Elementalist

Elementalist
Chapter 290 - Winner


__ADS_3

Hanya dalam sepersekian detik Ten menarik Mira ke dalam dekapannya sembari memberikan pukulan pada bagian belakang lehernya hingga gadis tersebut pingsan sebelum berputar mulus mengayunkan jarinya bagai kilat, detik berikutnya dia dan Louis sudah saling memunggungi satu sama lain disusul suara sesuatu menyentuh tanah.


“Hmmm?” Louis menatap tanpa ekspresi lengannya yang baru saja terpotong tidak jauh dari sana.


“Kau....aneh sekali ya? Bahkan di eraku hanya ada segilintir orang yang mampu menunjukkan niat menebas rekannya menjadi dua sepertimu barusan”


“Justru sikapmu jauh lebih mengherankan, buat apa kau menyelamatkan musuh? Ini perang....”


“Entahlah, tubuhnya memaksaku bereaksi....” balas Ten lalu sosoknya menghilang begitu saja.


Louis terlambat menyadari kemunculan pria itu lagi dekat posisinya berdiri, saat hendak menemukannya menggunakan mata. Bunyi keras terdengar bersamaan dengan terpentalnya James entah kemana, cairan berwarna hitam yang seharusnya adalah darah keluar melalui bekas terpotongnya tangan Louis.


Menyatukan kembali kulitnya seolah tak pernah terputus sama sekali, namun ketika ia mencoba kembali menyerang tempat di mana Ten berada berbekal sabitnya. Sang musuh telah pergi menjauh, Louis berdecak kesal sambil menjilati bibirnya sendiri.


Ten muncul di tempat yang dia pikir cukup aman kemudian meletakan Mira yang tengah pingsan di situ, belum satu detik berselang Ten sudah kembali menghampiri Louis sembari menggaruk – garuk kepalanya santai.


“Bagaimana caramu bisa bergerak tanpa terikat hukum ruang dan waktu?”


“Hah? Pertanyaanmu agak membingungkan, harusnya kau berkaca dan berpikir mengapa bisa sangat lamban?” Ten memiringkan kepalanya.


Ten memperhatikan tangan Louis yang sudah tersambung lalu berpindah kepada dua Elementalist pihak Fatum beserta para Vanguard, akhirnya ia menghela napas panjang. Ekspresinya terlihat cukup muram, ketika saling menatap lagi sorot matanya berubah dingin.


“Sudah seberapa jauh sebenarnya kau jatuh? Bocah?”


“Aku tidak mengerti maksudmu?” jawab Louis tak acuh.


“Hah....kau melakukan eksperimen kepada seluruh ras, memanipulasi gen makhluk hidup merupakan kejahatan besar. Mengubah orang – orang, badanmu sendiri, bahkan Elementalist beserta atributnya. Maaf....bagiku kau adalah ancaman yang pantas dilenyapkan”


“Begitu ya? Sayangnya kau terlalu banyak bicara....”


Usai Louis berkata demikian tepat dari dalam tanah di belakang Ten keluar sesosok Mutant berkulit kehitaman nan keras dan dialiri cairan merah menyala layaknya lava gunung berapi, Amgog menyergap Ten dengan mengubah bagian tengahnya tubuh menjadi mulut besar bergigi runcing.


HAP! KRAUK! KRAUK!


“Heh....”


BAMMM....!!!


Senyum tipis Louis segera menghilang sewaktu menyaksikan salah satu Mutant terumit yang dia pernah ciptakan hancur berkeping – keping cukup hanya terkena satu ketukkan pelan. Untuk pertama kalinya sejak lama sekali Louis merasakan nyawanya terancam saat menatap mata sinis milik Ten.


“Oi? Kau pikir aku sedang bercanda? Apa kau mengira aku tidak bisa menghabisi semua rekan – rekanmu? Kusarankan kau membuang jauh – jauh pikiran tersebut, tujuanku memang hanya memberikan luka fatal agar anak – anak ini bisa melarikan diri.

__ADS_1



Memang sejak kemunculanku kau lihat aku menggunakan seluruh kemampuan? Kau lupa ya? Aku adalah Elementalist....bocah dungu” Ten bergumam dengan sayap es lebar terbentang di balik punggungnya.


><


Arya duduk bersila pada ruang hampa gelap, hanya ada warna hitam kemanapun arah memandang. Akhirnya ia membuka matanya yang mengeluarkan cahaya terang kurang lebih satu menit penuh, lalu pemuda itu berdiri sambil menatap telapak tangannya.


“Aku berhasil menguasainya....”


“Tuan?”


“Ayah?”


“Arya?”


“Terima kasih telah mengkhawatirkanku....Mandalika, Efbi, Safira”


Ketiga atribut miliknya muncul dalam wujud manusia mereka, nampak jelas ekspresi buruk menghiasi wajah masing – masing. Arya berbalik kemudian tersenyum kepada semuanya satu per satu. Safira tidak bisa menahan diri dan langsung memeluknya, Efbi ingin menyusul tetapi ada perasaan janggal aneh membuatnya ragu.


