Elementalist

Elementalist
Chapter 178 - Escape


__ADS_3

“BERHASIL!!!”


Ryan berseru senang ketika lapisan pelindung sihir yang mengelilingi pusaka – pusaka pecah, setelah memeluk Percivale penuh suka cita dan menyimpan barang – barang barusan menggunakan jubah gaib milik sang ksatria.


Si Wibu Sialan berbalik hendak meninggalkan lokasi namun seketika langsung memucat, ada dua puluh Witch kelas tinggi mengitarinya sambil mengendarai sapu sihir. Tanpa aba – aba mereka melepaskan kutukan mematikan.


“Kembalikan semuanya dasar pencuri!!!”


SSRRTTT!!!


“WAAA!!!”


Percivale sigap maju menangkis serangan tadi dengan perisai kokoh miliknya, tak ingin menjadi beban Ryan juga menambahkan sihir pelindungan agar tidak satupun serangan dapat masuk dari segala arah.


“Kupikir Green Witch akan mengurus mereka!?”


“Maaf saja, tapi aku sedang sibuk di sini. Meladeni pria – pria keras kepala sungguh merepotkan” suara Eleanor menyahut.


Ryan berpikir cepat, terlintaslah ide jika bisa bersama Arya pasti kelompok para penyihir bantuan tersebut terpecah konsentrasinya. Waktu ia mencari jalur evakuasi teraman, urat sarafnya berkedut kesal. “UBAN-SAN KEPARAT! DIA MENGISOLASI SELURUH ARENA!? PANTAS SAJA SELURUH BALA BANTUAN MENGARAH KEMARI!!??”.


------><------


“Hoamm....nghh....tidurku nyenyak sekali”


“Eh!? Kau....”


“Hmm? Apa?”


“Harusnya aku yang bilang begitu” Arya menatap aneh.


Nampak seekor rubah kecil bertengger nyaman pada pundaknya, tentu saja dia merasa heran. Dan kalau tak salah dengar, bukankah makhluk itu baru berbicara kepadanya? Tetapi setelah dipikir – pikir kembali ini sudah biasa, mengingat dirinya punya perangai aneh berbincang dengan Pikku, Stella, Bai, serta binatang – binatang lainnya.



“Apa maksudmu bertanya? Aku adalah perwujudan Ore yang tertanam dalam tubuhmu” balas sang rubah.


“Hah?”


“Benar Ayah, karena menyerap Agnet miikmu secara berkala. Perlahan tapi pasti Mythical Werebeast Ore mulai berevolusi lalu dapat mewujudkan diri” kali ini Efbi muncul di bahu sebelah kanan Arya.


“Ohh....aku baru tau bisa begitu, bagaimana cara aku memanggilmu?”


“Kebetulan aku belum memliki nama, sudikah kau memberikannya?”


“Menurutmu Yeou cukup bagus?”


“Yeou? Aku suka, terdengar manis. Hehehe terima kasih”


“Baiklah kita bisa lanjut membahas ini lain kali, kalian berdua tolong bantu aku” kata Arya menguatkan pegangan pada gagang Mandalika.


“Rubah licik, jangan pernah berpikir untuk merebut Ayahku” Efbi mendelik dingin.


“Hihihi mari lihat siapa yang lebih berguna serigala kecil” balas Yeou enteng


GRRR....!


Arya tidak terlalu menghiraukan aura persaingan sengit di sekitar lehernya, mata kuning pria ini terkunci ke arah Merlin. Keduanya saling menunggu pergerakan masing – masing sebab tau langkah awal akan mengakibatkan dampak signifikan.


“MAJU!”

__ADS_1


PSYUUU!!!


‘Arya izinkan aku untuk membantu’


‘Istirahatlah, tenagamu masih belum pulih akibat pertandingan sebelumnya’


‘Tapi—‘


‘Jangan membantah!’


‘Cihh!!!’ Safira mendengus kesal sedikit iri karena hanya dia yang tidak diikutsertakan.


Jarak antara Arya dan Merlin menipis begitu cepat, sang Orange Witch mengaktifkan puluhan mantra bintang sepuluh bersamaan. Efbi membentuk perisai es dan Yeou memekarkan ekornya demi melindungi tuan mereka.


Sementara Arya sendiri membelokan sisanya berbekal bilah Mandalika, baru saja hendak menebas lawannya. Merlin berpindah tempat dalam sekejap kemudian menyiapkan serangan balik.


“Cepatnya! Teleportasi? Namun ini masih belum selesai!”


ZING! SYUU!!!


Arya memanfaatkan ekornya sebagai pijakan, sehingga cuma beberapa detik ia sudah berhasil menyusul gadis itu. Mata Merlin melebar terkejut, tak menyangka kalau si Elementalist Es akan melakukan gerakan ekstrem barusan.


“Sial!!!” umpatnya terpaksa berhenti menghimpun tenaga.


“Kin Kamaitachi!!!”


“Book of Curiousity Page Thirteen; Taboo!!!”


JDUARR!!!


Bentrokan jurus dasyat ini meruntuhkan arena, memaksa pertarung lain sekitar sana harus memisahkan diri supaya tidak terkena efek serangan gila barusan. Bilah katana Arya terhenti di udara oleh penghalang transparan, walau begitu nampak kalau sihir Merlin mengalami koyak parah.


DOOMM!


Morgiana harus mengurungkan niatnya membantu Merlin sebab Giuliano sekali lagi maju menghadang, hal yang sama berlaku untuk Olivia maupun Friska. Masing – masing mempunyai musuh merepotkan sendiri.


