Elementalist

Elementalist
Chapter 293 - Pasca


__ADS_3

“TIDAAKKK!!!” Louis berteriak histeris dan melesat berusaha menggagalkan keberangkatan para Elementalist disusul rekan - rekannya.


Namun Alalea, Callista, bersama Kizuna segera menahan mereka sementara Ali bersiap menciptakan gelombang pasir untuk mendorong pengganggu – pengganggu barusan mundur. Xavier maupun Reiko bergerak cepat menciptakan pelindung.


“Cih!? Dasar produk gagal!” umpat Reiko kesal.


“MENYINGKIR KEPARAT!!!”


“Berjuanglah membuatku melakukannya....” Alalea nyengir lebar sambil mengunci Louis serta Regulus menggunakan senjata barunya.


“Kau terlihat sehat ayah? Dari pada mengejarnya, bukankah lebih baik kau menemani putrimu yang manis ini? Hehehe”


“Callista....” geram Kris dengan mata berkilat murka.


“Jangan mengganggu rubah sialan!”


“Kau pikir dirimu siapa sampai aku sudi memeatuhi perintahmu?” Kizuna menjawab dingin.


Pertarungan pun akhirnya pecah, tak perlu waktu lama bagi pihak Fatum menundukkan ketiganya karena perbedaan kekuatan dan jumlah yang jauh. Bahkan ketika Merlin juga tiba demi melaporkan keberhasilan para pengungsi untuk kabur, mereka sudah terkapar berlumuran darah.


“Wah wah jahat sekali, kalian kemari hanya untuk mengeroyok sekelompok gadis kecil? Nampaknya nasip kita mirip ya?”


“Merlin? Bagaimana denganmu?”


“Gagal, ada beberapa orang yang memutuskan tinggal agar bisa mengganggu kami dan sayangnya mereka berhasil. Aku hanya dapat mengatakan kekuatan Pax sudah jauh berkurang akibat banyaknya petarung mereka yang tewas....” ujar Merlin mengangkat bahu.


“Ckk!?”


“Kalian sendiri? Ah...biar kutebak, dihalau oleh ketiga putri ini? Pfft...memang agak memalukan sih. Kalian tidak perlu mengakuinya”


“Mereka sangat gigih jadi kala tak tau apa – apa sebaiknya kau tutup mulutmu” Garyu menatapnya tajam.


“Baiklah – baiklah, terus sekarang mau diapakan? Bunuh?”


“Jangan bercanda....”


Regulus, Kris, dan Garyu berkata serentak dingin, tidak ada satupun dari mereka yang akan membiarkan Alalea, Callista, atau Kizuna disentuh. Selain karena merupakan umpan untuk menangkap para Elementalist, ketiganya mempunyai peran penting bagi ras masing – masing.


“Bagaimana menurutmu?”


“Terserah kalian saja....” jawab Louis dingin.


“Hey? Apa kau tidak berencana untuk mengejar mereka? Kau mempunyai dua Elementalist lain di sini. Membuka gerbang dimensi bukan suatu hal mustahilkan?”


“Dimensi itu tidak terhitung jumlahnya, mencari sepuluh orang yang terpencar entah kemana sangatlah mustahil. Berbeda kasusnya seperti saat menyerang Dragon Island, karena kami sejak awal telah mengetahui kemana tujuannya” Xavier menyeletuk.

__ADS_1


“Rumit sekali....jadi kita harus apa sekarang?”


“Menunggu, sepertinya aliansi ini masih akan berlanjut beberapa tahun ke depan. Mohon bantuannya, oh iya Mira? Jangan lupa untuk mengejar tikus pasir yang melarikan diri itu” perintah Louis lalu berbalik pergi.


“Dimengerti....”



“Ali....pergilah sejauh mungkin. Jangan sampai tertangkap....” Alalea bergumam pelan sebelum kehilangan kesadaran. Mandalika berubah menjadi cahaya dan bersemayam di dalam badannya.


><


“Pemandangan yang indah....sekaligus memilukan”


Itulah kata yang keluar dari mulut seorang pemuda berambut kecokelatan, di hadapannya terdapat kota porak poranda yang meninggalkan kesan megah. Walaupun demikian, ketiga dinding pembatas berbagai warna masih nampak berdiri kokoh tanpa kesulitan.



ZAP!


Bunyi layaknya balon meletup mengagetkan sekumpulan burung yang segera melesat ke angkasa, kedatangan sesosok pria paruh baya tadi seolah tidak memberikan pengaruh berarti bagi anak laki – laki tersebut. Padahal kemunculannya dapat dikatakan cukup spektakuler karena keluar begitu saja dari udara kosong.


“Benar – benar kacau, mayat bergelimpangan di mana – mana. Mengumpulkan informasi pun sulit, aku tidak tau jumlah pasti korban jatuh dari kedua belah pihak. Tapi percayalah itu sama sekali tak sedikit....”


“Hmm....”


