
Kenyataan bahwa Alalea adalah Elf yang ia lihat pada saat Ujian Elementalist pertama bersama Asuna sebenarnya baru diketahui oleh Arya baru-baru ini, dia memastikan hal tersebut beberapa saat yang lalu saat berjalan bersama Alalea. Suara langkah kaki Alalea sangat khas, dan tidak mungkin Arya bisa lupakan. Itulah mengapa Arya merasa familiar saat pertama kali melihat Alalea dia ruang tahta waktu itu.
Arya tidak terlalu memikirkannya, tapi ia yakin Alalea tidak akan bisa tidur tenang malam ini. Selagi berpikir seperti itu tanpa ia sadari sebuah senyuman puas merekah diwajahnya, akhirnya ia mendarat di tanah setelah melompat-lompat diantara pepohonan untuk beberapa waktu. Dia mengenakan tudung jubahnya lalu mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya untuk memastikan apakah dia sudah sampai di tempat yang benar.
Arya berjalan dengan tanpa keraguan ke arah sebuah gerbang setinggi tubuhnya, gerbang itu dipenuhi kain-kain berwarna-warni yang menghiasinya. Gerbang tersebut adalah sebuah pintu masuk menuju sebuah pemukiman kecil, pemukiman itu dikelilingi pagar-pagar setinggi kurang dari satu meter. Yang berbeda dari pemukiman itu adalah tempat tinggal penghuninya yang berupa tenda, tempat itu terlihat kurang sesuai dengan lokasi seperti Fairy Forest.
Tidak berselang lama setelah memasuki pemukiman tersebut, Arya mulai mendengar suara-suara dari para penghuninya. Seorang anak laki-laki Dwarf berlari-lari kegirangan ke arah Arya tanpa menyadari keberadaanya, dengan sigap ibu anak tersebut langsung menarik anak itu kepelukannya. Ia menatap Arya dengan tatapan bersalah lalu membungkuk sambil meminta maaf dan segera menyingkir dari hadapan Arya.
Arya bisa melihat ketakutan pada mata ibu anak tersebut, namun Arya tidak terlalu memusingkan hal tersebut dan terus melanjutkan langkahnya. Benar saja setelah kejadian itu, suasana tempat tersebut menjadi hening, beberapa Dwarf dewasa terlihat memperhatikan Arya dari depan tenda mereka masing-masing. Tatapan mereka penuh dengan hormat,waspada, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Arya tidak tahu harus bagaimana, mungkin memang seperti itulah sikap para Dwarf terhadap Elf.
Setelah cukup lama ia akhirnya menemukan sebuah tenda yang menjadi tempat tujuannya, tenda itu memiliki sebuah pintu yang terbuat dari kayu ek dengan pengetuk pintu berwarna emas berbentuk kepala singa. Arya segera mengetuk pintu tersebut tiga kali, beberapa menit kemudian terdengar suara menggerutu dari dalam tenda yang semakin lama terdengar semakin mendekat.
"Apakah kau tidak bisa membaca tulisannya? Disitu tertulis jelas bahwa kami sudah tu......." Dwarf itu tidak berhasil menyelasaikan kata-katanya setelah melihat tamu yang menunggunya di luar pintu.
Arya membalas tatapan terkejutnya dengan senyuman hangat sambil berkata "Maafkan aku datang secara tiba-tiba, apa aku mengganggu?"
"A...Ah ternyata tuan muda, maafkan ketidaksopananku. Aku hanya tidak menyangka akan bertemu dengan anda secepat ini" balasnya cepat sambil mengangkat topinya.
Kemudian Dwarf itu segera mempersilahkan Arya masuk, tapi Arya segera menolaknya dengan mengatakan bahwa ia kemari ingin meminta bantuan pada Dwarf tersebut. Mendengar hal itu sang Dwarf menatap Arya dengan tatapan tertarik.
"Mmm kalau begitu....apa yang bisa Klug tua ini lakukan untukmu tuan muda?" tanyanya sambil mengelus janggut putih miliknya.
"Baiklah Klug, sebenarnya aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Tapi apakah kau bisa mengantarkanku kepada Tribal Chief kalian?"