“Kau yakin baik – baik saja?”


“Hiks....kami takut sekali....hiks....ketika monster itu hampir mengambil alih....hiks....aku pikir akan kehilanganmu....”


“Ternyata begitu? Maaf ya Safira....namun sepertinya sekarang adalah saatnya berpisah”


“Eh?” Safira melepaskan dekapannya dan menatap dalam – dalam mata sang Tuan.


Mandalika langsung mengepalkan tangan kuat – kuat, ia yang sedari awal berusaha bersikap tenang sepertinya mencapai batasnya juga. Karena paling lama bersama Arya dia bisa tau tanpa perlu dijelaskan sebelumnya, Efbi mulai menyadari mengapa hatinya tidak karuan.


“Kau ini bicara apa?”


“Kalian mengetahui rencananya bukan?” tanya Arya pelan.


“Tentu, kau berencana mengirim teman – temanmu ke dimensi lain agar aman dari kejaran pihak musuh setelah mengamankan para warga”


“Benar sekali, dan sudah kuputuskan....untuk tidak membawa kalian bertiga”


“JANGAN BERCANDA!!!” Safira membentak murka sebelum menarik pakaian Arya sampa jarak muka keduanya cuma terpisah beberapa senti.


Emosi Safira bercampur aduk antara kesal, sedih, dan kecewa. Ia tidak habisi pikir mengapa Arya dapat mengambil keputusan demikian di waktu mendesak seperti saat ini, apalagi usai Ten memberikan jalan keluar cemerlang demi menyelamatkan semua pihak terkait.

__ADS_1


“KATAKAN PADAKU! BAGAIMANA CARAMU BISA BERLATIH TUK MENJADI KUAT TERUS MEREBUT SEMUANYA KEMBALI TANPA KAMI!? DRAGON ISLAND, ELEMENTAL CITY, RUMAHMU....MAKAM AMIRA!? SEMUANYA....”


“Safira?!” panggil Mandalika dan Efbi berusaha menjauhkannya.


“LEPASKAN AKU!”


“Biarkan saja, akan kuberitahu alasannya. Karena aku ingin kalian menjaga orang – orang penting bagiku...sekaligus tempat yang bisa aku sebut sebagai rumah ini....”


Mata Safira melebar kemudian secara perlahan melepaskan genggamannya sembari mundur dengan wajah menunduk lesu. Si gadis mulai menangis tak kuasa menahan rasa sedihnya, dia mengusap wajahnya tanpa henti.


“Kau benar – benar curang.....menyebalkan....aku membencimu! Bagaimana mungkin kau tega berkata akan meninggalkanku setelah penantian panjang itu? Aku selalu menunggumu dari hari berganti bulan, bulan berganti tahun di dalam kegelapan tersebut sampai akhirnya menetas....”


“Maafkan aku....tunggulah sebentar....aku akan segera kembali....jadi tolong bersabarlah. Aku pasti menjemput kalian....” Arya berbisik lalu mendekap ketiga atributnya yang berlinang air mata.


><


“Ugh....sial....” umpat Louis lemas.


Masing – masing tangan dan kakinya telah terpotong, seluruh badan maupun area tempatnya berbaring diselimuti oleh es. Hanya menyisakan kepalanya saja, ia tidak bisa merasakan sekujur tubuhnya. Di kejauhan terlihat Ten berjalan mendekat layaknya seorang dewa kematian.


Bersiap memberikan serangan penghabisan, dia menatap jijik Louis sebelum mengangkat tangannya membentuk sebuah belati dari es yang siap dilepaskan tepat menuju jantung pria itu untuk mengakhiri hidupnya.


Namun belum sempat Ten menyerang tiba – tiba sekujur badannya berubah kaku, gerakannya terhenti seolah ada sesuatu menahannya. Melihat kesempatan tersebut anggota – anggota tubuh Louis langsung menyergap diikuti oleh empat jurus lainnya entah dari mana.


BUMMM....!


“Celaka waktuku sudah habis, perhitunganku meleset. Ini gawat....” Ten bergumam selesai menghindari ledakan terus mencari asal empat Agnet berbahaya barusan.


“MATI KAU BRENGSEK!!!”


BLEGARRR!!!


Senjata Garyu, Merlin, Regulus, serta Kris hanya mengenai tanah. Keempatnya berdecak mencari kemana perginya target mereka, perlahan melalui balik asap keluar Louis dengan fisik sudah kembali normal ditemani Xavier dan Reiko.


“Pax berencana untuk kabur, kita harus berbagi tugas. Jangan terlalu terpaku kepada pria tadi karena sepertinya dia sengaja menjadi umpan, sebagian harus mengincar warga sipil sebab mustahil bocah – bocah itu akan pergi meninggalkan mereka. Pemenang perang ini adalah....kita” jelas Louis tersenyum lebar.



^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2