
“Aktifkan lingkaran sihirnya....”
“Tunggu sebentar Kinichi, Tuan Putri belum terlihat. Beri sedikit waktu” ujar Eridan datang dengan tubuh babak belur.
“Eh? Tapi—“
“Callista dan Kizuna juga entah di mana” Nashumi menimpali.
“Ck!? Midori coba hubungi mereka sekali lagi! Kita tak punya banyak waktu! Kalau sampai melenceng dari rencana Tuan Arya nanti—“
BUMMM!!! BRRRR....!!!
Benar saja hanya berselang beberapa detik rentetan mantra sihir menghujani lokasi itu, namun berkat kesigapan Diondra dampaknya dapat diminimalisir. Dalangnya tidak lain adalah para pasukan Fatum tersisa yang dipimpin oleh Merlin.
Nampak juga Witch tingkat tinggi seperti Friska maupun Olivia menemaninya, tatapan mata Merlin menyapu area tersebut kemudian terhenti pada satu titik. Ekspresinya mengalami perubahan, akhirnya dia bertanya dingin.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Menurutmu?” jawab Kyra tak gentar layaknya kawan – kawan The Figment Squadron lainnya.
“Dasar bocah – bocah tidak tau diuntung, Evi—“
JDASH!!!
“Seharusnya kau mencari lawan yang sebanding denganmu....Releasiteus”
Seorang pria berjalan santai sambil mengeluarkan tongkat sihirnya, usai ia mengucapkan mantra. Lingkaran teleportasi di bawah kaki para pengungsi menyala terang. Merlin menoleh ke arah pelaku penyerangannya dan tiba – tiba wajahnya menegang.
“Zapius....!!!” Merlin berteriak mengerikan lalu melepaskan tembakan dahsyat.
Mr.Gerrow membelokan arah serangannya dengan mudah hingga membuat orang – orang yang melihat terpana, Zapius bergerak menuju barisan terdepan seolah berperan sebagai pelindung bagi semua individu di belakangnya.
“Lingkaran sihirnya akan berangkat enam puluh detik dari sekarang, jadi sebaiknya lupakan siapapun yang belum muncul”
“Tunggu dulu! Ayah!? Minggir! Aku ingin berbicara kepada Ayahku!”
“Hmm? Kenapa berisik sekali nak?”
“Hentikan omong kosong ini! Masuklah kembali!” Ryan memohon panik.
“Sepertinya mustahil, aku harus memastikan kalian berangkat dengan aman serta nyaman....”
“Apa maksudmu!? Setidaknya gunakan Sky Estuary! Dia akan lebih berguna di tanganmu....! Hiks!”
“Masa depannya jauh lebih cerah jika ikut bersamamu, sampaikan salamku kepada ibumu. Katakan makan malamnya enak sekali walaupun agak kelebihan garam, mungkin itu kali terakhir aku mencicipinya....” kata Zapius tersenyum tipis.
“JANGAN MENGADA – NGADA PAK TUA!—“
“Levietalio”
CTAS!
“Ugh!? TIIIDAAAAAK!!! AYAH...!!!” Ryan berteriak sampai tenggorokannya sakit namun badannya terkunci mantra sihir Ayahnya sehingga hanya bisa menggeliat.
Bukan cuma Ryan yang tiba – tiba emosional, terlihat beberapa sosok juga meninggalkan lingkaran untuk membantu Zapius selesai mengucapkan perpisahan ke orang – orang terkasih. Eridan segera ditahan Nyanko Kyōdai karena jika tidak ia bakal melesat keluar mencari Alalea.
__ADS_1
“Lepaskan aku! Aku harus menjalankan tugas mengawal Tuan Putri! Oi Kinichi!?”
“Tenangkan dirimu! Sudah terlambat! Lagi pula pasti ada alasan mengapa dia tidak kemari! Kami telah menghubunginya sungguh!”
Hal serupa juga dilakukan kepada Diondra, gadis tersebut ingin membantu Mr.Gerrow sekaligus mencari ketiga putri itu. Perlahan suasana makin menjadi haru saat para Pengawas Ujian laki – laki mulai bertukar pandangan.
“Biarkan aku membantu Tuan Zapius kumohon!? Alalea!? Callista!? Kizuna....!?”
“Maaf....Diondra” bisik Kyuran penuh sesal sebelum memukul tengkuk sang Putri Atlantos sampai tak sadarkan diri.
“Kupikir waktunya kita juga untuk terlihat keren. Ayo Ben, Ursa, Ey, Ray”
“Tunggu, aku ikut....” Po bangkit memaksa keempat temannya menunggu.
“Magna? Apa yang kau lakukan? Jangan....kumohon setelah kehilangan Gio aku—“
“Maaf Bianchi....aku harus”
“Hei!? Kalian bisa mati!?” jerit Bianchi putus asa.
“Kalau memang demikian, setidaknya kami bisa bertemu Gio dengan wajah terangkat bangga”
“TIDAKKKK!!! TEMAN – TEMAN!?”
“Bianchi....?” Pengawas Rea dan Allucia merangkulnya sembari menggeleng – gelengkan kepala.
Zapius terlihat sedikit heran menyaksikan perbuatannya, ia tidak menyangka akan banyak yang ikut serta bahkan sekelas Pengawas Ujian Elementalist sekarang berdiri di sebelahnya. Mr.Gerrow menggaruk – garuk kepalanya bertanya – tanya apakah tindakannya tadi salah serta kemungkinan bisa merugikan pihak Pax nantinya.