Mendengar hal itu Klug terlihat sangat terkejut, dia terlihat ragu. Apakah dia harus memenuhi permintaan Arya atau tidak, rasanya sedikit tidak sopan untuk menolak permintaan dari orang yang telah menolongmu bukan? Itulah yang Arya bisa baca dari ekspresi kebingungan Klug, akhirnya ada sebuah suara dari dalam tenda yang menyadarkan Dwarf kebingungan tersebut.
"Tidak perlu cemas seperti itu, dia hanya ingin bertemu denganku. Menyingkirlah Klug"
"T...t...tapi Chief--"
"Tak apa-apa, aku juga ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri orang seperti apa Elf yang telah membantu seorang Dwarf"
Kemudian Klug menyingkir dari pintu, sesosok Dwarf yang terlihat sangat sepuh muncul dari dalam tenda. Dwarf itu sudah sangat tua, wajahnya penuh dengan keriput dan ia berjalan bungkuk sambil membawa sebuah tongkat sebagai alat bantu berjalan, tapi yang menarik perhatian Arya adalah janggut putih panjang miliknya yang saking panjangnya sampai terseret di lantai.
Arya mengangguk sambil memberi hormat pada Dwarf tersebut, dia balas tersenyum pada Arya. Matanya menunjukan kehangatan yang tidak pernah Arya lihat pada mata orang-orang yang pernah ia temui sebelumnya. "Perkenalkan aku adalah Tribal Chief disini, namaku Stämmig. Apa yang bisa pria tua ini lakukan untuk anda tuan muda?"
"Halo Chief Stämmig, aku kemari bukannya ingin meminta bantuanmu. Tapi aku kesini ingin menunjukan sesuatu" jawab Arya sambil membuka tudung jubah miliknya.
Arya lalu menjulurkan kepalan tangan kanannya ke arah Stämmig, seolah-olah ingin memberikan sesuatu. Lalu dengan perlahan ia membuka telapak tangannya, kemudian secara perlahan sebuah kristal es muncul dari telapak tangan Arya. Setelah itu aura dingin segera merebak ke sekitar tempat tersebut. Mata Stämmig melebar melihat hal itu, kemudian butiran air mata mulai muncul dari sudut matanya.
Ia segera menekukan lutut sambil memberikan hormat yang sangat dalam pada Arya, melihat Chief mereka melakukan hal tersebut para Dwarf lainnya juga segera melakukan hal yang sama "Kami sudah lama menunggu kembalinya kalian semua, Tuanku. Hidup untuk para Elementalist"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya meninggalkan pemukiman Dwarf setelah matahari tenggelam, awalnya dia ingin langsung pulang ke kediaman Eridan. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk melihat suasana Mediopolis di malam hari, Aryapun mulai melompat dari satu pohon ke pohon lainnya sambil memprehatikan kegiatan yang dilakukan orang-orang disekitarnya.
Suasana malam disitu sangat ramai, banyak Elf yang telah lelah bekerja pada pagi hari pergi untuk mencari pelepas penat. Tapi ada juga yang baru memulai pekerjaan mereka saat matahari tenggelam, banyak tempat-tempat yang terlihat seperti kedai minum yang selalu dipenuhi oleh pelanggan. Suara tawa bercampur alunan musik indah kebanyakan berasal dari sana. Tidak terlalu berbeda dengan suasana malam Elemental City pikir Arya.
Setelah cukup puas melihat-lihat kota dan bersiap untuk kembali, entah kenapa dia ingin melihat kastil Arboles hanya untuk sekedar lewat saja tanpa alasan yang jelas. Saat tiba disana Arya berdecak kagum melihat pohon raksasa yang telah disulap menjadi sebuah kastil oleh kaum Elf tersebut, cahaya berwarna kuning nan hangat memancar dari jendela-jendelanya, pemandangan seperti itu tidak akan bisa dia nikmati ditempat lain. Itulah yang terbersit dipikiran Arya.
Sekitar kastil Arboles juga dipenuhi oleh orang-orang, efek dari akan dilaksanakannya perayaan ulang tahun Ratu sangat terasa terutama di tempat ini. Kemudian secara perlahan Arya mengelilingi kastil itu, ditengah kegiatan mengasyikannya itu tiba-tiba ada sesuatu yang keras jatuh diatas kepalanya.