“Eh? Ada apa Gil? Kenapa marah – marah begitu? Kita sedang dihadapkan kepada salah satu mahakarya dunia, sebuah kota teraman yang belum pernah tertembus bahkan terlihat dalam seratus tahun terakhir....”


“Ya, namun yang saat ini ada di hadapan kita hanya bekas – bekas kejayaan masa lalu....”


Gilberth menghela napas panjang kemudian melanjutkan laporannya, hampir seluruh aliansi Fatum telah meninggalkan Elemental City untuk kembali ke wilayah kekuasaan masing – masing sebelum kembali untuk pembangunan ulang markas baru.


Kerugian akibat perang menyebabkan setiap pemimpin berhati – hati dalam melangkah, takut ditikam dari belakang kapan saja sebab sejak awal hubungan kerja sama mereka memang bukan di dasari oleh rasa percaya dan hanya demi tujuan bersama. Yaitu menyingkirikan penghalang terbesar perang, para Elementalist.


“Tunggu, bisa kau ulangi?” tiba – tiba Iruphior memotong.


“Hmm? Bagian yang mana?”


“Mengenai kabar terkini orang – orang penting”


“Sembilan Elementalist berhasil melarikan diri, kau tau kemana. Kita semua bisa merasakan saat gerbang dimensi kembali terbuka setelah seratus tahun lamanya, sedangkan salah satu Artificial Elementalist dengan elemen pasir di kabarkan menghilang atau lebih tepatnya kabur”


“Aku penasaran apa akan diadakan perburuan Elementalist ya ke depannya?”


“Untuk menangkap anak malang ini? Bisa jadi, tetapi para Elementalist yang kabur ke gerbang dimensi sangat mustahil. Meskipun Fatum berhasil menemukan cara membukanya sekalipun, jumlah dimensi tidak terhitung banyaknya. Itu sama saja mencari jarum dalam tumpukan jerami....” komentar Gilberth cukup percaya diri atas pendapatnya.

__ADS_1


“Selanjutnya?”


“Ketiga putri yang punya pengaruh besar dan menjaga asa pihak Pax mendapat bantuan ras lain tertangkap, kabarnya sempat terjadi perseteruan antar petinggi Fatum karena beberapa ingin mereka dijatuhkan ekseskusi mati sedangkan sebagian lainnya menolak....”


“Bisa dimengerti, mereka adalah umpan paling masuk akal untuk menunggu kembalinya anak - anak itu. Setauku tidak mungkin bagi Tuan Frost meninggalkan rekannya....” Iruphior tersenyum tipis sembari mengelus dagu.


“Kau kedengaran sangat mengenalnya....”


“Hehehe....kau terlalu memuji”


“Huh!? Terus berikutnya korban – korban penting dalam pertempuran ini, karena sangat banyak aku hanya bakal menyebut yang paling terkenal. Tujuh Pengawas Ujian Elementalist dan....Zapius Aradia”


Gilberth melirik sahabatnya penasaran, memang sulit mengatakan bagaimana eskpresi Iruphior jika di lihat melalui belakang namun aura berat perlahan mulai memancar. Wajahnya berubah gelap usai mendengar perkataan kawannya.


“Siapa pelakunya?”


“Merlin....”


“Ckk....tragis sekali, dia tewas di tangan anak dari kedua orang tua angkatnya. Adik kecilnya tersayang....”


“Kau terlihat cukup tenang untuk orang yang baru mendengar kabar meninggalnya salah satu murid kesayanganmu”


“Yang terbaik dari yang terbaik, mereka berdua adalah murid – murid jenius milikku....” gumam Iruphior sendu.


Keduanya terdiam cukup lama hingga kemunculan hawa keberadaan tingkat tinggi membuat bulu kuduk masing – masing berdiri tegak. Iruphior dan Gilbert saling bertukar pandang sebelum berteleportasi menuju sumber datangnya perasaan itu, di sana seorang Siren berpayung tengah memperhatikan sekitar.


“Lama tidak berjumpa. Nona Feriae Serafine”


“Kau....anak yang selalu mengikuti Reuben” wanita bernama Feriae barusan menatapnya malas.


“Aku senang anda masih mengingatku melalui kenangan guruku, benar saya adalah murid Profesor Aeneas”


“Heem....”


“Apa teman anda meminta untuk mencari seseorang?”


“Maksudmu?” Feriae menghentikan langkahnya.


“Tentu saja payung di tangan anda, alasan mengapa anda dipanggil sebagai Indigo Witch”


“Bukan urusanmu....”


Akhirnya Feriae mulai menghilang dari pandangan namun perasaan antusias Iruphior masih meluap – luap, ia menepuk pundak pria di sebelahnya agak keras lalu berujar. “Waktunya hampir tiba! Dua lagi dan penerusnya akan hadir! Para Miracle Irish Catra telah bergerak mencari inangnya! Percayalah Gil kita berdua bakal menjadi saksi, bahwa perang Elemental City merupakan titik mula bagi roda tua berkarat dan berdebu yang menggerakan dunia ini berputar kembali! Aku sungguh tidak sabar menunggu!”.


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2