“Katakan lagi maka kucabut tiap gigimu....” geram Merlin.
“Jangan galak begitu dong....wahai adikku sayang”
“Kyma Ekrixis!”
JDAAAR....!!!
Bertepatan dengan suara ledakan sihir yang beradu sebagai penanda pertempuran tersebut di mulai, lingkaran teleportasi makin mengeluarkan cahaya terang benderang kemudian akhirnya menghilang bak di telan bumi dan hanya meninggalkan tangisan pilu menghiasi udara.
><
JDASH!
“Oh? Ternyata lumayan keras juga, perkataan orang itu tentang membuat pelindung menggunakan tenaga terakhirnya nampaknya benar. Mustahil bagi mereka menembusnya” gumam Arya kagum menyaksikan pelindung bikinan Ten menelan tanpas bekas jurus aliansi Fatum.
BANG! BUK! BANG! BRUAKH!
Namun dalam waktu singkat musuh bergerak terus melakukan serangan jarak dekat secara membabi buta terhadap perisai tersebut. Awalnya Arya masih bisa bernapas lega, tetapi beberapa menit kemudian ekspresinya berubah mendapati kalau peninggalan Ten ini makin terkikis secara perlahan tiap tebasan maupun hantaman mengenainya.
GLEK!
“Sepertinya aku terlalu cepat bicara....”
CTAS! CTAS! CTAS!
__ADS_1
“HAHAHA....Onii-chan!? Main....yuk!” Reiko menghujani mereka dengan cambukan yang tidak terhitung jumlahnya bagaikan angin badai.
“Eeee....teman – teman? Tidak bisakan kalian sedikit lebih cepat beradaptasinya?
“Berikan kami kesempatan sepuluh menit lagi” bisik Timothy penuh konsentrasi.
“Sepuluh menit katamu!? Ahh sudahlah, nampaknya kita akan gagal....”
Meski berkata demikian Arya tetap berjuang, berbekal sisa energi dan kemampuanya ia memperbaiki bagian – bagian terkikis penuh perjuangan. Sayangnya jumlah lawan jauh lebih banyak sehingga kecepatan perbaikannya sulit mengimbangi.
Perlahan badannya dipenuhi keringat, dia menggigit bibirnya sendiri masih terus berjuang agar para Elementalist bisa bertahan ketika berpindah dimensi sebentar lagi. Ketika harapannya makin menipis serta antusiasme aliansi Fatum kian menjadi – jadi, akhirnya sisi kanan pelindung pecah menciptakan celah bagi tangan buat meraih dirinya.
Arya mencoba mundur tapi sergapan Regulus lebih cepat menjangkaunya, di tengah krisis tersebut tiba – tiba sebuah kilap kebiruan melintas. Detik berikutnya Regulus melompat mundur memegangi lengan kirinya yang baru saja terpotong, wajahnya tanpa ekspresi namun ada amarah terlihat menghiasi matanya.
Bantuan ternyata belum berakhir, sebuah ombak pasir menyapu kawanan Fatum yang mengejar Elementalist kemudian disusul hujan panah kekuningan serta jarum darah. Meski cakupan serangan barusan sangat besar, Louis bersama rekan – rekannya berhasil selamat tanpa goresan berarti.
Arya terenyuh sampai tidak menyadari perisai buatan Ten sudah normal kembali, dia melihat empat sosok yang baru saja datang membantunya. Tiga gadis dan seorang pria terbang di atas pasir memunggungi Arya.
“Kalian....? Kenapa masih di sini?”
“Maaf Kapten, aku menyelinap pergi karena ingin membantu kalian....”
“Ali....kau—“
“Iya aku paham tidak bisa ikut, jadi izinkan aku setidaknya mengantar kepergian kalian ya?” Ali memotong perkatannya penuh pengertian.
“Aku sudah mendengar semuanya dari Mandalika, aku tidak mau mendengar protes dari orang seegois dirimu....tapi....”
“Terima kasih atas peninggalannya....”
Alalea, Callista, dan Kizuna memperlihatkan ketiga atribut Arya pada diri masing – masing. Alalea adalah yang paling mencolok karena ia memegang Reliquia miliknya bersamaan dengan wujud asli pedang Mandalika pada kedua tangannya. Itu menjadi momen pertama kali Mandalika digunakan oleh orang selain Arya.
“Harusnya kalian ikut kabur dengan yang lain....”
“Hahaha kenapa? Kau mau memaksa kami lagi? Sumpah Hidup – Mati milikmu telah hilang tau” gelak Callista memperlihatkan tangannya.
Memang benar ketika bertukar tempat, Ten menyerap kekuatan yang sangat besar hingga menghapus kontrak dari ramuan tersebut. Arya menunduk menyadari teman – teman di belakangnya sudah hampir selesai.
“Kapten?! Kami—eh? Kalian?“
“Ali? Alalea? Callista? Kizuna?” Selena memanggil satu per satu tidak percaya.
“Maaf....”
“Tidak, kami tak akan memaafkanmu. Kecuali kau pulang dan mengambil kembali atributmu ini” kata Kizuna lembut.
“Ah, pasti. Aku....pergi dulu”
“Ya, selamat jalan” Alalea menoleh sambil tersenyum manis, itulah pemandangan terakhir yang Arya lihat sebelum mereka bersembilan terhisap ke dalam gerbang dimensi.
ZAP!
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.