"Aww.....ish....apa-apaan ini" umpatnya pelan sambil menggosok-gosok kepalanya yang terasa nyeri.
Dia lalu segera menunduk dan memungut benda yang baru saja jatuh mengenai kepalanya, Arya lalu mendongak dan memperhatikan beranda yang menurutnya sebagai tempat benda itu berasal. Pandangannya berpindah-pindah dari benda yang ada ditangannya dengan beranda tersebut, kemudian matanya berbinar-binar menunjukan bahwa dirinya telah menyadari sesuatu.
Aryapun berdeham pelan lalu menyimpan benda itu dibalik jubahnya sambil mendesis "Sepertinya sesuatu yang menarik akan terjadi, tapi entah mengapa aku punya firasat buruk mengenai hal ini. Dan sayangnya....firasat burukku hampir selalu benar"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya,Rena, dan Eridan berangkat bersama pagi itu. Mereka bertiga diundang untuk datang ke jamuan pesta ulang tahun Ratu, jamuan tersebut dilaksanakan disebuah tanah lapang yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah kanopi yang terbuat dari dedaunan terbentang diatas kepala mereka, dari yang Arya lihat sepertinya tempat itu bisa menampung lebih dari seribu orang.
__ADS_1
Tempat ini hanya dikhususkan untuk para tamu undangan Ratu, sehingga yang bisa hadir bukanlah orang sembarangan. Arya sempat berpikir apakah Eudart juga akan datang, tapi sepertinya dia tidak perlu mempertanyakan hal yang sudah jelas seperti itu. Melihat dari sifatnya, Eudart adalah tipe orang yang tidak terlalu menyukai hal-hal berbau seperti pesta dan perayaan.
Tamu undangan sudah banyak yang berdatangan, mereka mengenakan busana terbaik mereka. Arya dan Rena hanya bisa berdecak kagum melihat keindahan busana kaum Elf tersebut, berbanding terbalik dengan mereka semua yang mempertontonkan pakaiannya. Arya dan Rena menyembunyikan pakaian mereka dibalik jubah berwarna karung goni milik mereka, yang dengan segera mengundang tatapan tidak senang dari tamu yang lainnya.
Eridan sebenarnya sudah menasehati mereka untuk tidak melakukan hal itu, tapi Arya tidak memperdulikannya dan tetap meminta Rena untuk membawa jubah miliknya juga.
"Sudah aku bilangkan, kenapa kalian menggunakan jubah bertudung seperti itu saat pesta? Aku benar-benar tidak mengerti Manusia" komentar Eridan sambil menatap mereka berdua.
"Kau tidak perlu memahami Manusia Eridan, kau hanya perlu mengabaikannya" jawab Arya sambil tersenyum santai.
Merekapun akhirnya tiba pada sebuah barisan orang-orang yang mengantri untuk memberikan hadiah pada Ratu, mereka bertiga ikut berbaris. Tepat di depan barisan itu ada tiga tempat duduk yang telah disediakan. Diana, Sang Ratu yang berulang tahun duduk di tengah dengan singgasananya diapit oleh Azalea dan Alalea dimasing-masing sisinya.
Setelah melihat kelompok Arya ikut berbaris, Azalea segera melambai pada mereka dengan semangat, sedangkan Alalea segera membuang mukanya karena tidak ingin melihat wajah Arya. Arya membalas lambaian Azalea dengan tersenyum hangat, saat tiba giliran mereka untuk memberi hadiah, Arya dan Rena segera maju dan meletakan hadiah mereka di tempat yang sudah disediakan. Mereka lalu menghadap Ratu sambil memberi hormat.
"Semoga Yang Mulia selalu sehat dan panjang umur"
Diana hanya mengangguk pelan, Arya dan Rena segera mundur untuk membiarkan Eridan meletakan hadiahnya dan memberi hormat. Hadiah yang Arya berikan pada Ratu sebenarnya bukanlah suatu yang istimewa, Arya memberitahukan perihal ulang tahun ini pada Astral beberapa waktu yang lalu. Sehari setelah Arya mengirimkan pesan tersebut, seorang kurir Elf anggota Pax datang ke kediaman Eridan dan memberikan sebotol minuman anggur yang berasal dari Elemental City, beserta perkamen yang berisi pesan dari Astral untuk menghadiahkan minuman itu pada Ratu.
