
“Arya....”
“Selena tolong rawat Ali, dia terserempet peluru pada bagian pelipis. Aku sudah memberinya sedikit ramuan pemulihan jadi seharusnya kondisinya sekarang tidak terlalu buruk....” Arya menurunkan pemuda di punggungnya dengan hati – hati.
“Kapten....mereka—“
“Bukan lawan yang lemah? Aku tau, lagi pula aku telah menghadapi keduanya lebih dulu dari kalian”
“Kalau begitu mari kita hajar bersama – sama....”
“Tidak....kalian semua harus mundur....”
“Jangan kony—!“
DEG!
Ucapan protes Asuna terhenti seketika, bukan cuma dirinya saja tapi badan para Elementalist lain juga berubah kaku. Perlahan gambar tenkorak hitam mungil yang menghiasi jari mereka mengeluarkan cahaya terus menguap menjadi asap kelam. Arya memberikan tatapan dingin seraya berkata, “Enyah sana, ini bukan tempat untuk bermain – main....”.
“Ugh...mantra sialan! Arya kau!?”
“Pergi ke Ryan atau cari tempat aman, tolong ringankan sedikit bebanku....”
“HEY!? Lihat mataku brengsek!? Ekh...tubuhku!?” geram Asuna berusaha menahan kekuatan tak kasat mata yang menyeretnya dan kawan – kawan menjauh.
Arya berjalan tanpa memperdulikan panggilan – panggilan di belakangnya, waktu seperti sekaranglah alasan utama ia menggunakan perintah Sumpah Hidup-Mati. Setidaknya meskipun skema terburuk sungguh terjadi, masih ada harapan bagi umat Manusia ke depannya.
“Kumohon.....! Hiks....kembalilah hidup – hidup....”
“Hah....jangan membuatku menjanjikan sesuatu yang sulit ditepati dong. Hime-sama....” Arya menghentikan langkahnya sembari berbisik.
“Aduh....menyedihkan sekali, apa perpisahannya sudah selesai? Onii-chan?”
Reiko tersenyum lebar sambil berkacak pinggang, sangat berbanding terbalik dengan sikap Xavier. Dia mengamati waspada pergerakan bocah itu, serangan gabungan miliknya bersama Reiko bukan teknik sembarangan. Melenyapkannya tanpa bekas hanya berbekal satu ayunan pedang merupakan sebuah tindakan luar biasa, terlebih ingatan mengenai perubahan tahap Lord masih hangat dalam benak Xavier.
“Oi? Gadis sial—“
SYUU....!
Kemunculan tiba – tiba Arya dihadapan keduanya diiringi hembusan angin lembut mengakibatkan Xavier serta Reiko tertegun sesaat, ketika akhirnya masing – masing dapat bereaksi senjata mereka cuma mengenai udara kosong.
‘Kemana perginya? Kanan? Atas? Kiri? Bawah?’
JDARR! ROAARRR....!!!
Suara gemuruh dari belakang langsung mencuri perhatian dua Elementalist pihak Fatum, di sana Kunzite si naga merah muda terkapar dan menggeliat kesakitan. Raungannya menggetarkan tanah apalagi didukung ukuran jumbo fisiknya, Arya nampak sudah bertengger pada Safira lalu menepuk – nepuk kepalanya.
‘Safira? Tenangkan dirimu....’
‘Arya!? Setan – setan kecil ini....!!! Grr....darah bangsaku....’
‘Iya aku mengerti tetapi jernihkan kepalamu atau nyawamu juga dalam bahaya, mereka pasti baik – baik saja. Para Tetua bukanlah makhluk lemah, kehilangan sayap tidak berarti Vilhelm mati....kau tau sendiri kemampuannya’ Arya menenangkan.
Mendengar perkataan barusan napas Safira berhenti memburu, Arya dapat merasakan ketegangan maupun rasa khawatirnya menurun drastis. Jika ingin menang Safira harus dalam kondisi terbaiknya, beberapa detik berselang Efbi pun tiba memenuhi panggilan Arya.
__ADS_1
Walau terlihat kotor Elemental Beast itu sepertinya tak mengalami cedera serius, entah sudah sebanyak apa lawan yang ia hadapi namun aroma amis kuat melapisi bulu – bulunya. Sekarang ketiga atributnya terkumpul semua siap menemaninya hingga akhir.
“Sekarang fokus kepada musuh masing – masing, aku percaya kepada kalian....”
Efbi bersama Safira mengeluarkan geraman setuju sebelum melesat mengincar targetnya sementara Arya kembali menghampiri kedua lawannya. Reiko telah menghilangkan mode Master miliknya sebagai salah satu bentuk cara menunjukan betapa tinggi kepercayaan dirinya.
“Terima kasih mau mengunggu, kau yakin mau menghilangkannya? Tidak akan menyesal?”
“Huumm....”
“Namamu....Reiko, iyakan?”
“Ada apa? Onii-chan?” sahut Reiko manis.
“Bisakah aku bicara sebentar dengan Reika?”
“Hmm....Onii-chan, berapa kali aku harus mengulangnya? Reika itu....sudah mati”
“Begitu ya....kalau demikian....”
Arya menggapai gagang pedangnya kemudian dalam sekejap aura gabungan biru hitam mengelilingi senjata tersebut, saat ditarik keluar Mandalika berubah ke wujud aslinya dari katana menjadi pusaka berhias permata dua kutub dunia.
