
Salah satu titik permukaan air Central Ocean berubah putih, kemudian perlahan retak seperti kulit pecah – pecah sebelum meledak hebat. Tekanan akibat hancurnya gunung es raksasa di dalam laut terasa hingga udara diatasnya, air tersembur tinggi sampai ratusan meter.
Tubuh para Werebeast ada yang langsung menghilang bak debu ditiup angin, berubah menjadi serpihan – serpihan kecil tanpa sisa. Namun ada beberapa masih beruntung bertahan meski anggota badannya mengalami pembekuan dan sulit digerakan, bukan hanya luka fisik. Tahap Master Arya juga memberikan efek samping mental terhadap pihak lawan.
KRETAK....KRUTUK....KRETEK....TESSS....!!!
Raksasa es buatan Arya hancur berkeping – keping, pemuda tersebut tenggelam lemas menuju dasar laut. Dia terhuyung kedepan sembari bertekuk lutut, napasnya terengah – engah tidak karuan, kawan – kawannya bergerak gesit menghampiri.
“KAPTEN!?”
“ARYA...!?”
“Hah....hah....hah....aku....hah...tak....menyangka....bakal....hah....selelah ini.....padahal belum setengah jam.....memakainya.....” gumam Arya dengan wajah pucat.
Kevin, Elizabeth, Selena, Rena, Diondra, maupun Edlyn menatapnya cemas. Tetapi untungnya Neptune cepat datang menjelaskan kalau memang Master mempunyai pengaruh buruk jika penguasaanya masih jauh dari kata sempurna, itu karena Sang Elementalist memaksakan tubuhnya menampung kekuata melebihi kapasitas yang mampu ditampung olehnya.
“Tepat sekali....hah....seratus poin untukmu Paduka.....hah....” Arya menjentikkan jari membenarkan.
“Apa aku dan Rena sebaiknya mencoba memulihkan kondisimu?” celetuk Selena khawatir.
“Tak perlu, aku cuma perlu mengatur napas sebentar serta istirahat....”
“Tapi—“
“Jangan membantah, sekarang saat paling tepat buat serangan penghabisan. Mari hentikan seluruh perang omong kosong ini....”
“Siap! Kenapa kalian diam? Ayo! Perintah Kapten, atau kalian masih mengira jabatan Kevin berlaku?!” semua terkejut sebab hanya Elizabeth yang membalas ucapan Arya barusan lalu buru – buru mengambil tindakan.
“Hati – hati, aku sudah mencoba mengurangi jumlah mereka sebanyak – banyaknya. Orang – orang yang masih bertahan tidak bisa dianggap remeh sebab berarti memiliki kemampuan pengendalian Agnet luar biasa demi melindungi tubuhnya sehinggat tak hancur, aku akan segera menyusul bertahanlah.....” Arya memperingati.
“DIMENGERTI!”
Bersamaan dengan kata – kata Arya, keempat Elementalist maju sambil mengangkat senjata masing – masing. Neptune memberikan tanda supaya Fin Raider ikut serta membantu di medan perang, Arya mengambil posisi bersila lalu berusaha mengumpulkan kembali tenaganya.
Pertempuran pecah sekali lagi, melihat kondisi dapat berubah kapan saja. Diondra bangkit hendak menolong baris depan namun Ayahnya, Raja Neptune menangkap pergelangan gadis tersebut terus menatapnya tidak percaya.
“Kau mau kemana Nona!?”
“Lepaskan aku Ayah!? Aku ingin membantu para Elementalist! Semakin cepat semuanya berakhir berkurang pula korban dari pihak kita!”
“Berhenti berlagak! Kau cuma anak perempuan kecil memangnya tau apa soal perang!?” bentak Neptune gusar.
Tatapan Diondra berubah dingin, dia menepikan tangan Neptune. Si Raja Atlantos mengumpat dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal seburuk itu kepada putrinya, belum sempat meminta maaf Diondra akhirnya bicara.
“Aku bukan anak perempuan kecilmu lagi Ayah....aku sudah dewasa.....”
__ADS_1
“Diond—“
WUSH!
Upaya Neptune menghentikannya sia – sia. Diondra mengubah bagian bawah tubuhnya menjadi ekor ikan sebelum melesat, cahaya kebiruan menyelimuti ujung rambut hingga siripnya. Detik berikutnya sebuah payung biru muncul begitu dia memanggil.
“Sahut panggilanku.....Vitisa!”
‘Hehehe kau lihat wajah Ayahmu tadi? Huahaha aku mulai menyukaimu sedikit demi sedikit....’
“Ck!? Dasar si—“
“Ayah? Aku juga pergi tuk membantu kakak ya!”
“Ap—“
WUSH!
Neptune mengepalkan tangan kuat – kuat frustrasi terus mengacak – acak rambutnya kesal, kenapa keduanya tidak mencoba mengerti?. Kalau dia sebagai Ayah mau melindungi mereka dari bahaya, Neptune mengumpat dengan pandangan terkunci pada punggung Edlyn yang menyusul Diondra dikejauhan.