Saat semua tamu telah hadir dan semua hadiah sudah diberikan, Ratu berdiri dari singgasanya seraya membentangkan tangan sambil berkata "Pestanya dimulai!!!"
Segera saja alunan musik indah dan suara canda tawa memenuhi tempat itu, seluruh tamu segera berkerumun disekitar lima meja panjang tempat makanan dan minuman telah disediakan. Arya segera mencari tempat duduk dipojok diikuti oleh Rena dan Eridan, Eridan menawarkan pada mereka untuk mengambilkan makanan. Tapi segera ditolak oleh Arya, beberapa menit kemudian Reiss datang menghampiri mereka.
Saat mereka asyik mengobrol, Rena tidak bisa melepaskan pandangan dari gaun indah yang digunakan Diana, Azalea, dan Alalea. Gaun itu berwarna putih dan mengeluarkan sebuah cahaya berkilauan yang sangat indah, Arya segera mencolek tangan Rena. Dia segera tersadar dan melemparkan semyum malu pada Arya. Mereka terus berbincang untuk waktu yang cukup lama, mungkin hanya mereka berempat yang belum menyentuh sajian dari pesta itu.
Kemudian setelah cukup lama Ratu akhirnya berdiri lagi dari singgananya, kali ini ia mengangkat sebuah cawan indah yang bertaburan batu mulia berwarna merah. Melihat hal itu semua orang segera mengambil minumannya masing-masing, termasuk kelompok Arya. Setelah semua sudah siap, Arya mendengar seseorang berteriak dari tengah kerumunan tamu.
"Hidup Ratu Diana! Bersulang!"
"Bersulang!" terdengar sahutan dari seluruh penjuru.
Diana segera duduk kembali pada singgasananya, tepat sebelum cawan yang ia pegang menyentuh bibirnya. Dengan sangat cepat Arya menyambar tangan Diana dan menahannya agar tidak melanjutkan apa yang ingin dia lakukan, Arya bergerak dengan sangat cepat sampai-sampa jubahnya berkibar sehingga memperlihatkan dirinya yang membawa peralatan lengkap ke pesta tersebut.
"Jangan diminum, ini beracun"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Segera saja terdengar teriakan kemarahan dari seluruh tamu yang ada, Diana melihat Arya dengan tatapan tenang. Tapi Azalea dan Alalea yang berada disebelahnya terlihat terkejut, Alalea segera berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk Arya "Kau....beraninya kau melakukan hal seperti itu pada Ratu"
"Kaulah yang harus menjaga mulutmu" desis Daemord.
"Pengawal tangkap dia!" teriak seorang tamu yang Arya kenali sebagai bangsawan gemuk Rodria yang pernah ia temui sebelumnya.
Kemudian dalam sekejap mata, dua pengawal Elf dengan peralatan lengkap mengapit Arya. Dengan cekatan Arya merebut cawan dari tangan Diana dan menuangkannya isinya ke tanah. Cairan yang ada pada cawan tersebut mengenai sebuah tanaman, tanaman itupun segera layu dan mati. Mata semua orang melebar setelah melihat hal tersebut. Suasana segera menjadi sunyi setelah melihat kejadian itu.
Keheningan itu dipecahkan oleh Alalea yang dengan tatapan ingin membunuh menunjuk Arya dengan kebencian yang teramat sangat "Kau...beraninya dirimu berusaha membunuh Ratu!"
"Hah...? Bisakah kau tidak membuat pernyataan bodoh seperti itu, untuk apa aku menyelamatkan orang yang ingin aku bunuh?" ujar Arya sambil menghela nafas.
"Bisa saja hanya untuk membuat alibi, karena aku tahu kalau minuman yang akan diminum oleh nenekku adalah hadiah pemberian DARIMU!!!"