ZINGGG.....!!! SRAT! JGEER...!!!
Bunyi tebasan tadi membelah udara terdengar sampai lima kilometer jauhnya, Xavier tentu enggan mengambil risiko dan langsung mundur bahkan sebelum tangan Arya bergerak. Reiko masih berdiri diam di lokasinya semula namun sebuah garis panjang tercipta dekat tanah tempat kakinya berpijak, usai melakukan gerakan singkat sebelumnya posisi Arya sekarang memunggungi sang Elementalist Kristal.
“Refleks bagus....”
“Hehehe....mengincar leher adikmu sendiri bukan tindakan terpuji lho, Onii-chan...” Reiko menjilati darah yang mengalir melalui luka pada pipinya.
------><------
“Rem?”
“Iya?”
“Bisakah kau memakai Clairvoyance sebentar? Aku ingin mengetahui tingkat kekuatan mereka....” pinta Kris serius.
Lorem menghela napas lelah agak kurang setuju, karena dia sebenarnya telah memberikan informasi lengkap kepada Kris dari awal perang. Itulah mengapa ia baru muncul sekarang, Lorem terlalu menghabiskan banyak waktu mengamati tiap anggota penting pihak Pax supaya mendapat gambaran betapa mengancamnya mereka.
Clairvoyance adalah kemampuan khusus para Succubus maupun Incubus, selain digunakan sebagai alat pemikat lawan jenis keahlian ini juga mampu mengubah serta menganalisis daya tempur sebuah objek menjadi satuan angka bernama Joule.
Biasanya orang biasa atau tanpa Agnet tidak bakal menyentuh angka seratus Joule seberapa ahli pun mereka bertarung, kebanyakan individu dalam perang ini kekuatannya berkisar lima ratus sampai seribu Joule. Tetapi para pasukan Elit empat ras besar termasuk Pengawas Ujian semuanya mencapai angka sepuluh ribu Joule ke atas.
DEG! GLEK!
“Bohong....”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Lima puluh ribu Joule....” Lorem menelan ludah berat melihat angka di atas kepala Reiko dan Xavier.
Bukan cuma Kris yang tertegun mendengar jawaban itu. Witch, Werebeast, juga Elf sebenarnya mempunyai teknologi serupa untuk menilai kekuatan seseorang namun dengan metode berbeda sayangnya tak seakurat maupun semudah Clairvoyance.
Kris, Garyu, Merlin, ditambah Regulus melirik waspada ke Louis. Sekarang mereka mengerti dari mana datangnya kepercayan diri laki – laki tersebut, jika sampai perang antar ras pecah seperti zaman dulu maka Manusia pimpinannya mempunyai keuntungan besar meski kehilangan Elementalist generasi sekarang sekalipun.
‘Keduanya setingkat....Lyan Frost pada masa kejayaannya bahkan si dungu Xavier....apa yang sebenarnya dilakukan setan licik ini....’
“Kalian takut? Tenang saja aku tidak akan langsung menyerang usai menyingkirkan mereka bersepuluh” celetuk Louis membuat semuanya terlonjak kaget.
“Hehehe....berhenti mengucapkan omong kosong Louis....”
“Baiklah, terserah kau mau bilang apa wahai Kepala Keluarga Tepes”
Senyum Kris menghilang begitu ia memalingkan wajah, sudah lama sekali sejak perasaan waswas seperti sekarang menghampirinya dan sang Raja Vampir tau bukan hanya dirinya seorang merasakan hal demikian.
“Rem? Bagaiman dengan Tuan Frost favorit kita semua?”
“Arya? Seharusnya masih sesuai laporanku sebelumnya, hanya lima ratus Joule lebih tinggi dari teman – temannya....”
“Dua ribu lima ratus?”
“Iy—tunggu sebentar? Bagaimana!?–Hah!?” Lorem bangkit berdiri terus mengucek – ucek matanya.
“Bicara yang jelas, bagaima kami mengerti kalau informasimu cuma setengah – setengah....”
“Lima....ribu Joule....kekuatannya meningkat dua kali lipat....”
“Rem? Aku belum sempat memukul kepalamu jadi berhenti mengigau, itu baru beberapa jam lalu bukan? Mustahil bisa naik secara signifikan....” timpal Moona kurang percaya.
“MAKANYA AKU TERKEJUT!!!”
Keributan anggota Tujuh Dosa Besar mulai menyebabkan fokus semua orang tertuju kepada Arya, mereka bertanya – tanya bagaimana cara bocah tersebut bisa bertambah kuat cukup dalam hitungan jam. Perkembangan sangat tidak masuk akal walau tentu tertinggal jauh dibanding kedua monster yang jadi lawannya, Louis mengelus dagunya sebentar kemudian berdiri.
“Inilah salah satu alasan mengapa dia harus disingkirkan, karena kalau sampai tidak maka ia akan kembali tanpa henti dengan kekuatan terus bertambah....”
“Kau berbicara seolah sangat mengenalnya....” Regulus mengomentari.
“Sebab adikku pun begitu, pokoknya pastikan dia seratus persen mati....”
HEHH....!?
“Lorem tarikan napasmu mengagetkan semuanya...?” tegur Avarum berdecak kesal.
“Apa – apaan....”
“Kau kenapa?
“Lima ribu seratus....lima ribu dua ratus....lima ribu tiga ratus....” Lorem lanjut menghitung keheranan sambil menatap satu titik di mana pertarungan tengah berlangsung
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1