“Kau....mengenakan kemampuan para Werebeast? Bagaimana bisa?” Merlin berbisik sinis.


“Entahlah, aku pun sama penasarannya denganmu” gumam Arya sembari mengatur napas.


BAMM!!! BRUAK!!! JGEERR!!!


Adu kekuatan kembali pecah, keduanya bergerak sangat cepat bahkan hampir telah menginjak keseluruhan lokasi di dalam King’s Authority. Pertempuran begitu alot karena kemampuan salah satu Magical Tools milik Merlin yaitu Confinement Crystal yang memiliki kemampuan memprediksi gerak lawan.


Tetapi Arya terbantu menghadapi kekuatan merepotkan tersebut oleh sepak terjang luar biasa Efbi dan Yeou. Setelah beberapa waktu terlewati, muncul celah dalam pertahanan Merlin. Arya memanfaatkan hal itu untuk mengunci pegerakan Merlin di tanah dengan menindih tubuhnya.


Dia memutar – mutar pedang kemudian melakukan tusukan, ketika ujung Mandalika mau menembus kepala Merlin. Sebuah kilas balik singkat membuyarkan konsentrasi Arya, akhirnya ia hanya menghujam lantai.


‘Aku tidak bisa!’ senyum polos M dulu memenuhi kepalanya.


Akibat kesalahan fatal ini, Merlin berhasil melepaskan diri juga mendaratkan lima mantra kuat ke tubuh Arya. Sang Elementalist Es terpental jauh lalu menyemburkan darah segar dari mulutnya, teriakan khawatir Efbi dan Yeou makin memperburuk situasi mental Arya.


Orange Witch mengarahkan payugnya penuh rasa tidak suka, saat energi kuat terus bertambah banyak. Tiba – tiba tangan Merlin mulai bergetar, “Eh? Aura? Kenapa!? Tunggu dulu! Jangan sia – siakan kesempatan emas begini! Sial....! Ky....ma Ekrixis!!!”.


SYUU!!! TRRR!!! BUSH!!!


“Untung saja sempat”


Gerakan lambat Merlin membuat Eleanor tiba tepat waktu untuk menangkis serangan mematikan barusan. Bukan cuma dia, Ryan bersama lima makhluk panggilannya juga telah kembali.

__ADS_1


“Uhuk! Uhuk! Kaukan....?” ujar Arya serak dibantu berdiri oleh Ryan.


“Eleanor?!” Merlin berucap tak percaya.


“Kok bisa?” Pertanyaan tadi keluar dari mulut Olivia yang sudah berdiri di sebelah Merlin beserta Friska dan Morgiana.


“Hihihi....halo? Mengapa terkejut begitu?”


“Kau memihak anak itu!”


“Bwee!!! Enak saja, tolong ya. Asal menuduh tanpa bukti adalah fitnah, aku bersikap netral kok. Hanya kali ini kalau kubiarkan ia mati di tanganmu bisa – bisa aku kena omel sepanjang sisa hidupku” Eleanor menujulurkan lidah .


“Terus....”


“Bersiaplah, dalam hitungan ketiga kita akan meninggalkan—“


“Jangan terkecoh!? Mereka berusaha kabur” seru Merlin cepat.


“Cih!? Peka sekali” Eleanor tersenyum jengkel.


TOK! TOK!


Saat Green Witch mengetukan payung di lantai, simblo sihir besar mulai nampak. Sambil berdecak kesal, Merlin mengerahkah sisa – sisa tenaganya untuk menyerang jubah Percivale. Tali berwarna jingga sukses mengikat target.


“Kena! Bantu aku!!!”


“Sial! Kekangannya kuat sekali!” umpat Ryan berusaha memotong sihir tadi.


“Hey? Lepaskan saja” Arya memerintahkan.


“HAH!? Apa maksudmu? Enam bulan waktu kita terbuang semuanya demi—“


“KAU PILIH MEREKA ATAU KITA YANG TERTINGGAL!!!”


“Ugh....”


Bentakan Arya akhirnya membuat Ryan sadar, dengan berat hati dia membantu Percivale melepaskan jubah gaibnya. Bertepatan keberhasilan Merlin dan kawan – kawan merebut kembali pusaka sihir.


Teknik Elearnor aktif, tubuh mereka menghilang begitu saja dan tanpa mampu terlacak lagi oleh para Witch Magihavoc. Merlin terduduk lesu sembari memperhatikan kekacauan disekitarnya, ia berteriak keras untuk melepaskan kekesalannya hari itu.


------><------


“Dimana kita?” tanya Ryan melihat sekliling.


“Lokasi terujung Spring Straight, dekat perbatasan antara wilayah Witch dan Elf” Eleanor menyahut.



“Arghh....”


“Arya!? Gawat! Dia kehilangan banyak darah” seru Kyra cemas yang sedari tadi bersembunyi dibalik punggung Zulqar.


“Tolong minggir sebentar, baiklah Sea. Aku sudah memenuhi janjiku, sekarang terserah padamu” Eleanor bicara sendiri sambil menempelkan ujung payungnya ke dahi anak laki – laki tersebut.


 


Author Note :


Dukung Author melalui Karyakarsa.com/ AryaFP (gk usah dikasi spasi). Karya Karsa merupakan platform mediasi fans agar bisa menunjukan apresiasinya secara langsung pada konten creator. Di sana kalian dapat memberi makan author untuk tetap bisa bertahan hidup di akhir bulan (All Hail Mahasiswa!). Harganya pun dijamin terjangkau sesuai pasar. Jangan lupa dijadikan Elementalist sebagai favorit supaya gk ketinggalan updatenya dan berikan bintang lima. Terima Kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2