
Hari – hari berjalan normal di Elemental City, karena baru menyelesaikan misi berat. Semua Elementalist diberikan jatah libur cukup panjang, berhubung perayaan - perayaan besar juga akan diadakan sebentar lagi.
Para Werebeast sudah semakin berbaur dengan seluruh penghuni Pusat Penelitian, mereka diterima dengan hangat dan mensyukuri keputusan pindah ke tempat ini. Perlahan bantuan – bantuan untuk organisasi mulai bisa dijalankan.
Kizuna, Kinichi, dan Shirone banyak melakukan pekerjaan mengurus dokumen – dokumen mengenai seluk beluk Zoonatia, informasi dari ketiganya akan sangat diperlukan di masa depan. Walaupun ya....Kinichi lebih banyak menggoda pegawai perempuan dari pada membantu.
Kurobara beserta Kyuran mendapat latihan khusus dengan Pengawas Bianchi sebagai pembimbingnya. Bersama beberapa pasukan garis depan Werebeast anggota Pax lain mereka berlatih keras.
Pengawas Varuq jadi mentor bagi Namme untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelinap, tetapi memiliki syarat harus diawasi ketat oleh Pengawas lain karena semua tau bagaimana keburukan si mesum Julius Varuq.
Midori sendiri menjadi asisten sukarelawan Romero, keduanya sering menghabiskan waktu bermain dan mendengarkan musik bersama. Sedangkan Pinka mengajukan diri sebagai salah satu pelayan Kantin dibawah arahan Gustav.
Selain menyukai makanan di sana, dia juga senang karena banyak diberi berbagai macam hadiah oleh para pengunjung. Dan Nashumi penuh semangat selalu pergi menuju divisi sihir dan mekanik tiap dini hari lalu kembali saat petang dilumuri oli pada sekujur tubuhnya.
Hachiru masih mengakui Arya sebagai gurunya, jadi dia selalu menantikan latihan bersama. Namun beberapa waktu terakhir sepertinya pria tersebut sedang sibuk sehingga meminta Hachiru untuk berlatih dibawah Pengawasan Astral.
Para Elementalist lebih banyak keluyuran di permukaan demi menikmati hari libur mereka, menyebabkan sosok kesepuluhnya jarang terlihat. Sebagian memilih menghabiskan waktu bersama keluarga angkat masing – masing.
Suatu hari Callista mendatangi Ruang Latihan, ia mengintip ke dalam sambil menaikan sebelah alis karena tak menemukan yang dia cari.
“Arya? Hachiru? Apa kau melihatnya?”
WUSH! WUSH! WUSH!
“Hah....maaf....tapi....aku juga belum melihatnya” Hachiru mengelap keringat setelah mengayunkan pedang kayu entah berapa kali, dia baru saja selesai berlatih bersama Astral.
“Hmm....”
Si Vampir muda lalu melakukan pencarian hampir ke seluruh penjuru Pusat Penelitian, terus bertanya tanpa henti namun tak membuahkan hasil sedikitpun. Saking lelah dan kesal Callista kembali lagi sembari berteriak kesal.
“ARYA KAU DI MANA?! AKU HAUS!”
Ternyata sudah banyak orang berkumpul di Ruang Latihan, semuanya menatap aneh ke arah Callista yang baru tiba kemudian berteriak tidak jelas. Rena segera mendekat khawatir gadis tersebut terluka.
“Kau sakit Callista?” sang Elementalist Alam menempelkan telapak tangan hati – hati ke keningnya.
“Tidak, tapi persediaan darahku telah habis. Tenggorokanku kering sekali, aku berusaha mencari Arya tapi tidak ketemu – ketemu” rengek Callista.
‘Mungkin Kapten ada di kamar, biar aku carikan sebentar’ Ali mengajukan diri.
Baru saja ia ingin meninggalkan tempat, tiba – tiba Timothy masuk dan memanggil – manggil nama Arya. Kaget karena banyak orang disitu, Timothy pun bertanya heran.
“Kalian sedang apa ramai – ramai begini?”
__ADS_1
Semua saling menatap satu sama lain sebelum menjelaskan situasinya, Timothy menggaruk – garuk kepala bingung “Aneh, aku juga mencari Kapten karena ingin meminjam parfum unik miliknya”.
“Parfum?”
“Iya, sejak memakai benda itu pesonaku mulai nampak di mata para gadis”
Senyum sombong Timothy buyar waktu yang lain segera memalingkah wajah malas seolah berkata itu merupakan hal mustahil, geram diapun menunjuk semua perempuan di sana.