Suara bisikkan kembali memenuhi tempat itu, Arya dengan segera berjalan mengambil botol anggur yang telah dia hadiahkan pada Ratu. Lalu memanggil Eridan untuk datang ke sebelahnya, Eridan dengan wajah kebingungan menatapnya dengan heran.
"Minum ini" perintah Arya.
"EHHH!!!" terdengar teriakan tidak percaya dari semua orang.
"T..t..tapi tuan, bukankah anda baru saja membuktikan kalau minuman itu beracun" balas Eridan lemah.
"Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu, aku hanya membuktikan minuman yang akan diminum Ratu beracun. Bukan minuman yang ada pada botol ini" jawab Arya tenang.
"Kenapa tidak kau saja yang meminumnya!" teriak Audax.
"Aku tidak minum anggur, lagipula jika aku maupun Eridan meminumnya hasilnya akan sama saja" sahut Arya dengan ekspresi jijik.
Lalu Eridan dengan terpaksa mengambil botol ditangan Arya dan meneguknya, semua orang terdiam dan menunggu reaksi Eridan. Tapi pada akhirnya tidak terjadi apa-apa.
"Puas?" kata Arya sambil tersenyum mengejek pada Alalea.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana bisa?" tanya Azalea bingung.
"Yang ingin aku tunjukkan pada kalian adalah. Kenyataan bahwa cawan yang digunakan Ratulah yang mengandung racun, bukan minuman yang ada didalamnya"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Keributan kembali terdengar dari seluruh ruangan, semuanya memaki Arya karena berani mengatakan hal tersebut.
"Bocah tengik, kata-katamu barusan sama saja telah menuduh Tuan Putri Alalea sebagai pelakunya" teriak Audax.
"Ahh jadi ini hadiah ulang tahun darimu?" tanya Arya sambil menatap Alalea.
"Kau masih berani bicara pada......."
"DIAM!!!" bentak Diana.
Suara itu menggelegar dan membuat bulu kuduk semua orang yang ada disana berdiri, suasana kembali menjadi sunyi.
"Biarkan dia menyelesaikan kata-katanya, dan untukmu Tiron. Sekali lagi kau memotong pembicaraan, kepalamulah yang akan menjadi bayarannya" bisik Ratu sambil menunjuk bangsawan Rodria gemuk.
Tidak ada yang berani membantah, kemudian Diana kembali diam dan menatap Arya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aku sebenarnya sedikit bingung apa kalian semua ini tuli atau bagaimana, aku tidak pernah menuduh Tuan Putri Alalea sebagai pelakunya. Aku hanya berkata kalau pemilik cawan inilah pelaku sebenarnya" lanjut Arya.
"Penyataanmu itu sama saja telah menuduhku sebagai pelakunya" bisik Alalea sambil menggertakan gigi dengan kesal.
"Itulah kenapa aku bertanya apa kalian ini tuli atau apa? Karena pada kenyataanya ada sesuatu fakta yang menarik. Beberapa hari yang lalu aku menemukan cawan yang sama persis jatuh tepat mengenai kepalaku" kata Arya sambil mengeluarkan sebuah cawan dari balik jubahnya.
Kedua cawan itu sama persis, tidak terlihat sedikitpun perbedaan diantara keduanya. Semua orang menarik napas panjang tanda terkejut. Diana, Azalea, dan juga Alalea terlihat terkejut melihat cawan yang baru saja Arya keluarkan.
"Nah kalau begini, apakah Tuan Putri bisa membedakan mana cawan beracun maupun yang tidak beracun?" tanya Arya sambil tersenyum.
Dengan berat hati Alalea menggelengkan kepalanya secara perlahan namun pasti, matanya semakin memancarkan kebingungan dan kebencian kepada Arya.
"Hahahaha tentu saja anda tidak bisa, karena anda bukanlah pemilik sebenarnya cawan ini" lanjut Arya sambil terkekeh geli.
Arya lalu segera melompat ke dekat salah satu meja panjang tempat makanan dan minuman disajikan, matanya dengan cepat mencari dan terus mencari sesuatu. Saat akhirnya dia menemukan sebuah guci kecil berisi minuman beraroma lemon, ia segera mengisi kedua cawan yang ditangannya dengan minuman tersebut.
