajahnya.
"Membuat ramuan?! Apa Pengawas Gustav mengajarkan hal itu padamu?"
"Lalu?"
Arya mulai menceritakan tentang sebuah buku tua yang pernah dia temukan di Perpustakaan, buku itu berisi kumpulan racikan-racikan ramuan yang penuh dengan coretan. Awalnya dia tidak tertarik, tapi setelah membaca satu lembar halaman. Dia malah keterusan membaca buku tersebut sampai habis. Entah mengapa buku itu terasa memiliki daya magnet yang membuat Arya selalu ingin tau kelanjutan dari setiap lembarnya.
"Buku itu sekarang tersimpan di kamarku" Arya menyelesaikan ceritanya.
"Kau mencuri buku dari Perpustakaan?" ulang Rena heran.
"Tentu saja tidak!" sahut Arya berusaha membela diri.
Rena masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Buku itu ternyata bukan milik Perpustakaan" lanjut Arya.
"Apa?!"
"Saat aku ingin meminjamnya, ternyata buku itu tidak pernah terdata sebagai buku Perpustakaan. Jadi....aku membawanya bersamaku"
"Tapi....bukankah keahlian membuat ramuan itu---"
"Benar, kemampuan milik para Alchemist. Dan entah kapan terakhir kali mereka pernah terlihat"
"Mmm...aneh"
"Benar memang aneh, tapi lupakan hal itu untuk sekarang. Ugh....Sial!....Kenapa menyalakan api itu susah sekali! Disaat-saat seperti inilah aku merasa membutuhkan Asuna"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Hachi!"
Sesosok orang berjubah segera mengelap hidungnya akibat bersin tadi, hidungnya sudah mulai meler dan itu membuatnya suasana hatinya semakin memburuk.
__ADS_1
"Apa kau terkena flu?" tanya Kevin sambil mengangkat sebelah alisnya.
"UGH!.....BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK FLU JIKA AKU TERUS BERMANDIKAN HUJAN SELAMA SATU MINGGU TERAKHIR!" bentak Asuna.
"Aku juga tidak mau bermandikan hujan terus, hanya saja benda itu belum terlihat" balas Kevin dengan dahi mengkerut.
"POKOKNYA INI SALAHMU, DAN KAU HARUS MEMBAYARNYA"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Akhirnya!" seru Arya senang setelah api unggun mulai membesar dihadapannya, dia sudah hampir menyerah saat akhirnya ranting-ranting sialan itu mulai menyala. "Sejujurnya ini juga pertama kalinya untukku membuat ramuan" katanya sambil mengeluarkan sebuah kuali kecil dari tasnya.
"Pertama kalinya?" tanya Rena sambil memiringkan kepalanya.
"Begitulah, sebenarnya sudah lama inginku coba. Tapi bahan-bahanya itu terlalu merepotkan untuk dikumpulkan bagiku, tolong bawa bahan-bahan itu kemari Rena"
Rena tanpa menunda lagi, langsung memanen dan membawa bahan-bahan yang Arya minta sebelumnya. Arya mulai menumbuk dan memasukan bahan-bahan itu satu persatu ke dalam kuali, ia beberapa kali terhenti sebentar untuk mengukur takaran bahan-bahan itu apakah sudah pas atau belum.
Lalu dia mulai menaikan kuali itu ke atas api, ia terus mengaduk kuali itu entah berapa kali. Saat merasa sudah cukup, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah kuali tersebut dan mengalirkan Agnet secukupnya ke sana.
Setelah lima menit, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Dari dalam kuali tersebut muncul asap berwarna merah dengan aroma yang sangat tajam sehingga membuat Arya dan Rena terbatuk-batuk.
"Apakah....kita gagal?" tanya Rena sambil menutup hidungnya.
"Bukan, aroma ini malah menandakan kalau ramuannya berhasil" seru Arya dengan antusias.
Arya lalu menuangkan isi kuali itu ke sebuah botol kaca kecil, cairan kental berwarna kekuningan segera memenuhi botol tersebut. Arya tersenyum melihat hasil karyanya, sepertinya dia memiliki bakat dalam meracik ramuan.
"Apa fungsi ramuan itu?" tanya Rena lagi sambil menatap cairan itu dengan ekpresi gabugan antara tertarik dan waspada.
Arya lalu memberitahunya bahwa ramuan ini bernama Sun-Tears Liquid, ramuan ini berfungsi untuk meningkatkan suhu tubuh peminumnya secara signifikan. Cocok untuk mengobati seseorang yang terkena hipotermia. Awalnya Arya meragukan fungsi dari ramuan ini, tapi setelah diberitahu oleh Rea dan Gustav tentang efek dari bahan-bahan utamanya. Dia merasa ramuan ini mungkin berhasil.