“Lihat saja nanti! Awas ya kalau sampai ada yang jatuh hati kepadaku!—”
“Iya – iya berhenti mengoceh, intinya kau bertemu Kapten atau tidak?” Kevin memotong tidak sabar.
“Aku sudah mencari di asrama tapi kamarnya kosong, di perpustakaan juga tak terlihat batang hidungnya. Itulah kenapa aku kemari”
“Eh?”
Seketika wajah semuanya berubah serius, situasi ini terdengar gawat. Seakan Arya telah diculik kemudian keberadaanya menghilang bak ditelan bumi, waktu kecemasan semakin berlarut – larut Zayn menyeletuk pelan.
“Siapa diantara kalian bertemu dengan Kapten akhir – akhir ini?”
Teman – temanya menggeleng, Zayn lalu menghelas napas sebentar. “Berarti aku ya, terakhir kali bertemu Kapten sepertinya kalau tidak salah tadi malam”
“Hmm? Di mana?” Alalea menjadi tertarik.
“Walau lega setelah mendengar itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh darinya”
“Maksudmu?”
“Matanya menerawang sesuatu, pikiranya seperti tidak pernah berada di sana bersamaku”
‘Apa....dia disekap oleh adiknya ya?’ ujar Asuna dalam hati.
“Dari pada bingung, bagaimana jika kita menunggu dan menanyakannya secara langsung?” Selena menyarankan.
“Tidak, aku punya ide lebih bagus. Kita buntuti saja seharian penuh”
“Eh?”
“Hohoho sepertinya kasus skandal Ketua Elementalist ini akan menarik, biarkan aku menginvestigasinya shishishi” tawa Kinichi menggema ke seluruh penjuru.
“Kak Shi? Kak Kin kenapa?” Pinka berbisik pelan.
“Mmm....bagaimana cara menjelaskannya ya? Intinya sih dia terobsesi oleh kisah detektif yang dibacanya tanpa sengaja dari perpustakaan” jawab Shirone mengangkat kedua bahu.
__ADS_1
------><------
SLURP! SLURP! SLURP!
“Callista?! Bisakkah kau meminumnya lebih tenang? Kita bisa ketahuan!” desis Elizabeth.
“Mhm mhmu mhmhu!” Callista membalas masih dengan mulut menghisap jatah darah miliknya yang baru saja sampai.
“Ssst!? Dia datang!”
Peringatan Midori membuat suasana berubah senyap, Arya terlihat berjalan naik ke asrama sembari memijat – mijat tengkuknya pegal. Lalu masuk kamar dan tidak keluar lagi, para pengintai mengawasi semuanya sejak awal dari persembunyian di sekitar tangga asrama.
“Pulang pukul dua dini hari!?” Nashumi berkomentar heran.
“Eee....sejujurnya kau adalah orang paling tidak pantas berbicara begitu” gumam Timothy melirik aneh.
“Apa yang dia lakukan sampai selarut ini?” Kizuna mengelus dagu penasaran.
“Tak ada pilihan lain, kita sepertinya memang harus membuntutinya” kata Asuna diikuti anggukan semuanya.
Keesokan harinya Arya keluar pagi sekali, jam enam tepat. Telinga sensitif Midori menangkap suara langkahnya sehingga diapun membangunkan tidur lelap yang lain, mereka masih bersiaga di posisi persembunyian tadi malam.
Setelah memperkirakan jarak aman, operasi pembuntutan Arya akhirnya dimulai. Laki - laki tersebut terlihat duduk menunggu di salah satu stasiun. Sampai setengah jam kemudian ia berdiri sambil tersenyum hangat kepada seorang gadis manis berambut hitam.
‘DIA MELAKUKAN KENCAN SEMBUNYI – SEMBUNYI!?’
“Wah wah wah berita besar nih hihihi” Kinichi tertawa licik.
“Kapten....sekarang mulai berani ya?” timpal Timothy.
“Berisik!” bentak para perempuan lain membuat duo pria konyol tersebut terdiam seketika.
“Maaf! Sudah lama ya?”
“Tenang saja, aku juga baru tiba. Ayo”
Setelah bertukar sapa sebentar, keduanya segera membeli tiket dan naik kereta pertama hari itu menuju ke Distrik Perunggu. Tentu saja masih diikuti oleh dua puluh dua orang penguntit penasaran, mereka menyamar dan menyebar secara terpisah ke segala gerbong agar tidak mencurigakan.
Nampak Arya bersama gadis tersebut berbicara akrab, seakan sudah dekat lama. Hal ini menimbulkan macam – macam persepsi di benak masing – masing pengunti. Tapi ada satu pertanyaan yang sama.
__ADS_1
‘Siapa gadis itu?’