“Kau tau ucapan bijak mengenai anak burung pasti akan terbang meninggalkan sarangnya?” tanya Arya tiba – tiba.
“Kami manusia setengah ikan, bukan burung. Kaum Atlantos berenang, bukannya terbang.....” Neptune membalas sesudah menghela napas.
“Ha.ha.ha lucu sekali Yang Mulia, kau tau maksudku.....”
“Semuanya gara – gara kau! Keparat kecil! Putri – putriku mulai membangkang sejak dirimu datang kesini! Kau memang seorang Elementalist Es! Kau benar - benar keturunan biang onar seperti Lyan Frost dan Jack Frost argh....!”
------><------
Dasar laut Central Ocean mengalami pergejolakan hebat, pertarungan terjadi dimana – mana. Jual beli serangan memenuhi air disekitar sana, tetapi yang paling mencuri perhatian adalah pertempuran sengit empat Elementalist melawan ketiga pimpinan Faksi Laut ras Werebeast.
Meski menang jumlah, Kevin, Rena, Selena, dan Elizabeth tidak mampu menaklukan musuh karena kerja sama mereka sangat baik. Ketiga Mythical Werebeast ini saling menutup kekurangan masing – masing sehingga walaupun terdesak, luka yang diderita tidak parah.
“Ck!? Kita harus memisahkan mereka....” geram Kevin bingung.
“Kau tau caranya?” Selena balik bertanya.
Sebenarnya kondisi Shayu, Balaeno, juga Wanio sedang kurang prima. Beberapa anggota tubuh ketiganya membeku hingga kaku serta sulit digerakan, kalau berada pada situasi normal mungkin malah para Elementalistlah yang tersudutkan.
“Tak ada cara lain mari—“
“Teman – teman!”
Keempatnya menoleh ketika Diondra bersama Edlyn baru saja tiba setelah memberi pelajaran kepada pengkhianat asal Atlantos, kedua kakak beradik ini berkata ingin membantu. Rena menjelaskan secara singkat tentang masalah yang tengah dihadapi.
__ADS_1
Tanpa terduga ternyata mereka memiliki jalan keluarnya, selesai Diondra ditambah Edlyn memberitahu rencananya. Pandangan Kevin, Rena, Selena, maupun Elizabeth menajam. Keenamnya siap menerjang maju.
“Jangan lengah! Mereka merencanakan sesuatu!” Shayu mengingatkan.
“Baik Kakak Pertama!”
“Aku punya firasat bu—!“
“Kyma Ekrixis!”
“Celak—“
SYUUU!!! CTASSS!!!
Para Elementalist berhasil mengelabui musuh dengan menutupi tubuh Diondra, tembakan sihir gadis tersebut sukses mengenai Shayu sampai terpental beberapa meter. Merusak formasi kokoh mereka, Shayu bangun terburu – buru ingin memberi arahan.
“Balaeno! Wanio! Segera berkumpul kembali!”
BUMM!
“Tidak secepat itu.....”
“Tamatebako....Kai!”
ZING!
“Apa!?”
Shayu melebarkan mata kaget sewaktu penghalang terbuat dari air tipis muncul mengurungnya bersama Diondra. Edlyn nampak diluar menyatukan tangan untuk mengaktifkan pusaka miliknya.
“Lawanmu adalah aku.....” kata Diondra sembari menodongkan payung birunya.
Balaeno ataupun Wanio menoleh khawatir tetapi tidak bisa lama, dalam waktu singkat keduanya juga direpotkan oleh lawan masing – masing. Naga – naga tanaman Rena bergerak cepat mengekang badan Balaeno kemudian disusul serangan gabungan Kevin dan Selena.
Sementara tak jauh dari sana terlihat kilauan cahaya efek duel seru antara Elizabeth menghadapi Wanio. Mereka memang sengaja memutuskan tiga orang menghadapi Balaeno sebab Werebeast berwujud paus itu mempunyai kekuatan setara Titan.
Sangat sulit menghadapinya berkat ketangkasan layaknya raksasa, bahkan naga sulur Rena perlahan mulai terlepas. Akibat perihal tersebut, sebaiknya dia dikeroyok agar mempermudah pertarungan. Menaklukan satu per satu lawan bukanlah keputusan yang buruk.
Selain menghemat waktu, mereka juga bisa saling membantu ketika situasi mendesak. Wanio sendiri kesal sebab merasa diremehkan, memanfaatkan menurunya kecepatan Elizabeth karena mulai lelah. Sang Werebeast buaya purba berhasil menangkap rambutnya lalu berusaha merobek leher Elizabeth menggunakan kail miliknya. Namun sebelum mengenai kulit si gadis, benda tersebut patah.
KRAKK!!!
“Kau!?”
“Merindukanku? Shishishi....” pelakunya tertawa sambil bersiap memberikan tendangan berikutnya.
“Kak Arya!??” seru Elizabeth senang.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui **********. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.