"Aku tidak menyangka, kita membuat sebuah ramuan hanya untuk seekor kuda" celetuk Rena pelan.
"Oh...ayolah, bisakah kau tidak menyamakan seekor 'Pegasus' dengan kuda biasa?"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya dan Rena kemudian segera mendekati kuda malang itu, Arya mengelus bulu-bulu putih sayap milik kuda itu dengan lembut. Arya bisa merasakan seluruh organ tubuh milik kuda itu menggigil kedinginan, napasnya juga tidak beraturan.
Dengan bantuan Rena, akhirnya mereka mengangkat kepala kuda tersebut lalu menuangkan Sun-Tears Liquid ke dalam mulutnya. Tepat ketika cairan kuning itu mengenai lidah sang kuda, tubuhnya mengeluarkan cahaya. Arya dan Rena bisa merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh kuda itu.
Dia sudah bisa bernapas dengan normal dan terlelap dengan sangat damai, Arya menghela napas lega. Sepertinya mereka baru saja berhasil menyalamatkan nyawa salah satu Imaginary Animals. Imaginary Animals adalah binatang-binatang ajaib yang memiliki kemampuan tertentu, seperti Pegasus ini tentunya.
Tapi tentu saja tidak semua Imaginary Animals itu tidak berbahaya, jika dia menemukan seekor Imaginary Animal dengan mulut penuh gigi taring tergeletak tidak berdaya. Dia pasti akan langsung meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.
"Baiklah sepertinya sudah waktunya beristirahat, ternyata membuat ramuan itu sangat melelahkan" ucap Arya sambil menguap.
Arya lalu segera mendekat ke arah api unggun dan duduk didekatnya, Rena segera menyusulnya tanpa bersuara sedikitpun. Posisi mereka sekarang berseberangan dengan api unggun sebagai pemisahnya, Arya menghela napas pelan kemudian tersenyum sambil berkata.
"Selagi menunggu kantuk, sebaiknya aku jelaskan alasan mengapa kita berada disini"
-----------------------------<<>>----------------------------
Dahulu sekali hidup dua orang kakak-beradik yang sangat luar biasa, keduanya memiliki kecerdasan dan pemikiran yang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang lainnya di dunia ini. Kemudian mereka memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki untuk menciptakan benda-benda unik yang tidak pernah terpikirkan oleh nalar.
Hal ini mendapatkan respon positif dari banyak pihak, sehingga mereka berdua mendapatkan keuntungan yang banyak. Akibat dari timbal balik yang baik tersebut, keduanya semakin bersemangat untuk membuat inovasi-inovasi baru.
Lalu akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sebuah proyek besar, proyek yang akan membekas pada semua orang bahkan bila mereka sudah tiada. Tapi sayangnya, semua itu hanya rencana. Terjadi perpecahan diantara mereka saat proyek tersebut sudah setengah jalan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikan proyek mereka dengan versi masing-masing. Dan dengan sangat luar biasa keduanya berhasil menyelesaikan proyek tersebut dengan hasil yang sama-sama memuaskan.
Apa mereka berdua akhirnya berdamai karena hal itu? Tidak! Perseteruan malah semakin parah. Terbentuk dua kubu yang saling bersitegang satu sama lain. Si Kakak dengan para pendukungnya melawan Si Adik dengan para pendukungnya.
Akhirnya peperangan tidak bisa dihindari lagi, terjadi perang besar yang menjadikan proyek dari dua saudara itu sebagai senjata utama. Akibat dari pertempuran itu akhirnya sebuah benua besar pun terbelah menjadi dua dan terpental menjauhi satu sama lain.
Dampak dari proyek mereka pun menyelimuti dua belahan benua itu, para pendukung dari si Kakak berada di utara. Dan para pendukung si Adik berada di selatan, dua pecahan benua itulah yang kita kenal sebagai Kutub Utara dan Kutub Selatan sampai saat ini.
Saking besarnya peperangan itu, dikabarkan kedua proyek kakak-beradik itu menghilang. Proyek si Kakak dikenal dengan nama North Blue Frozen Crystal, sedangkan proyek si Adik dikenal sebagai South Black Winter Diamond.
"Cerita yang cukup memilukan bukan?" celetuk Arya setelah selesai bercerita.
__ADS_1
"Jadi....alasan kita kemari adalah---"
"Benar, itulah sebabnya aku menyarankan sebaiknya kita mencari bahan Elemental Weapon milikmu terlebih dahulu. Karena aku ingin menjadikan North Blue Frozen Crystal dan South Black Winter Diamond sebagai bahan Elemental Weapon milikku" seru Arya sambil tersenyum.