"Kalau begitu izinkan aku melakukan percobaan untuk mengetahui siapa pemilik cawan beracun ini sebenarnya, apakah ada yang ingin membantuku" tanya Arya antusias.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Arya, mereka semua terlihat sedikit ketakutan karena tidak bisa membedakan mana cawan yang beracun dan mana yang bukan.
"Tidak ada? Tidak ada? Mmm baiklah kalau begitu bagaimana kalau aku mengambil orang secara acak? Mmm kalau begitu bagaimana denganmu?" tunjuk Arya ke salah satu tamu.
Alalea segera menghampiri Arya dengan sekali loncatan, berdiri disebelah Arya sambil berbisik sinis "Apa yang kau rencanakan?!"
"Tidak apa-apa Alalea, kalau dengan bantuanku ternyata bisa membantu menemukan pelakunya maka aku juga ikut senang" kata Daemord, orang yang baru saja Arya tunjuk.
"Kau dengar? Aku hanya ingin Tuan Daemord membantuku dalam percobaan ini" jawab Arya tanpa rasa bersalah.
Mendengar hal itu Alalea semakin terlihat kesal, Arya lalu meletakkan cawan tersebut diatas meja. Lalu menutupnya dengan kain jubahnya. Dengan cepat dia memindah posisi kedua cawan itu dari kiri ke kanan, dia terus mengacak-acak posisi kedua cawan sampai-sampai dia sendiri tidak tahu di sisi mana cawan beracun itu.
Lalu saat Arya mengangkat jubahnya tidak ada lagi yang bisa membedakan cawan itu kecuali sang pemilik. "Baiklah, silahkan pilih satu cawan Tuan Daemord"
Daemord dengan sangat hati-hati menunjuk cawan yang berada disebelah kanan, Arya lalu mengambil cawan itu lalu menyerahkan satu cawan lagi ke arah Daemord. Daemord terlihat terkejut karena hal itu.
"Kau tidak memintaku untuk meminum cawan yang aku pilih?" tanyanya keheranan.
"Tidak perlu, karena menurutku jika aku melakukan hal itu. Maka sang pelaku akan memilih cawan yang beracun, hal itu dilakukan untuk membuat alibi. Dan juga aku sangat yakin kau memiliki penawar racunnya" jawab Arya sambil menuangkan isi cawan yang ia pegang.
Tepat saat cairan pada cawan itu mengenai tanah, warna tanah berubah menjadi hitam seakan mati. Arya lalu berkata sambil tersenyum "Kena kau"
Seketika tiga puluh bayangan hitam muncul dari berbagai arah, semua tamu yang ada disana tiba-tiba terjatuh dan tidak bisa bergerak. Yang masih bisa bergerak hanya Arya, Rena, Eridan, Reiss, Diana, Azalea, Alalea, dan Daemord. Dari bayangan hitam itu muncul sosok pucat berjubah hitam, para orang berjubah itu segera mengepung mereka. Lima orang berjubah hitam mengelilingi Diana dan Azalea.
Lima orang lainnya mengepung Rena, Eridan, dan Reiss. Dan sekitar sepuluh orang mengelilingi Arya, lalu tanpa rasa bersalah Daemord menempelkan sebuah belati berwarna hitam ke leher Alalea. Alalea yang menyadari hal itu menatap Daemord dengan tatapan tidak percaya, semua tamu disana lumpuh tidak bisa bergerak. Bahkan para pengawal yang ada disana juga tidak dapat bergerak.
Sepuluh orang berjubah hitam yang tersisa mengelilingi tanah lapang itu, terdengar suara terkekeh puas dari mereka semua. Daemord menunjukan senyuman bengis pada Arya, lalu tiba-tiba muncul seseorang dari balik pepohonan tempat bayangan-banyangan tersebut berasal. Seorang pria dengan kulit pucat mengenakan pakaian bangsawan berwarna hitam, dia memiliki rambut putih sebahu dengan mata berwarna merah darah.
__ADS_1
"Wah wah wah sepertinya rencana kita gagal" ujar sambil menunjukan gigi taringnya.
"Cih....bau amis ini....Vampir" bisik Arya dengan nada suara sedingin es.